PLANET BIRU

PLANET BIRU
PERPISAHAN


__ADS_3

Venera menengadah menatap Marxis.


"Tetapi, meskipun sekarang kita telah sepemikiran, namun semua hal tidak menyenangkan itu akan tetap terjadi," keluh Venera sedih. "Ratu Ishtar telah memastikannya."


"Untuk soal itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya hal itu memang sebuah imbas dari konsep kehidupan di Planet Biru yang telah ditentukan sejak awal," tanggap Marxis seraya menarik napas dalam.


"Apakah... menurutmu kita bisa menolak perintah ini?" tanya Venera. "Bukankah penolakan terhadap suatu perintah berarti hukuman? Meskipun perintah itu tidak menyenangkan bagi kita. Paling tidak, seperti itulah di Venus."


"Begitu juga di Mars." Marxis mengangguk. "Penolakan berarti pembangkangan. Hukuman pasti akan dijatuhkan. Dan jika kita memilih untuk tidak pergi ke Planet Biru, berarti kita harus menerimanya."


"Lalu... menurutmu bagaimana, Marxis?" tanya Venera bingung. "Dengan semua ketidaksetujuan kita terhadap dinamika kehidupan di Planet Biru nanti, apakah kita akan tetap menerima tugas ini? Atau nekat menolak?"


"Kita ikuti saja kata hati kita, Venera. Kita coba mengajukan penolakan terhadap pimpinan kita," jawab Marxis.


"Tapi... aku takut, Marxis," ucap Venera lirih. "Bagaimana kalau hukumannya sangat berat dan menyakitkan? Atau bagaimana jika hukuman itu harus kujalani dalam waktu yang panjang sehingga kita tidak dapat bertemu lagi untuk beberapa lama? Atau... bagaimana jika hukuman itu berlangsung selama... selama-selamanya? Bagaimana jika seperti itu? Atau bagaimana kalau mereka menghancurkan taman ini karena marah pada kita? Bagaimana kita akan bisa bertemu lagi seperti ini? Taman ini satu-satunya penghubung antara tempat tinggal kita, Maxis!" Venera tampak begitu ketakutan.


Marxis menarik dengan lembut tubuh Venera, dan merengkuhnya dalam pelukannya.


"Aku tak akan membiarkan itu terjadi padamu, Venera. Apapun yang akan terjadi besok setelah kita menyatakan penolakan untuk pergi ke Planet Biru, aku akan tetap pergi mencarimu. Seberapapun sulitnya dan bagaimanapun caranya," janji Marxis.


~o0o~


Venera membelai lembut bulu-bulu halus unicorn muda itu dengan perasaan sedih. Sang unicorn yang tanpa sengaja memotong jalan Venera dan melihatnya sedang berjalan dengan lesu, menghampirinya dan berderap pelan mengiringi langkahnya. Seolah tahu bahwa Venera sedang dalam masalah besar dan ingin menghiburnya.


Seekor pixie kuning bertubuh besar juga datang menghampiri. Ia menyanyikan lagu bernada indah dan terbang melayang pelan di atas kepala Venera, seperti hendak membantu meringankan beban pikirannya.


Venera memandang ke sekelilingnya dan menatap satu persatu semua hal yang selama ini ia sukai dan telah menjadi bagian dari hidupnya.


Padang rumput, bunga batu, pohon-pohon, langit, semuanya.


Venera menghabiskan sisa waktunya untuk menikmati semuanya. Karena mungkin ini adalah kesempatan yang terakhir kalinya sebelum ia tak dapat melihatnya lagi.


Langit di luar telah gelap. Gerbang besar asrama juga telah ditutup dan dikunci oleh Vinn, yang merasa heran melihat Venera yang tampak sangat lesu dan membalas sapaannya dengan tidak bersemangat saat melewati gerbang seperti biasanya.


Venera menapaki lorong penghubung antara Aula Besar dan Ruang Tidur dengan langkah berat. Telapak tangannya meraba permukaan dinding kaca halus di sepanjang sisi lorong. Ia tak bisa lagi menutupi kecemasan dan ketakutannya.


Venera melewati kamar Vicca dan Voxy yang terdengar masih asyik bercanda ria di dalam kamar mereka dengan pintu terbuka tanpa menoleh sedikitpun. Sama sekali tak ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan atau sekadar menyapa.


Rasa takut yang amat sangat menghantui dirinya. 


Besok adalah saatnya ia menghadap Ratu Ishtar, waktu yang dijadwalkan untuk persiapan keberangkatannya ke Planet Biru. Dan setelah itu ia tak akan bisa melihat asrama ini beserta teman-temannya lagi. Entah karena ia akan dikirimkan secara paksa ke Planet Biru, atau karen dipindahkan ke suatu tempat untuk menjalani hukuman.


Mungkin saat ini pun Ratu Ishtar telah mengetahui rencana penolakannya terhadap tugas yang dititahkan padanya dan Marxis, karena sepertinya sang  ratu selalu dapat melihat dan mendengar segalanya.

__ADS_1


Mungkin sekarang Ratu Ishtar sedang menyiapkan hukuman yang pantas untuk kesalahan yang diperbuatnya.


Mungkin ia akan dikurung di sebuah ruang tertutup penuh kobaran api menjilat-jilat yang akan menghanguskan semua benda yang ada di dalamnya, termasuk tubuhnya.


Atau dirantai di dalam kamar gelap dingin penuh kotoran serta binatang melata menjijikkan yang akan merayap  dan memasuki lubang-lubang terbuka di kepalanya.


Atau tubuhnya akan disayat sedikit demi sedikit, lembar demi lembar, supaya rasa sakitnya lebih terasa dan lebih menyengsarakan.


Dan hal-hal mengerikan lainnya yang pernah didengarnya selama ini, tentang hukuman yang akan dikenakan atas pembangkangan yang dilakukan oleh para venusian terhadap perintah Ratu Ishtar, bergantian terbayang di pikirannya.


Venera memeluk tubuhnya sendiri.  Gemetar ketakutan.


Ia tiba di depan pintu kamarnya yang terbuka. Termenung sesaat memandang Vla yang sedang sibuk menyisir rambutnya di atas tempat tidur. Ada desakan rasa sesak di dadanya saat melihat sahabatnya itu. Seperti rasa ingin menangis.


Venera masuk ke dalam kamar dan duduk di samping sahabatnya.


“Darimana kau, Venera?” tanya Vla tanpa menoleh, asyik dengan kegiatannya menghaluskan helai demi helai rambutnya.


“Tidak dari mana-mana…” jawab Venera pelan.


“Hmm?” Vla tertawa. “Dasar kau ini. Ah, lagipula untuk apa aku bertanya lagi, ya? Kau pasti habis berlarian atau berbaring di atas rumput memandangi langit senja dan menyambut bintang-bintang yang mulai bermunculan di atas sana. Iya, kan?”


Venera menatap punggung Vla dengan perasaan berkecamuk, bingung harus mengatakan apa.


“Oh, Vla ...  aku pasti akan sangat merindukanmu …” bisik Venera lirih.


“Aku … aku mungkin tak akan bisa bertemu lagi denganmu Vla… selamanya…” jawab Venera parau.


“Apa? Tapi kenapa, Venera?” Vla menatap Venera dengan cemas.


“Aku akan berbuat kesalahan, Vla…” jawab Venera dengan raut wajah ingin menangis.


“Apa maksudmu dengan ‘akan berbuat kesalahan’?” Vla mengernyit bingung.


“Saat ini memang belum, Vla. Tetapi sebentar lagi akan terjadi…” Venera sedikit bingung menjelaskannya.


“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Venera?” tanya Vla kebingungan.


“Aku sangat takut, Vla...” ucap Venera dan mulai menangis.


Vla yang merasa terkejut melihatnya segera melempar sisir di tangannya ke atas tempat tidur dan memeluk Venera dengan erat.


“Venera?  Hei, kenapa malah menangis? Ada apa sih sebenarnya?” Vla membelai-belai punggungnya. “Ayo ceritakan padaku.”

__ADS_1


Venera membalas pelukan Vla dan mendekapnya erat dengan masih tetap menangis.


Ia tak tahu harus menjawab apa. Ratu Ishtar telah melarangnya untuk memberitahukan hal ini kepada siapapun.


 


“Venera…,” Vla merendahkan suaranya. “Apakah... apa ini semua... ada hubungannya dengan bunga-bunga aneh yang kau sembunyikan itu?”


Venera menghentikan tangisnya.


“Apa benda-benda itu juga ada hubungannya dengan kau yang selalu pulang sangat terlambat belakangan ini?” tanya Vla lagi. “Maksudku, bunga berkelopak besar yang sudah layu di bawah bantalmu, dan bunga kecil yang terselip di rambutmu waktu itu… apakah itu penyebabnya?”


Venera mengusap air matanya. Kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Vla. Ternyata Vla sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang dirahasiakannya selama ini.


“Darimana kau dapatkan bunga-bunga itu, Venera? Yah, aku memang tak pernah berjalan-jalan sampai jauh sepertimu.  Tetapi aku yakin bunga-bunga seperti itu tidak tumbuh disini. Tidak dengan bentuk dan warna-warna seindah itu. Iya, kan? Apa yang kau sembunyikan dariku selama ini, Venera?” Vla menatap Venera penuh harap, menunggu jawaban memuaskan yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu.


Venera menarik napas panjang dan bangkit beranjak ke tempat tidurnya sendiri.  


Ia mengangkat bantalnya dan mengambil kedua kuntum bunga yang sudah mengering di bawahnya itu. Kemudian memberikannya kepada Vla.


“Vla, aku ingin kau menyimpan ini sebagai kenang-kenangan dariku," ucapnya dengan sedih.


“Kenang-kenangan?” Vla bertanya heran.


“Sebagai tanda bahwa kita pernah bersahabat sangat dekat,” ucap Venera. “Dan suatu saat nanti, kau juga akan bisa melihat tempat dimana bunga-bunga ini tumbuh.”


“Tempat bunga-bunga ini tumbuh? Di mana itu?” tanya Vla antara penasaran dan bingung akan sikap Venera.


Venera menggeleng. “Aku tak bisa mengatakannya, Vla. Maafkan aku.”


"Mengapa, Venera? Aku sahabat terbaikmu, kan? Ayolah, katakan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi, Venera? Mengapa kau sampai menangis seperti ini? Aku sedih jika melihatmu sedih, Venera..." ucap Vla.


"Aku akan pergi, Vla. Harus pergi. Mungkin jauh sekali, atau lama sekali. Tapi aku tak dapat mengatakannya padamu..." ucap Venera lirih.


“Venera!  Kau ... kau jangan membuatku takut, ah!  Apa maksudmu? Kau sebenarnya mau kemana sih?” Vla mulai merasa takut.


“Aku benar-benar tak bisa memberitahumu.” Venera menggeleng lemah. “Tapi aku ingin kau tahu, aku sangat menyayangimu, Vla.”


Dan mereka kembali berpelukan.


Vla dengan segala ketidakmengertiannya, dan Venera dengan perasaan kehilangan yang amat sangat.


 

__ADS_1


 


     ~o0o~


__ADS_2