
Venera merasa gugup hingga nyaris tak berani bergerak. Tangannya yang ia letakkan di samping piringnya di atas meja, mendadak terasa sangat berat. Venera menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Sambil tetap menundukkan kepala, perlahan ia mencerna kembali perasaan aneh yang sedang dirasakannya. Perasaan seolah sedang ditatap, dari arah singgasana Sang Ratu. Namun ia tak bisa membuktikannya, karena sangat tidak mungkin ia balas menatap ke arah Sang Ratu. Ia bisa terkena hukuman berat.
Dan disaat ia sedang bingung hendak melakukan apa, tiba-tiba perasaan itu berubah. Menyebar semakin meluas seolah mengalir ke seluruh penjuru ruangan. Sekarang Venera merasa seperti sedang ditatap bersamaan oleh semua venusian yang berada di dalam aula besar!
Tubuh Venera menegang.
Ada apa ini?
Dengan perlahan Venera melirik ke kiri dan ke kanan sejauh yang ia bisa, dengan gerakan yang amat halus, untuk membuktikan apakah benar saat ini semua sedang menatap dirinya.
Denting halus suara alat makan beradu dengan piring masih terdengar di sekitarnya. Tak ada satupun venusian termasuk sahabatnya, Vla, yang tidak sedang menunduk menatap piring masing-masing dan menghabiskan makanannya dalam diam. Sudah seharusnya begitu, karena saat ini adalah waktu kunjungan Ratu Ishtar. Tak akan ada venusian yang berani bertingkah macam-macam atau sengaja memancing keributan dengan melakukan apapun. Semua terlihat tertib.
Lalu kalau begitu... perasaan ini... perasaan apa ini??
Venera benar-benar merasa seolah ia sedang diamati oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengelak. Tak bisa bersembunyi. Rasa yang awalnya ia yakini berasal dari arah podium tempat singgasana Ratu Ishtar berada, dan kemudian menyebar seolah berasal dari seluruh penjuru ruangan.
Ia memang tidak bisa membuktikan sebagian perasaannya karena adanya larangan untuk menatap wajah Sang Ratu. Tetapi saat ia melirik ke arah venusian lain, mereka juga tidak ada yang menatap ke arahnya.
Venera merasa semakin bingung.
~o0o~
“Kau kenapa Venera? Apa kau sakit?” Vla menyentuh dahi Venera saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar. “Kau pendiam sekali sejak selesai acara makan malam tadi.”
“Ah, tidak apa-apa Vla. Aku hanya sedikit lelah,” jawab Venera sambil tersenyum.
"Tapi kau terlihat agak pucat, Venera." Vla mengamati wajah Venera dengan cermat.
"B... benarkah?" jawab Venera sedikit gugup.
“Hmm. Mungkin itu akibatnya kalau terlalu sering bermain di luar sana," ujar Vla masih sambil menatap Venera.
"Ehm... mungkin kau benar," jawab Venera segera, berharap Vla tidak terus-terusan mengamati dirinya.
"Kau juga sering lupa waktu, padahal aku selalu mengingatkanmu. Dan akibatnya menjadi kelelahan karena berlarian kesana kemari,” omel Vla. “Kau mau kuambilkan obat? Atau kuantarkan ke atas, ke Ruang Kesehatan?"
__ADS_1
"Tidak, terimakasih Vla.” Venera menggeleng dan mulai berbaring diatas tempat tidurnya. “Mungkin lebih baik kalau aku sekarang tidur saja.”
"Baiklah," ucap Vla sembari membantu menarik selimut Venera yang tergulung di ujung tempat tidur dan melebarkannya hingga menutupi seluruh tubuh Venera. "Selamat tidur, Venera," ucapnya.
"Terima kasih, Vla," sahut Venera. " Selamat tidur juga."
Malam semakin larut dan Venera masih tetap belum merasa mengantuk. Ia tadi hanya berpura-pura tidur saja supaya Vla tak banyak bertanya apapun padanya hingga akhirnya Vla tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
Bukannya ia tidak ingin berbincang-bincang dengan Vla seperti kebiasaan mereka sebelum tidur selama ini. Namun Venera khawatir ia akan terlepas bicara mengenai taman misterius itu.
Ia mengamati langit malam di atas sana dengan cermat. Mencari-cari letak tiga belas bintang yang dikatakan Marxis saat di taman tadi. Selama ini ia selalu memandangi langit setiap hendak pergi tidur. Tetapi tidak ada bentuk formasi bintang seperti yang digambarkan oleh Marxis.
Apakah langit di Venus berbeda dengan di Mars? Bagaimana bisa?
Ingin rasanya Venera pergi keluar dan berbaring di padang rumput terbuka; mencari lokasi bintang berbentuk Pegasus itu. Tetapi sayang sekali itu tak mungkin dilakukannya. Bisa-bisa ia terkena hukuman karena melanggar jam malam.
Terbayang lagi dalam ingatan Venera kejadian mengerikan sore tadi. Hampir saja ia tergelincir dari tebing dan jatuh ke dalam kolam. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika sampai terjatuh dari ketinggian seperti itu. Untung saja Marxis segera datang menolong dan menyelamatkannya.
Tiba-tiba perut Venera kembali terasa bergejolak, seperti yang dirasakannya saat makan malam tadi. Tepat sebelum rasa 'seperti sedang diawasi' itu menyergapnya. Bagian atas perutnya terasa aneh, seperti ada makhluk hidup yang sedang menggeliat-geliat di dalamnya.
Mungkin ini akibat terkejut karena jatuh tadi, pikir Venera tak mengerti.
Ia mendesah, dan memiringkan tubuhnya. Kemudian memejamkan mata rapat-rapat berusaha untuk tidur.
Venera bertopang dagu di atas kotak peralatannya sembari menatap gulungan benang berwarna warni yang berserakan diatas meja kerjanya di dalam Ruang Keterampilan.
Selama ini ia selalu menyukai gulungan benang-benang itu. Bahkan ia sering sekali menghabiskan waktu lama hanya untuk sekadar menatap warna-warna indahnya, memperhatikan serat-serat halus yang membentuk masing-masing helai benang. Hal yang sering memancing tawa dan gelengan kepala dari teman-temannya. 'Venera yang terlalu memperhatikan segala hal dengan berlebihan', menurut mereka.
Tetapi sekarang setelah ia melihat warna-warna yang jauh lebih menakjubkan di taman itu, gulungan benang-benangnya menjadi tidak lagi membuatnya bersemangat. Mereka tampak pucat dan sangat tidak menarik.
Venera memandang keluar jendela menatap ke kejauhan. Pikirannya melayang ke suasana di dalam taman misterius itu.
Membayangkan pepohonan hijau yang rindang, bunga-bunga berwarna cerah, aliran air yang jatuh ke kolam, binatang-binatang cantik di dalam air, lalu….
“Venera…” bisik Vla di sisinya sambil melirik sekilas - memberi tanda, ke arah Dewan Pengawas Divisi Keterampilan yang sedang melihat ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Venera tersadar dari lamunannya dan langsung berusaha kembali berkonsentrasi pada kain lebar yang menggantung di lengannya, menunggu untuk diselesaikan.
“Kau tadi melamunkan apa, Venera?” tanya Vla ingin tahu saat mereka keluar dari Aula Besar selepas makan siang.
“Tidak melamunkan apa-apa, Vla,” jawab Venera singkat sembari tersenyum.
Ia kemudian mengambil tempat duduk di salah satu sudut Ruang Istirahat yang menjorok ke luar; bersandar pada sebuah ambang jendela besar dan menjulurkan kepala, menangkap semilir angin yang mengembus lembut helaian rambut emasnya yang terurai.
“Kau pasti sudah tidak sabar ingin bermain keluar ya?” tebak Vla sok tahu.
Venera tertawa kecil. “Kau tahu saja, Vla.”
“Hmpp.” Vla mendengus pelan. “Tentu saja aku tahu. Hmm... memangnya kau tidak bosan ya, setiap hari berjalan-jalan diluar terus?”
Venera menggeleng cepat. “Tentu saja tidak. Dan kau sendiri, memangnya tidak bosan ya, di dalam asrama terus menerus?” balas Venera.
“Aku tidak berada di dalam terus sepanjang hari,” bantah Vla. “Setiap pagi dan siang saat istirahat seperti ini, sering juga kan kita berada di luar? Bermain di taman dan duduk-duduk di tepi padang rumput.”
“Ya, kau benar." Venera mengangguk. Tetapi maksudku, apa kau tak pernah merasa ingin tahu ada apa di luar sana, Vla? Maksudku, diluar batas tempat-tempat yang selalu kita datangi?” tanya Venera sembari menatap Vla.
Vla menggeleng ringan. “Tidak.”
“Atau hal apa saja yang bisa kita temukan jauh di ujung sana?” tanya Venera lagi.
“Tidak.” Vla kembali menggeleng.
“Kau tidak ingin tahu seberapa luas Venus tempat tinggal kita ini?” Venera mengangkat alisnya.
“Tidak," jawab Vla yakin dan balas mengangkat alis ke arah Venera.
“Hmmp.” Venera ganti mendengus.
“Hei, apa maksud dengusanmu itu?” Vla mendelik lalu melempar rangkaian bunga kecil di tangannya ke arah Venera.
“Hahaha!” Venera mengelak dan melempar kembali rangkaian bunga itu lalu berlari menghindari kejaran Vla.
__ADS_1
~o0o~