PLANET BIRU

PLANET BIRU
PERTEMUAN TERAKHIR


__ADS_3

Venera berdiri kelelahan sambil terengah-engah. Ia menghirup udara banyak-banyak melalui hidung dan mengembuskannya perlahan melalui mulutnya selama beberapa kali, untuk menormalkan kembali ritme napasnya setelah berlari melintasi padang rumput lebih kencang dari biasanya.


Setelah sempat merasa ragu seharian penuh dan melalui perdebatan panjang dengan dirinya sendiri, akhirnya Venera berhasil membuat keputusan. Bahwa ia harus bertemu dengan Marxis untuk meluruskan masalah mereka, dan meminta maaf.


Sekaligus Venera juga ingin menceritakan kepada Marxis tentang penyakit aneh yang dideritanya selama beberapa hari belakangan. Sebelum sakitnya menjadi semakin parah dan Dewan Pengawas akan mengetahui perbuatannya lalu akhirnya ia akan dilarang untuk datang ke taman misterius.


Dan kalau hal itu sampai terjadi, berarti ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Marxis.


 


Venera melangkah ke dalam batang pohon yang merupakan pintu masuk itu.


Dan tibalah ia di dalam taman.  


Di tempat dimana ia biasa bertemu dengan Marxis.


Venera menoleh kesana kemari, mencari sosok yang diharapkannya itu. Tetapi Marxis tak terlihat sama sekali.


Venera memutuskan untuk menunggu selama beberapa saat.


Ia duduk di atas rerumputan dan memandang berkeliling. Dan mengingat kembali saat pertama kali ia menemukan pintu masuk ke dalam taman ini tanpa sengaja.


Ini adalah tempat perjumpaan pertamanya dengan Marxis.


Saat itu ia ketakutan melihat Marxis yang ia kira adalah makhluk berbahaya, kemudian bersembunyi.


Lalu tanpa disangkanya ternyata Marxis mengetahui keberadaannya, kemudian berteriak dan mengarahkan busurnya kepada Venera, menyuruhnya keluar dari tempat persembunyiannya di balik pohon.


Benar-benar makhluk aneh yang unik.


Tiba-tiba Venera terpikir sesuatu.


Bagaimana jika ternyata Marxis pun mengalami sakit yang sama sepertinya dan belum sempat menceritakan padanya?


Atau bisa saja ia baru merasakan sakitnya saat mereka tak bertemu beberapa hari kemarin dan kemudian ingin mengatakannya pada Venera, tetapi Venera justru tak kunjung datang ke taman ini?


Venera merasa tubuhnya lemas seketika, saat menyadari semua itu.


Di dalam hatinya timbul rasa sesal yang bertubi-tubi.


Seharusnya ia tidak bersikap buruk terhadap Marxis saat itu.


Semestinya ia bisa memaklumi ketidakhadiran Marxis.  


Toh Marxis juga sudah mengatakan alasannya.


Dan mereka juga sebenarnya masih bisa melakukan petualangan menjelajahi area di balik bukit kolam air sungai itu di lain waktu.


Ia baru menyadari sikapnya yang keterlaluan kepada Marxis yang padahal telah banyak berbuat baik padanya.


Menolongnya saat ia terpeleset di tebing dan nyaris terhempas ke dalam kolam, kemudian menggendongnya sampai ke tempat aman dan menenangkan dirinya yang saat itu sangat ketakutan.


Lalu menjaga dan membantunya melewati tempat yang sulit saat mereka hendak melihat-lihat tanaman bunga dan area di balik bukit itu.


Meskipun sikapnya terkadang kaku dan sukar dimengerti oleh Venera, tetapi hatinya sangat baik.


Diselimuti kesedihan, Venera bangkit dan melangkah pelan menuju ke kolam. Menyusuri jalan yang pernah dilaluinya bersama Marxis.  


Ia ingin melihat kolam air sungai itu untuk yang terakhir kalinya. Dan setelah itu ia harus melupakannya; walaupun pasti sangatlah berat untuk dilakukannya.


Venera teringat semua pembicaraan mereka. Tentang kehidupan di Mars dan para martian, tentang Venus dan para venusiannya, dan rencana petualangan mereka untuk pergi menjelajah ke seluruh pelosok taman demi mengungkap segala sesuatu tentang taman itu. Dan menjadikannya rahasia besar milik mereka berdua.

__ADS_1


Namun semua itu kini tak ada lagi.


Semua telah sirna.


Seperti mimpi indah yang mau tak mau harus segera berakhir karena sang pemimpi harus segera kembali ke realitas dan melanjutkan kehidupannya yang sesungguhnya.


Venera merasakan matanya menghangat.


Ia merasa seolah segala semangat yang mengisi hari-harinya belakangan ini telah musnah.


Marxis tak lagi menunggunya.


Ia tak ada lagi.


 


  


Venera tiba di kolam air sungai.


Memandang air yang jatuh ke dalam kolam dari kejauhan.


Dan tertegun.


Tampak siluet sesosok makhluk dalam bentuk yang sangat dikenalnya sedang termenung di pinggir kolam.  


Makhluk itu duduk membelakanginya di atas sebuah batu besar, menghadap ke arah air yang jatuh ke kolam.


Ia berada di tempat yang sama seperti saat pertama mereka menemukan tempat yang indah dengan kolam menakjubkan ini.


Sosok itu menoleh cepat saat mendengar suara langkah Venera di atas rerumputan.


 


Venera menghentikan langkahnya dan berdiri membeku di tempatnya, menunduk menghindari tatapan Marxis.


Ini aneh.


Padahal ia sangat mengharapkan pertemuan ini. Tetapi entah mengapa setelah mereka bertemu dan berhadap-hadapan seperti ini, Venera malah seperti merasa malu dan tak sanggup berkata apa-apa.


"Venera?" panggil Marxis sekali lagi.


Venera masih saja diam.


“Kau... masih marah padaku?” tanya Marxis sembari berjalan pelan menghampiri Venera.


Dan Venera merasakan kembali gejolak hebat di dalam perut bagian atasnya.  


Begitu hebatnya sampai ia merasa ingin mengeluarkan kembali makan siangnya tadi dari dalam perutnya.


“Aku... aku menunggumu terus di tempat ini, Venera.  Setiap sore," ucap Marxis.


Ia semakin mendekat kepada Venera.


Venera menatap rerumputan dibawah kakinya.  


Napasnya terasa sesak.  


Jantungnya berdetak terlalu cepat.


Pandangannya kabur.  

__ADS_1


Tubuhnya limbung seolah nyaris tak sadarkan diri.


Namun Venera berusaha tetap berdiri tegak.


“Kau... sudah tidak marah lagi padaku kan?” tanya Marxis akhirnya, bingung karena Venera hanya diam sejak tadi.


Venera menggeleng pelan.


“Benarkah?” tanya Marxis lagi.


“Ak… aku...” Venera berusaha berbicara. Namun lidahnya terasa kelu. Dentuman di dalam rongga dadanya yang terasa menyesakkan hingga ke tenggorokan membuatnya semakin sulit berkata-kata.


“Aku minta maaf, ” Marxis mendahului cepat.


Venera mengangkat wajahnya, terkejut mendengar permintaan maaf dari Marxis.


Ia menatap Marxis yang berdiri tepat di hadapannya.


Marxis mengulurkan kedua lengannya untuk meraih kedua belah tangan Venera.


Kemudian menggenggam tangan mungil Venera ke dalam tangannya yang kokoh dengan sangat lembut.


“Maafkan aku, Venera,” ucapnya lagi sambil menatap Venera dalam-dalam.


Venera merasa tubuhnya membeku.


Suara Marxis seolah bergema jauh di dalam kepalanya.


Kemudian Marxis menarik tubuh Venera, perlahan namun pasti. Lalu memeluknya dengan erat.


Dan saat itu terjadilah suatu keajaiban.


Semua rasa sakit di tubuh Venera hilang seketika.


Berganti dengan suatu rasa yang manis.


Amat – sangat - manis.  


 


“Aku... ingin selalu bertemu denganmu, Venera...,” bisik Marxis lembut di telinga Venera.  


Wajah Venera langsung menghangat.  


Tubuhnya terasa ringan, seolah melayang di udara.


“Aku… aku juga, Marxis...” jawab Venera lirih.


Marxis mempererat pelukannya.


“Aku rindu aroma tubuhmu," ucapnya, "Seperti harum bunga hutan yang segar di pagi hari..."


Venera baru akan menjawab ketika terdengar sesuatu.


 


“Ehem!  Masih belum selesai?“


Sebuah suara berat menggelegar mengejutkan terdengar dari belakang Venera dan Marxis.


Mereka berdua serta merta melepaskan pelukan mereka. Lalu menoleh sedetik.

__ADS_1


Kemudian langsung menjatuhkan diri ke tanah.  


Berlutut melihat lambang istana mereka masing-masing.


__ADS_2