PLANET BIRU

PLANET BIRU
PENYELARASAN


__ADS_3

"Venera..." panggil Marxis lembut setelah akhirnya ia bisa menemukan Venera.


Venera duduk tertunduk di atas sebuah batu besar di puncak bukit yang terletak di atas kolam air terjun. Tempat dimana ia pernah nyaris terjatuh dulu.


Ia memandang ke bawah, melihat air terjun yang tercurah dengan deras, masuk ke dalam kolam di bawahnya.


Bahunya berguncang mengiringi suara sedu sedan tangisnya.


Marxis berlutut di sisi Venera.


"Maafkan aku, Venera..." ucapnya lirih.


Venera diam saja mendengarnya. Tetapi bahunya tak lagi berguncang. Namun ia tetap menunduk, tak mau menoleh ke arah Marxis.


Marxis berucap pelan. "Aku memang tak bisa berpikir dengan cara yang sama seperti dirimu, Venera. Tapi aku... aku berusaha mengerti perasaanmu. Yang jelas, aku tidak ingin bertengkar lagi denganmu."


Venera mengusap pipinya yang basah.


"Aku tak sanggup membayangkan... harus menyaksikan hampir semua venusian yang kukenal, teman-temanku yang baik itu, tidak bisa merasakan kebahagiaan saat mencintai dan dicintai oleh pasangan sejatinya. Aku ingin semua venusian merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan," ucap Venera.


"Dan juga semua martian," sahut Marxis cepat.


Venera menoleh. Menatap Marxis dengan wajah berlinang air mata.


"Kau... juga berpikir begitu?" tanya Venera tak percaya.


"Ya." Marxis mengangguk.


Venera mengerutkan dahi dan menggeser tubuhnya sedikit, supaya dapat mengamati wajah Marxis dengan lebih cermat.


"Kau mengatakan begitu hanya supaya aku tidak marah dan kita tidak bertengkar lagi? Kau malas kalau harus berdebat terus denganku, ya?" tuduh Venera. Ia menyeka air matanya lagi dengan punggung tangannya, dan menatap Marxis lekat-lekat.


"Tidak." Marxis menggeleng.

__ADS_1


"Atau, karena kau melihat aku menangis, kau jadi merasa tidak enak padaku, sehingga kau memilih untuk berbohong dengan mengatakan bahwa kau setuju dengan pemikiranku?" tuduh Venera lagi.


"Tidak," jawab Marxis sambil menggelengkan kepalanya lagi.


"Tapi tadi saat awal pembicaraan kau bersemangat sekali untuk pergi ke Planet Biru, demi mendapatkan kekuasaan dan kejayaan di sana," ucap Venera tajam.


"Itu..." Marxis mengerutkan kening sesaat. "Itu sebelum aku berpikir panjang tentang kata-katamu. Dan setelah kupikirkan kembali dalam perjalanan mencarimu ke sini tadi, aku akhirnya mengerti. Dan menurutku kau benar."


"Kenapa tadi tidak kau pikirkan dulu kata-katamu sebelum kau menjawabku sehingga kita tidak perlu bertengkar?" tuntut Venera.


"Yah, kupikir tadi aku harus segera menjawabmu. Makanya langsung kukatakan saja apa yang ada di pikiranku saat itu," jawab Marxis.


"Aku kan tidak menyuruhmu menjawab cepat-cepat. Kita tidak sedang berlomba," kilah Venera.


"Ya, tapi... ehm... percakapan kita tadi berlangsung sangat cepat dan bertubi-tubi. Aku... aku merasa seperti dipaksa untuk segera mencari jawaban dengan kata-kata yang tepat. Jadi aku..." Marxis semakin terbata.


"Aku tidak memaksamu," sahut Venera cepat.


"Iya, maksudku bukan kau yang memaksaku. Tetapi... isi dari percakapan itu," jelas Marxis susah payah.


"Itu karena tak terpikirkan olehku bahwa kau mungkin akan tidak menyetujuinya. Kupikir kau akan berpikiran sama denganku Venera. Aku juga tidak tahu bahwa apa yang dijelaskan oleh Ratu Ishtar kepadamu sedikit berbeda dengan yang dijelaskan Raja Ares kepadaku. Soal getaran palsu dan lain lain," ucap Marxis.


"Tapi aku sudah menjelaskannya panjang lebar kepadamu! Lalu setelah itu kau masih saja tidak setuju dengan pemikiranku, dan malah mengatakan aku membesar-besarkan hal sederhana!" ucap Venera dengan meninggi lagi.


"Itu... itu karena aku belum sempat berpikir lama dan penuh pertimbangan soal itu. Dan aku merasa harus segera menanggapinya...," ucap Marxis melemah.


"Siapa yang mengharuskannya?" tantang Venera.


"Tidak ada..." Marxis menggeleng pasrah.


"Nah, lalu? Jika tidak ada yang mengharuskanmu untuk itu, kenapa kau melakukannya? Seharusnya kau berpikir dulu baik-baik. Sehingga kita tidak perlu bertengkar seperti ini!" ucap Venera kesal.


Marxis menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras, menyadari betul bahwa pembicaraan mereka berputar dan mengulang kembali.

__ADS_1


Ia menatap Venera lekat-lekat.


Venera terdiam dan balas menatap Marxis, menduga Marxis akan berbalik memarahinya karena ia mencecarnya terus sejak tadi. Venera pun sebenarnya merasa heran dengan dirinya. Mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Marxis membuatnya sangat emosional. Rasanya ingin melawan perkataannya terus. Hal yang tak pernah dirasakan dan dilakukannya sebelumnya kepada venusian lain.


Dan tak disangka-sangka, ternyata Marxis justru tertawa.


Venera tercengang melihatnya.


Marxis tertawa semakin keras melihat wajah bingung Venera.


"Hei! Apa maksudmu tertawa seperti itu? Kau menertawakanku, ya?" Venera melipat kedua lengannya di dada. Kesal melihat tawa Marxis.


Marxis berusaha menghentikan tawanya dan kembali berbicara.


"Bukan begitu," ucap Marxis dengan senyuman masih tersisa di bibirnya. "Melihatmu seperti ini, aku jadi teringat saat perjumpaan pertama kita. Waktu itu kau galak sekali padaku. Seperti binatang buas yang sedang marah. Kemudian kau dengan sangat tangkas mengembalikan semua perkataanku, lalu menjebakku dengan kalimat-kalimatmu yang berbelit itu."


Venera memutar sekilas memorinya ke belakang. Dan akhirnya ikut tertawa.


"Aku mengerti sekarang, dengan apa yang dimaksud oleh Raja Ares kemarin," ucap Marxis. "Venusian memiliki tiga kali lebih banyak perbendaharaan kata daripada martian. Dan mereka mampu merangkainya menjadi banyak sekali variasi susunan kalimat yang berbeda-beda, sehingga nyaris tak mungkin martian bisa menang berdebat dari mereka. Ia sudah memperingatkanku kemarin, agar berhati-hati soal hal ini." Marxis menutup kalimatnya dengan wajah serius dan dahi berkerut.


Venera mengangkat alisnya sedikit, heran mendengar teori tentang venusian yang tidak diberitahukan oleh Ratu Ishtar kepadanya itu.


Sejurus kemudian Marxis tertawa lagi. Ia bangkit, dan mengulurkan tangannya pada Venera, menariknya untuk berdiri.


Ia kemudian menggenggam kedua tangan Venera erat-erat dan menatap lekat kedua bola mata coklatnya yang indah.


"Dan karena kelebihannya itu lah, venusian menjadi pemikir yang baik dan bijaksana, dan memiliki empati lebih besar daripada martian. Maka dari itu, seperti yang telah kukatakan. Setelah aku berpikir baik-baik selama beberapa saat tadi, sekarang aku setuju denganmu. Bahwa seharusnya semua martian merasakan hal yang sama saat bertemu dengan pasangan sejatinya. Seperti apa yang kurasakan saat bertemu denganmu. Aku juga tak bisa membayangkan seandainya kekacauan yang akan terjadi di Planet Biru itu terjadi pada diriku. Kau adalah hal terbaik yang pernah hadir dalam hidupku, Venera. Aku tak mau venusian lain. Aku hanya ingin dirimu."


"Benarkah...?" ucap Venera lirih sembari menatap dalam-dalam bola mata hitam Marxis, dan mendapatkan sebuah kesungguhan di sana. Jantungnya berdebar kencang, namun sama sekali tidak menyakitkan.


"Benar." Marxis mengangguk sembari mengusap wajah Venera dengan lembut, menghapus jejak air mata yang telah mulai mengering di kedua belah pipinya.


"Aku senang mendengarnya, Marxis. Aku juga begitu. Aku hanya ingin bersama dirimu. Tak ingin dengan martian yang lain," ucap Venera. Hatinya terasa hangat saat mengucapkannya. Ia tersenyum kepada Marxis.

__ADS_1


"Apalah gunanya kekuasaan dan kehormatan abadi di seluruh alam semesta, jika kau menjadi tidak bahagia, Venera?" lanjut Marxis sambil membelai lembut rambut emas Venera. "Aku menyukai Venera yang selalu tersenyum bahagia seperti ini, bukan Venera yang menangis sedih seperti tadi."


Marxis menarik perlahan tubuh Venera agar mendekat kepadanya, lalu mencium lembut puncak kepalanya.


__ADS_2