PLANET BIRU

PLANET BIRU
CEMBURU dan RAHASIA


__ADS_3

“Kau tidak pernah memberitahukan kepada Vla tentang taman itu, bukan?" tanya Ratu Ishtar


"Tidak, Yang Mulia," jawab Venera sambil menggeleng.


"Mengapa?" tanya Ratu Ishtar lagi. "Bukankah kau bilang, Vla adalah sahabatmu?"


"Ehmm... ka... karena...," Venera tergagap, "w... waktu itu, saya berpikir... taman yang saya masuki itu... mungkin adalah tempat terlarang yang tidak semestinya untuk dimasuki oleh para venusian. Jadi... jadi saya memutuskan untuk tidak memberitahukannya kepada Vla. Karena jika nanti saya akan dihukum karena hal itu, Vla tidak akan ikut terkena hukuman juga, Yang Mulia," jawab Venera.


"Benarkah itu alasanmu?" tanya Ratu Ishtar sambil mencondongkan tubuh ke arah Venera.


"Eeh... y... ya, Yang Mulia," jawab Venera dengan sedikit takut melihat tatapan sang ratu yang seolah sedang membaca isi kepalanya.


"Kau yakin bukan karena jika Vla mengetahuinya, ia akan memintamu untuk mengajaknya ikut serta pergi ke sana?" tanya Ratu Ishtar penuh penekanan.


"Eh... itu..." Venera tampak semakin bingung.


"Coba kau pikirkan dan rasakan kembali di dalam hatimu Venera," ucap Ratu Ishtar lagi, "benarkah itu alasanmu merahasiakannya dari Vla?"


“Itu... saya rasa... ehmm... entah kenapa, rasanya saya memang tidak ingin Vla mengetahui tentang keberadaan taman itu, Yang Mulia," jawab Venera akhirnya.


Ratu Ishtar tersenyum lembut dan menggeleng.


“Bukan taman itu, Venera. Tetapi Marxis," ucap sang ratu. "Marxis-lah yang kau sembunyikan keberadaannya dari Vla. Kau tidak ingin Vla tahu tentang Marxis karena kau tidak mau membagi keberadaannya dengan Vla. Kau juga menyembunyikan kelopak bunga yang kau dapatkan dari Marxis, supaya Vla tidak bertanya-tanya tentang itu dan akibatnya keberadaan Marxis akan diketahui olehnya."


"Saya... saya rasa... ah... saya bingung, Yang Mulia," jawab Venera. "Saya... bukannya tidak ingin menjawab dengan tidak jujur. Tetapi saya merasa tidak yakin... apakah benar saya memiliki perasaan seperti Yang Mulia katakan itu...?"


Ratu Ishtar tertawa kecil. "Nah, itulah yang tadi kumaksud dengan cemburu, Venera.”

__ADS_1


“Cemburu...?” Venera menatap sang ratu dengan bingung.


“Ya, Venera." Ratu Ishtar mengangguk. "Pada saat kau menemukan taman itu, di dalam hatimu sebenarnya kau sudah menganggap Marxis sebagai hak milikmu. Milikmu sendiri. Bahkan kepada sahabatmu sendiri kau tak rela berbagi.”


“Tapi… bukankah itu berarti saya telah melakukan hal yang tidak baik, Yang Mulia? Bersikap egois dengan tidak mau berbagi dengan makhluk lain?” tanya Venera cemas, merasa bersalah telah memiliki pemikiran seperti itu.


Ratu Ishtar tertawa kecil.


“Tidak begitu, Venera," ucapnya, "kau tidak perlu merasa bersalah karena memiliki perasaan seperti itu. Karena, khusus untuk masalah cinta, kita memang tidak membaginya dengan makhluk lain. Cinta itu hanya diperuntukkan bagi dua makhluk saja. Sepasang. Maka dari itu, wajar saja jika kau memiliki perasaan 'ingin memiliki untuk dirimu sendiri' seperti perasaanmu pada Marxis. Cemburu kadang muncul begitu saja tanpa alasan. Ia selalu ada di dalam hati makhluk yang mencintai."


Venera terdiam sesaat.  Lagi-lagi ia salah mengira. Ternyata bukan keberadaan taman itu yang dihindarkannya dari Vla, melainkan siapa yang berada di dalamnya.


Ratu Ishtar menarik napas panjang dan menatap ke bawah, seperti memandangi pantulan wajahnya sendiri pada meja kaca di bawah lengannya.


"Hmm. Perasaan cemburu ini sebenarnya tidak perlu ada, terutama di sini, dan di saat sekarang ini, mengingat kalian adalah pasangan inti-sel," ucap sang ratu pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Hmm... mungkin pengaruh karakter... atau faktor dasar... atau..."


Venera hanya memperhatikan tanpa bertanya apa-apa.


Sejenak mereka berdua tenggelam dalam diam di dalam ruangan yang terasa semakin dingin bagi Venera itu.


"Emm... maaf Yang Mulia, bolehkah saya bertanya?" ucap Venera hati-hati setelah beberapa saat.


"Oh." Ratu Ishtar sedikit terkejut mendengar suara Venera yang memecah keheningan. "Silakan, Anakku," jawabnya lembut.


“Begini, Yang Mulia," ucap Venera, "Saya juga pernah merasakan perasaan aneh saat sedang berada di aula besar. Seperti... seperti sedang ditatap."


"Ditatap? Oleh siapa?" tanya sang ratu.

__ADS_1


"Ehm... awalnya... saya mengira sedang ditatap oleh anda, Yang Mulia, dari singgasana di atas podium, saat sedang makan malam bersama. Tetapi karena saat itu saya... yah, kami semua tidak diperbolehkan untuk menatap Yang Mulia Ratu Ishtar, jadi saya tidak bisa membuktikan perasaan saya itu, apakah benar atau tidak. Tetapi setelah itu, tiba-tiba rasa itu berubah menjadi lebih... lebih menyeramkan..." Venera tergagap sedikit.


"Menyeramkan bagaimana maksudmu, Venera?" tanya Ratu Ishtar lagi.


"Saya merasa sepertinya saat itu semua venusian sedang menatap ke arah saya, Yang Mulia. Semuanya, secara serentak. Namun setelah saya menoleh dan mencoba melihat ke seluruh ruangan, tidak ada satupun dari mereka yang sedang menatap saya. Padahal saya merasakannya, jelas sekali. Dan hal seperti ini baru saya alami sekarang, Yang Mulia," ucap Venera.


"Ooh..." Ratu Ishtar mengangguk mengerti. "Tak usah khawatir, Venera. Memang seperti itu saat kita pertama kali merasakan cinta di dalam hati. Saat itu kau baru saja membuka segel cintamu, Venera. Kau merasa seperti ada sebuah pintu yang terbuka lebar di dalam dirimu, dan dari dalamnya keluar sesuatu yang sama sekali baru. Tetapi di saat bersamaan, kau juga tidak ingin sesuatu yang baru itu sampai terlihat oleh makhluk lain. Maka kau berusaha menutupinya. Seperti saat kau sedang menutupi sebuah rahasia."


"Tapi, saya beberapa kali memiliki rahasia bersama Vla, Yang Mulia. Dan saya tidak pernah merasakan hal seperti itu," ucap Venera tak mengerti.


"Maksudmu, rahasia kecil seperti saat kau memecahkan bola kaca di ruang kelas lalu Vla membantumu membersihkan pecahannya dan kalian merahasiakannya dari Dewan Pengawas Keterampilan? Atau saat kau menyelundupkan makanan kecil yang kau sukai dari dapur Dewan Pengawas Kesehatan dan Makanan lalu membawanya ke dalam kamar dan memakannya bersama-sama dengan sahabatmu?" tanya Ratu Ishtar.


Sontak wajah Venera merah padam.


"I... itu... ah, maafkan saya, Yang Mulia!" ucap Venera buru-buru sambil menunduk dalam-dalam. Malu sekali rasanya sang ratu bisa mengetahui perbuatannya yang tidak baik itu.


Ratu Ishtar terkikik geli. Suara tawanya mirip dengan celotehan pixie kecil yang sering bermain bersama dengan Venera di padang rumput.


"Tidak apa-apa, Venera, angkatlah kepalamu," ucap sang ratu, "itu bukan masalah besar, hanya kenakalan kecil yang masih dalam tahap wajar."


Venera mengangkat kembali wajahnya.


"Tetapi itu sangat berbeda dengan rahasia besar tentang rasa cinta yang kau sembunyikan, Venera. Karena sangat besarnya rahasia tersebut, membuatmu menjadi harus berusaha ekstra keras untuk menyembunyikannya, sehingga tanpa sadar kau pun memiliki perasaan bersalah yang ekstra lebih besar pula dalam menutupinya. Maka timbullah efek 'seperti sedang ditatap' oleh banyak mata. Venusian yang segel cintaya telah terbuka, memang akan menjadi lebih sensitif dalam merasakan berbagai hal."


"Begitukah... Yang Mulia?" tanya Venera pelan.


"Meskipun harus kuakui, bahwa saat itu aku memang benar-benar menatapmu dari singgasanaku, Venera," ucap sang ratu sambil tersenyum kecil. "Karena kau memang menjadi perhatian utamaku saat ini."

__ADS_1


__ADS_2