
Venera terperangah menatap Ratu Ishtar.
“Kau, dan semua venusian lainnya, secara genetik adalah anak-anakku,” lanjut Ratu Ishtar. “Meskipun tentu saja dalam pertumbuhannya, sifat, karakter dan bakat kalian masing-masing menjadi berbeda-beda. Tergantung pada energi dari planet mana yang paling berpengaruh saat inti-sel kalian diaktifkan."
Venera menampakkan wajah bingungnya.
Ratu Ishtar tersenyum dan melanjutkan. "Di dalam tata surya kita ada beberapa planet lagi selain Planet Venus, Planet Mars, dan Planet Biru. Masing-masing planet memiliki energi pribadi yang berbeda-beda. Energi pribadi Planet Venus berinteraksi dengan energi pribadi planet lainnya saat gelombang elektromagnetiknya bersinggungan satu sama lain dalam perputarannya mengelilingi matahari, sehingga akan terciptalah banyak kombinasi energi yang berbeda-beda. Contohnya kau, Venera, memiliki kombinasi energi dari Planet Merkurius. Sementara sahabatmu Vla, mendapatkan energi dari Planet Jupiter. Menyebabkan kalian berdua memiliki sifat yang berbeda."
"Planet Merkurius... dan Planet Jupiter..." Venera menggumamkan nama planet-planet itu dengan wajah menyiratkan keingintahuan.
"Ah, tenang saja. Nanti kau akan mendapat penjelasan lebih rincinya dalam pelajaran khusus tentang planet-planet di alam semesta. Tak usah khawatir, Venera," ucap Ratu Ishtar.
"Ehmm... lalu apa yang dimaksud dengan 'saatnya inti-sel diaktifkan", Yang Mulia?" tanya Venera.
"Oh." Ratu Ishtar terlihat berpikir sesaat. "Itu adalah proses kelahiran. Proses dimana kau mulai memiliki kesadaran. Dari suatu inti energi, berubah menjadi makhluk berkesadaran yang menempati tubuh venusian."
"Emm..." Venera tampak semakin bingung.
"Itu juga nanti akan bisa kau pelajari lebih lanjut, Venera," ucap Ratu Ishtar.
"Baik, Yang Mulia," jawab Venera.
Kemudian Ratu Ishtar melanjutkan. Ia kembali menunjuk gambar pada lembaran kaca. "Pembentukkan calon inti-sel ini tidak bisa dilakukan olehku atau oleh Ares seorang diri. Kami harus saling bekerjasama untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Sebagian kecil dari selku diambil untuk dicampurkan ke dalam sel milik Ares, dan begitu juga sebaliknya. Lalu setelah itu, terciptalah sepasang inti-sel yang saling berhubungan.”
Ratu Ishtar menggerakkan tangannya lagi dan gambar itu menghilang. Lempengan kaca itu kembali kosong.
Kemudian sang ratu mencondongkan tubuhnya ke arah Venera dan berkata, “Venera, kau dan Marxis adalah sepasang inti-sel. Kalian adalah pasangan sejati.”
Venera terperangah. “Pasangan… sejati?”
Ratu Ishtar mengangguk. “Di dalam setiap pasang inti-sel yang keluar bersamaan dari dalam alat itu, terdapat pola ini.” Ratu Ishtar kembali menggerakkan tangan di depan lembaran kaca, dan muncullah gambar sepasang titik berwarna merah.
Sang Ratu memperbesar gambar sepasang titik itu sampai berubah menjadi dua buah lingkaran merah besar.
__ADS_1
Venera mengamati lekat-lekat.
Di dalam masing-masing lingkaran merah itu, terdapat gambar pola rumit yang terdiri dari banyak sekali garis-garis berwarna merah yang saling berjajar dan melintang. Pola itu terlihat sama persis antara sepasang lingkaran tersebut.
Ratu Ishtar menjelaskan. "Isi dari pola ini adalah kecocokkan di antara pasangan tersebut. Lihatlah, sama persis bukan? Kesamaan ini meliputi pola pikir, ketertarikan pada hal-hal tertentu, dan cara pandang terhadap berbagai masalah."
Kemudian Ratu Ishtar menggerakkan jarinya lagi dan muncul sepasang titik merah lainnya di bawah gambar pasangan titik sebelumnya. Setelah gambarnya diperbesar, ternyata sepasang lingkaran yang baru ini mempunyai perbedaan bentuk pola dengan pasangan lingkaran sebelumnya.
"Nah, ini adalah pasangan inti-sel lainnya," tunjuk Ratu Ishtar. "Berbeda bukan, dengan gambar pola pasangan sebelumnya? Karena memang setiap sepasang inti-sel selalu memiliki kombinasi yang berbeda dengan pasangan lainnya. Tak pernah ada yang sama."
Venera mengangguk, berusaha keras mengikuti penjelasan sang ratu.
Kemudian Ratu Ishtar mengangkat tangannya lagi. Dan tampaklah gambar Planet Venus dan Planet Mars dalam ukuran besar, seperti terlihat dalam jarak dekat. Tetapi kali ini bersebelahan, tanpa ada planet-planet lainnya.
Lalu setelah Ratu Ishtar mengibaskan tangannya, gambar Planet Venus dan Planet Mars berubah warna menjadi gelap. Dan muncullah banyak titik-titik kecil berwarna merah di permukaan kedua planet itu. Titik-titik itu bergerak-gerak pelan tak beraturan.
Ratu Ishtar memperbesar gambarnya, sampai titik-titik itu membesar dan membesar, lalu akhirnya berubah menjadi siluet makhluk-makhluk yang terlihat sedang bergerak kesana kemari melakukan kegiatannya masing-masing.
"Apakah itu... para venusian dan martian, Yang Mulia?" tanyanya.
"Benar, Venera." Ratu Ishtar mengangguk. "Nah, sekarang kau perhatikan garis-garis ini."
Venera kembali memperhatikan.
Sebentuk garis tipis seperti benang berwarna merah menjulur keluar dari kepala masing-masing siluet, dan saling tersambung antara satu venusian dengan satu martian.
Garis-garis merah itu tampak bersimpang siur di udara mengikuti pergerakan tubuh masing-masing, namun tetap terhubung satu sama lain.
“Garis merah ini menggambarkan gelombang otak yang terhubung antara sepasang inti-sel,” jelas Ratu Ishtar.
“Gelombang otak?” tanya Venera.
“Ya, Venera. Aktifitas di dalam otakmu menghasilkan suatu getaran gelombang yang berada pada frekuensi dan jalur yang sama dengan Marxis. Getaran gelombang otak itu mengirimkan sinyal secara terus menerus, seperti melakukan panggilan, dan menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya pintu menuju segel cinta itu terbuka, dan akhirnya kalian dapat saling menerima dan membalas sinyal tersebut. Dan waktu yang tepat bagimu adalah saat kau dan Marxis menemukan jalan menuju taman simulasi itu secara bersamaan.”
__ADS_1
Venera teringat petualangan terakhirnya sebelum bertemu Marxis. Pada waktu itu memang tiba-tiba saja ia melihat ada sebagian udara yang bergerak-gerak di dekat pohon besar itu. Padahal sebelumnya sudah sering ia memandang ke arah itu tetapi tak pernah melihatnya. Berarti saat itulah yang disebut sebagai ‘waktu yang tepat’ oleh Ratu Ishtar.
“Nah, selain menggunakan gelombang otak, ada juga cara mengidentifikasi pasangan dengan mendeteksi bau,” lanjut Ratu Ishtar.
“Bau …?” tanya Venera heran.
“Di dalam tubuh masing-masing venusian dan martian terdapat sebuah kelenjar yang menghasilkan suatu aroma yang khas dan berbeda. Jika ia memang pasangan sejatimu, maka ia akan bisa menerima aroma khas itu sebagai daya tarik dan pengikat dengan dirimu," jelas Ratu Ishtar.
Tiba-tiba Venera teringat sesuatu tentang itu.
“Oh ya, saya ingat, Yang Mulia. Saat pertama melihat Marxis, ia sedang mengendus-ngendus udara di sekitarnya. Apakah karena bau itu maka ia bisa mengetahui kehadiran saya?” tanyanya.
“Benar." Ratu Ishtar mengangguk. "Saat itu Marxis mengenali aroma tubuhmu sebagai bau yang asing, tetapi bukan merupakan musuh. Bahkan cenderung membuatnya tertarik. Maka dari itu ia tidak melesatkan anak panahnya kearahmu. Ia mengancammu hanya untuk berjaga-jaga saja karena pengaruh insting pemburunya.”
“Tetapi..." Venera mengerutkan dahi sesaat. "Vla dan Vinn juga pernah mengatakan tentang bau tidak enak yang menempel di tubuh saya sewaktu saya pulang dari taman itu, Yang Mulia.”
“Vla dan Vinn memang bukan pasangan sejati Marxis," jawab sang ratu. "Karena itu otak mereka tidak bisa menerimanya, dan menterjemahkan bau itu sebagai bau yang tidak enak.”
"Oh..."
Venera terdiam sejenak membayangkan aroma tubuh Marxis yang disukainya, seperti wangi rumput liar di Padang Hespherus.
“Lalu Yang Mulia, mengapa hanya saya dan Marxis yang menemukan jalan menuju ke taman itu? Bukankah yang lain juga memiliki getaran gelombang otak tersebut?” tanya Venera.
“Itulah yang kukatakan tentang 'waktu yang tepat' tadi. Benar, memang semua venusian dan martian memiliki gelombang otak tersebut. Tetapi saat ini, gelombang otak kalian berdualah yang paling kuat, sehingga kalian berdua dapat saling menemukan lebih dulu. Selalu ada yang lebih baik diantara yang lain kan?” Ratu Ishtar tersenyum.
“Tapi… Yang Mulia,” ucap Venera, “saya... sejujurnya saya masih kurang mengerti betul tentang semua ini… semua begitu terasa mendadak dan mengejutkan bagi saya. Dan banyak yang masih kurang saya mengerti..."
“Tidak apa-apa Venera,” kata Ratu Ishtar. “Kau memang belum dipersiapkan untuk menerima semua informasi yang kujelaskan sejak tadi. Maka dari itu aku hanya bisa menjelaskan secara garis besarnya saja padamu. Tetapi nanti, semua pengetahuan tentang hal-hal yang kita bicarakan barusan, akan ditanamkan dengan sangat lengkap dan sangat mendetail di dalam memori otakmu sebelum kalian berangkat ke Planet Biru.”
~o0o~
__ADS_1