
Venera merasa sangat terkejut.
Suara Ratu Ishtar saat menyebutkan namanya, seketika berubah menjadi lantang dan keras. Tidak lagi terdengar seperti alunan merdu bagai nyanyian alam seperti sebelumnya.
Venera menunduk semakin dalam.
"Kau, venusian Venera, telah memasuki taman milikku," ucap sang ratu. Suaranya menggelegar ke seluruh ruangan.
“M… mohon ampun, Yang Mulia!" Venera jatuh bersimpuh di kaki sang ratu. "Saya… saya telah berbuat lancang,” jawab Venera dengan suara melengking penuh ketakutan.
Ia menunduk semakin dalam hingga kepalanya nyaris menyentuh lantai istana yang dingin.
"Bangun, Venera," perintah sang ratu tegas.
Venera diam tak bergerak. Tubuhnya seolah lumpuh.
"Berdirilah!" Ratu Ishtar berseru.
Venera segera mendorong tubuhnya sekuat tenaga untuk berdiri di atas kedua kakinya yang goyah.
“Angkat kepalamu, Venera,” perintah sang ratu. "Jangan menunduk seperti itu."
Venera terkejut. “Ta... tapi... Yang Mulia…?”
“Pembicaraan kita ini akan panjang sekali, kau tahu?" Suara sang ratu tiba-tiba berubah menjadi lembut kembali. "Dan aku tidak mau kau sampai merasa tak nyaman karena terlalu lama berada dalam posisi seperti itu. Bahkan kalau dibiarkan, lama kelamaan otot dan tulang belakangmu bisa rusak. Kau tak mau hal itu sampai terjadi, kan?"
Venera tertegun.
Sejenak memikirkan kata-kata sang ratu.
"Nah," lanjut Ratu Ishtar, "maka dari itu, sekarang angkatlah kepalamu."
Lalu Venera mulai mengangkat wajahnya perlahan.
Sedikit saja, hingga ia dapat menatap lurus ke depan.
Dan menatap lambang istana di pakaian Ratu Ishtar yang membuatnya langsung berlutut memberi hormat saat berada di taman tadi.
“Dan kau, juga boleh melihat wajahku,” kata Ratu Ishtar lagi.
Venera sangat terkejut sehingga mengira pendengarannya tak berfungsi dengan baik.
"M... maaf, Yang Mulia...?" tanyanya ragu.
"Ya, Venera. Kau tidak salah dengar. Kau boleh melihat wajahku," ucap Ratu Ishtar lagi.
“T... tapi…? Y... Yang Mulia? Bukankah...”
__ADS_1
“Pasti akan terasa sangat tidak nyaman bukan, jika kita berbincang-bincang dengan lawan bicara yang tak bisa kita lihat wajahnya?” ucap Ratu Ishtar dengan sangat lembut. "Selain itu mengamati ekspresi wajah lawan bicara juga sangat perlu, Venera, supaya kau dapat belajar memahami bermacam-macam karakter yang ada. Terkadang apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan. Tetapi itu bisa kita ketahui apabila kita terbiasa mengamati wajah lawan bicara kita dengan cermat."
Venera terdiam sesaat.
Selama ini, peraturan paling utama yang harus ditaati oleh para venusian tentang Ratu Ishtar adalah 'dilarang menatap wajah, wajib menunduk, dan tidak diperbolehkan mempertanyakan atau membahas hal apapun terkait dengan kehidupan pribadi, pemikiran, dan sikap sang ratu'.
Venera masih tak bergerak. Antara bingung, takut dan takjub, memikirkan hal apa yang sebenarnya akan dialaminya sesaat lagi.
“Sudahlah. Tidak apa-apa, Venera. Ayo, angkat wajahmu,” ucap Ratu Ishtar lagi.
Dan akhirnya dengan mengerahkan segala tenaga dan keberaniannya, Venera menengadahkan kepala.
Mendongak sampai jauh di atas kepalanya, menatap tepat ke wajah sang ratu.
Dan terpana.
Ia langsung teringat dengan mimpi anehnya malam itu, dimana ada sepasang mata berwarna biru yang mengawasinya dari balik cahaya putih menyilaukan.
Dan kedua bola mata biru besar itu kini berada di hadapannya, menatapnya dengan hangat dan penuh kasih sayang.
Kelopak matanya yang berbentuk seperti tetesan embun di pagi hari, mengerjap dengan gerakan anggun, melontarkan barisan rambut lentik pada tepiannya dalam gelombang halus berirama.
Bibir merahnya yang tersenyum ramah, mengingatkan Venera pada lengkung indah kelopak bunga-bunga cantik yang ada di dalam taman misterius.
Sebuah mahkota bintang berwarna emas yang sangat indah, bertahta megah di atas rambut perak panjang yang membingkai wajahnya dengan sangat sempurna.
Luar biasa cantik.
Itupun kalau kata ‘cantik’ masih bisa mewakili penampilannya.
Wajah Ratu Ishtar mencerminkan suatu ekspresi kelembutan sekaligus juga kewibawaan. Wajah yang membuat Venera merasa ingin memeluknya dengan penuh kerinduan, tetapi di saat yang bersamaan juga ingin berlutut menghormatinya.
Ini bukan seperti wajah venusian.
Bahkan tidak seperti seraut wajah.
Venera merasa seolah sedang memandang sesuatu yang amat luas dan dalam.
Tak terbatas dan tak terjelaskan.
Venera benar-benar merasa tersihir.
Pesona kecantikan Ratu Ishtar mengikatnya dengan sangat kuat.
Mungkin inilah sebabnya mengapa sangat dilarang untuk melihat wajah sang ratu.
__ADS_1
"Nah, begitu lebih baik, kan?" ucap Ratu Ishtar menyadarkan Venera dari kondisi transnya. “Sekarang, kemarilah Venera, duduklah bersamaku. Kita akan berbincang-bincang.”
“Eh… b… baik, Yang Mulia.” Venera segera mengalihkan pandangan dari wajah sang ratu dan berjalan mengikutinya.
Di tengah ruangan, baru terlihat oleh Venera, terdapat sebuah meja kaca putih dengan dua buah kursi besar yang terbuat dari bahan yang sama. Dan terdapat sebuah benda aneh di dekatnya. Seperti selembar kaca tipis tak berwarna yang melayang di udara.
Ratu Ishtar menggerakkan tangannya, mempersilakan Venera untuk duduk.
Venera segera menempati salah satu kursi tersebut, meskipun sedikit kesulitan untuk mengangkat tubuhnya sendiri ke atasnya. Karena sepertinya barang-barang ini dibuat khusus untuk Ratu Ishtar dengan ukuran tubuhnya yang sangat tinggi.
Ratu Ishtar menempatkan dirinya pada kursi lain di hadapan Venera.
Venera menunduk menatap permukaan meja kaca putih itu dengan perasaan campur aduk.
Alih-alih mendapat hukuman, ia malah diperbolehkan untuk menatap wajah, duduk bersama, dan saat ini ia akan berbincang-bincang dengan Ratu Ishtar?
"Nah, Venera, apa kau menyukai taman itu?" tanya Ratu Ishtar.
“S... suka, Yang Mulia," jawab Venera.
“Apa yang kau sukai dari taman itu?” tanya sang ratu lagi.
“Eh… bunga-bunga, pepohonan, binatang-binatang, lalu… langitnya…” Venera menahan kalimatnya sembari berpikir apakah Ratu Ishtar menunggu ia menyebutkan soal Marxis atau tidak, dan apakah hal itu perlu untuk ia sebutkan karena sang ratu sepertinya telah mengetahui semuanya.
Ratu Ishtar hanya tersenyum kemudian berdiri dari kursinya.
Ia melangkah mendekati lempengan kaca besar yang melayang itu, benda asing yang membuat Venera penasaran akan fungsi dan kegunaannya.
Ratu Ishtar mengibaskan tangan di depan lempengan kaca itu dengan gerakan halus.
Dan keseluruhan lempeng kaca itu kini menampilkan warna hitam kelam di seluruh permukaannya.
Venera terkesima melihat benda yang ternyata sangat ajaib itu. Benda itu dapat berubah warna.
Namun kemudian warna hitam pekat yang memenuhi permukaan lempeng itu perlahan mulai dipenuhi oleh titik-titik berwarna warni. Titik-titik yang sangat kecil.
Venera memicingkan matanya mengamati titik-titik itu, mengira ada yang salah dengan matanya.
Namun ternyata tidak. Titik-titik itu memang bergerak, seolah mendekat ke arah Venera. Namun dengan sangat perlahan.
Lalu seiring dengan membesarnya gambar titik-titik itu, sekarang Venera dapat melihat bahwa titik-titik tersebut ternyata berkelompok dan membentuk berbagai macam pola berwarna-warni.
Ada yang berbentuk seperti pusaran air, ada yang seperti kelopak bunga, ada juga yang berwujud seperti kabut tipis dengan bentuk acak.
Venera masih memperhatikan dengan seksama. Ia merasa penasaran sekali dengan gambar titik-titik yang bergerak.
“Perhatikan, Venera," ucap Ratu Ishtar. "Ini adalah bagian dari alam semesta."
__ADS_1