PLANET BIRU

PLANET BIRU
RASA YANG TAK TERJELASKAN


__ADS_3

“Kau tidak pergi bertualang Venera?” Vla bertanya heran pada Venera sembari membereskan tumpukan pakaian miliknya yang telah selesai dicuci dan dikeringkan di atas tempat tidur. “Kulihat sore ini cuacanya sedang cerah sekali di luar sana.”


Venera menggeleng tanpa mengalihkan pandangan ke arah Vla.  Tubuhnya yang disandarkan pada ambang jendela kamar terasa berat. Amat berat.


“Kenapa?  Apa kau sudah mulai bosan berjalan-jalan di luar?” tanya Vla lagi.


"Ah, tapi itu tidak mungkin, kan?" Vla kemudian tertawa, menertawakan pertanyaannya sendiri.


Venera hanya kembali menggeleng, tanpa suara.


Vla melirik sahabatnya dengan heran sekaligus curiga.


“Ada apa Venera? Kenapa kau diam saja? Kau habis dimarahi oleh Dewan Pengawas, ya? Memangnya kau berbuat apa lagi?” tanyanya menyelidik.


Venera menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


“Tidak ada apa-apa, Vla…” akhirnya Venera menjawab meskipun terdengar sangat tak bersemangat.


“Lalu... kenapa?" Vla mengerutkan dahinya. "Kau kan sebelum ini tidak pernah melewatkan acara petualangan soremu, Venera?”


“Aku … sedang malas saja..." jawab Venera pelan, masih tanpa semangat.


“Apa? Kau... malas?" Vla membelalakkan mata tak percaya.  "Venera yang kukenal selama ini, memangnya bisa merasa malas?” tanyanya takjub, mengira Venera hanya bercanda dan sesaat kemudian ia akan menoleh dan tertawa ceria seperti biasanya. Tetapi ternyata tidak.


Venera malah mengangguk. 


Vla terdiam. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya merapikan pakaian.


Venera kembali menghela napas panjang. Sekuat tenaga menahan emosi untuk tidak merasa kesal pada Vla yang seolah terus memaksanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.


Emosi yang sebetulnya tidak perlu ada. Karena selama ini Venera sebenarnya bukanlah venusian yang mudah marah atau kesal. Ia sendiri tak tahu kenapa saat ini hal-hal kecil saja bisa terasa sangat mengganggunya.


Matanya masih menatap jauh ke depan.


Pemandangan diluar jendela tampak sangat tidak menyenangkan. Entah mengapa seketika semuanya menjadi terlihat buruk di matanya.


Langitnya terlihat pucat dan suram. Udaranya terasa panas dan sesak. Bahkan rasanya ingin sekali mengatakan kepada taman kecil di luar jendela itu bahwa rumputnya, batu-batunya, pohon-pohonnya, bunga-bunga kecilnya, semua terlihat kering, gersang, jelek dan menyebalkan sekali.


“Mmm… aku dan teman-teman lain mau bermain bersama para Unicorn muda,” ujar Vla setelah selesai membereskan pakaiannya dan menatap ragu ke arah Venera yang masih saja membelakanginya. “Tadi Voxy melihat beberapa diantara mereka datang ke tepi padang rumput Asrama Hespherus. Kau mau ikut, Venera?”


“Tidak Vla. Aku mau disini saja," tolak Venera, berusaha bicara sehalus mungkin.


“Tidak…?" tanya Vla hati-hati.  "Tapi... kau kan suka sekali pada mereka? Unicorn-unicorn cantik itu?"


Vla berbalik perlahan, dan tersenyum menatap sahabatnya. Kemudian menjawab, “Mungkin lain kali saja, Vla.”

__ADS_1


Vla tertegun sesaat. Mengerjapkan matanya.


“Yah… kalau begitu… err... baiklah. Sampai nanti, Venera,” ucap Vla sembari beranjak perlahan dengan ekor mata tetap mengamati Venera. Ia merasa terkejut dan tak mengerti melihat senyum dipaksakan yang terukir di wajah sahabatnya itu. Itu seperti bukan senyuman.


Dan dia seperti bukan Venera.


 


 


     ~o0o~


 


 


“Venera, apa tidak sebaiknya kau pergi ke Ruang Kesehatan saja?  Sudah beberapa hari ini kulihat kau tak bersemangat menghabiskan makanananmu,” kata Vla saat mereka berjalan bersama melewati koridor Ruang Istirahat setelah selesai makan malam.


“Tidak perlu Vla, aku baik-baik saja, kok,” jawab Venera sambil menggeleng.


“Tidak ada yang baik-baik saja kalau sampai menjelang pagi kau baru bisa tertidur Venera,” Vla menatap Venera penuh tanda tanya.


“Ah… maaf Vla,” sahut Venera sambil menatap Vla dengan wajah menyesal. ”Aku mengganggu tidurmu ya?”


“Tentu saja,” jawab Vla. “Kau terus-terusan mendesah dan berguling kesana kemari di atas tempat tidurmu sepanjang malam. Venusian mana yang tidak terbangun mendengar suara-suara seberisik itu?” Vla mengangkat bahu.


Sahabatnya itu tak akan pernah merasa puas dengan sebuah jawaban jika ia menduga ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Dan saat ini Venera memang sedang menutupi sesuatu.


“Jadi… sebenarnya ada apa, Venera? Apa kau sedang ada masalah?” tanya Vla lagi.


“Hmm, tidak ada, Vla,” jawab Venera sembari menghindari tatapan Vla. “Aku… hanya sedang merasa bosan saja.”


Venera menghampiri sebuah kursi panjang kosong yang terletak di sudut ruang dekat jendela besar, yang membuka langsung ke arah padang rumput yang luas. Tempat yang paling disukainya saat sedang duduk-duduk di Ruang Istirahat.


“Bosan?” Vla mengerutkan alisnya. “Bosan karena apa?” tanyanya heran sembari duduk di samping Venera.


Venera hanya mengangkat bahu, bingung harus menjawab apa.


"Bagaimana kau bisa merasa bosan, Venera?" Vla mengerutkan dahi. "Maksudmu, bosan seperti waktu Dewan Pengurus Kesehatan dan Makanan menyajikan santapan yang itu-itu saja untuk makan malam kita? Atau seperti saat kita sedang menjahit kain lebar dengan satu warna yang tak kunjung selesai? Atau..."


"Bukan rasa bosan terhadap hal-hal seperti itu, Vla," Venera tertawa kecil dan tersenyum pada Vla.


"Lalu?" tanya Vla penasaran.


“Hmm. Aku pun tak tahu, Vla.” Venera menggeleng. “Sulit untuk menjelaskan tentang sesuatu sementara kau tidak sedang merasakannya seperti diriku. Iya, kan?”

__ADS_1


“Hmm… benar juga…” gumam Vla.


Mereka berdiam diri sejenak.


"Lalu, sekarang kau mau melakukan apa untuk mengatasi rasa bosanmu itu?" tanya Vla lagi.


"Itulah yang aku tak tahu..." Venera mengangkat bahu.


Vla hanya diam, memutuskan untuk tak bertanya apa-apa lagi meskipun sebenarnya ia sangat heran terhadap sikap Venera belakangan ini. Kemarin dia mengatakan sedang malas. Sekarang dia bilang sedang bosan. Sepertinya memang sedang terjadi sesuatu pada Venera.


~o0o~


 


Venera berbaring diam di atas tempat tidurnya.  Berusaha untuk tidak bergerak terlalu banyak supaya tidak membangunkan Vla.


Sudah tiga hari ia tak datang ke taman. Selain karena masih merasa kesal pada Marxis, ia juga mengkhawatirkan soal kesehatannya.


Venera sempat mengira kalau ia tidak menghirup udara di dalam taman itu selama beberapa hari, kesehatannya bisa pulih kembali.  Tetapi ternyata tidak. Ia malah merasa semakin sakit.


Ia tak bisa melakukan hal apapun dengan cepat lagi seperti biasanya. Tubuhnya seperti tidak mau menuruti perintah otaknya. Otaknya pun tak bisa berpikir dengan jernih. Rasanya lemas dan tidak bisa melakukan apa saja.


Tugas sehari-harinya menjadi lebih lambat ia kerjakan. Hasilnya pun tak sebagus biasanya, sampai-sampai Dewan Pengawas Keterampilan merasa heran melihatnya yang biasanya selalu mendapatkan nilai paling baik di Asrama Eosphorus. Ia pun seringkali tak bisa memfokuskan diri untuk menyimak apa yang disampaikan oleh venusian lain padanya.


Rasa tak terjelaskan yang ia tahu sesungguhnya sama sekali bukan rasa malas atau bosan seperti yang dikatakannya kepada Vla.


Ini pasti akibat dari penyakit aneh yang didapatnya dari taman misterius itu.


Venera merasa tak bisa menyembunyikan kondisinya ini lebih lama lagi.  Cepat atau lambat ia pasti akan ketahuan. Dan bagaimana jika kesehatannya terus memburuk sehingga ia tidak diperbolehkan datang ke taman itu lagi?


Padahal Venera merasa masih banyak yang ingin ditanyakannya pada Marxis.  


Tentang Mars, tentang kehidupan disana, tentang semuanya.


Dan mereka seharusnya bisa menyelidiki lebih jauh lagi soal apa dan bagaimana taman misterius yang mereka datangi itu.  


Mungkin ia memang harus datang kembali ke taman itu.  


 


     ~o0o~


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2