
Raja Ares mengetuk-ngetukkan sepatu boots hitamnya yang terbuat dari kulit tebal di atas lantai kaca berwarna putih. Lengannya yang besar dan berotot bertumpu pada meja kaca di depannya. Ia menegakkan punggung dengan tegang di atas kursi kaca putih yang menjadi terlihat sangat ringkih saat diduduki oleh tubuh besarnya. Matanya memicing tajam menatap lempengan kaca di tengah ruangan; memperhatikan sesuatu yang tergambar di permukaan lempengan itu dengan gusar. Bibirnya berkomat kamit tanpa suara, seperti hendak mengeluarkan makian kasar yang harus ditahannya karena alasan tertentu.
Sementara di sebelahnya, berdiri dengan postur tubuh anggun dan berwibawa, Ratu Ishtar dengan mengenakan gaun putih panjang bertabur bintang. Kedua lengannya terlipat di dada. Senyum mengembang di bibirnya, mengiringi sorot matanya yang berbinar-binar menunjukkan kebahagiaan; atau lebih tepatnya, kepuasan, melihat apa yang terjadi pada lempengan kaca tersebut.
“Kau pasti menganggap ini adalah sebuah kesuksesan, Ishtar?” Raja Ares mendengus di akhir kalimatnya.
“Ya, tentu saja, Ares." Ratu Ishtar mengangguk bangga tanpa menoleh. "Dan kau, apakah masih menganggap hal ini sebagai suatu kegagalan?” tanyanya dengan nada ringan namun penuh arti.
Raja Ares kembali mendengus dengan gusar.
“Aku tahu. Kau yang sangat mengagungkan kekuatan dan kekuasaan, pasti kecewa dengan hasil yang kita dapat saat ini,” kata Ratu Ishtar.
“Itu pasti. Dan kau sendiri, pasti merasa amat senang dengan adanya dua makhluk yang begitu saling mencintai sampai-sampai berani mengabaikan dan bahkan menolak perintah. Mengalahkan keinginan yang lain hanya demi mempertahankan cinta mereka?” balas Raja Ares sinis.
“Itu pasti,” jawab Ratu Ishtar sambil menahan tawa melihat ekspresi kesal di wajah Raja Ares.
“Baiklah. Tunggu saja kesempatan berikutnya, aku yang akan menang. Ini baru pasangan inti-sel yang pertama. Jangan berpuas diri dulu, Ishtar," ucap Raja Ares.
“Untuk saat ini, tentu saja aku akan berpuas diri sepuas-puasnya, Ares." Ratu Ishtar melambaikan jemari lentiknya di depan bibir, seolah berusaha menutupi tawa yang nyaris tak tertahankan. "Jangan kesal begitu. Mungkin karena penjelasanmu kemarin kurang persuasif..."
"Hmph. Itu karena anak itu memang lemah. Mudah sekali terbujuk. Padahal nilai-nilai kegiatan fisiknya sangat bagus," gerutu Raja Ares.
"Mungkin bukan anakmu yang lemah. Tetapi anakku lah yang terlalu kuat, sehingga dia mudah terbujuk dan terpengaruh," ucap Ratu Ishtar tenang. "Bersabarlah. Mungkin hasilnya akan berbeda pada inti-sel selanjutnya."
Memangnya mereka akan bertemu secepat itu?" Raja Ares mendelik tajam ke arah Ratu Ishtar.
"Ah... Ares," ucap Ratu Ishtar. "Mengapa kau tanyakan itu padaku? Kita kan sama-sama tidak tahu kapan dan di tempat yang mana mereka akan bertemu. Kita bahkan tak bisa tahu pasangan mana yang berikutnya akan 'terbuka'."
"Sama-sama tidak tahu? Huh," Raja Ares membuang muka dengan memperlihatkan senyum mengejek di bibirnya. "Aku sangat meragukan itu, Ishtar. Aku kan hanya menyumbangkan sebagian dari diriku saja. Setelah itu, mana kutahu apa yang kau lakukan secara diam-diam. Kau yang memiliki tempat ini." Raja Ares mengedikkan kepalanya.
"Menyumbang?" Ratu Ishtar tertawa. "Itu pemilihan kata yang tidak bijaksana, Ares. Kita sama-sama punya andil yang setara dalam hal ini."
"Setara? Kurasa tidak." Raja Ares menggeleng. "Kau memiliki lebih banyak keputusan besar di tanganmu."
"Ah, kurasa tidak begitu," jawab Ratu Ishtar tenang sembari menggeleng.
"Buktinya kau memutuskan sendiri soal ini!" ujar Raja Ares keras sambil menunjuk ke arah lempengan kaca.
__ADS_1
"Itu karena menurutku, tidak akan ada hasil yang baik dari sebuah tindakan yang dilakukan dengan terpaksa," jawab Ratu Ishtar cepat.
"Paling tidak, katakan dulu padaku sebelum kau menculik martianku dengan tiba-tiba dari tempatnya!" kata Raja Ares kesal.
"Menculik? Oh astaga, kata-katamu kasar sekali." Ratu Ishtar tersenyum. "Aku tidak menculiknya dengan tiba-tiba. Aku sudah melaksanakannya dengan cara yang seharusnya. Dengan sangat hati-hati. Tidak akan ada pertanyaan, kesedihan atau sakit hati atas kepergiannya. Hanya kau yang menyadarinya, Ares."
"Itulah yang kukatakan tadi. Keputusan-keputusan besar memang selalu ada di tanganmu," ucap Raja Ares.
"Tidak, Ares." Ratu Ishtar menggeleng. "Itu hanya karena porsi keahlianku yang kebetulan berada di titik-titik penting untuk pengambilan keputusan."
"Apanya yang tidak?" suara Raja Ares mulai terdengar meninggi. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Ratu Ishtar. Kemudian berdiri di hadapannya dan menatap sinis ke dalam bola mata birunya.
"Lalu bagaimana dengan tabung-tabung di dalam laboratorium kecilmu itu, hm? Kau juga mengambil keputusan sendiri saat itu, ingat?" ucap Raja Ares dengan penuh penekanan.
Wajah Ratu Ishtar tampak sedikit menegang. Namun sejurus kemudian ia tampak kembali normal. Senyum manis mengembang di bibirnya. "Itu kesalahan di masa lalu, Ares. Tak perlu mengungkit-ungkitnya lagi."
"Kalau kau tak ingin aku mengungkitnya, mengapa benda-benda itu masih ada di sana? Apa yang kau rencanakan dengannya?" Raja Ares.
"Tidak ada rencana apa-apa," ucap Ratu Ishtar sambil melambaikan tangannya sedikit. "Aku hanya menyimpannya sebagai... yah, kenang-kenangan."
"Kenang-kenangan?" Raja Ares menggeram. "Dan kau pikir aku percaya?"
"Huh." Raja Ares membalikkan badan dengan kesal. Dan ikut melihat ke arah lempengan kaca.
"Lalu apa rencanamu untuk mereka?" tanya Raja Ares. "Kau yakin akan membiarkan mereka berada di dalam sana terus?"
"Tidak ada rencana." Ratu Ishtar menggeleng. "Biarkan saja mereka di sana untuk seterusnya. Kita masih punya banyak sekali, kan?"
"Murah hati sekali dirimu," ucap Raja Ares ketus.
"Karena kita dapat membuatnya kembali dengan sangat mudah," sahut Ratu Ishtar.
"Sombong sekali kau," komentar Raja Ares semakin ketus.
"Tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada melihat kebersamaan dua makhluk yang saling mencintai, kau tahu?" ucap Ratu Ishtar dengan lembut. "Sudahlah, fokuskan saja dirimu untuk mempengaruhi martianmu berikutnya. Kita tak tahu kapan mereka akan bertemu. Mungkin saja esok hari."
"Baiklah. Untuk berikutnya, aku yang akan menang," ucap Raja Ares. "Harus menang."
__ADS_1
"Mungkin saja, Ares." Ratu Ishtar mengangguk. "Masih ada cukup waktu sebelum istana bawah tanah kita selesai dibuat.”
“Ya. Dan masih banyak waktu sebelum daun terakhir di hutan Mars jatuh ke tanah," ucap Raja Ares.
Ratu Ishtar dan Raja Ares terdiam sejenak sambil memandang ke dalam lempengan kaca yang memperlihatkan sepasang makhluk yang terlihat sangat bahagia menikmati kehidupan baru mereka.
“Ah, ya. Pesanan bahan pakaian dan selimut rajut untuk para martian sudah siap untuk dikirimkan,” kata Ratu Ishtar.
“Ya, terimakasih. Tetapi pesanan daging olahan dalam tabung untuk kalian akan sedikit terlambat kali ini. Karena salah satu pemburu terbaikku telah sibuk dengan urusan percintaannya,” jawab Raja Ares sinis sembari melirik penuh kebencian pada lempengan kaca.
Ratu Ishtar tertawa.
“Kalau begitu Rajaku, bisakah sekarang kita buka gerbang Taman Simulasi yang kedua ini?” tanya Ratu Ishtar dengan sedikit membungkuk ke arah Raja Ares.
“Silakan, Ratuku," jawab Raja Ares dengan sedikit membungkuk juga.
Kemudian kedua makhluk dari spesies yang berbeda itu berdiri tegak berhadapan.
Kemudian mereka saling mengatupkan kedua telapak tangan mereka.
Menutup mata dan berkonsentrasi.
Lalu seberkas cahaya memancar keluar dengan cepat dahsyat dari penyatuan itu. Menyilaukan mata menutupi pandangan.
Dan terciptalah sebuah dimensi baru di hadapan mereka.
Langit biru, rumput hijau, perairan luas yang dalam dan tenang, serta binatang-binatang cantik yang lucu.
"Ah... indahnya..." Ratu Ishtar mendesah kagum. "Persis seperti saat kita melihatnya bersama-sama dulu."
"Hmm..." Raja Ares hanya berdeham.
"Baiklah, mari kita tunggu pertemuan yang berikutnya," ucap Ratu Ishtar sambil mulai beranjak meninggalkan ruangan, diikuti oleh Raja Ares.
~o0o~
__ADS_1
Women are from Venus. Men are from Mars.