
Ratu Ishtar terdiam mendengar jawaban Venera. Ruangan terasa hening sejenak, membuat Venera merasa canggung dan membatin, apakah ia baru saja memberikan jawaban yang salah atau tidak tepat.
Lalu Venera memberanikan diri untuk mendongak dan menatap wajah Ratu Ishtar. Ia teringat kata-kata dari sang ratu sendiri saat mereka baru saja tiba, waktu ia menyuruh Venera menatap wajahnya. Ratu Ishtar mengatakan bahwa sangat penting bagi kita untuk memahami karakter dengan melihat wajah lawan bicara kita.
Namun ekspresi wajah Ratu Ishtar yang ditatapnya saat ini sangat sulit ia tebak. Apakah ia sedang marah, atau senang, atau sedih. Tetapi jika Venera bisa sedikit menyimpulkan, sang ratu justru terlihat seperti... takjub atau heran.
Tiba-tiba Ratu Ishtar tersenyum. Wajahnya seketika berubah drastis. Dan ia bertanya, "Kau... tidak menyukai Marxis?"
"Ehm... y... ya...," Venera menjawab dengan gugup, "saya... saya rasa... saya memang tidak menyukainya, Yang Mulia..."
Ratu Ishtar menangkupkan kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Venera lekat-lekat.
"Baik, kalau begitu ceritakanlah. Hal apa yang membuatmu tidak menyukai Marxis," ucap Ratu Ishtar.
Venera berpikir sejenak, sedikit bingung bagaimana menyampaikannya. Karena ia sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan.
"Begini, Yang Mulia," Venera memulai. "Saat saya berselisih paham dengan Vla, sahabat saya, saya tidak terlalu merasa marah padanya. Dan kalaupun kami bertengkar, hanya dalam beberapa saat kemudian kami sudah berbaikan kembali. Vla memang venusian yang cerewet, suka menasihati, selalu bertanya tentang hal apa saja yang saya kerjakan, dan sering mengomentari apapun yang saya lakukan. Tetapi dia adalah sahabat yang sangat baik, Yang Mulia. Dia selalu mencemaskan saya setiap kali saya terlambat... ehm... maksud saya, setiap kali saya nyaris terlambat pulang. Dia juga sangat memperhatikan kesehatan dan keselamatan saya. Dan karena itu saya sangat menyayangi Vla. Tetapi dengan Marxis...," Venera menghela napas, "entah mengapa saat kami bertengkar, saya merasakan ada... semacam dorongan yang sangat kuat dan meledak-ledak di dalam diri saya untuk melampiaskan amarah kepadanya. Rasanya luar biasa kesal sampai-sampai saya ingin menangis atau berteriak. Dan itu berlangsung selama berhari-hari, Yang Mulia. Maka dari itu saya merasa, mungkin itu semua karena saya baru saja mengenal Marxis dan hanya beberapa kali saja bertemu dengannya. Sedangkan dengan Vla, saya sudah bersamanya sejak lama sekali, sehingga saya sangat menyukai Vla dan tidak bisa terlalu marah padanya. Eh... kira-kira demikian, Yang Mulia." Venera mengakhiri penjelasannya.
Ratu Ishtar kembali diam saja.
Tak mau terjebak dalam kondisi hening yang membuat canggung, Venera mendongak dan bertanya, " Apakah jawaban saya salah, Yang Mulia?"
Dan betapa terkejutnya ia saat menatap sang ratu.
Ratu Ishtar tertawa.
Ia tertawa kecil sembari menutupi mulutnya dengan jemarinya yang lentik.
Venera terpana. Tak menyangka Ratu Ishtar justru tertawa mendengar jawabannya, sekaligus kagum melihat wajah tertawa sang ratu yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Ratu Ishtar seolah memiliki banyak wajah yang berbeda-beda. Tetapi ia tetaplah sang ratu. Membuat Venera bingung sendiri menyimpulkannya.
"Ehm. Maafkan aku, Venera," ucap Ratu Ishtar dengan masih menyisakan senyuman di wajahnya. "Aku tidak bermaksud menertawakanmu."
__ADS_1
"Ehm, maaf Yang Mulia, bolehkah saya tahu mengapa Yang Mulia tertawa?" tanya Venera hati-hati. "Apakah saya mengatakan suatu hal yang lucu?"
"Ah, tidak, Venera." Ratu Ishtar menggeleng. "Sebenarnya aku ini baru saja menertawakan diriku sendiri. Betapa bodohnya aku karena tidak memahami pemikiranmu."
Venera terdiam semakin tak mengerti.
“Nah, sebelum aku menanggapi penjelasanmu tadi, Venera, bisakah kau ceritakan bagaimana dengan kondisi kesehatanmu akhir-akhir ini?” tanya Ratu Ishtar.
Sekali lagi Venera merasa terkejut. Hampir saja ia melupakan kondisi kesehatannya yang kurang baik belakangan ini, kalau saja sang ratu tidak menanyakannya. Dan dari tatapan mata birunya, sepertinya Ratu Ishtar sudah mengetahui soal ini, hanya saja ia ingin Venera yang menjelaskannya sendiri.
Dan Venera menyadari bahwa ia baru saja menebak isi hati Ratu Ishtar, entah itu benar atau salah. Ternyata memang betul yang dikatakan sang ratu, bahwa menatap wajah saat sedang bicara itu perlu.
“Ehmm… saya... beberapa hari ini... sering... sering merasa… tidak enak badan, Yang Mulia…,” jawab Venera terbata-bata. Ia sadar telah melakukan kesalahan karena tidak langsung datang ke Ruang Kesehatan, seperti yang seharusnya dilakukan venusian saat merasa tidak enak badan.
"Tidak enak badan yang seperti apa, misalnya?" tanya Ratu Ishtar.
"Ehmm... sulit menjelaskannya, Yang Mulia. Rasa tidak enaknya berganti-ganti setiap saat," jawab Venera kebingungan.
Venera berpikir sejenak.
"Awalnya... di bagian perut, Yang Mulia. Disini." Ia menyentuh perut bagian atasnya.
“Hmm. Apakah terasa seperti ada makhluk hidup yang bergerak-gerak di dalam sana?” tanya sang ratu.
“Eh? B… benar sekali, Yang Mulia,” jawab Venera takjub, karena sang ratu dapat menerkanya dengan tepat.
"Lalu, bagian mana lagi?" tanya Ratu Ishtar.
"Disini, Yang Mulia," Venera menyentuh dadanya. "Terkadang rasa sakitnya sampai ke sini dan ke sini." Venera melanjutkan dengan menyentuh pangkal tenggorokan dan kepalanya.
"Jantungmu berdetak terlalu kencang, lalu ada rasa ditekan pada pangkal tenggorokanmu sehingga terasa seperti kau hendak mengeluarkan isi perutmu, dan kepalamu berdenyut-denyut mengikuti irama detak jantungmu?" Ratu Ishtar menjabarkan apa yang dikatakan oleh Venera.
__ADS_1
"B... benar, Yang Mulia." Lagi-lagi Venera mengangguk takjub.
“Dan darahmu terasa mengalir dengan deras ke seluruh tubuh?” lanjut Ratu Ishtar.
“Benar, Yang Mulia," jawab Venera lagi, tak hentinya merasa heran karena sang ratu menggambarkan dengan tepat apa yang dirasakannya.
"Kau juga pernah merasakan saat dimana tubuhmu lemas terus-terusan, tidak napsu makan, dan menjadi malas melakukan kegiatan apa saja yang padahal tadinya kau sukai?" ucap Ratu Ishtar kemudian.
Venera mengangguk. "Itu benar, Yang Mulia."
"Kemudian, otakmu menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih, dan tubuhmu tak mau mengikuti perintah otakmu?” Ratu Ishtar tak habis-habisnya menyebutkan dengan tepat semua yang Venera rasakan.
“Benar, Yang Mulia. Semuanya benar. Apakah... apakah semua itu berbahaya bagi saya?” tanya Venera dengan wajah cemas.
Senyum mengembang di bibir Ratu Ishtar.
“Tidak, anakku. Sama sekali tidak. Sebaliknya, yang kau rasakan itu adalah hal yang wajar," ucapnya.
“Wajar? Apa maksud Yang Mulia dengan wajar?” Venera menggeleng tak mengerti. “Tetapi selama ini saya tak pernah merasakan hal seperti ini, Yang Mulia.”
“Tentu saja, Venera. Karena kaulah venusian pertama yang merasakannya," ujar sang ratu.
“Apa?" Venera membelalak tak mengerti. "Saya? Venusian pertama yang mengalami … hal ini?”
"Ya, Venera," angguk sang ratu.
"Tapi, mengapa Yang Mulia? Apa penyebabnya? Mengapa saya?" tanya Venera bertubi-tubi.
Ratu Ishtar kembali tersenyum, lalu menatap Venera dalam-dalam.
"Apa yang kau rasakan ini, Venera, dinamakan dengan ‘Cinta’.”
__ADS_1