PLANET BIRU

PLANET BIRU
KUNJUNGAN YANG TAK BIASA


__ADS_3

“Venera!” teriak Marxis dari bawah sambil melompat dari atas batu yang didudukinya sejak tadi. Dengan segera Marxis berlari menaiki bukit. Langkahnya panjang dan cepat bagai desingan anak panah yang terlontar dari busurnya. Ia melewati beberapa batu besar hanya dalam satu lompatan; dan dalam sekejap telah sampai di tempat Venera berada. Ia bertelungkup di sisi tebing batu dan menjulurkan lengannya jauh-jauh ke arah Venera.


“Ulurkan satu tanganmu, Venera! Aku akan menarikmu!" seru Marxis.


“Tidak bisa!” teriak Venera disela deru air yang jatuh membasahi tubuhnya. “Kalau kulepas satu tanganku, aku pasti jatuh!”


Venera terlihat semakin panik.


Akhirnya Marxis mendorong tubuhnya lebih jauh lagi ke pinggir tebing, dan mengaitkan kakinya pada cekungan di bawah sebuah batu besar untuk menahan tubuhnya dan menjaga keseimbangannya. Kemudian dengan sigap ia menggapai kedua tangan Venera.  Dan menariknya ke atas.


 


Marxis membopong tubuh Venera yang gemetar dengan hati-hati melalui jalan bebatuan yang licin untuk turun dari bukit. Kemudian setelah sampai di dataran yang kering dan aman, ia mendudukkan Venera di atas rerumputan.


“Kau tidak apa-apa?  Ada yang luka?” tanya Marxis cemas sambil memeriksa sekujur tubuh Venera. Venera menggeleng dengan gemetar.


”Ak… aku hanya… terkejut…” jawabnya dengan suara bergetar, ”t… tadi itu... t... tinggi sekali...”


“Tenanglah. Kau sudah aman sekarang,” Marxis menenangkan Venera. "Sekarang kita duduk dulu saja di sini sementara waktu sampai kau tenang kembali."


Kemudian Marxis melepaskan pakaian berburunya, lalu mulai mengeringkan rambut dan tubuh Venera yang basah kuyup dengan cermat dan sangat berhati-hati. Gaun Venera pun terlihat sangat kotor, penuh noda tanah dimana-mana.


“Kupikir… kupikir bukit itu tidak terlalu tinggi. Aku terlalu bersemangat mendaki tadi, sampai tak sadar kalau sudah berjalan menanjak jauh sekali…” ucap Venera yang berangsur-angsur pulih dari keterkejutannya.


“Ya, aku mengerti. Taman ini memang sangat indah, sampai membuat kita lupa diri dan lupa waktu,” sahut Marxis masih dengan wajah khawatirnya memperhatikan Venera.


Venera hanya mengangguk lemah.


“Kau benar tidak apa-apa? Yakin tidak ada yang sakit?” tanya Marxis.


Venera mengangguk lagi. “Ya. Aku tak apa-apa. Sepertinya... kita harus segera pulang sekarang."


"Hmm... apa kau nanti sanggup berlari sampai ke asrama dengan kondisi seperti ini?" tanya Marxis ragu.


"Sanggup," jawab Venera sembari berusaha berdiri. Marxis dengan sigap menopang tubuh Venera menggunakan lengannya yang kokoh.


“Baiklah kalau begitu." Wajah Marxis masih menyiratkan keraguan. “Kita jalan pelan-pelan saja, ya.”


Dan mereka berdua melangkah pergi.


 

__ADS_1


 


     ~o0o~


 


Venera melewati gerbang Asrama Eosphorus dengan tergesa. Napasnya terengah.


“Ya ampun Venera, kau baru datang?  Dan kau kotor sekali! Ck ck ck. Kau pasti kena hukuman lagi kali ini,” komentar Viqu dan Viz penghuni Aula Timur Eosphorus yang melewati Venera dengan pakaian resmi mereka.


“Astaga Venera, kau ini benar-benar santai sekali ya?” Vixey dari Aula Utara yang juga mengenakan  pakaian resmi menggeleng-gelengkan kepala sambil berlalu.


“Hei kalian, mau kemana dengan pakaian seperti itu?” tanya Venera heran melihat penampilan teman-temannya.


“Venera!” Vla berlari menghampiri Venera. Wajahnya menyiratkan kepanikan. “Darimana saja sih, kau ini?  Ratu Ishtar akan berkunjung ke aula kita sebentar lagi!  Dan … ya ampun, kenapa pakaianmu basah semua begini?”


“Apa?" Venera membelalakkan mata. "Tapi... bukankah periode bulan yang lalu Ratu Ishtar baru saja berkunjung kesini? Seharusnya sekarang giliran Asrama Hesperus yang dikunjungi, kan?”


“Entahlah,” sahut Vla, “yang jelas kau perlu segera membersihkan diri. Sepuluh menit lagi kita harus sudah berkumpul di Aula Besar. Aku sudah menyiapkan pakaian terbaikmu di atas tempat tidur.”


“Ooh… terimakasih Vla sahabatku!” Venera memeluk Vla.


“Heii, bajuku jadi basah nih!" protes Vla sembari mendorong Venera menjauh. Tetapi kemudian ia segera mendekat lagi kepada Venera dan mengendus tubuhnya.


Venera menciumi tubuhnya sendiri dengan bingung. “Bertualang seperti biasa,” jawabnya.


“Eh, benda apa itu di telingamu?” tanya Vla sambil menunjuk.


Venera terkejut.  Ia benar-benar lupa kalau bunga yang dipetiknya tadi masih tersemat pada daun telinganya.


“Oh… ini... “ Venera sedikit gugup dan segera menarik kelopak bunga itu dari daun telinganya lalu menggenggamnya di tangan. “Cuma tanaman yang kutemukan di jalan.”


“Oh… begitu.” Vla memperhatikan sejenak. “Ya sudah lekas mandi sana. Kutunggu di Aula Besar, ya!”  


Venera mengangguk dan segera berlari masuk ke kamar.


 


  


     ~o0o~

__ADS_1


 


 


“Yang Mulia Ratu Ishtar segera memasuki ruangan!” seru Vinn, penjaga gerbang Asrama Eosphorus.


Venera, Vla dan sembilan ratus sembilan puluh delapan Venusian lainnya yang tergabung dari penghuni bagian Barat, Timur, Utara dan Selatan Asrama Eosphorus berlutut memberi hormat.  Begitu juga dengan anggota Dewan Pengawas dari berbagai divisi yang turut hadir disitu.  


Seketika udara di dalam ruangan terasa berbeda.


Ratu Ishtar melangkah tanpa suara di atas karpet beludru kuning berbunga putih yang terbentang dari pintu masuk sampai ke atas podium tempat singgasananya berada.  


Venera yang berada di barisan paling depan dapat melihat ujung gaun putih Ratu Ishtar yang bertatahkan permata berbentuk bintang, melambai dengan indah mengikuti gerak langkahnya.


Meskipun semua Venusian dilarang keras untuk memandang Sang Ratu dan belum pernah ada yang berdiri bersisian dengannya, namun dilihat dari caranya berjalan, di dalam hati Venera merasa yakin tubuh Ratu Ishtar pasti sangat tinggi dengan sepasang kaki yang jenjang. Dan wajahnya juga pasti amat cantik.


Tetapi tentu saja dugaan ini hanya disimpannya sendiri dalam hati. Membicarakan dan mempertanyakan hal apapun tentang penampilan fisik maupun sifat dan pemikiran Sang Ratu adalah hal yang sangat terlarang bagi Venusian.


Setelah Ratu Ishtar menduduki singgasananya yang teramat tinggi di bagian depan aula, makan malam pun dimulai. Semua Venusian duduk di kursi masing-masing dengan perasaan sangat tegang. Begitu juga dengan para anggota Dewan Pengawas yang menempati meja makan di sepanjang sisi kiri dan kanan aula.


Meskipun momen seperti ini sudah berulang kali terjadi dalam hidup mereka, tetapi tetap saja semua selalu merasa gugup karena diharuskan menyelesaikan makan malam dengan sopan dan tertib tanpa bicara, ditambah lagi harus bersusah payah menahan keinginan untuk tidak memandang ke arah Sang Ratu.


Dan walaupun Ratu Ishtar tak pernah mengucapkan apa-apa, semua Venusian merasa amat yakin, di saat seperti ini, sebenarnya mereka sedang diperhatikan. Atau dinilai.


 


Venera menghabiskan makanannya dengan setengah melamun. Pikirannya melayang kembali ke taman misterius itu. Ia merasa banyak sekali pertanyaan yang bertumpuk dalam kepalanya yang tak tahu harus ditanyakannya kepada siapa.


Venera meletakkan sendoknya di atas piring.  


Seketika perutnya terasa aneh.


Ia menatap piringnya yang telah kosong. Sepertinya tidak ada yang salah dengan menu makan malam barusan.  Tetapi kenapa perutnya terasa tidak enak?


Vla menyenggol lengan Venera sedikit, mengingatkannya untuk bersikap anggun dan sopan. Venera terkejut dan segera memperbaiki sikap duduknya.


Dan pada detik yang sama, ia merasa seperti ada yang sedang menatapnya.  


Dari arah singgasana Sang Ratu.


 

__ADS_1


 


     ~o0o~


__ADS_2