
Venera jatuh terdudukj dari berbagai jenis. Ada yang bertubuh bulat bergaris kuning dan hitam dengan gerak terbang tersendat-sendat, ada juga yang tubuhnya kurus panjang berwarna hijau atau merah dengan sayap lebih panjang namun cara terbangnya lebih halus.
Tetapi yang tampak paling menawan diantaranya adalah yang bersayap lebar; jauh lebih lebar dari ukuran tubuhnya sendiri, dengan warna-warni cerah dan terbang dengan gerakan anggun bagai terbawa angin.
Venera terkesima.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya sudah menjelajahi banyak sekali tempat. Tetapi taman ini tidak seperti tempat manapun yang pernah didatanginya.
Tidak seperti taman besar di halaman utama Asrama Eosphorus yang tanahnya dipenuhi batu-batu pijak dengan berbagai macam bentuk.
Tidak juga seperti taman kecil berumput pendek yang biasa digunakan untuk tempat bersantai di samping Aula Timur.
Juga sama sekali berbeda dengan taman kebanggaan penghuni Asrama Hespherus yang dibuat melingkar berundak menghadap ke arah padang rumput yang luas. Ini terlihat sangat berbeda.
Venera mulai melangkah perlahan. Ia menyentuh satu persatu batang-batang pohon dan tanaman yang tak dikenalinya. Rasanya asing sekali.
Lalu ia menengadah.
Langitnya juga terlihat aneh.
Warnanya biru.
Tetapi indah.
Tiba-tiba Venera merasa ada pergerakan dari arah sampingnya. Ia berhenti dan menoleh.
Agak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sesosok makhluk aneh sedang mengendus-ngendus udara - seperti sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
Venera bergerak cepat; menyembunyikan diri di balik pohon terdekat. Kemudian mengintip.
Makhluk itu memiliki tangan dan kaki yang berbonggol-bonggol, tampak tidak serasi untuk tubuh kakunya yang berbalut kain coklat berpotongan sempit. Kepalanya besar dan hanya memiliki sedikit sekali rambut. Raut wajahnya kasar menyeramkan. Dan ia membawa sebuah benda berbentuk mirip ranting pohon di tangan dan punggungnya.
Kelihatannya makhluk itu berbahaya, batin Venera sambil memikirkan cara agar bisa keluar dari taman ini sebelum makhluk itu melihat dirinya.
Tetapi terlambat.
Makhluk itu menoleh.
Sepertinya ia sudah menyadari kehadiran Venera.
“Siapa di situ? Keluar!” makhluk itu berteriak dengan suara berat dan kasar; sambil mengacungkan benda di tangannya ke arah pohon tempat Venera bersembunyi.
Venera diam tak bergerak. Jantungnya berdebar kencang.
“Aku tahu kau ada di situ! Aku bisa mencium baumu dari sini! Keluar sekarang! Kuperingatkan, aku tak pernah meleset sekalipun!” teriaknya lagi.
Ia melangkah perlahan, bergeser sedikit dari perlindungan batang pohon besar supaya dirinya dapat terlihat. Dan kemudian berdiri berhadapan dengan makhluk aneh itu.
Angin berhembus melalui sela-sela pepohonan. Venera mencium aroma yang berbeda di udara.
“Aku tak mengerti,” kata Marxis kemudian.
“Aku juga,” sahut Venera.
Mereka terdiam lagi beberapa saat; saling mengamati satu sama lain.
__ADS_1
“Ah!” pekik Venera tiba-tiba, “makan malam! Aku harus pulang!”
“Ah… hei… ” Marxis berusaha mencegah.
Tetapi Venera telah berbalik dan langsung berlari tanpa mempedulikan Marxis lagi.
Dan selagi ia berlari sembari berpikir ke arah mana harus mencari jalan keluar, secara tak terduga, pintu keluar yang dicarinya muncul dengan tiba-tiba di tempat awal ia terjatuh tadi. Seperti riak bergelombang di tengah udara kosong.
Tanpa pikir panjang, Venera berlari terus melewatinya.
Tak terasa apapun saat ia melewati udara bergelombang itu.
Dan tiba-tiba saja ia sudah jatuh terduduk di atas tanah kering di bawah pohon besar.
Venera menoleh ke belakang. Ia menekan-nekan batang pohon itu, lalu berdiri dan memutarinya. Dan kembali tak menemukan apapun.
Venera termenung sesaat dan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Sakit. Berarti ini bukan mimpi.
Kalau begitu, taman yang indah tadi benar-benar ada?
Dan makhluk bernama Marxis tadi, apakah dia juga nyata?
Lalu hal aneh yang dia katakan padaku itu … apa dia berbohong padaku?
Venera berpikir keras sembari berlari pulang ke asrama; berlomba dengan tenggelamnya matahari ke ufuk timur.
__ADS_1
~o0o~