
Marxis duduk bersandar pada sebatang pohon dan meletakkan busur panahnya di tanah. Kaki-kaki kekarnya terasa sedikit lelah dalam acara perburuan kali ini. Chimaera muda incarannya tadi sangat gesit dan lincah.
Angin utara yang bertiup perlahan melalui sela-sela pepohonan mulai mengeringkan pakaian berburunya yang sejak tadi basah oleh keringat.
“Menguras tenaga juga ya, perburuan hari ini.” Melvian melemparkan sebungkus makanan bekal yang mereka bawa ke arah Marxis.
“Ya, benar. Hampir saja chimaera itu lolos karena kecerobohanmu, teman,” ejek Marxis.
“Hah, enak saja kau bicara! Justru aku yang telah menyelamatkanmu dari ayunan cakar tajamnya saat kau terpojok di pinggir tebing tadi. Jangan kau ingkari itu!” Melvian tertawa pongah.
“Hahaha! Kau pikir aku terpojok seperti tadi karena apa, hei? Coba kau ingat-ingat lagi.” Marxis menyobek kemasan pembungkus bekalnya.
“Kau yang sembarangan menerobos masuk saat aku hampir mengalahkan monster itu,” jawab Melvian cepat dan mulai menyantap makan siangnya.
“Yang benar? Kau, atau monster itu yang sebenarnya hampir kalah?”
“Monster itu tahu!” Melvian menonjok lengan Marxis. Marxis terbahak.
“Hei, kalian berdua!” Monzi datang dengan kaki dan tangan penuh balutan. ”Untuk apa memperdebatkan soal itu? Sudahlah, akui saja kalau team kalian kalah dari teamku. Kami berhasil menyelesaikannya jauh lebih singkat dari catatan waktu kalian!”
“Memang. Tetapi tetap saja kita dinyatakan gugur Monzi, sobat.” Menxara menghampiri sembari terpincang-pincang. “Dengan luka-luka seperti ini, bisa dikatakan kalau kitalah yang tertangkap oleh chimaera itu. Bukan sebaliknya.”
Marxis dan Melvian tertawa keras-keras.
“Huh, kau ini. Mengganggu kesenanganku saja.” Monzi menggerutu sembari menarik ujung perbannya yang hampir terlepas.
“Wah, parah juga lukamu Monzi.” Marxis mengamati luka di kaki Monzi. “Chimaera tadi sepertinya memang bermaksud ingin membunuhmu.”
“Seharusnya tadi kau katakan padanya bahwa kau ini tidak enak dimakan,” Melvian ikut berkomentar.
“Kupukul kau kalau tidak mau diam, Melvian!” Monzi mengacungkan tinjunya pura-pura mengancam. Melvian tertawa dan berlari menjauh.
“Sudah, ayo kita pulang Monzi,” ajak Menxara. “Sudah hampir gelap dan kita masih harus singgah ke Pusat Pengobatan untuk membersihkan luka-luka ini.”
~o0o~
__ADS_1
“Eh Marxis, ada apa sebenarnya denganmu?” tanya Melvian sembari membersihkan busur panahnya dari tanah dan kotoran setelah perburuan siang tadi. “Kuperhatikan sejak kemarin kau sedikit lebih pendiam dan tidak agresif lagi dalam perburuan. Apa ada masalah?”
Marxis mengangkat bahu. “Tak tahu. Belakangan ini aku merasa tidak terlalu bersemangat lagi untuk berburu. Seperti ada yang kurang.”
“Kurang dalam hal apa maksudmu? Tidak ada binatang buruan yang cukup pantas untuk kita persembahkan kepada Raja Ares? Atau tidak cukup enak untuk kita makan?”
“Bukan. Bukan itu.” Marxis menggeleng. “Aku merasa … sepertinya … seharusnya aku melakukan semua ini untuk sesuatu yang lebih penting daripada sekedar mengenyangkan perut atau untuk dipersembahkan kepada Raja Ares.”
Melvian terpana menatap sahabatnya. “Kau lucu sekali Marxis. Memangnya ada hal lain apa lagi yang lebih penting bagi kita daripada Raja Ares atau perut yang kenyang?”
“Entahlah, Mel. Seolah-olah ada semacam keinginan yang selama ini terpendam amat dalam dan tak pernah kusadari keberadaannya, yang sedang berusaha muncul ke permukaan. Tetapi aku belum tahu apa itu.”
“Hmm. Keinginan terpendam yang belum jelas apa, tetapi kau sudah bisa merasakannya?” Melvian menatap Marxis dengan bingung. Marxis mengangguk.
“Mungkin… kau menginginkan jabatan sebagai anggota salah satu Divisi Pelatihan?”
“Bukan soal itu.”
“Oh ya? Masa kau tidak ingin terpilih sebagai Anggota Divisi salah satu Sektor Kepemimpinan di Mars? Mendapat kehormatan diantara Martian lain, memperoleh banyak keistimewaan dan pengecualian dalam kegiatan sehari-hari, tak perlu capek berburu untuk bisa makan karena sudah mendapatkan bagian dari para pemburu biasa seperti kita, disediakan tempat tinggal untuk dirimu sendiri, lalu seragam khusus yang terlihat gagah itu!”
Marxis mengernyit ke arah Melvian. “Sepertinya yang sangat menginginkan hal itu justru kau ya, Mel?”
“Hahaha!” Mevian tersipu. “Ketahuan ya?”
“Sangat ketahuan.”
~o0o~
Marxis memandang keluar jendela.
Di pinggir hutan terlihat team Mirazi sudah hampir dikalahkan oleh team Monsequ, yang memang lebih handal dalam bergulat, olahraga tambahan yang sering dimainkan saat hari libur di Mars. Tampak Melvian yang tergabung dalam team Monsequ sedang tertawa-tawa gembira menantikan kemenangan yang sudah di depan mata.
Marxis memang sedang tak berminat ikut bermain dalam team manapun hari ini. Rasanya ingin melakukan sesuatu yang lain, meskipun ia belum tahu apa yang diinginkannya.
Marxis bangkit dan mengambil busur panahnya. Mungkin di dalam hutan ada sesuatu yang baru dan menarik untuk dilihat. Walau sebetulnya setelah ribuan kali ia masuk ke dalam hutan itu, ia sudah hapal betul tumbuhan dan makhluk apa saja yang ada di sana.
__ADS_1
~o0o~
Udara lembab dalam kesunyian hutan segera menyambut langkahnya. Marxis menghirup aroma tanah dan lumpur basah yang amat disukainya. Kebiasaan yang selalu mendapat cemoohan dari Melvian yang tak pernah bisa mengerti apa enaknya berjalan-jalan di dalam sebuah hutan gelap dan sunyi kecuali untuk kepentingan berburu. Dan biasanya Marxis hanya menanggapi dengan tertawa. Karena dirinya juga tak begitu tahu mengapa ia sangat menyukai hutan ini berikut suasana didalamnya.
Tanpa sadar, Marxis sudah sampai di batas hutan terlarang.
Ia menoleh ke sana kemari. Suasana semakin sepi dan gelap.
Sebelumnya ia tak pernah memikirkan mengapa hutan di bagian ini terlarang untuk dimasuki. Atau ada binatang buas apa saja di dalamnya. Tetapi entah mengapa saat ini ia merasa ada dorongan kuat untuk pergi menjelajahinya. Mendadak timbul keinginan untuk meneliti setiap jengkal tanah yang ada dan mengungkap semua rahasia yang mungkin tersimpan dalam batang-batang pohonnya. Marxis melanjutkan langkah, memasuki kegelapan yang lebih mencekam.
Tiba-tiba kakinya tersangkut pada sepotong akar pohon berukuran besar yang mencuat dari dalam tanah. Marxis terpelanting ke depan. Dan disaat ia mengira kepalanya akan terantuk batang pohon, tubuhnya melambung sesaat di udara. Kemudian jatuh dengan keras.
Marxis mengangkat kepalanya dan bangkit berdiri.
Dimana ini?
Ini bukan hutan yang tadi kan?
Tempat ini sangat terang.
Marxis mengerjap-ngerjapkan mata kesilauan. Ia mendongak. Dan terkejut.
Hei, ada apa dengan langitnya?
Kenapa warnanya biru?
Warna biru yang cerah sekali.
Ini bukan langit Mars.
Marxis melihat ke kiri dan ke kanan. Pepohonan dan tanaman di sekelilingnya terlihat cerah dan segar. Ia menunduk melihat ke bawah kakinya. Rumputnya berwarna hijau terang. Ini juga bukan hutan Mars.
Mendadak ia mencium aroma yang berbeda di udara. Tetapi bukan seperti bau binatang buruan yang membuat adrenalinnya terpacu untuk segera berlari mengejar.
Ini bau yang entah bagaimana membuat perasaannya nyaman. Jauh lebih nyaman daripada perasaan yang didapat saat menghirup udara hutan basah yang selama ini disukainya.
Ia mengendus kesana kemari mencari arah datangnya aroma aneh itu. Asalnya tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dari sudut matanya nampak sebuah pergerakan dari balik sebuah pohon besar. Ia segera mengacungkan anak panah dan berteriak memperingatkan; walau hati kecilnya mengatakan bahwa hal itu tak perlu dilakukan.
Sesosok makhluk muncul dari balik pohon itu.
__ADS_1
~o0o~