PLANET BIRU

PLANET BIRU
TERTANGKAP!


__ADS_3

“Ah... kau ini, selalu saja. Mengapa kau berbicara begitu keras? Lihatlah. Kau telah membuat mereka sangat terkejut,” tegur suara lain yang terdengar sangat lembut dan merdu berirama.


"Hah. Biarkan saja. Aku tak mau menghabiskan waktuku untuk menyaksikan hal-hal yang tak penting," jawab suara berat tadi. "Kau tahu kan, urusanku yang lain masih banyak sekali."


Si pemilik suara merdu tertawa. Suara tawa berderai yang terdengar aneh di telinga Venera. Sedikit tidak wajar.


"Baiklah, baiklah, terserah kau saja," ucap Suara Merdu menanggapi kata-kata Suara Berat, "meskipun aku yakin kau tidak mengatakan hal yang sesuai dengan isi pikiranmu, tapi... yah, aku mengerti."


"Kalau begitu aku akan kembali sekarang," ucap si Suara Berat.


"Sekarang?" tanya Suara Merdu.


"Memangnya kapan lagi?" Suara Berat balik bertanya. "Banyak yang harus kita lakukan, kan? Segala penjelasan panjang lebar itu."


Suara Merdu tertawa kecil. "Ya, maksudku, apa kau yakin tidak ingin melakukannya di sini saja bersama-sama denganku? Mungkin supaya kita bisa lebih... hmm... selaras?" tanya Suara Merdu.


Suara Berat menggeram dan menjawab tegas, "Tidak, terima kasih. Aku akan melakukannya sendiri saja."


"Baiklah, kalau begitu. Silakan," ucap Suara Merdu.


Venera dan Marxis yang selama pembicaraan itu tetap berlutut di atas rumput sambil menatap ke bawah, merasakan tubuh mereka gemetar. Mereka memang sama sekali tak mengenal pemilik suara-suara itu dan tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun, melihat lambang istana yang tergambar pada masing-masing pakaian para pemilik suara bertubuh sangat tinggi dan sangat besar di hadapan mereka, yaitu lingkaran cahaya putih dan kobaran api merah, satu hal yang mereka yakini. Bahwa mereka telah tertangkap karena melakukan kesalahan. Dan semuanya telah berakhir bagi mereka.


"Bangun kau. Ikuti aku," perintah Suara Berat tiba-tiba, yang sepertinya ditujukan kepada Marxis.


Dengan sigap tanpa berkata sepatah katapun, dan masih tetap menunduk, Marxis segera bangkit berdiri dan mengikuti si pemilik suara berat itu, berjalan menjauh dari area kolam.


Dari jangkauan pandang sudut matanya, Venera dapat melihat Marxis berjalan mengikuti sesosok makhluk yang sangat besar, hingga ia hanya dapat menangkap sebatas kaki bagian bawahnya saja. Mereka berjalan menuju ke sebuah titik dimana sepertinya ada sesuatu yang menyala-nyala terang dan berkelebatan di udara. Seperti kobaran api besar. Dan mereka berdua masuk ke dalam kobaran api itu.


Apakah itu... Raja Ares? Pemimpin di Mars? Batin Venera.


Lalu, kalau itu adalah Raja Ares, berarti yang sekarang ada di depanku ini adalah...

__ADS_1


Venera mendadak semakin gemetar saat menyadari bahwa sosok yang sekarang berada tepat di depannya ini, adalah... pemimpin Venus.


Yang Mulia Ratu Ishtar.


"Bangunlah, Venera," suara lembut itu kembali terdengar seperti bernyanyi di telinga Venera. "Kita akan segera kembali."


Mendengar namanya disebut, Venera segera berusaha bangkit dan menegakkan diri di atas kedua kakinya yang terasa lemas tak bertulang. Ia berdiri goyah dengan kepala tertunduk dalam, di belakang sosok Ratu Ishtar yang sedang melakukan sesuatu di udara. Entah apa.


Beberapa saat kemudian Venera mendengar suara berdenting-denting yang sangat halus di udara. Dan seberkas sinar yang sangat terang tiba-tiba berpendar-pendar di depan sang ratu.


"Ayo, ikuti aku," perintah Ratu Ishtar sambil melangkah maju.


Venera bergerak mengikuti Ratu Ishtar, berjalan memasuki pendaran cahaya berbentuk lingkaran besar di udara yang bersinar-sinar menyilaukan mata itu.


~o0o~


 


Apakah ini... mungkinkah ini adalah... istana Ratu Ishtar? Venera membatin.


Selama ini tidak ada satu venusian pun yang tahu dimana letak istana tempat tinggal Ratu Ishtar. Karena tak ada yang pernah melihat kedatangan dan kepergiannya saat waktunya sang ratu berkunjung ke setiap asrama. Tidak pula Vinn yang bertugas menjadi Penjaga Gerbang.


Menurut cerita Vinn, selama ini ia selalu mendengar perintah langsung di dalam kepalanya. Tugasnya hanya memberi pengumuman kepada para venusian akan kedatangan Ratu Ishtar dan segera membukakan pintu gerbang.  Dan saat ia membukanya, selalu saja sang ratu tiba-tiba sudah berdiri di luar gerbang dan ia akan langsung berlutut memberi hormat. Tak mungkin bagi Vinn untuk berpura-pura tak sengaja mengangkat kepala untuk melihat dengan apa atau bersama siapa Ratu Ishtar datang dan pergi untuk mengunjungi asrama.


Entahlah dengan para anggota Dewan Pengawas. Venera tak pernah berbicara dengan mereka kecuali menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan pelatihan sehari-hari sehingga tak tahu sejauh apa yang mereka ketahui tentang Ratu Ishtar.


Venera memperhatikan lantai kaca berwarna emas di bawah kakinya. Terlihat sangat halus dan terasa dingin. Suhu dinginnya meresap sampai menembus alas kaki tebal yang dikenakan oleh Venera.


Venera melirik sedikit ke samping tanpa mengangkat kepala. Dindingnya juga berkilau keemasan.  


Tak salah lagi. Tempat ini pastilah istana tempat tinggal Yang Mulia Ratu Ishtar.

__ADS_1


Masih dengan kepala tertunduk, Venera berjalan setengah berlari mengikuti langkah kaki Sang Ratu yang sangat lebar jangkauannya. Dalam hati Venera bertanya-tanya, seberapa tinggi sebenarnya tubuh Ratu Ishtar, karena dengan berdiri tepat di belakang sang ratu membuat Venera merasa tubuhnya sangat kecil sekali.


Mereka berjalan terus, masuk semakin jauh ke dalam istana emas itu. Sepanjang jalan Ratu Ishtar tak berkata apa-apa. Membuat Venera semakin sengsara memikirkan hal-hal buruk yang akan menimpanya sebentar lagi.


Mereka melewati ruang demi ruang yang meskipun sepertinya kosong, namun entah bagaimana Venera bisa merasakan adanya aktifitas-aktifitas tertentu di dalamnya. Seolah ada alat-alat atau mesin tak terlihat yang sedang bekerja dalam diam membuat sesuatu.  


Tetapi Venera tetap tak berani mengangkat kepalanya sedikitpun. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan bayangan mengerikan tentang hukuman apa kira-kira yang akan diterimanya sebentar lagi.


Entah itu hukuman karena masuk ke tempat yang tidak semestinya ia masuki, atau karena Marxis, atau keduanya.  


Dan ia yakin hukumannya pasti akan sangat berat.


Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan besar yang sangat berbeda dari ruangan-ruangan lainnya yang telah dilewati tadi.


Dinding dan lantai kacanya berwarna putih bersih. Venera sampai dapat melihat pantulan wajahnya yang pucat ketakutan di bawah kakinya.


Ratu Ishtar menghentikan langkahnya.


Dan mendadak berbalik menghadap ke arah Venera.


Napas Venera serasa terhenti.


Rasa takut yang amat sangat menjalari sekujur tubuhnya yang gemetar terus sejak di dalam taman misterius tadi.


Inilah saatnya. Sebentar lagi sang ratu pasti akan menyebutkan hukuman apa yang akan kuterima.


Venera berusaha bernapas dengan normal. Menunggu kata-kata yang akan diucapkan oleh sang ratu.


"Selamat datang di istanaku, Venera," ucapnya.


Suara merdunya mengalun bergema di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Aku, Ratu Ishtar."


__ADS_2