
Venera duduk santai di atas sebuah batu besar dengan kedua kaki menggantung di atas rerumputan hijau. Kedua kakinya bergoyang-goyang, sebagai tanda bahwa ia sangat menikmati suasana saat ini.
Matanya memandang berkeliling.
Memperhatikan dengan cermat air yang jatuh ke dalam kolam dari balik sebuah batu besar di atas sana. Suaranya yang bergemuruh, percikannya yang terlontar jauh hingga ke dinding tebing, sampai aliran air itu sendiri yang apabila diamati secara keseluruhan terlihat menyerupai berbagai macam benda yang berganti-ganti bentuk dengan cepat.
Suara kepakan sayap binatang-binatang mungil bersayap lebar nan cantik yang terbang berlalu-lalang di atas kepalanya, juga suara dengung pelan yang berasal dari binatang-binatang kecil bertubuh bulat dengan dua warna; hitam dan kuning, yang sepertinya memiliki perhatian khusus kepada kelopak-kelopak bunga tertentu.
Suara gemerisik dedaunan dari pohon-pohon tinggi yang saling bergesekan karena tertiup angin, bahkan suara angin itu sendiri, yang mendesau halus bagai bisikan bernada merdu yang digaungkan di udara.
Seluruh panca indera dan saraf-saraf di tubuh Venera terasa sangat aktif, dan bekerja lebih baik saat berada di dalam taman misterius ini. Venera belum pernah merasa sejelas dan sedetail ini sebelumnya dalam memperhatikan dan menangkap sesuatu dengan inderanya.
Saat ini kegiatan masuk ke dalam taman dengan sembunyi-sembunyi adalah hal yang paling disukainya. Yang paling dinantikannya. Bahkan ia sudah merasa seperti sebuah rutinitas yang wajib ia lakukan setiap hari.
Rutinitas yang menyenangkan.
Terdengar suara Marxis berseru dari kejauhan. ”Venera! Ayo kesini!”
Venera menoleh ke arah suara itu. Tampak Marxis berdiri di atas tebing bukit yang ia daki kemarin, sebelum ia terpeleset dan nyaris jatuh. Ia melambaikan tangan dengan bersemangat ke arah Venera, dan tangan satunya menunjuk-nunjuk sesuatu ke arah belakangnya, seperti ingin memperlihatkan sesuatu kepada Venera.
Venera menggeleng dan menggerakkan lengannya kuat-kuat di atas kepala sebagai tanda bahwa ia tak mau, dan berteriak, "Tidak, terima kasih! Aku disini saja!"
Tak lama kemudian, Marxis turun dari bukit dan menghampiri Venera yang masih tetap duduk di atas batu besar.
"Kenapa kau tidak mau pergi kesana sewaktu kupanggil tadi?" tanya Marxis.
"Ah, tidak apa-apa," jawab Venera.
"Kau pendiam sekali hari ini. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya kau berjalan kesana kemari dan berbicara panjang lebar," ucap Marxis sembari memperhatikan Venera.
"Begitukah?" Venera tersenyum. "Yah, saat ini aku sedang tidak ingin saja," jawabnya.
Kemudian Marxis mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, dan menyisipkannya ke tangan Venera.
Setangkai bunga berkelopak besar berwarna merah cerah.
__ADS_1
“Ooh!” Venera berseru kagum dan terpana sesaat. “Yang ini cantik sekali! Dimana kau dapatkan bunga ini, Marxis?”
Marxis menunjuk ke puncak bukit. “Di balik area berbatu tempat kau terpeleset kemarin, ada beberapa kelompok tanaman bunga yang tidak terlihat dari bawah sini. Bentuk dan warnanya lebih bagus daripada semua yang sudah kita lihat sejak kemarin. Kau pasti suka.”
“Oh, yaa? Waah, aku harus melihatnya!” seru Venera kegirangan dengan wajah sangat antusias. Namun sejurus kemudian semangatnya mendadak padam.
“Eh… tapi… mungkin lain kali saja, deh..." jawab Venera sedikit gugup. Matanya tanpa sadar melirik ke arah tebing yang jauh di sana.
"Aku… aku disini saja dulu,” jawabnya pelan. Lalu kembali menatap ke depan, ke arah tebing kolam.
Marxis terdiam sejenak memperhatikan Venera dengan dahi berkerut.
Dan beberapa saat kemudian, ia berkata, "Apa kau takut terjadi hal seperti yang kau alami kemarin?"
Venera terkejut.
“Emm… yah, aku…” ia bingung hendak menjawab apa. Ia merasa malu rasa takutnya diketahui oleh Marxis.
“Tidak apa-apa, Venera. Jangan takut. Aku akan menjagamu,” ucap Marxis tegas.
Ia menengadah memandang Marxis yang sedang menatapnya.
Dan tiba-tiba rasa sakit di perutnya kembali muncul.
Ia merasa sedikit mual. Dan tubuhnya terasa panas seperti sedang demam.
Ah gawat, penyakitku datang lagi di saat seperti ini, pikirnya cemas.
Melihat Venera hanya diam, akhirnya Marxis mengulurkan tangannya pada Venera.
“Aku tak akan membiarkanmu jatuh lagi, Venera," ucapnya. "Percayalah padaku.”
Venera menatap tangan kokoh Marxis yang terulur kepadanya.
__ADS_1
Ia berpikir sejenak dengan kepalanya yang terasa berat berdenyut.
Kemudian menyambut uluran tangan Marxis.
~o0o~
Venera berlari pulang. Tubuhnya terasa sangat ringan.
Seekor pixie mengiringi langkah cepatnya yang dengan lincah menyusuri jalan setapak yang membelah padang rumput menuju asrama tempat tinggalnya.
Matahari sudah nyaris tenggelam di ufuk timur, namun entah mengapa Venera tak merasa khawatir sedikitpun. Tak seperti biasanya. Ia malah sangat menikmati hembusan angin yang semakin dingin, tanda bahwa malam sudah hampir tiba.
Kedua asrama sudah terlihat di kejauhan. Venera hanya sedikit mempercepat larinya. Ia melambai dengan bersemangat kepada Vanda, penjaga gerbang Asrama Hesperus yang balas melambai padanya sembari mengunci gerbang besar di depannya, tanda bahwa semua penghuni asrama telah berada di dalam.
Venera menjulurkan kepalanya sedikit, dan menemukan Vinn sedang berkacak pinggang dengan satu tangan di depan gerbang Asrama Eosphorus, sementara tangan satunya memegangi pegangan pintu gerbang dengan kunci besar dari kaca putih yang telah siap tergantung di lubangnya.
Dan Venera tiba di depan gerbang dengan napas terengah.
Ia tertawa lebar sambil berseru, "Terima kasih telah menungguku, Vinn!"
"Huhh kau ini! Bisa-bisanya kau tertawa seperti itu di saat kami justru khawatir kau akan pulang terlambat, Venera!" gerutu Vinn sambil menutup rapat pintu gerbangnya dan langsung menguncinya.
"Maaf, maaf," Venera tersenyum. "Eh, Vinn, apa kau tahu, kira-kira hukuman apa yang akan dikenakan untuk venusian yang terlambat pulang ke asrama?" tanya Venera sembari berpikir sejenak.
Vinn mengangkat bahu sambil menyamai langkah Venera memasuki pintu Asrama Eosphorus. "Tak ada yang tahu persis kan, hukuman apa yang harus kita jalani untuk sebuah kesalahan kecuali para anggota Dewan Pengawas yang telah dilantik dan disumpah. Tapi," Vinn merendahkan suaranya dan mendekatkan kepalanya kepada Venera, "aku pernah mencuri dengar pembicaraan mereka tentang itu saat akan melapor kepada Dewan Pengawas Keamanan Asrama. Menurut mereka, siapapun yang tiba kembali di asrama setelah kunci gerbang diputar, maka ia tak akan boleh masuk ke asrama hingga pagi datang."
"Oh... begitukah?" Venera membelalak.
Vinn mengangguk. "Sudah sana cepat masuk kamar dan segeralah mandi, Venera," jawab Vinn sembari mengernyit dan mengipasi hidungnya sendiri. "Tubuhmu bau sekali."
"Aduh, maaf," Venera tertawa malu. "Baiklah, terima kasih, Vinn! Sampai bertemu di aula besar!"
Venera melambai dan bergegas melangkah menuju kamarnya di asrama barat.
Ia disambut oleh gelengan kepala Vla yang terlihat lega saat melihatnya, setelah sebelumnya selama beberapa saat berdiri dengan wajah tegang di depan pintu kamar, menantikan kepulangan sahabatnya itu.
__ADS_1
~o0o~