
Venera tiba di padang rumput Eosphorus, beberapa meter dari bangunan asrama.
Hari sudah hampir gelap. Tak ada waktu untuk memikirkan mengapa ia muncul di sini, dan bukannya kembali ke taman. Ini semua telah diatur oleh Ratu Ishtar, dan ia harus cepat tanggap.
Segera saja Venera berlari melalui jalan setapak yang menuju ke gerbang asrama, meskipun perasaannya sangat tak menentu.
"Hai, Vinn!" seru Venera, susah payah berusaha membuat ekspresi wajahnya terlihat biasa-biasa saja setelah semua yang dialaminya hari ini.
Vinn yang sudah siap dengan kunci besar di tangannya, tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat Venera yang berlari masuk.
"Fiuh! Sampai!" seru Venera lalu berhenti terengah-engah.
"Dasar kau ini," ucap Vinn sambil mendorong gerbang hingga menutup dan segera menguncinya.
"Ahaha... maaf, Vin," ucap Venera.
"Tak apa, Venera," Vinn menggeleng lalu berbalik, kemudian merangkul bahu Venera. Mereka berjalan bersama memasuki pintu utama asrama. "Jujur saja. Meskipun aku merasa kesal setiap sore harus menunggumu pulang hingga detik-detik terakhir, tetapi sebenarnya aku menikmati kegiatan ini. Sepertinya akan ada yang kurang kalau kau sampai tidak pernah melakukannya lagi, Venera." Vinn tertawa kecil.
Venera tertegun. Kata-kata Vinn terdengar aneh.
Bagaimana mungkin Vinn bisa berpikir bahwa ada kemungkinan ia akan 'tidak pernah melakukannya lagi'? Selama ini kalaupun Venera pernah tidak pergi keluar di sore hari, itu hanya untuk beberapa hari saja. Paling lama adalah tiga hari, saat ia kemarin bertengkar dengan Marxis. Sebelum itu ia hampir tak pernah absen, dan sepertinya semua venusian tahu, bertualang di sore hari adalah kegemarannya selama ini. Dan tidak mungkin sampai ada venusian yang berpikir bahwa ia 'tak akan pernah melakukannya lagi'.
"Venera? Kenapa kau?" tanya Vinn heran melihat Venera mendadak terdiam.
"Eh... oh, tak apa-apa, Vinn." Venera berusaha tetap terlihat ceria. "Aku hanya kehausan saja setelah berlari. Ehm... apa kau lihat Vla?" tanya Venera.
"Seperti biasa, dia menunggumu di kamar," ucap Vinn.
"Baiklah kalau begitu. Aku duluan, ya!" ucap Venera. "Daah, Vinn!" Venera melambai.
"Daah!" Vinn balas melambai dan berbelok menuju tangga ke lantai atas, untuk menyimpan kunci gerbangnya di asrama Dewan Pengurus.
Acara makan malam berlangsung seperti biasa. Venera duduk di sisi Vla dengan pikiran kacau balau.
Semua gambar yang telah dilihatnya, segala apa yang telah dikatakan oleh Ratu Ishtar kepadanya, seolah berputar ulang berkali-kali di dalam otaknya yang terasa sesak. Rasa takjub, sekaligus rasa tak percaya, bercampur baur, menciptakan sebuah rangkaian kebingungan besar yang kini melanda hatinya.
__ADS_1
Di awal, meskipun sangat ketakutan, ia merasakan hal yang luar biasa, ketika ia dibawa ke istana Ratu Ishtar oleh sang ratu sendiri. Dan ternyata ia tidak mendapatkan hukuman atas perbuatannya memasuki taman misterius itu, dan juga soal Marxis. Setelah itu ia bahkan diperbolehkan menatap wajah Ratu Ishtar lalu diajak berbincang-bincang. Sebuah hal yang sangat luar biasa dan serasa tak mungkin untuk dialami oleh venusian.
Kemudian ia hampir tak percaya ketika mengetahui bahwa mereka semua sebenarnya selama ini tinggal di permukaan sebuah bola besar yang melayang-layang di angkasa. Dan masih banyak lagi bola-bola serupa dengan berbagai ukuran dan warna yang menyebar di kegelapan amat sangat luas bernama alam semesta itu.
Lalu, ia merasa senang melihat ternyata ada sebuah planet nun jauh di sana, yang pemandangannya sangat indah, dan bahkan jauh lebih indah daripada taman misterius yang ditemukannya bersama Marxis. Planet Biru, yang permukaannya dipenuhi oleh semua hal yang disukainya.
Kemudian, ia merasa terkejut saat mendapatkan tugas untuk memimpin Planet Biru bersama Marxis. Sebuah hal yang sangat tak diduganya. Karena selama ini ia bahkan tak pernah berpikir untuk dipilih menjadi salah satu anggota Dewan Pengawas. Tetapi ternyata Ratu Ishtar malah memerintahkannya menjadi pemimpin di sebuah planet. Planet itu sebuah tempat yang sangat besar, bukan?
Ia juga tak menyangka bahwa dirinya, juga semua venusian dan martian, ternyata berasal dari bagian tubuh Ratu Ishtar dan Raja Ares, sebuah hal besar yang anehnya selama ini tak pernah ia pikirkan. Satu kali pun dalam hidupnya, ia tak pernah berpikir darimana dirinya berasal.
Lalu setelah itu ia dikejutkan oleh penjelasan Ratu Ishtar tentang hubungan cinta sejati antara pasangan inti-sel di Planet Biru yang tidak akan seperti dirinya dan Marxis. Para venusian dan martian yang berpasangan inti-sel akan saling kesulitan untuk bertemu, bahkan hanya sangat sedikit sekali yang akhirnya akan bertemu, karena tertutup oleh standar-standar, pemikiran semu, dan aturan-aturan sosial aneh yang mereka buat sendiri nantinya. Pemikiran-pemikiran tak masuk akal yang rasanya tak ingin Venera percayai bahwa itu berasal dari dalam otak makhluk yang sama seperti dirinya.
Betapa tak menyenangkannya kondisi di Planet Biru. Betapa sedihnya melihat semua yang akan terjadi nantinya. Rasanya ia ingin berteriak memprotes dan melawan, tetapi entah kepada siapa. Namun ia tahu itu percuma, karena Ratu Ishtar telah mengatakan bahwa semua itu akan terjadi. Walaupun Venera tetap tak mengerti bagaimana caranya sang ratu bisa tahu apa yang akan terjadi di Planet Biru di kemudian hari.
Venera menghabiskan makanannya dengan sangat tak bersemangat. Ia harus menutupi kecemasannya dari Vla, karena Ratu Ishtar telah memerintahkan untuk merahasiakan semuanya dari siapapun.
~o0o~
"Venera, kau baik-baik saja?" tanya Vla dari atas tempat tidurnya. Ia masih berada dalam posisi duduk, belum membaringkan diri, dan menatap Venera dengan khawatir.
"Tidak apa-apa. Hanya saja kau pendiam sekali sejak sebelum makan malam tadi. Apa kau merasa tidak enak badan lagi?" tanya Vla.
"Ah, tidak. Aku sehat, Vla," jawab Venera menenangkan Vla.
"Hmm. Aku tak percaya," ucap Vla. Kemudian ia turun dari tempat tidurnya dan menghampiri tempat tidur Venera. Kemudian meraba dahi Venera dengan punggung tangannya.
"Sedikit hangat," ucapnya yakin.
"Benarkah?" tanya Venera ragu.
"Kau sentuh saja dahimu sendiri, Venera," ucap Vla.
Venera mengerutkan alis sambil meletakkan punggung tangannya di atas dahinya sendiri. Benar juga kata Vla, tubuhnya terasa sedikit hangat. Mungkin karena aku masih merasa terkejut atas penjelasan Ratu Ishtar dan terus-terusan mengkhawatirkan semuanya, pikir Venera.
Melihat Venera yang tak menjawab, Vla menganggukkan kepala. "Benar, kan?"
__ADS_1
"Mmm... iya...," jawab Venera.
"Kalau begitu aku akan mengambilkan obat untukmu di Ruang Kesehatan," ucap Vla tanpa meminta persetujuan Venera dan langsung beranjak menuju pintu.
"Eh, sudahlah tak usah, Vla!" cegah Venera. "Aku kan sudah bilang, aku baik-baik saja. Lagipula aku tak mau merepotkanmu malam-malam begini."
"Hei, bicara apa kau ini?" Vla berhenti di depan pintu dan menoleh ke arah Venera sembari tersenyum. "Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, Venera. Kau kan sahabatku, kita memang harus selalu saling membantu kan? Lagipula sepertinya hidupku akan terasa kurang kalau sampai kau tidak membuatku repot lagi." Vla tertawa dan melambai. "Tunggu ya, aku akan membawakan obat dan minuman hangat untukmu."
Venera tak menjawab, dan lagi-lagi tertegun. Kata-kata Vla sungguh aneh. Sama seperti Vinn saat di gerbang tadi. Mengapa mereka semua berkata seperti itu?
Seolah mereka sudah tahu bahwa ada sebuah kemungkinan dirinya akan tidak berada di sini lagi. Seolah mereka sudah mendapatkan suatu tanda atau peringatan entah dari mana, bahwa Venera akan meninggalkan mereka.
Ia sendiri masih belum tahu apakah ia bisa meninggalkan teman-temannya di Venus dan menerima tugas beratnya sebagai pemimpin di Planet Biru. Tetapi kalau ia berani menolaknya, Ratu Ishtar pasti akan memberinya hukuman berat.
Dan kedua hal itu tetap akan berujung sama. Yaitu pemisahan dirinya dengan venusian lain.
Mendadak Venera menggigil. Tubuhnya terasa dingin tanpa sebab.
Pemisahan? Terpisah?
Ia belum pernah berpikir tentang ini sebelumnya. Tak pernah terbayang di kepalanya, ia sendirian dan terbuang jauh dari teman-temannya.
Jika ia menerima tugas di Planet Biru, ia tak akan dapat berinteraksi dengan mereka lagi. Kalaupun bisa, mereka tak akan dapat mengenalinya.
Sedangkan kalau ia menolak tugas itu dan mendapatkan hukuman berat dari Ratu Ishtar, ia juga pasti harus menjalani hukuman di tempat yang terasing, jauh dari teman-temannya. Tak dapat bicara, tak dapat berteriak, tak dapat meminta pertolongan.
Keduanya terasa sangat mengerikan.
Tiba-tiba ia teringat penjelasan Ratu Venera tentang masa hidup di Planet Biru, yang mana ada batasannya bagi masa penggunaan tubuh fisik dari masing-masing makhluk. Lalu setelah masa aktifnya habis, tubuh itu akan mati. Dan ia tak akan mengingat kehidupannya yang sebelumnya.
Apakah seperti ini rasanya...
Saat-saat mendekati waktunya untuk...
Mati?
__ADS_1