
"Oh..." Venera sedikit tercengang mendengar bahwa ia telah menjadi perhatian utama sang ratu belakangan ini.
"Ada yang ingin kau tanyakan lagi sebelum aku melanjutkan dengan pembicaraan lain?" tanya Ratu Ishtar.
"Ada, Yang Mulia," jawab Venera saat tiba-tiba teringat sesuatu.
Ratu Ishtar mengangguk dan menghadapkan telapak tangannya ke arah Venera, tanda mempersilakan.
"Saat saya bertemu dengan Marxis terakhir kali di taman tadi, mengapa semua rasa sakit yang saya rasakan sebelumnya tiba-tiba saja menghilang, Yang Mulia?" tanya Venera.
"Maksudmu, saat kalian berpelukan tadi?" tanya Ratu Ishtar memperjelas.
Wajah Venera kembali memerah. "Benar, Yang Mulia."
"Dan setelah sakitnya menghilang, lalu rasa apa yang timbul? Apa yang kau rasakan?" tanya sang ratu.
"Hmmm..." Venera mengerutkan dahi sedikit. "Saya seperti merasa... tubuh saya seolah melayang, Yang Mulia. Kemudian ada rasa hangat, lalu ada juga rasa... mm... rasa..." Venera berpikir sejenak mencari-cari kata yang cocok untuk menggambarkan perasaan yang terakhir dirasakannya bersama Marxis tadi.
"Manis?" tebak Ratu Ishtar.
"Ah..." Venera terpaku sesaat. "Benar! Benar sekali Yang Mulia!" sahutnya antusias. "Tetapi bukan seperti rasa manis yang terasa di lidah maupun mulut saat memakan buah mavarea. Namun lebih seperti... rasa manis yang menyebar di seluruh tubuh, bahkan di udara sekitar yang saya hirup, Yang Mulia!"
__ADS_1
Ratu Ishtar tersenyum senang mendengar penjabaran Venera tentang rasa manis yang dirasakannya itu.
Ia berkata, "Itu karena, Venera, pada saat itu, saat Marxis mengatakan bahwa ia selalu menunggumu di taman selama kau tak datang, dan mengatakan bahwa ia merindukanmu, secara tidak langsung Marxis telah memberikan pernyataan bahwa ia juga merasakan hal yang sama denganmu. Yaitu, rasa cinta. Dan pernyataan cinta dari Marxis itu sekaligus juga dimaksudkan sebagai tanda untuk mengikatkan dirinya dengan dirimu. Lalu 'pernyataan ikatan' itu lah yang membuat perasaanmu menjadi lega, karena merasa telah mendapatkan kepastian dari Marxis, sehingga menghilangkan semua keresahan dan kemarahan yang tadinya ada di dalam dirimu." Ratu Ishtar mengakhiri penjelasannya dengan tersenyum menatap Venera. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa senang atas apa yang telah dialami Venera dan Marxis selama ini.
"Jadi, sejak awal, Marxis juga merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan, Yang Mulia? Semua rasa sakit itu?" tanya Venera.
"Tentu saja." Ratu Ishtar mengangguk. "Tetapi, yah... kau tahu, dia adalah martian. Mereka tidak bisa mengekspresikan semua isi hatinya dalam bentuk kata-kata seperti venusian. Mereka merasakan hal yang sama, hanya saja mereka tidak bisa dan tidak merasa perlu untuk mengatakan atau menjelaskannya. Sehingga hal itu tidak terlihat dalam raut wajah dan gerak tubuh mereka."
"Mengapa seperti itu, Yang Mulia?" tanya Venera.
"Karena memang seperti itulah perbedaan antara venusian dan martian," ucap Ratu Ishtar sembari mengedikkan bahunya dengan santai, memberi kesan bahwa ia juga tak bisa berbuat apa-apa soal itu.
Venera langsung teringat pada kejadian saat Marxis mengutarakan penyebab ketidakhadirannya di taman saat itu. Marxis menjelaskan alasannya dengan sikap sangat santai tanpa beban, dan seolah ingin segera menyudahi pembicaraan tersebut dengan mengalihkan pembicaraan dan mengajak Venera berjalan-jalan di taman. Sementara di sisi lain Venera yang sudah merasa marah sekali, rasanya ingin membahas terus menerus tentang alasan ketidakhadiran Marxis yang dianggapnya sangat tidak bertanggungjawab itu.
"Sebetulnya saat itu Marxis merasa sangat bersalah padamu, Venera," ucap Ratu Ishtar seolah membaca isi pikiran Venera. "Ia hanya tak bisa menyampaikannya dengan cara seperti yang kau inginkan. Ini semua terjadi karena aliran energi di dalam tubuh venusian dan martian memang sangat berbeda. Sehingga cara pandang kalian terhadap suatu masalah juga berbeda."
"Aliran energi?" Venera menatap Ratu Ishtar dengan pandangan penuh tanya.
Ratu Ishtar mengangguk. “Sebelum aku mulai menjelaskan soal aliran energi, kau harus melihat ini terlebih dahulu.”
Kemudian Ratu Ishtar berdiri mendekati lempengan kaca besar dan kembali mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Gambar pemandangan indah Planet Biru yang sejak tadi masih terus menghiasi permukaannya, kini berubah menjadi gambar Ratu Ishtar dan sosok yang Venera perkirakan adalah Raja Ares; dengan wajah tegas cenderung kasar yang sama sekali berbeda dengan kesan yang didapatnya dari wajah Marxis sebagai martian, dan tubuh besar yang terlihat sangat kuat.
Mereka berdua terlihat sedang duduk berdampingan pada sebuah kursi logam panjang di dalam sebuah ruangan besar berwarna putih. Mirip seperti ruangan tempat Venera berada saat ini.
Tangan kanan Ratu Ishtar dan tangan kiri Raja Ares berada di dalam sebuah bola kaca besar yang ditempatkan di tengah-tengah mereka.
Dua buah tali tipis transparan menjulur dari masing-masing sisi bola kaca itu. Kedua ujung masing-masing tali menempel pada pelipis Ratu Ishtar dan Raja Ares.
Di bagian depan bola kaca besar itu tampak sebuah bukaan persegi yang memperlihatkan dua buah tabung kaca kecil di dalamnya. Dari kedua tabung kecil itu tersambung dua pipa kaca yang menjulur ke bawah dan berakhir pada dua buah tabung kaca besar yang terletak terpisah di atas lantai. Tabung yang satu berada di depan Ratu Ishtar, dan yang satu lagi di hadapan Raja Ares.
Ratu Ishtar memperbesar lagi gambar bola kaca yang berada di tengah.
Sekarang Venera bisa melihat bahwa di dalam bola kaca besar itu terdapat dua buah jarum yang menusuk tangan Ratu Ishtar dan Raja Ares secara berkala. Setiap kali menusuk, alat itu seperti menyedot ‘sesuatu’ dari dalam tubuh mereka. Dan setelah ‘sesuatu’ itu dimasukkan ke dalam masing-masing tabung kaca kecil, terjadilah suatu reaksi. Lalu beberapa saat kemudian, dari kedua tabung kaca kecil itu keluar dua buah bulatan seperti bola sangat kecil berwarna putih yang bergulir melalui masing-masing pipa panjang, dan masuk ke dalam tabung kaca besar yang berada di lantai.
Ratu Ishtar menghentikan gambarnya. Ia menunjuk dua tabung kaca besar itu.
“Di dalam kedua tabung ini berisi banyak sekali ‘inti-sel’. Satu untuk dibawa ke Venus, dan satu untuk dibawa ke Mars,” jelasnya.
“Inti-sel…?” Venera menjulurkan kepala untuk mengamati gambar itu lebih dekat lagi.
“Ya. Dan setelah menjalani beberapa proses lanjutan, barulah masing-masing inti-sel itu siap untuk dimasukkan ke …” Ratu Ishtar mengulurkan lengannya dan menyentuh kepala Venera dengan lembut. ”Suatu tempat di dalam sini.”
__ADS_1