
Venera mengulangi perkataan Ratu Ishtar dalam hati.
Alam semesta? Apa itu?
"Alam semesta adalah sebuah tempat yang sangat luas tak berbatas," jelas Ratu Ishtar seolah mendengar pertanyaan di dalam kepala Venera barusan.
"Maaf, Yang Mulia, apakah yang dimaksud dengan 'tak berbatas' itu adalah semacam ruang terbuka?" tanya Venera.
"Ya dan tidak, Venera. Karena sedemikian luasnya," Ratu Ishtar merentangkan lengannya lebar-lebar untuk menggambarkan betapa luasnya alam semesta, "maka sampai saat ini belum ada satupun makhluk yang bisa memastikan apakah alam semesta ini adalah sebuah ruang tertutup sangat luas yang memiliki batas nun jauh di sana, ataukah merupakan tempat terbuka yang benar-benar tanpa batas. Maka dari itu sementara ini kami menyebutnya sebagai 'luas tak berbatas'."
Venera terdiam sesaat.
"Ehmm. Sekali lagi mohon maaf, Yang Mulia," ucap Venera pelan, khawatir perilakunya akan dinilai tidak sopan dan membuat Ratu Ishtar marah. "Tetapi, bagaimana mungkin ada sesuatu yang benar-benar... tanpa batas?" tanya Venera sembari mengerutkan dahi. "Bukankah segala sesuatu pasti berbatasan dengan... segala sesuatu lainnya? Misalnya kaki kursi ini berbatasan dengan lantai, lalu lantai berbatasan dengan dinding di sebelah sana, lalu dinding berbatasan dengan..."
Venera menghentikan bicaranya dan memutuskan untuk melihat ekspresi wajah Ratu Ishtar lebih dahulu. Ia takut akan dimarahi karena berani bicara panjang lebar.
"Ah, pemikiran bagus, Venera," ucap Ratu Ishtar sembari tersenyum lagi. "Hal yang sama juga dipertanyakan oleh banyak makhluk di alam semesta ini. Tetapi karena belum ada satupun dari kami yang berhasil mencapai batas tersebut untuk mendapatkan jawabannya, maka sementara ini kami sepakat untuk menyebutnya dengan 'tak berbatas'."
"Lalu jika... suatu hari diketemukan batasnya?" tanya Venera hati-hati.
"Berarti kita akan bisa mengukur luasnya dan memberikan jawaban yang memuaskan untuk venusian cerdas sepertimu." Ratu Ishtar tersenyum lagi.
"Maafkan kelancangan saya dalam bertanya, Yang Mulia," ucap Venera buru-buru sembari membungkuk di atas meja kaca di depannya.
Ratu Ishtar tertawa kecil. "Tidak apa, Venera. Bertanya bukanlah suatu kesalahan, karena pengetahuan akan selalu berkembang. Yang saat ini belum kita ketahui jawabannya, suatu saat pasti akan kita dapatkan. Dan selanjutnya akan timbul pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang merupakan imbas dari pertanyaan yang telah terjawab sebelumnya. Begitu seterusnya, seperti efek gelombang."
"Ya, Yang Mulia." Venera mengangguk dalam, meski tak mengerti yang dimaksud dengan efek gelombang.
"Tapi, untuk sementara ini mari kita kesampingkan dulu pertanyaan yang belum dapat terjawab mengenai alam semesta tadi. Dan sekarang kita akan memulai pelan-pelan dari hal yang terkecil dulu," ucap sang ratu sembari mendekat kembali kepada lempengan kaca itu.
"Baik, Yang Mulia," sahut Venera menurut, lalu diam memperhatikan ke depan.
"Ini, adalah sebagian kecil dari alam semesta dimana kita tinggal.” Ratu Ishtar mengulangi lagi, menunjuk bidang gelap sangat luas pada lempeng kaca yang dipenuhi oleh titik-titik yang bergerak pelan itu.
__ADS_1
Kemudian ia menggerakkan jarinya lebih dekat ke lempengan kaca.
Seketika gambarnya membesar.
"Di alam semesta ini, ada banyak sekali galaksi," jelas sang ratu sambil menunjuk satu persatu kumpulan titik berwarna-warni dalam berbagai bentuk yang telah diperhatikan oleh Venera sebelumnya tadi.
Ratu Ishtar menggerakkan tangannya kembali di depan salah satu kelompok titik yang disebut galaksi tadi; seperti memerintahkan agar gambar yang ditunjuknya itu membesar.
"Di dalam setiap galaksi, terdapat bermacam-macam sistem bintang dan gugus bintang yang jumlahnya berbeda-beda," Ratu Ishtar menjelaskan sambil menunjukkan beberapa formasi bentuk yang lebih kecil lagi, yang hanya terdiri dari beberapa titik di dalam satu kelompoknya.
Dan setelah formasi titik-titik itu dibesarkan lagi oleh gerakan tangan sang ratu, barulah terlihat oleh Venera bahwa titik-titik itu sebenarnya adalah bulatan-bulatan berwarna-warni dengan ukuran yang berbeda-beda.
Sang Ratu mengulurkan lengannya untuk menghentikan pembesaran gambar pada lempeng kaca itu. Dan menunjuk sebuah formasi sederhana yang hanya berisi beberapa bulatan saja dengan sebuah bulatan jingga raksasa berada di tengahnya.
"Dan yang ini adalah tata surya kita, sebuah sistem bintang dimana semua planet-planet yang ada, berputar mengelilingi bintang yang paling besar ini." Ratu Ishtar menunjuk tepat pada bulatan raksasa berwarna jingga itu.
"Inilah yang kita sebut dengan matahari," ucap sang ratu.
Matahari yang selama ini selalu tampak putih menyilaukan itu, ternyata berbentuk seperti sebuah bola kaca berwarna jingga terang yang terbakar oleh api yang berkobar-kobar.
Kemudian Ratu Ishtar mengarahkan telunjuknya tepat pada sebuah bulatan kecil berwarna kuning, tidak jauh dari matahari.
“Dan ini adalah Planet Venus, tempat tinggal kita,” ucap Sang Ratu.
Venera semakin tercengang.
Itu… Venus? Benda berbentuk bulat seperti bola kaca yang terdapat di kelas keterampilan itu, adalah tempat tinggalku?
"Maaf, Yang Mulia," sela Venera. "Jadi... selama ini, kita semua tinggal di... di dalam bola besar berwarna kuning itu?"
"Planet, Venera." Ratu Ishtar tersenyum. "Dan bukan di dalam, tetapi di luar. Kita semua tinggal di permukaan Planet Venus. Yah, paling tidak, untuk saat ini."
"Kita... tidak jatuh...? Atau terlempar ke dalam kegelapan alam semesta itu?" tanya Venera sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
"Tidak, Anakku." Ratu Ishtar tersenyum. "Kita memiliki gaya gravitasi yang membuat kita tetap berpijak ke tanah di bawah kita, meskipun kita berputar setiap waktu."
"Gra... gravitasi...? Ber... berputar...?" Venera bertanya bingung.
"Ya, Venera. Gaya gravitasi adalah gaya tarik menarik antara benda-benda yang memiliki massa partikel. Dan, ya, Planet Venus berputar mengikuti porosnya. Maka dari itu kau bisa mengalami adanya siang dan malam. Tetapi mengenai hal ini, nanti akan dijelaskan lagi dengan lebih rinci di dalam pelajaran khusus tentang alam semesta dan planet-planet," jelas Ratu Ishtar.
"Baik, Yang Mulia," jawab Venera. Meskipun dalam hati merasa bingung, karena selama ini ia tak pernah mendengar ada pelajaran di Venus yang mengajarkan tentang alam semesta dan planet-planet.
Mungkin pelajaran tersebut hanya diberikan kepada anggota Dewan Pengawas yang sudah dilantik saja, batin Venera.
Kemudian Ratu Ishtar menggeser jarinya ke sebuah bulatan berwarna merah yang berada tak jauh dari bulatan kuning tadi.
”Kemudian ini, adalah Planet Mars. Tempat tinggal Marxis dan para martian lainnya."
Venera kembali tercengang melihat planet tempat tinggal Marxis. Sebuah planet berwarna gelap kemerahan.
Dan entah mengapa wajahnya terasa panas saat mendengar Ratu Ishtar menyebutkan nama Marxis. Mungkin karena ia masih merasa cemas memikirkan hukuman yang akan diterimanya atas semua perbuatannya, termasuk interaksinya dengan Marxis.
“Dan taman yang kau temukan itu, Venera, adalah sebuah simulasi, atau tiruan, dari kondisi alam sebenarnya yang ada pada planet ini.” Ratu Ishtar menunjuk ke sebuah bulatan berwarna biru.
Venera memicingkan mata.
Ratu Ishtar menggerakkan tangannya. Dan bulatan biru itu mulai membesar dan membesar dan membesar.
Dan terus membesar sampai akhirnya Venera dapat menyaksikan suatu pemandangan yang luar biasa indah di depan matanya.
“Inilah, Planet Biru,” ujar Ratu Ishtar.
~o0o~
__ADS_1