PLANET BIRU

PLANET BIRU
BAHAGIA SELAMANYA


__ADS_3

"Indah sekali ya," ucap Marxis sembari mengeratkan lengannya yang kokoh pada bahu Venera.


"Benar, ini sangat indah..." sahut Venera sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Marxis. Keduanya duduk santai di atas rumput, bersandar nyaman pada sebuah batu besar yang tertutup tanaman rambat.


Pemandangan dari atas bukit tempat tercurahnya air terjun ini sangatlah menakjubkan. Mereka menatap ke kejauhan, memandangi langit berwarna lembayung yang membentang luas, menaungi seluruh bagian taman kemanapun mata mereka memandang.


Secercah cahaya jingga bercampur merah muda menggantung di ujung cakrawala, menandakan sang matahari sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Di dalam taman simulasi Planet Biru ini, arah terbit dan tenggelamnya matahari berlawanan arah dengan di Planet Venus, juga Planet Mars.


"Ternyata seperti inilah pemandangan senja di Planet Biru. Warna-warna itu sungguh sangat cantik..." ucap Venera tanpa melepaskan pandangan dari panorama langit yang mempesona di atas kepalanya.


Marxis hanya mengangguk. Tangannya membelai halus rambut emas Venera yang tergerai bebas di belakang kepalanya.


"Dan sebentar lagi, kita akan menyaksikan langit malam untuk pertama kalinya di taman ini. Kau juga pasti sudah tak sabar," ucap Marxis.


Venera mengangguk bersemangat. "Aku memang benar-benar penasaran dengan pemandangan langit malam di Planet Biru. Selama ini aku selalu suka memandang langit malam di Venus, meskipun hanya melalui jendela kamarku saja."


"Aku juga," sahut Marxis. "Langit malam selalu membuatku tenang dan nyaman. Saat sedang sulit tertidur, aku selalu memandangi langit malam. Memperhatikan bintang-bintang dan berusaha menghitung jumlahnya. Hingga akhirnya aku tertidur."


"Apa?" Venera menoleh terkejut. "Aku juga sering melakukan itu. Mengapa kebiasaan kita bisa sama?"


Marxis tersenyum. "Tentu saja pemikiran kita sama. Kita adalah pasangan inti-sel, kan?"


Venera tersenyum. "Oh, ya. Kau benar," ucapnya lembut.


Dan matahari pun akhirnya benar-benar tenggelam di ufuk barat.


Langit perlahan mulai menggelap. Menghilangkan sisa-sisa semburat cahaya putih yang masih tersisa di sana sini.


Semakin kelam, lalu menghitam.


Dan setelah itu muncullah mereka satu persatu.


Dengan warna dan kecemerlangan yang berbeda satu sama lain. Ada yang tampak jauh, berwarna putih terang dan berkerlip dengan cepat. Ada yang berwarna kehijauan, tampak lebih dekat dengan kerlipan lebih tenang. Ada yang berwarna kuning terang, terlihat diam tak berkedip meskipun setelah diperhatikan ternyata ia juga berkerlip meskipun dalam tempo yang sangat lambat.


Venera dan Marxis menikmati semua yang tertangkap oleh mata mereka. Venera menunjuk ke sana dan ke mari, kagum menyaksikan formasi-formasi aneh dan unik yang terbentuk dari kumpulan bintang-bintang itu.


Dan saat malam semakin larut, terlihat sebuah garis lebar berwarna putih, yang membentang membelah langit dari ujung ujung terjauh hingga ke ujung terjauh lainnya. Garis itu tampak seperti taburan tanah halus berwarna putig yang disebar membentuk jalan setapak kecil untuk menghubungkan sebuah tempat dengan tempat lainnya.


"Kira-kira apakah itu?" tunjuk Marxis. "Apa kau tahu?"

__ADS_1


Venera menggeleng. "Aku tak tahu. Mungkin keterangan tentang itu ada di dalam informasi dasar yang semestinya hendak diberikan Ratu Ishtar dan Raja Ares kepada kita jika kemarin kita menyetujui untuk pergi ke Planet Biru." Nada suaranya terdengar sedikit menyesal.


Marxis tertawa kecil. "Tak usah memikirkan itu, Venera. Kita sendiri yang akan memberi nama untuk itu. Juga untuk masing-masing bintang-bintang di atas sana. Taman ini milik kita berdua kan? Hanya kita yang ada di sini. Sebutan apapun yang kita berikan, tak akan ada pengaruhnya kepada apapun atau siapapun, kan?"


Venera sontak menoleh kepada Marxis dengan wajah bersemangat.


"Kau benar, Marxis! Ratu Ishtar kan telah memberikan taman ini kepada kita sebagai tempat tinggal. Berarti, kita juga berhak untuk melakukan apa saja di dalam sini!" ucap Venera riang.


Marxis mengangguk. "Benar sekali."


"Berarti, kita juga akan memberi nama untuk binatang-binatang lucu dan cantik itu, juga pohon-pohon, tanaman, dan bunga-bunga!" seru Venera lebih girang lagi.


Marxis tertawa. "Ya, ya. Nanti kita yang akan memberi mereka semua nama."


"Waaah, aku jadi bersemangat!" ucap Venera sambil tak henti-henti berseru kegirangan.


"Aku senang melihatmu bersemangat sekali seperti ini," kata Marxis sambil menatap Venera. “Jadi, apa yang akan kita lakukan mulai besok?”


“Hmm…” Venera berpikir sejenak. “Bagaimana kalau kita membuat tempat tinggal? Di sana misalnya?” ia menunjuk ke arah sebuah ceruk kecil di sisi kolam air sungai yang dipayungi tanaman-tanaman bersulur yang merambat dari dinding tebing sampai menyeberang ke dahan-dahan pohon di sisi lainnya.


“Ide bagus,” ucap Marxis. “Nanti akan kucarikan bahan-bahannya dan kubuatkan sebuah tempat yang kuat dan nyaman untuk kita tinggali. Lalu setelah itu?”


“Wah, apa kau sanggup melakukannya? Menghitung semuanya? Kau lihat kan mereka banyak sekali dan terdiri dari berbagai ukuran?” tanya Marxis.


“Tentu saja aku sanggup. Waktuku banyak sekali,” jawab Venera santai.


Marxis tertawa. “Kau benar. Kemudian, apa lagi?”


Venera berdiri dan memandang ke kejauhan.


“Setelah semua selesai di sini, aku ingin menjelajahi bagian lain yang jauh dari sini, lalu membuat tempat tinggal lainnya untuk kita tinggali di sana, menghitung jenis tumbuhan dan binatang yang ada di sana, lalu memberi mereka nama juga.”


"Dan setelah itu?" tanya Marxis.


"Kita pergi ke tempat lainnya lagi, dan mengulangi semuanya. Sampai akhirnya suatu saat kita kembali lagi ke sini. Oh ya, dan jangan lupa. Kita harus mengukur luas tempat yang kita kunjungi, memberi batas, dan memberi nama untuk masing-masing tempat itu. Supaya kita tidak mengulangi lagi kegiatan kita di tempat yang sama," ucap Venera mantap.


Marxis kembali tertawa dan mengacak rambut Venera. “Rencanamu bagus sekali, Venera. Tapi, apa kau tidak akan bosan melakukan semua hal itu terus menerus?”


“Memangnya kau akan merasa bosan?” Venera balas bertanya.

__ADS_1


“Tentu saja tidak,” jawab Marxis tenang. "Aku jauh lebih suka di taman ini daripada di Mars. Kau tahu kenapa?"


“Karena semua yang ada di sini jauh lebih indah daripada di Mars. Ya, kan?” tebak Venera.


“Bukan.” Marxis menggeleng.


“Lalu karena apa?” tanya Venera.


“Karena aku akan menjalani semuanya berdua saja denganmu," jawab Marxis.


Venera tersenyum mendengar jawaban Marxis. Deru suara air terjun dan nyanyian binatang malam mengiringi desiran hangat yang mengalir dalam setiap nadinya. Debaran jantungnya tak lagi terasa menyakitkan seperti dulu. Sebaliknya, ia justru sangat menikmati rasa nyaman dari debaran-debaran halus yang selalu timbul saat ia berada di sisi Marxis.


“Kau tahu, Marxis, selama ini aku selalu mengira hal yang paling membahagiakan bagiku adalah berlari bebas di padang rumput yang luas,” ucap Venera.


“Dan ternyata?” tanya Marxis.


Venera menatap mata Marxis dalam-dalam. ”Ternyata... jauh lebih membahagiakan lagi bila aku bisa berlari bersamamu.”


Marxis tersenyum mendengar jawaban Venera. Kemudian mengecup lembut keningnya.


"Ehm... Marxis, apakah tak terpikir olehmu, bahwa kita ini sebenarnya sedang menjalani hukuman dari Ratu Ishtar?" tanya Venera. "Maksudku, kita tinggal di sini untuk selama-lamanya dan tak bisa keluar lagi dari sini. Sama saja artinya dengan memisahkan kita dari teman-teman yang lain untuk menjalani sesuatu, kan? Hanya saja sesuatu itu tidak terasa menyakitkan ataupun menakutkan."


Marxis tersenyum. "Akupun berpikir begitu. Tapi aku tak peduli apakah yang sedang kita jalani ini adalah suatu hukuman atau hadiah. Yang penting, aku menjalaninya dengan perasaan bahagia. Bahagia selamanya."


Venera menatap kedua bola mata Marxis.


"Aku juga bahagia menjalani ini semua, Marxis," ucap Venera lirih. "Bahagia selamanya."


Marxis balas menatap kedua mata Venera dalam-dalam.


“Aku mencintaimu, Venera.”


“Aku juga mencintaimu, Marxis.”


 


    


      ~o0o~

__ADS_1


__ADS_2