
Venera berguling ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidurnya. Matanya sama sekali tak mau terpejam sedari tadi. Pikirannya tanpa dapat dicegah terus-terusan kembali kepada taman misterius itu.
Taman itu memang benar-benar sangat indah. Semua yang ada di dalamnya dirasa teramat menakjubkan bagi Venera. Seperti masuk ke dalam sebuah dunia ajaib di dalam mimpi indah yang membuatnya tak ingin segera terbangun dan kembali ke dunia nyata. Karena mimpi tersebut terasa lebih nyata dibandingkan kehidupan nyata itu sendiri.
Dan hari ini Venera baru saja mengetahui bahwa ternyata aliran air deras yang tumpah ke dalam kolam besar itu adalah ujung dari sebuah sungai yang mengalir berkelok-kelok jauh dari balik bukit.
Ia memang belum berjalan sampai dekat ke sungai itu. Tetapi apa yang ia saksikan dari sela-sela tebing tadi membuatnya semakin bertanya-tanya, apakah masih ada tempat-tempat indah lainnya yang bahkan mungkin lebih indah lagi, di balik bukit-bukit hijau dengan kolam besar itu.
Didorong oleh rasa penasaran tentang hal itu, maka Venera dan Marxis berjanji besok mereka akan mulai menjelajahi sedikit demi sedikit area di balik bukit itu. Sekaligus mereka ingin membuktikan apakah benar waktu tidak bergerak saat berada di dalam taman. Karena mereka merasa selama ini sudah menghabiskan waktu lama di dalam taman dengan durasi waktu yang berbeda-beda, tetapi anehnya mereka tetap tidak pernah benar-benar terlambat untuk pulang. Paling tidak, bagi Venera, ia selalu tiba tepat waktu sebelum Vinn mengunci gerbang Asrama Eosphorus.
Venera juga tak merasa khawatir karena Marxis sudah berjanji akan menjaganya, seperti yang ia lakukan tadi sewaktu mengajaknya melihat bunga-bunga cantik yang tumbuh tak jauh dari tempatnya terpeleset kemarin. Marxis dengan sabar membantu dan menolongnya Venera untuk melalui tempat-tempat yang sulit dan berbahaya.
Tiba-tiba perut bagian atas Venera terasa sakit lagi. Seperti ada sesuatu yang menggeliat-geliat di dalamnya.
Dada Venera pun terasa sesak. Jantungnya berdegup amat kencang, sampai-sampai tubuhnya terasa ikut bergerak mengikuti irama denyutnya.
Darahnya juga seolah mengalir terlalu cepat. Ia dapat merasakan alirannya membanjiri setiap inci tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan kembali lagi ke kepala.
Venera langsung saja membuka selimutnya lalu bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. Ia merasa ketakutan.
Apa yang terjadi pada dirinya? Penyakit apa ini? Ia belum pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Ia hanya pernah terkena demam sesekali karena terlalu lelah atau karena perubahan cuaca. Dan penyakit seperti itu bukan hal yang aneh, karena hampir semua venusian pasti pernah mengalaminya.
Tetapi penyakit yang ia rasakan sekarang ini berbeda. Dan sepertinya ia belum pernah mendengar cerita dari venusian lain yang merasakan keluhan gangguan kesehatan seperti yang dirasakannya ini.
Apakah jangan-jangan... ia terkena racun?
Venera berpikir sejenak. Teringat pengalamannya dulu waktu secara tak sengaja menyentuh sekelompok tanaman beracun di dasar jurang.
Saat itu ia sedang bermain sendirian di padang rumput seperti biasanya, ketika tiba-tiba muncul seekor pixie mungil lucu berwarna biru yang mengajaknya bermain.
__ADS_1
Pixie itu begitu mungil dengan warna tubuh mirip warna langit, sehingga Venera yang terlalu fokus memperhatikan dan mengejar karena takut kehilangan jejaknya, menjadi kurang berhati-hati. Dan akhirnya jatuh terperosok ke dalam sebuah jurang.
Meskipun jurang itu tak terlalu dalam dan curam, namun sayangnya Venera terjatuh tepat di sisi sekelompok semak berduri yang ternyata beracun, dan tak sengaja menyentuhnya.
Awalnya ujung jemari dan telapak tangannya terasa panas. Dan ketika ia berhasil memanjat dinding jurang dan sampai di atas, tangannya telah melepuh kemerahan seperti terbakar.
Venera sangat beruntung saat akhirnya ia sampai di asrama, Dewan Pengawas Kesehatan langsung mengobatinya dan tidak menghukumnya.
Mereka mengatakan Venera cukup beruntung karena tak sempat menghirup aroma semak-semak itu terlalu dalam. Karena racun tersebut selain bisa melukai kulit, juga bisa mengakibatkan sesak napas. Dan itu sangatlah berbahaya baginya.
Kemudian Venera mengingat-ingat kembali semua yang ada di dalam taman misterius itu. Rasanya tak ada satupun yang luput dari sentuhannya, kecuali binatang-binatang berkaki empat yang cukup besar dan sulit didekati.
Apakah salah satu dari pohon-pohon rindang dan bunga-bunga dengan warna-warna cantik di dalam taman misterius itu, ada yang beracun?
Atau rerumputan hijau lembut yang terasa sangat nyaman untuk duduk, bahkan untuk berbaring itu?
Makhluk kecil berkaki empat bertelinga panjang dengan bulu-bulu halus yang terlihat ramah dan menggemaskan?
Atau mungkin... udaranya? Udara yang terasa sejuk dan menyegarkan saat dihirup itu?
Venera mengeluh gundah.
Rasanya ia tak ingin mempercayai kalau salah satu dari hal-hal yang disukainya itu adalah penyebab rasa sakitnya ini. Karena ia sangat menyukai taman itu. Tempat yang sangat istimewa dan berharga baginya.
Venera mengerutkan kening dan terdiam sejenak.
Kemudian menekan bagian dada dan perutnya perlahan dengan telapak tangan.
Rasa sakitnya hilang.
__ADS_1
Ini sangat aneh. Rasa sakitnya hanya timbul sekali-sekali saja, batin Venera.
Venera merasa bingung, tak tahu harus melakukan apa mengenai penyakitnya ini.
Kalau sekarang ia melapor ke Ruang Kesehatan, para anggota Dewan Pengawas pasti akan segera tahu bahwa ada yang tidak beres pada tubuhnya. Dan kemudian mereka akan menanyakan apa aktifitasnya di hari-hari terakhir, pergi kemana, melakukan apa, dan menyentuh apa.
Venera tak mungkin berkata tidak benar kepada anggota Dewan Pengawas Kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan khusus sebelum bertugas. Mereka venusian-venusian cerdas dan terpercaya. Dan perbuatannya pasti akan ketahuan.
Ini hal yang sangat tidak diinginkan oleh Venera, karena jika itu sampai terjadi, mereka pasti akan melarangnya masuk lagi ke taman itu lagi. Sampai kapanpun.
Dan yang lebih parahnya, ia pasti akan dijatuhi hukuman. Hukuman berat atas pelanggaran yang dilakukannya. Mungkin atas perintah langsung dari Ratu Ishtar, sebagai penguasa tertinggi di Venus. Dan itu akan sangat mengerikan bagi Venera dan venusian lainnya.
Venera menarik napas panjang, memastikan rasa sakitnya benar-benar telah hilang.
Kemudian ia berbaring lagi di atas tempat tidurnya. Kembali memandang ke langit malam. Tempat yang sepertinya teramat jauh, namun dapat dilihatnya dengan bebas dari sudut manapun ia memandang.
Sangat berbeda dengan taman misterius itu, yang meskipun letaknya cukup dekat tetapi sulit untuk dijangkau. Harus melalui sebuah pintu tak terlihat, dan memiliki resiko akan terkena hukuman berat.
Venera berguling ke samping dan menyusupkan tangannya ke bawah bantal. Ujung jarinya terasa menyentuh sesuatu.
Venera menariknya. Dan tersenyum senang melihat bunga cantik berkelopak besar berwarna merah cerah yang diberikan Marxis padanya tadi. Untung saja Venera teringat untuk menyembunyikannya di balik lipatan gaunnya supaya bisa membawanya pulang tanpa terlihat oleh siapapun.
Ia tak mau sampai Vla mempertanyakannya lagi seperti saat sebelumnya waktu ia pulang ke asrama dengan sekuntum bunga kecil berwarna kuning terselip di telinganya.
Maafkan aku karena tak bisa memberitahumu soal ini Vla, batin Venera sembari meletakkan bunga berwarna merah itu kembali di balik bantalnya dan mendorongnya jauh lebih dalam lagi.
~o0o~
__ADS_1