PLANET BIRU

PLANET BIRU
KOLAM YANG INDAH


__ADS_3

Semakin jauh berjalan, semakin banyak hal menarik yang mereka temui.   Berbagai macam binatang berkaki empat, dengan ukuran kecil dan besar, mengintip mereka berdua dari balik batang pohon dan berlarian di antara semak-semak.  


Marxis tampak selalu siaga dengan busur panahnya, meskipun ia yakin tak akan memerlukannya. Karena entah mengapa, suasana di dalam taman itu terasa sangat aman dan nyaman.


Baik Venera maupun Marxis sama-sama merasakan suatu perasaan aneh. Perasaan yang membuat mereka seolah sudah sangat terbiasa berada di taman itu. Karena semuanya terasa begitu bersahabat.


Seekor binatang kecil dengan bulu berwarna putih dan telinga panjang melompat dari balik pohon. Venera membungkuk dan membelai punggungnya. Ia terlihat jinak dan sangat menikmati belaian tangan Venera pada bulu-bulunya yang halus dan lembut.


Dan akhirnya tibalah Venera dan Marxis di sebuah tempat yang luar biasa indah.


 


Tempat itu tampak seperti padang rumput hijau terbuka berbentuk lingkaran yang amat luas. Area taman yang baru saja dilalui oleh Venera dan Marxis dibatasi oleh barisan pepohonan lebat sampai melingkupi setengah lingkaran.  Setengahnya lagi di bagian depan dibentengi oleh deretan bukit hijau tinggi menjulang yang melengkung membentuk dinding alam yang megah.


Dari salah satu puncak bukit yang paling tinggi di bagian tengah,  mengalir air dalam jumlah besar yang kemudian jatuh ke sebuah kolam luas di bawahnya.  Curahan air yang sangat deras itu menimbulkan riak-riak putih berbuih di permukaan kolam.  


Seluruh area di sekitar kolam sampai ke dinding bukit hijau dipenuhi oleh tanaman-tanaman berbunga dengan bermacam bentuk, dan berbagai warna yang indah. Warna-warna cerah yang belum pernah dilihat oleh Venera maupun Marxis.


Untuk sesaat mereka berdiri terpana tanpa mampu berkata-kata. Takjub dengan pemandangan indah yang terpampang di depan mata.


 


“Ini… ini… indah sekaliiiii…!” seru Venera segera setelah kesadarannya pulih.


Ia melompat-lompat kegirangan dan berlari mendahului Marxis menuju ke kolam itu. Seumur hidupnya belum pernah ia melihat kolam sebesar itu. Kolam yang ia tahu hanyalah kolam kecil dengan bunga mavarea menghiasi permukaannya yang terletak di halaman asrama.


“Marxis!  Lihat ini!  Ada binatang-binatang di dalam air!  Lihat! Mereka ada banyak di dalam sini!” teriak Venera pada Marxis sambil membungkukkan badan di atas permukaan kolam. Ia takjub sekali melihat ada makhluk yang tinggal di dalam air kolam.


“Ya. Aku segera kesana.” Marxis menyusul Venera sambil tetap mengamati keadaan di sekitar.


Venera mengamati binatang-binatang cantik itu. Bentuk mereka yang unik dan berwarna-warni, serta gerakan-gerakan gemulai mereka saat bergerak di dalam air, sungguh mempesona.


Ia mencelupkan tangan ke dalam air kolam dan mengaduk-aduk sedikit permukaannya. Binatang-binatang kecil itu terkejut dan langsung menghindar. Pergi ke bawah menuju dasar kolam. Tetapi sebentar kemudian segera kembali ke permukaan.


“Waah, mereka lucu!” Venera tertawa riang dan kembali menggoda mereka.


Setelah itu ia beralih mengamati bunga-bunga di sekeliling kolam.  Meraba permukaan permukaan kelopaknya yang indah, dan menciumi wangi dari masing-masing jenis bunga.

__ADS_1


“Hmm… haruuum sekali…” Venera menghirupkan napasnya dalam-dalam pada sekuntum bunga berwarna merah muda. “Yang ini juga, wangiiii sekali!” Ia membenamkan wajahnya pada setangkai bunga berkelopak lebar berwarna jingga.


Setelah itu ia sibuk mengejar binatang-binatang kecil yang beterbangan di sekitar bunga-bunga, berusaha menangkap salah satunya. Binatang-binatang kecil bersayap indah itu pun seolah sengaja menarik perhatian Venera supaya berlari mengikuti mereka.


“Ahahaha! Mereka gesit sekali! Iya kan, Marxis?" seru Venera kegirangan.  "Dan sayap mereka juga amat cantik! Lihatlah yang itu! Wah… yang itu juga!  Itu! Itu lihat!”


Venera menari berputar-putar sambil bernyanyi dan bersenandung.  Kakinya yang lincah melompat dari batu yang satu ke batu lainnya.  Berhenti sebentar untuk menyentuh sekuntum bunga dan memuji keindahannya, kemudian berlari lagi menghampiri apa saja yang tertangkap oleh matanya.


Marxis hanya duduk diam di atas bebatuan, mengamati.


 


“Marxis!  Tempat ini benar-benar indah sekali ya!” teriak Venera dari kejauhan.


“Ya,” jawab Marxis.


“Wahh... airnya dingiiiin!” pekik Venera saat memasukkan kakinya sampai sebatas lutut ke dalam air kolam.  Tak peduli bagian bawah gaunnya yang menjadi basah karenanya.


“Heiii!  Pemandangan dari bawah sini bagus sekali Marxis!  Kau tak mau lihat?” seru Venera sambil mendongak ke atas, dimana air dari atas bukit tumpah terus-menerus kebawah.  Wajahnya basah terkena percikan air.


“Ya, ya. Memang indah sekali,” jawab Marxis. “Jauh lebih indah daripada tempat manapun di Mars. Tapi kenapa kau harus seperti itu?”


“Ya seperti itu." Marxis menatap Venera. "Kau terlalu banyak bergerak yang tidak perlu. Dan terlalu banyak bicara. Apa kau tidak lelah?”


“Huh.” Venera cemberut dan melipat kedua lengannya di dada. “Kau ini menyebalkan. Kau tidak bisa menghargai keindahan, ya?”


“Aku menghargai,” sahut Marxis, ”tapi tidak dengan caramu.”


 


Angin bertiup kencang dari balik bukit. Venera menelengkan kepala dan merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


“Dan kenapa kau selalu melakukan itu?” tanya Marxis lagi.


“Melakukan apa?” Venera balik bertanya.


“Itu." Marxis menunjuk. "Mengibaskan rambutmu. Memegang-megangnya terus. Kalau kau merasa terganggu dengannya, potong saja.”

__ADS_1


“Iih, kau ini kasar sekali, sih?" Venera mendelik pada Marxis sambil memegangi rambutnya menjauh, seolah Marxis sungguh-sungguh hendak memotongnya.  "Rambut ini kan untuk mempercantik diri. Mana mungkin aku memotongnya. Aku tidak mau berpenampilan seperti dirimu.”


Marxis mengangkat bahu. “Aku tak mengerti apa itu ‘mempercantik diri’. Kami di Mars hanya memikirkan bagaimana caranya menjadi lebih hebat dari yang lain.”


“Hebat dalam hal apa?” tanya Venera.


“Berburu, adu kekuatan dan adu ketangkasan menggunakan senjata," jawab Marxis lugas.


“Ugh. Kalian seram sekali," komentar Venera. Kemudian ia memetik setangkai bunga kecil dan menyelipkannya di telinga. “Kalau kami di Venus, diajarkan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keterampilan dan keindahan.”


 


Venera beranjak dari kolam dan berbalik, menapakkan kaki pada sebuah jalan tanah kecil di sisi bukit.


“Hei. Kau mau kemana?” tanya Marxis.


“Aku mau lihat darimana datangnya tumpahan air yang deras ini,” jawab Venera sambil menunjuk ke atas.


Marxis kembali hanya diam, memperhatikan dari jauh.


 


Dalam perjalanan menaiki  bukit, Venera melihat lebih banyak lagi jenis bunga dan tanaman lain yang tak kalah indah dari yang dilihatnya di kolam tadi.  


Ia benar-benar terpesona dengan taman itu.


Saat hampir sampai di puncak bukit, jalan setapak menjadi curam dan sempit. Tanahnya berbatu dan licin karena aliran air yang meluap deras.  


Venera menjulurkan kepala melihat ke bawah.


Ternyata puncak bukit ini tinggi sekali, batinnya.  Jauh lebih tinggi dari bukit-bukit lain yang biasa didakinya.


Tiba-tiba Venera merasa gamang.  


Ia kehilangan keseimbangan.  


Dan terpeleset.

__ADS_1


Venera menjerit. Tubuhnya tergantung di sisi tebing dengan kedua tangan mencengkeram sebuah batu besar yang sayangnya permukaannya sangat licin.   


Dan pegangannya dapat terlepas kapan saja.


__ADS_2