
“Hutan itu adalah suatu area sangat luas berisi pepohonan besar yang tumbuh rapat,” jelas Marxis. “Suasananya sangat berbeda dengan taman ini. Di dalam hutan Mars sangatlah gelap, dan udaranya terasa lembab. Juga banyak tempat bersembunyi bagi binatang-binatang buas bahkan yang berukuran besar.”
“Kedengarannya seram.” Venera kembali bergidik.
Marxis menggeleng. “Tidak seram kalau kau memang sudah tinggal di Mars sejak lama. Aku hanya berusaha menggambarkannya dengan cara membandingkannya dengan kondisi di dalam taman ini.”
“Hmm… ya, ya,” sahut Venera.
“Kalau padang rumput di Venus yang kau katakan tadi itu, seperti apa?” Marxis balik bertanya.
“Oh, sangat berbeda dengan hutan yang kau ceritakan,” Venera menjelaskan. “Padang rumput itu adalah suatu tempat luas terang benderang yang ditumbuhi rumput pendek berwarna hijau kekuningan. Ada juga beberapa batang pohon besar yang tumbuh di sana, tetapi tidak banyak. Ranting dan dedaunannyapun tidak lebat seperti pohon-pohon di taman ini. Aku juga menyukai tiupan anginnya yang segar, walaupun tak sesejuk disini. Dan kau bisa menemukan beberapa binatang kecil namun ramah yang bisa kau ajak bermain.”
“Sepertinya menyenangkan,” ucap Marxis.
“Ya, memang menyenangkan sekali. Aku menyukainya.” Venera tersenyum riang. Matanya berbinar-binar membayangkan petualangannya setiap hari di padang rumput itu.
Marxis menatap wajah Venera; terpaku sesaat. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
“Lalu, kalau petualangan yang kau katakan waktu itu, maksudnya bagaimana?” tanya Marxis kemudian.
“Oh! Itu adalah hal luar biasa yang selalu kulakukan setiap sore,” jawab Venera dengan mata berbinar-binar. “Berlari melintasi padang rumput, menikmati hangatnya sinar matahari, menghirup udara segar, mendengarkan nyanyian pixie, memandangi awan di langit…”
“Wah, benar-benar seru ya, petualanganmu.” Marxis menahan tawa.
“Huh.” Venera menyibakkan rambut dengan kesal menanggapi ejekan Marxis, “Tertawa saja sesukamu. Tapi itu adalah hal yang paling menyenangkan bagiku. Yah, meskipun tidak ada satupun temanku yang menyukainya. Setelah selesai belajar dan mengerjakan tugas harian di kelas, biasanya mereka hanya berkumpul di ruang istirahat dan berbincang-bincang sampai saatnya tidur. Bagiku itu sangat membosankan. Bahkan, entah mengapa, belakangan ini rasa bosan itu terus-terusan datang menggangguku.”
“Hmm. Memangnya tugas seperti apa yang kaukerjakan?” tanya Marxis.
“Macam-macam. Menjahit pakaian, merajut selimut, membuat perhiasan, menenun kain, dan banyak lagi," jelas Venera.
Venera dan Marxis berjalan semakin jauh. Seekor binatang kecil dengan sayap lebar berwarna-warni terbang melewati mereka.
__ADS_1
“Lihat!” seru Venera. “Binatang itu indah sekali, ya. Kau tahu namanya?”
Marxis menggeleng. “Di hutan Mars tidak ada yang seperti itu.”
“Di padang rumput Venus juga tidak ada. Begitu juga dengan pohon ini, tanaman itu, dan semua yang ada disini. Eh, Marxis, apa kau sekarang sudah tahu sebenarnya tempat ini ada dimana?” tanya Venera.
Marxis menggeleng lagi. “Aku tak bisa menanyakannya kepada siapapun. Lagipula pohon tempat aku menemukan jalan masuk kesini sebenarnya adalah bagian dari area hutan terlarang. Raja Ares bisa murka kalau tahu ada yang melanggar larangannya.”
“Hutan terlarang?” Venera mengangkat alisnya.
“Ya." Marxis mengangguk. "Ada batas area di dalam hutan dimana kami tidak boleh melewatinya setiap kami berlatih berburu. Tetapi kami tak tahu apa alasannya.”
“Kalian berlatih di dalam hutan? Hutan yang kau bilang gelap tadi itu?” Venera tercengang.
“Ya. Setiap pagi hari kami berlatih di dalam hutan, dibawah pengawasan Divisi Pelatihan - mereka yang membimbing kami semua dalam pelatihan sehari-hari. Kami pergi ke hutan juga sekaligus untuk menunaikan tugas harian. Daging binatang buruan yang kami peroleh, sebagian untuk dipersembahkan kepada Raja Ares, sebagian untuk kami makan hari itu, dan sebagian lagi disimpan untuk persediaan musim dingin. Kemudian siang sampai sore harinya, kami berlatih ilmu bela diri dan memanah pada sebuah lapangan terbuka di sisi hutan," jelas Marxis.
“Sepertinya melelahkan sekali ya, kegiatan harian di Mars." Venera menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau kami di Venus, semua instruksi kami terima dari Ketua Dewan Pengawas masing-masing bidang, yang juga terdiri dari para Venusian pilihan. Dan sama denganmu, aku pun tak berani mengatakan pada siapapun tentang tempat ini; bahkan pada Vla. Meskipun aku tak pernah diberi tahu apakah lokasi pohon tempat aku masuk kesini adalah tempat terlarang atau bukan, tetapi aku yakin Ratu Ishtar pasti akan menjatuhkan hukuman padaku melalui Dewan Pengawas kalau sampai ketahuan.”
Venera mengangguk setuju.
“Sebenarnya seberapa luas ya taman ini?” Venera bertanya-tanya.
“Luas sekali kukira,” jawab Marxis.
“Aku bingung,” gumam Venera. ”Katamu kau tinggal di Mars. Sedangkan tempat tinggalku adalah Venus. Dan keduanya memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda. Bagaimana bisa kita bertemu disini? Apakah Venus dengan Mars itu letaknya berdekatan?”
“Entahlah.” Marxis mengangkat bahu. “Aku juga memikirkannya sejak kemarin. Mungkin karena kita berdua sudah berjalan terlalu jauh sehingga tanpa sengaja kita sama-sama mencapai bagian ujungnya? Dan taman ini adalah batas antara keduanya?”
“Mungkin begitu.” Venera mengangguk setuju. “Tapi bagaimana dengan pintu masuknya? Aku tak pernah bisa melihat bentuknya. Tadi itu, aku coba-coba saja berjalan menembus pohon besar tempatku terjatuh ke sini kemarin. Dan ternyata aku langsung tiba di taman ini.”
“Aku juga,” sahut Marxis. “Saat tiba di pohon tempatku jatuh kemarin, tiba-tiba saja aku bisa melangkah menembus pohon itu, dan langsung tiba disini. Oh ya, apakah tidak apa-apa kalau kau menghabiskan waktu disini? Tidak ada yang akan mencarimu?”
__ADS_1
“Ada.” Venera mengangguk. “Kalau aku melanggar jam malam. Tapi kurasa tak apa-apa. Sudah kubilang kan, aku ini pelari cepat. Biasanya kami berkumpul di Aula Besar untuk makan malam saat lingkar bulan memasuki garis bintang kedua.”
“Lingkar bulan?”
“Ya. Lalu saat lingkar bulan mencapai garis bintang keempat, kami semua sudah harus berada di tempat tidur masing-masing. Dan menurut perasaanku, saat ini lingkar bulan masih jauh dari garis pertama.”
“Kau kelihatannya yakin sekali dengan perasaanmu?”
“Aku hanya mengira-ngira saja. Tapi aku yakin dengan perkiraanku,” jawab Venera. “Oh ya, apa kau memperhatikan bahwa suasana disini selalu tampak seperti siang hari?”
Marxis mengangguk setuju. “Ya. Aku memerhatikannya. Kemarin setelah keluar dari sini, keadaan di hutan Mars sudah gelap. Padahal saat kita berpisah, cahaya matahari disini masih sangat terang. Dan hari ini kita sudah berjalan sambil mengobrol cukup lama sejak tadi. Tetapi tidak ada tanda-tanda cahaya panasnya akan meredup.”
“Iya. Aneh sekali. Sepertinya waktu tidak bergerak di sini. Eh, lalu, kalau kau bagaimana? Tidak takut kena jam malam?” Venera balik bertanya.
“Tidak ada jam malam di Mars kecuali bagi mereka yang sedang terkena hukuman. Kami mengatur sendiri waktu tidur kami. Tetapi di pagi hari saat kelompok bintang tiga belas menghilang dari langit, kami semua sudah harus siap di pinggir hutan untuk perburuan pagi.”
“Kelompok bintang tigabelas?”
“Ya. Sekelompok bintang berjumlah tiga belas yang membentuk binatang berkaki empat seperti Pegasus. Jadi, kalau ada Martian yang terlambat tidur di malam harinya, dia akan menanggung resiko kelelahan dan mengantuk saat berburu. Lalu tidak mendapatkan binatang buruan dan dikenai hukuman. Atau resiko lain, yaitu diserang oleh binatang buruannya sendiri karena kurang konsentrasi, lalu terluka parah.”
“Aduh, seram sekali.” Venera menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
“Tidak seram.” Marxis menggeleng. “Maka dari itu para Martian dengan kesadaran masing-masing mengatur jadwal istirahatnya sendiri agar teratur.”
Venera mengangguk-angguk sembari berpikir.
“Eh Marxis, menurutmu, apa aku bisa ikut denganmu sebentar dan melihat-lihat tempat tinggalmu?” tanya Venera antusias. “Mungkin kalau kita masuk bersama-sama, pintunya akan terbuka untuk kita berdua.”
Marxis mengerutkan kening. “Hal itu memang sempat terpikir olehku. Aku juga ingin tahu seperti apa keadaan di Venus. Tapi aku rasa itu bukan hal yang bijaksana untuk dilakukan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu, dan kau atau aku tak bisa kembali lagi?”
“Hmm... yah... kau benar…” Venera sedikit kecewa.
~o0o~
__ADS_1