
Sesosok makhluk muncul dari balik pohon itu.
Wujudnya sangat aneh.
Tubuhnya kecil, dengan bentuk-bentuk tak wajar di beberapa bagian.
Kedua lengannya yang kurus menjuntai di sisi kiri dan kanan tubuhnya dengan jari-jari tipis yang terlihat rapuh.
Gerak langkahnya yang halus dan ringan memberi kesan seolah tubuhnya sedang melayang rendah di atas rerumputan.
Rambutnya panjangnya yang kuning berkilauan berkibar-kibar tertiup angin di belakang kepalanya; membuat sosoknya mirip dengan pohon muda berdaun kecil di tepi hutan yang sedang terombang-ambing diterpa angin selatan.
Dan bau yang enak itu berasal dari tubuhnya.
Marxis pulang ke pondok batunya dengan penuh rasa penasaran. Makhluk yang kelihatan lemah tadi itu ternyata sangat keras kepala hingga membuatnya tak kuasa untuk terus membantah celotehan suara kecil yang nyaring itu.
Dan Marxis memang merasa tak ingin melawannya terlalu keras. Entah mengapa. Padahal selama ini ia cukup disegani oleh teman-temannya karena sikap tegasnya.
Venusian katanya?
Venus?
Sangat sulit dipercaya.
Tetapi sudah pasti ia memang bukan makhluk Mars.
Marxis belum pernah melihat makhluk semacam itu.
Kulitnya putih bersih dan sepertinya amat halus.
Garis wajahnya lembut berbentuk lembaran daun pohon Mavarea.
Bola matanya bulat bening dan semakin membulat saat marah.
Keseluruhan penampilannya bagaikan patung batu halus yang rentan pecah jika diguncang sedikit saja.
Benar-benar makhluk yang aneh.
Mungkin karena itulah bagian hutan tersebut selama ini terlarang untuk dimasuki.
Karena ada makhluk aneh itu di dalamnya.
Marxis berlari kencang melompati beberapa undakan dan bebatuan di sepanjang jalan setapak. Ia harus segera tiba untuk menyelamatkan Venera.
“Ulurkan sebelah tanganmu Venera!” seru Marxis.
“Tidak bisa! Kalau kulepas satu tanganku, aku pasti akan jatuh!” teriak Venera panik.
Oh astaga, mahluk ini. Ia bahkan tak bisa menahan berat tubuhnya sendiri, pikir Marxis heran.
Marxis menjulurkan badannya lebih ke depan lagi dan menangkap kedua tangan Venera, kemudian menariknya ke atas dengan hati-hati.
“Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?” tanya Marxis setelah mereka sampai di tempat yang datar.
Kasihan, ia gemetar hebat, batin Marxis. Mungkin kaget karena nyaris jatuh dari ketinggian tadi. Atau kedinginan karena pakaiannya basah semua.
”Ak… aku hanya… terkejut…” jawabnya lemah, ”t… tadi itu... t... tinggi sekali...”
Marxis melepas pakaian berburunya untuk mengeringkan rambut dan tubuh Venera yang basah kuyup. Ternyata benar dugaanku kemarin. Kulitnya halus sekali. Dan tubuhnya terasa sangat ringan saat kubopong tadi. Makhluk ini benar-benar lemah.
“Apa kau sedang sakit?” tanya Moroca sang Ketua Divisi Pelatihan Berburu saat Marxis datang menghadap ke Ruang Sekretariat Pelatihan Mars.
“Tidak, Ketua Moroca,” jawab Marxis.
“Tapi selama ini kau tidak pernah gagal, Marxis. Nilaimu selalu sempurna," ucap Ketua Moroca.
“Maafkan saya, Ketua Moroca. Mungkin hari saya kurang konsentrasi. Besok akan saya perbaiki," janji Marxis.
__ADS_1
Moroca menggeleng. “Tetapi bukan itu maksudku menyuruhmu datang kemari.”
“Oh. Lalu, apakah saya melakukan kesalahan lain?” tanya Marxis heran.
“Sepertinya aku tidak melihat ada kesalahan lain yang kau lakukan selain nilai Latih Panahanmu yang menurun hari ini. Tetapi aku baru saja mendapat pesan langsung dari Raja Ares untuk disampaian kepadamu,” lanjut Moroca.
“Apa? Raja Ares?” Marxis membelalak terkejut.
Moroca mengangguk.
“Raja Ares? Mengirimkan pesan langsung untuk saya?” Marxis bertanya tak percaya.
“Ya." Moroca kembali mengangguk. "Aku pun merasa sangat heran. Tidak biasanya Yang Mulia sampai harus memberi pesan untuk Martian secara personal. Tetapi yang jelas, Yang Mulia Raja berkata begini di kepalaku : ‘Katakan kepada Martian Marxis, bahwa kondisi psikologisnya tidak boleh sampai mempengaruhi pekerjaan karena akan berakibat fatal. Dia harus kembali banyak melatih diri dan sangat diharapkan untuk tidak melakukan hal-hal aneh yang bisa mengganggu konsentrasinya’. Begitu pesan Yang Mulia.”
Marxis tercengang. “Begitukah …?”
“Ya.”
“Baik, Ketua Moroca. Saya terima teguran ini. Maafkan saya. Saya akan memperbaikinya.”
Marxis berjalan pelan menyeberangi Lapangan Memanah menuju pondoknya.
Apa maksudnya dengan kondisi psikologis yang mempengaruhi pekerjaanku?
Hal aneh apa memangnya yang mengganggu konsentrasi kerjaku?
Dan aku belum pernah dengar Raja Ares sampai harus turun bicara kepada para Martian, meskipun dengan perantara Dewan Pengawas.
Apa Raja Ares tahu aku telah memasuki hutan terlarang?
Tapi, darimana ia bisa tahu?
Ia kan tak pernah mengamati langsung kegiatan para Martian. Dalam setiap acara perburuan masal rutin saja, Raja Ares hanya hadir mengamati kami dari kejauhan, itupun dari balik dinding api Pegasusnya. Jadi sepertinya tak mungkin kalau ia sampai memberi perhatian khusus padaku.
Mungkin bukan soal taman itu yang dia maksud. Mungkin ini hanya tentang kemampuanku yang semakin hari semakin menurun saja. Yah, mungkin hanya itu.
Marxis duduk bersandar di tempat tidurnya. Ia memainkan ujung selimutnya yang berwarna coklat bergaris hijau. Diusap-usapnya permukaan selimut itu sambil memikirkan sesuatu.
“Hei Mel,” panggilnya pada Melvian.
“Ya?” Melvian yang sedang sibuk menajamkan ujung anak panahnya di sisi jendela menoleh sekilas.
“Apa kau pernah merasa seharusnya hidupmu ini berguna untuk makhluk lain?” tanya Marxis.
“Maksudmu?”
“Maksudku, apa kau pernah merasa bahwa seharusnya hidup yang kita jalani selama ini, tidaklah seperti ini. Tetapi seharusnya kita habiskan untuk... yah... untuk makhluk lain. Misalnya, melindungi atau membuatnya merasa senang?”
Melvian mengangkat alis kebingungan. “Bukankah selama ini kita memang sudah berguna bagi Martian lain Marxis? Kita berdua saling melindungi kan? Dan membuat senang Raja Ares?”
“Yah… itu betul. Tapi, bukan melindungi yang seperti itu yang kumaksud.”
Melvian menatap Marxis sesaat. “Marxis, teman. Jujur saja aku tak mengerti kenapa kau menjadi semakin aneh belakangan ini. Kau ini seperti bukan dirimu saja. Tapi, bagaimana kalau sekarang kita tidur dulu? Aku mengantuk sekali.”
“Baiklah,” sahut Marxis. “Selamat tidur.”
Marxis berjalan pulang dengan hati gundah.
Bayangan punggung Venera yang meninggalkannya dengan marah terus menerus terulang dalam ingatannya.
Ia sadar betul penyebab Venera marah padanya. Tetapi ia bingung mengapa Venera harus semarah itu. Kegiatan menelusuri taman bisa dilakukan kapan saja. Taman itu toh tidak akan pergi kemana-mana.
Sebetulnya tadi ia ingin sekali menahan Venera supaya tidak pergi, tetapi ia tak bisa melakukannya. Ia tak tahu bagaimana caranya. Dan juga merasa takut. Bukan rasa takut yang sama seperti yang muncul saat sedang berburu binatang buas atau sesaat sebelum pertandingan gulat melawan pemburu lain.
Ini rasa takut yang berbeda.
Takut menatap wajah marah Venera yang ditujukan padanya.
__ADS_1
Takut Venera menjadi lebih marah dari sebelumnya sampai benar-benar tak mau bertemu dengannya lagi.
Cara makhluk Venus berbicara dan bertindak sungguh sulit dimengerti olehnya. Semuanya terasa mengejutkan. Marxis merasa bingung harus melakukan apa.
Dan dalam kondisi seperti tadi, tak mungkin ia menahan kepergian Venera dengan menarik paksa tangannya yang kecil dan rapuh itu. Venera bisa terluka. Maka dari itu ia hanya bisa diam dan memutuskan untuk membiarkan kemarahan Venera mereda dulu.
Tapi… bagaimana kalau tidak mereda juga?
Bagaimana kalau aku dan Venera tidak akan pernah bertemu lagi?
Bagaimana jika tadi itu adalah pertemuan terakhir kami?
Marxis mendesah gelisah.
Sudah dua hari Marxis menunggu Venera di dalam taman.
Tetapi Venusian itu tak muncul juga.
Marxis berpikir keras. Ingin rasanya menyusul Venera ke Venus. Tapi ia sama sekali tak mendapatkan petunjuk bagaimana caranya. Pintu yang biasanya membuka untuk Venera, tak mau membuka untuknya. Ia bahkan tak tahu dimana tepatnya letak pintu itu.
Pintu yang mungkin hanya mau membuka untuk Venera saja.
Marxis menengadah memandang langit biru cerah berawan putih diatasnya.
Kalau pintu itu tak lagi terbuka, berarti Venera memang tak menginginkannya.
Marxis menunduk lesu memandang bebatuan di bawah kakinya. Ini adalah tempat dimana pertama kali mereka berdua menemukan lokasi kolam air sungai. Ia teringat bagaimana reaksi Venera pada waktu itu.
Ia tampak begitu gembira dan senang. Berlari kesana kemari untuk melihat dari dekat dan menyentuh segala sesuatu yang menarik baginya.
Dibiarkannya rambut panjangnya tergerai bebas, dan tak bosan merapikannya kembali setiap kali angin mengacaunya.
Dengan wajah memerah dan napas terengah, ia terus saja bernyanyi, menari, dan berceloteh tak ada habisnya.
Dan meskipun wajah serta gaunnya kotor terkena cipratan air dan tanah basah, ia tetap bisa membuat dirinya terlihat begitu indah.
Ia juga berani mendaki bukit yang tinggi untuk memuaskan rasa penasarannya. Tetapi langsung menjerit ketakutan dan gemetar saat menghadapi situasi genting.
Tampak sangat lemah, tetapi bisa menjadi amat tegas.
Terlihat menakutkan saat sedang marah, tetapi sangat menyenangkan bila tersenyum.
Semua yang ada di diri Venera memang aneh. Sangat aneh.
Keanehan yang amat dirindukan oleh Marxis.
Marxis tak mengerti dengan apa yang ia rasakan dalam hatinya ini. Semacam perasaan ingin melindungi dan menjaga sesuatu yang memang sangat membutuhkan perlindungan dan penjagaannya.
Ini tak sama dengan perasaannya ketika menjaga Melvian saat mereka berburu dalam satu team. Mereka saling menjaga demi keberhasilan misi dan untuk bersaing dengan team lain. Bukan karena Melvian adalah makhluk yang dianggapnya lemah. Ini sama sekali berbeda.
Marxis merasa dirinya harus ada untuk melindungi Venera. Harus berada di sisinya setiap waktu. Memastikan tak ada bahaya yang bisa menimpa dirinya. Membantu dalam semua kesulitannya.
Datanglah Venera, pinta Marxis dalam hati. Kumohon, datanglah.
Aku berjanji tidak akan membuatmu marah lagi.
Aku berjanji akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi.
Aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum bahagia.
Aku berjanji.
Sesuatu bergerak di belakangnya.
Marxis menoleh.
“Venera...?”
__ADS_1
END.