PLANET BIRU

PLANET BIRU
MENGHADAP RATU ISHTAR


__ADS_3

"Venera, bangunlah."


Venera membuka matanya terkejut. Lalu terduduk di atas tempat tidurnya, dan menoleh ke arah Vla yang masih terlelap. Ia yakin sekali ada suara yang memanggilnya. Entah suara siapa dan dari mana.


Venera melihat ke luar jendela. Suasana masih gelap, walau terlihat semburat kekuningan yang muncul di langit sebelah barat. Hari sudah menjelang pagi.


"Jangan membuat suara, Venera. Kau harus pergi dalam diam."


Terdengar kembali suara misterius itu, yang ternyata berasal dari dalam kepalanya. Dan Venera langsung menyadari bahwa itu adalah suara Ratu Ishtar.


Ia mencoba untuk menjawab tanpa suara. "Ehh... baik Yang Mulia...,"


Venera ragu apakah Ratu Ishtar dapat mendengar jawabannya, karena barusan ia hanya memikirkan kalimat jawaban itu di dalam otaknya.


"Aku akan membukakan pintu untukmu. Tak perlu menyiapkan apapun," perintah Ratu Ishtar.


"Baik, Yang Mulia," sahut Venera lagi. Ternyata sang ratu mendengarnya.


Kemudian ia turun dari tempat tidurnya dengan gerakan berhati-hati sambil menatap punggung Vla yang masih tidur dengan nyenyak. Ingin rasanya memeluk sahabatnya itu sekali lagi. Tetapi itu tidak mungkin dilakukan tanpa membuatnya terbangun.


Venera berdiri di tengah ruangan, dan menunggu.


Sebuah pendar cahaya muncul di hadapan Venera. Seberkas cahaya berwarna putih yang lama kelamaan membuka dan semakin melebar, membentuk sebuah lubang besar yang menampakkan ruangan berdinding emas di sisi sebaliknya.


Venera melemparkan pandangan sekali lagi ke arah Vla yang masih tertidur pulas, lalu dengan rasa sesak di dada ia mengucapkan kata 'selamat tinggal, Vla' tanpa suara.


Kemudian Venera melangkahkan kaki perlahan memasuki lubang.


Dan ia tiba kembali di istana Ratu Ishtar. Dinding-dinding luas kosong berwarna emas mengelilinginya. Entah bagian istana sebelah mana yanh dimasukinya ini.


"Selamat datang kembali, Venera." Ratu Ishtar menyambutnya.


"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Venera sambil membungkukkan tubuhnya dengan sedikit gugup. Meskipun ia telah memiliki kebebasan untuk menatap wajah sang ratu, tetap saja ia merasa harus bersikap sopan, dan tidak dengan serta merta langsung menatap wajah Ratu Ishtar.


"Mari ikuti aku," titah Ratu Ishar sambil melangkah lebih dulu.


"Baik, Yang Mulia," jawab Venera yang langsung mengikuti Ratu Ishtar dari belakang.


Mereka kembali melangkah menelusuri ruang-ruang istana yang terlihat sama. Dinding dan lantai emas yang tampak kosong.


Jantung Venera berdegup kencang memikirkan kapan saat yang tepat baginya untuk menyampaikan penolakannya.


Sebetulnya Venera penasaran dengan istana Ratu Ishtar ini. Ia ingin tahu di mana sebenarnya letaknya, seberapa luas bangunannya, dan bagaimana bentuknya jika dilihat dari luar. Sudah dua kali ia datang ke sini dan selalu saja langsung masuk ke dalam istana, tanpa dapat melihat bagian luarnya.


Ratu Ishtar membawa Venera masuk ke dalam sebuah ruangan luas berdinding putih, yang dikenali Venera sebagai ruangan tempat Ratu Ishtar dan Raja Ares membuat bulatan-bulatan inti-sel yang telah dilihatnya kemarin pada lempeng kaca bergambar itu.

__ADS_1


Ia melihat kursi logam panjang dan bola kaca besar di tengah, dan dua tabung besar yang tergeletak di lantai di depan kursi logam itu. Tetapi kedua tabung itu saat ini dalam keadaan kosong.


"Ini adalah laboratoriumku, Venera. Tempat aku melakukan semuanya," jelas Ratu Ishtar.


Venera melihat di sisi terdekat dengan kursi logam terdapat sebuah semacam lemari besar logam yang menempel ke dinding. Kemudian di salah satu sisi ruangan yang terletak paling jauh dari pintu masuk, terlihat berderet-deret tabung kaca besar setinggi tubuhnya. Tabung-tabung itu penuh berisi air berwarna kuning pekat. Venera memicingkan matanya berusaha melihat lebih jelas.


"Tabung-tabung apa itu, Yang Mulia?" tunjuk Venera penasaran.


Ratu Ishtar melirik sekilas ke arah yang ditunjuk oleh Venera kemudian menjawab, "Ah. Itu adalah mahakaryaku. Duduklah di sini, Venera," jawab sang ratu dengan cepat, seolah tak suka Venera menanyakan tentang hal itu, dan mencegahnya bertanya lebih lanjut.


Venera menurut dan duduk pada kursi logam yang ditunjuk oleh sang ratu.


"Nah, sekarang, aku akan mulai memasukkan data lengkap tentang Planet Biru kepadamu," ujar sang ratu sembari membuka salah satu celah kecil di lemari besar, dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Semacam tutup kepala bulat dari logam dengan tali-tali panjang yang tertanam di bagian luarnya.


Venera merasa ini adalah saatnya.


Ia harus memberanikan diri, karena semua sudah ia putuskan.


Ditariknya napas dalam-dalam. Dan dengan cepat ia berdiri dari kursinya.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa pergi ke Planet Biru!" ucap Venera keras namun dengan suara bergetar. Ia berdiri tegak namun tanpa menatap wajah sang ratu.


Tangan Ratu Ishtar membeku di udara, terkejut oleh kata-kata Venera.


Kemudian perlahan ia memasukkan kembali benda aneh itu ke dalam lemari. Lalu berdiri tegak di hadapan Venera tanpa bicara. Namun Venera dapat merasakan tatapan Ratu Ishtar yang menusuk tajam ke arahnya.


"Mohon ampun, Yang Mulia!" ucap Venera dan jatuh bersujud di kaki Ratu Ishtar.


“Kau, menolak tugas yang kuberikan padamu, Venera?” suara Ratu Ishtar menggelegar keras ke seluruh ruangan yang besar dan dingin itu.


“Saya … saya bersedia dihukum atas kelancangan saya, Yang Mulia!” suara Venera melengking tinggi penuh ketakutan.


“Berdiri kau, Venera!” perintah Ratu Ishtar.


Venera bangkit berdiri dengan kedua kaki gemetar, tanpa berani menatap wajah Sang Ratu.  Tubuhnya terasa membeku.


“Kau, bersedia menerima hukuman dariku?” tanya Ratu Ishtar.


“B… bersedia, Yang Mulia!” jawab Venera dengan suara semakin bergetar.


“Mengapa?” tanya sang ratu.


“Karena... karena saya menolak perintah, Yang Mulia," jawab Venera. Tubuhnya semakin gemetar tak terkendali.


“Dan kenapa kau menolak perintahku?” tanya Ratu Ishtar lagi dengan tajam.

__ADS_1


“Saya… saya…” Venera hilang akal sesaat dan mulai tergagap.


“Jawab segera!” seru Ratu Ishtar.


Venera menarik napas panjang untuk mengumpulkan kekuatannya dan menjawab.


“S… saya… tidak suka melihat kehidupan di Planet Biru seperti… seperti yang sudah Yang Mulia ceritakan dan gambarkan kemarin. Saya… saya rasa... saya tidak akan sanggup mengemban tugas menjadi pemimpin disaat venusian dan martian lain tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan bersama Marxis, Yang Mulia…”


Ratu Ishtar terdiam mendengar jawaban Venera.


Sesaat keheningan menggantung di udara.


Keheningan yang menyiksa.


“Kau tidak ingin mendapatkan kekuasaan dan kebanggaan abadi seperti yang telah kukatakan kepadamu?” tanya Sang Ratu akhirnya.


“Saya tidak menginginkannya, Yang Mulia. Karena saya lebih tidak ingin melihat kekacauan urusan cinta di Planet Biru nantinya." jawab Venera. “Dan saya… rela menerima hukuman untuk itu, Yang Mulia."


Ratu Ishtar kembali terdiam sejenak.


“Hukuman apa sebenarnya yang kau bicarakan sejak tadi, Venera?” tanya Ratu Ishtar kemudian.


“Hukuman… eem… hukuman…” Venera tergagap, “eh… mm… Dewan Pengawas selalu mengatakan, kalau kami menentang perintah Yang Mulia, apapun itu, kami akan dihukum. Dengan sangat berat.”


”Ya, ya,” sahut sang ratu, “Dewan Pengawas memang bertugas menjaga ketertiban dan keteraturan di planet ini. Aku tak bisa menyalahkan mereka karena telah membuat peraturan-peraturan keras yang memberi kesan bahwa aku ini adalah makhluk pemarah yang mengerikan.”


“Bu… bukan begitu, Yang Mulia...” jawab Venera gugup.


“Dan aku bisa mengerti betapa sulitnya mengatur kalian semua dalam jumlah sebanyak itu jika tidak dengan cara menakut-nakuti kalian,” lanjut Sang Ratu.


“Eh… mm… saya...” Venera semakin gugup.


“Lalu, apa kau kira, setelah aku sendiri yang membuat sistem kerja otak kalian sedemikian sempurna supaya bisa berpikir dan menelaah tentang segala hal dengan teliti dan penuh pertimbangan, kemudian saat kalian menggunakannya untuk memilih dan memutuskan, aku malah akan marah dan menghukum kalian?” tanya Ratu Ishtar dengan tajam.


“Saya… saya kira…” Venera tak tahu harus mengatakan apa.


“Apakah tak terpikir olehmu, bahwa kalaupun ada yang harus kumarahi dan kuberi hukuman, itu adalah diriku sendiri, yang telah membuat kalian bisa berpikir secerdas ini?” tanya sang ratu lagi.


“Saya… saya tidak… tidak bisa berpikir begitu, Yang Mulia," ucap Venera semakin bingung.


Sesaat ruangan hening kembali.


 


Dan tiba-tiba Ratu Ishtar tertawa.  

__ADS_1


Tawa keras berderai yang menggetarkan ruangan.


__ADS_2