
Venera tiba kembali di Asrama Eosphorus. Hari sudah hampir gelap. Beberapa venusian tampak sudah keluar dari kamarnya masing-masing, berpakaian rapi dan berjalan dengan santai menuju Aula Besar. Makan malam bersama akan dilangsungkan beberapa saat lagi.
Venera segera menuju ke kamar. Benaknya masih dipenuhi tanda tanya tentang pengalamannya tadi. Ia berpikir, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah ia harus menceritakannya kepada yang lain? Ia merasa ragu, karena ia sendiri masih belum tahu apakah taman yang ditemukannya tadi itu adalah sebuah rahasia atau bukan.
Masalahnya, untuk mencari tahu apakah taman itu sebuah rahasia atau bukan, mau tidak mau ia harus mengungkapkannya kepada venusian lain. Entah itu Vla sahabatnya, atau salah satu anggota Dewan Pengawas. Dan kalau memang itu sebuah tempat terlarang yang seharusnya dirahasiakan, berarti ia telah melanggar peraturan dengan memasuki taman itu. Lalu ia pasti akan dihukum.
Tetapi, kalau memang ada sebuah peraturan yang melarang venusian untuk memasuki taman itu, mengapa ia tidak mengetahuinya?
Namun, jika memang taman itu adalah suatu rahasia, maka segala sesuatu tentangnya pasti akan benar-benar dirahasiakan. Tak tertulis dimanapun, bahkan di dalam buku peraturan resmi venusian.
Venera menjadi semakin bingung harus bagaimana.
"Hampir saja kau terlambat lagi, Venera. Padahal aku sudah mengingatkanmu tadi siang." Vla berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala di ambang pintu kamar mereka. Kedua lengannya menyilang di depan dada.
"Ahaha! Maaf, maaf, Vla." Venera tertawa kecil, berusaha bersikap biasa-biasa saja. "Aku terlalu asyik bermain dengan salah satu unicorn yang kutemui di padang rumput."
Vla ikut tertawa. "Dasar kau ini. Ya sudah, lekas mandi sana. Aku tunggu di depan aula besar, ya!" ucap Vla sambil beranjak pergi.
"Baiklah!" jawab Venera singkat lalu masuk ke kamar. Ia menyiapkan gaun panjang makan malamnya, kemudian beranjak ke kamar mandi.
Ia telah memutuskan tidak akan memberitahukan dulu kepada Vla tentang taman dan makhluk aneh itu. Bukannya ia tak ingin berbagi cerita kepada Vla. Tetapi ia khawatir kalau ia memberitahukannya kepada Vla dan Vla ikut merahasiakannya, jika suatu hari nanti mereka ketahuan telah menyembunyikan sesuatu dari Dewan Pengawas, Vla akan ikut dihukum. Dan kalau sampai Vla terkena hukuman karena kesalahannya, Venera akan merasa sangat bersalah terhadap sahabatnya itu.
Makan malam berlangsung seperti biasanya. Dua ribu venusian dari Asrama Barat, Asrama Timur, Asrama Selatan dan Asrama Utara berkumpul bersama untuk makan malam. Dewan Pengawas Kesehatan dan Makanan yang bertugas mengawasi mereka, berkeliling untuk memeriksa apakah mereka semua memakan makanannya dengan sikap yang benar, sesuai aturan tata cara makan yang seharusnya.
Venera menyantap makanannya dengan pikiran berlarian kemana-mana. Beberapa kali Vla membisikkan sesuatu yang lucu saat Dewan Pengawas Kesehatan dan Makanan sedang tidak melihat ke arah mereka, Venera hanya tersenyum atau memaksakan diri untuk tertawa kecil. Ingatannya terus menerus kembali kepada taman itu. Ia merasa amat bersemangat, tetapi sekaligus juga khawatir karena telah menemukan sesuatu yang luar biasa dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Dan ia pun menjadi sedikit merasa tegang, karena harus menjaga sikap dan ucapannya, agar rahasianya tak diketahui oleh siapapun. Hal yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.
Selesai makan malam, Venera dan Vla mengambil rajutan selimut mereka yang belum selesai dari dalam kamar, dan membawanya ke Ruang Bersantai untuk diselesaikan. Beberapa venusian tampak asyik membaca buku, dan beberapa lagi sibuk mengobrol dan bercanda. Venera dan Vla mengambil tempat duduk di sudut ruangan dan mulai melanjutkan pekerjaan mereka.
__ADS_1
"Wahh, pola selimutmu bagus sekali, Venera! Rajutanmu rapi dan halus," puji Voxy yang baru datang dengan terkagum-kagum.
"Iya, benar," Vicca mengamati dari dekat hasil rajutan Venera. Matanya mengerjap-ngerjap. "Susunan garis-garis ini sangat indah, mataku sampai tak sanggup untuk mengikuti alur bentuk keseluruhannya."
"Hmm... perpaduan warnanya juga sangat cantik," ujar Vinn yang tiba-tiba saja muncul bersama teman sekamarnya, Vriz.
"Iya, benar! Bisa-bisanya kau terpikir untuk memadukan warna ini dengan yang ini, Venera! Dan hasilnya bagus!" seru Vriz sambil menunjuk-nunjuk beberapa bagian selimut yang dikerjakan oleh Venera. Membuat wajah Venera semakin memerah akibat pujian yang bertubi-tubi itu.
Vla tertawa. "Hei, sudah, sudah! Apa kalian tak melihat wajah Venera yang sudah memerah seperti buah mavarea itu? Kalian mengerumuni dan mengamatinya seperti itu seolah dia sekuntum bunga batu putih yang baru saja tumbuh."
Semua tertawa dan mundur teratur, membuat Venera menarik napas lega.
"Ah, terimakasih pujiannya teman-teman. Tapi hasil rajutan kalian semua juga bagus kok. Aku melihatnya kemarin di kelas merajut," ucapnya tulus.
"Tak sebagus milikmu, Venera. Kau kan pemegang nilai tertinggi di semua bidang," ucap Vicca sambil menggeleng-gelengkan kepala, "rasanya sulit sekali untuk menyaingimu."
"Oh, iya! Kau benar!" Vicca menepuk dahinya dan segera berlari ke kamarnya. Venera, Vla, Voxy, Vinn dan Vriz tertawa tergelak melihat tingkah Vicca.
"Menurutku kau seharusnya diangkat menjadi salah satu anggota Dewan Pengawas tahun ini, Venera. Nilai-nilai pelajaranmu tak pernah turun selama ini. Itu salah satu syarat utama untuk dipilih sebagai anggota Dewan Pengawas, kan?" ujar Vinn.
"Masalahnya, anggota Dewan Pengawas itu haruslah venusian yang tertib, disiplin, dan taat peraturan, Vinn," sela Vla, "sedangkan Venera, meskipun nilai-nilainya bagus, tapi yah, kalian tahu kan, kegemarannya berlarian di padang rumput setelah selesai belajar dan baru pulang hingga menjelang malam itu, sulit sekali untuk dihilangkan!"
Venera dan yang lainnya tergelak melihat ekspresi Vla yang lucu saat mengatakannya.
"Aku memang tidak berminat menjadi anggota Dewan Pengawas, kok," sahut Venera, "bagaimana aku bisa menertibkan kalian semua kalau diriku sendiri saja sulit untuk menerapkan disiplin waktu?"
Dan semua kembali tertawa.
__ADS_1
~o0o~
Venera berbaring menyamping di atas tempat tidurnya, menatap melalui jendela lebar kamarnya yang menampilkan pemandangan langit malam bertabur bintang. Bintang-bintang di atas sana tampak bercahaya kemilau di atas seluruh bidang gelap yang melingkupi kehidupan semua makhluk di waktu malam.
Ia memang tak pernah menginginkan menjadi anggota Dewan Pengawas, seperti yang tadi dibicarakan oleh teman-temannya. Ia lebih suka bertualang di alam terbuka, menikmati rasa bebas yang mengalir di tubuhnya saat berlari tak tentu arah di padang rumput yang luas.
Apalagi setelah sekarang ia menemukan hal yang jauh lebih menarik dari biasanya, yang bisa diselidiki dan ditelitinya lebih lanjut. Taman misterius itu. Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang taman itu. Dan juga tentang makhluk aneh yang ada di dalamnya.
~o0o~
Venera terbangun mendadak. Dan langsung terduduk.
Ia memandang ke luar jendela. Hari masih gelap. Bintang-bintang masih bertebaran dengan cemerlang menerangi langit malam.
Venera mengingat-ingat kembali hal apa yang membuatnya tadi tiba-tiba terbangun.
Ia bermimpi. Mimpi yang singkat namun terasa aneh.
Di dalam mimpi, ia sedang berlarian di padang rumput seperti yang biasa ia lakukan. Lalu tiba-tiba ia merasa seperti ada yang memperhatikannya dari arah belakang. Dan saat ia menoleh, sepasang mata sedang menatapnya tajam dari balik seberkas cahaya menyilaukan.
Sepasang mata berbentuk aneh.
Dan berwarna biru.
~o0o~
__ADS_1