PLANET BIRU

PLANET BIRU
PERATURAN HIDUP di PLANET BIRU


__ADS_3

Ratu Ishtar menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Ia meletakkan dagunya di atas kedua tangannya yang saling bertaut, dengan siku bertumpu di atas meja. Wajahnya yang luar biasa indah menghadap lurus ke depan, melewati kepala Venera dengan tatapan mata sedikit menerawang.


Venera tak bisa mengartikan ekspresi yang tampak di wajah sang ratu. Apakah ia sedang senang, sedih, ataukah marah, sama seperti yang sedang dirasakan Venera saat ini, ketika mengetahui tentang kehidupan cinta yang akan kacau di Planet Birunya nantinya.


“Sebenarnya, masih banyak lagi hal-hal yang akan mengejutkanmu, yang kuprediksikan akan terjadi nanti di Planet Biru, Venera," ucap Ratu Ishtar akhirnya.


"Hal apa saja itu, Yang Mulia?" tanya Venera penasaran.


"Di suatu zaman nanti, akan ada masanya dimana para orang tua yang tinggal di beberapa area Planet Biru, yang merasa tahu siapa pasangan yang tepat untuk anaknya. Kemudian mereka akan memaksakan anak-anaknya untuk berpasangan dengan makhluk yang mereka pilihkan, dengan mengikatkan hidup mereka melalui tradisi yang ada di kelompok mereka.  Ikatan yang bahkan menurut peraturan di beberapa kelompok, tidak dapat dipisahkan. Pemisahan terhadap suatu ikatan akan dianggap sebagai pembangkangan dan diberikan hukuman yang sangat berat. Baik itu hukuman fisik maupun hukuman psikologis."


"Apa...? Bagaimana para orang tua itu bisa merasa tahu siapa pasangan yang tepat untuk anaknya?" tanya Venera segera, mengabaikan kalimat terakhir sang ratu yang tidak dimengertinya.


"Karena mereka merasa punya hak untuk mengatur keseluruhan hidup anak-anak yang telah mereka lahirkan. Mereka akan menentukan siapa pasangan yang tepat untuk anak-anak mereka berdasarkan standar mereka sendiri. Yaitu standar..." Ratu Ishtar memicingkan matanya sedikit, seolah sedang mencermati sesuatu yang tak terlihat oleh Venera. "Standar kekuasaan dan kejayaan, menurut yang kulihat."


Venera melirik sedikit dengan bingung ke arah yang sedang dilihat oleh Ratu Ishtar. Tak terdapat apa-apa di sana, kecuali dinding kosong berwarna emas yang sedikit memantulkan bayangan mereka.


Ratu Ishtar melanjutkan. "Kemudian di zaman yang lain, atau zaman yang sama namun berbeda lokasi, beberapa makhluk lagi yang tidak mendapatkan pembatasan dari orang tuanya, akan memilih pasangannya atas keputusan sendiri, tetapi dengan terburu-buru, meskipun mereka merasa telah berpikir panjang."


"Terburu-buru? Mengapa harus terburu-buru, Yang Mulia?" tanya Venera heran. "Apakah mereka akan mendapatkan hukuman jika tidak segera mendapatkan pasangan?"


Ratu Ishtar menggeleng. "Tidak. Tidak ada hukuman, paling tidak hukuman fisik. Hanya ada hukuman sosial yang akan membuat mereka merasa malu jika tidak mendapatkan pasangan hingga usia mereka dewasa."


"Maaf Yang Mulia, saya tidak mengerti tentang hukuman sosial ataupun hukuman psikologis..." Venera menggeleng pelan.


Ratu Ishtar tersenyum. "Itu adalah hukuman yang tidak terasa sakit di tubuh, hanya rangkaian kalimat-kalimat dan sikap yang akan menyakiti perasaanmu."


"Tapi... itu jahat sekali, Yang Mulia. Mengapa mereka semua tega berbuat seperti itu?" protes Venera tak terima.


Ratu Ishtar terdiam sejenak, seperti sedang mencerna sesuatu.


"Di Planet Biru nanti, hukuman sosial yang akan mengganggu psikologis suatu makhluk, tidak akan dianggap sebagai hukuman, malah akan dianggap wajar, Venera," ucap sang ratu. "Suatu pola hidup dan kebiasaan yang terbentuk awal di suatu periode kehidupan, akan dianggap sebagai aturan baku yang bisa mengatur keseluruhan hidup semua makhluk untuk seterusnya hingga akhir periode tersebut. Misalnya, jika di awal periode ada sebuah kebiasaan bagi para venusian dan martian untuk berpasangan dan berketurunan di usia tertentu, maka kebiasaan itu akan dilanjutkan ke makhluk-makhluk selanjutnya dan dijadikan sebagai aturan. Dimana mereka yang tidak mengikuti aturan tersebut akan dianggap aneh dan tidak pantas, sehingga makhluk lain di sekitar mereka akan merasa berhak menghakimi dengan hukuman sosial yang kusebutkan tadi. Dengan terus-terusan menanyakan dan memaksa supaya makhluk yang berbeda tersebut segera melakukan hal yang sama dengan mereka yang sudah lebih dulu melakukannya."


Venera terdiam sejenak, berusaha memahami penjelasan Ratu Ishtar yang terasa janggal dan tidak wajar untuk dapat terjadi.

__ADS_1


"Dan ada juga alasan lain dalam berpasangan," lanjut sang ratu, "yaitu supaya bisa mendapatkan keturunan, karena berketurunan dianggap sebagai hal  yang wajib dilakukan, dan ada hanya sekedar untuk kesejahteraan hidup. Ini terutama dilakukan oleh venusian. Lalu bagi para martian, ada yang mencari pasangan hanya sekadar supaya ada yang mengurus kebutuhan diri mereka sehari-hari, karena mereka ingin ada yang melayani setiap harinya. Ada juga yang berpasangan dengan banyak makhluk, misalnya satu martian dengan beberapa venusian...”


“A… apa?” Venera membelalak tak percaya.


Ratu Ishtar melanjutkan, “… atas dasar harga diri atau arogansi tersembunyi bagi si martian, dan alasan pemenuhan kebutuhan hidup bagi para venusiannya. Dan semuanya itu akan saling berhubungan dan berkelanjutan.  Maka hasilnya kembali lagi seperti yang kukatakan di awal tadi.  Hanya akan ada sedikit sekali yang benar-benar bertemu dengan pasangan sejatinya.”


“Tapi…" Venera mengerutkan dahi. "Saya tidak mengerti, mengapa mereka semua bisa sampai memiliki pemikiran seperti itu Yang Mulia?  Apakah mereka tidak bisa memperkirakan resiko bahwa bisa saja hidup mereka tidak bahagia sampai akhir apabila tidak berpasangan dengan makhluk yang tepat?” Venera semakin heran.


“Meskipun mereka memikirkannya, tetap saja mereka akan mengikuti aturan-aturan dalam kelompok mereka. Mengikuti apa yang dilakukan oleh para pendahulu mereka," jawab Ratu Ishtar.  


“Berarti menurut mereka, lebih baik berpasangan dengan siapa saja meskipun tidak merasa cocok, daripada tidak memiliki pasangan sampai mati? Lalu lebih baik berbagi pasangan daripada kebutuhan hidup tidak terpenuhi?” tanya Venera tak percaya.


“Ya." Ratu Ishtar mengangguk. "Karena menurut mereka memang seperti itulah jalan hidup yang benar.”


“Kalau begitu, berarti mereka menjadi kehilangan hak atas kebahagiaan diri sendiri karena harus memikirkan kepentingan lain dalam hidup dan mengutamakan pandangan serta kebiasaan makhluk lain di sekitar mereka? Tetapi … bukankah semua makhluk seharusnya mempunyai hak untuk bahagia Yang Mulia?” tanya Venera lagi.


“Benar, Venera." Ratu mengangguk. "Pada dasarnya semua makhluk memang berhak untuk bahagia. Tetapi nanti mereka sendiri yang memutuskan untuk mengedepankan hal lain dan mengesampingkan hak pribadi mereka sendiri. Dan lagi-lagi, tindakan itu akan mereka anggap sebagai hal yang wajar. Mereka akan tetap berbahagia dengan pola hidup yang mereka pilih sendiri. Dan itu semua dapat dikatakan sebagai peraturan hidup di Planet Biru.”


"Peraturan hidup di Planet Biru..." gumam Venera.


"Ah, ya," ucap Ratu Ishtar menyela, "aku lupa memberitahukan padamu, Venera. Di Planet Biru nanti, mereka tidak akan saling mengenal. Karena mereka akan berada di dalam tubuh fisik yang berbeda. Di samping itu, mereka semua akan lupa tentang kehidupannya sebagai venusian sebelumnya. Begitu pula para venusian dan martian yang sudah pernah datang ke Planet Biru dan kemudian kukirimkan lagi ke Planet Biru dalam tubuh yang berbeda. Mereka tak akan ingat bagaimana kehidupan mereka yang sebelumnya di Planet Biru."


Venera terpana mendengar jawaban Ratu Ishtar.


"Bahkan... Vla sahabatku? Apakah dia tak akan mengenaliku?"


Ratu Ishtar menggeleng. "Hanya kau dan Marxis yang akan mengenali mereka. Dan kalian tidak diperkenankan untuk memberitahu mereka apapun. Kalian bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan mereka semua karena kalian tidak akan terlihat oleh mereka. Kecuali satu atau dua makhluk saja yang akan kalian pilih sebagai 'penyampai pesan' pada setiap periodenya untuk menyampaikan pengetahuan-pengetahuan dan tujuan-tujuan besar kalian di Planet Biru. Interaksi rutin yang bisa kalian lakukan dengan semua penghuni Planet Biru nantinya hanya dalam bentuk jalinan frekuensi melalui gelombang otak, yang akan kubukakan nanti setelah kalian tiba di sana."


Venera terdiam sejenak, berusaha sedapat mungkin mengejar penjelasan rinci dan rumit Ratu Ishtar yang semakin menumpuk di dalam otaknya.


“Tapi… maaf Yang Mulia," ucap Venera, "mengenai pasangan inti-sel dari semua venusian dan martian, tak bisakah kita beri tahu saja kepada mereka semua, siapa pasangan sejati masing-masing? Garis-garis penghubung berwarna merah yang tadi itu, tak bisakah Yang Mulia membiarkan mereka melihatnya?  Supaya semua makhluk bisa mengetahui siapa sebenarnya pasangan inti-sel mereka dan tidak perlu terjadi kekacauan.  Tidak bisakah seperti itu?” ucap Venera semakin menggebu, didorong oleh rasa tak rela harus menghadapi hal-hal tak menyenangkan itu nantinya di Planet Biru.


Ratu Ishtar tersenyum lembut. Mata birunya menatap Venera penuh arti.

__ADS_1


“Maafkan aku, Venera. Tetapi tidak seperti itu cara kerjanya. Alam semesta membutuhkan energi yang terpancar dari tubuh kita semua pada saat berjuang dalam melakukan segala hal, termasuk dalam menemukan pasangan sejati. Dan memang untuk alasan itulah kami tempatkan kalian disana. Itulah tujuan utama kami.”


Venera kembali terdiam.


Lama sekali.


 


“Venera.” Ratu Ishtar memecah keheningan diantara mereka. “Semua yang kuceritakan tadi memang akan terjadi, dan tak ada yang bisa menghentikannya. Tetapi kau tak perlu merasa khawatir.  Ingatlah bahwa nantinya semua itu akan menjadi sebuah dinamika kehidupan di Planet Biru. Sebuah peraturan hidup di Planet Biru. Dan semua makhluk akan merasa bahwa memang seperti itulah yang dinamakan hidup yang sewajarnya.”


“Tapi... bukankah seharusnya cinta itu indah, Yang Mulia? Tidak dipengaruhi oleh standar hidup apapun?” Venera menggelengkan kepala masih saja merasa tak terima mengenai hal itu.


“Mereka yang standar pemilihan pasangannya  terpenuhi, akan merasa cinta mereka indah, Venera," ucap Ratu Ishtar tenang.


Venera memandangi lantai emas dingin yang membekukan kakinya.


“Kau sangat cerdas Venera. Kau adalah Venusian pilihan.  Aku tak akan menyesal memberikan tugas ini padamu,” kata Ratu Ishtar sambil memperhatikan Venera dengan seksama.


Venera hanya diam membisu dengan pikiran berputar-putar. Tak tahu harus mengatakan apa.


 


Mendadak Ratu Ishtar berdiri dari kursinya. Sikap tegas dan wibawanya kembali muncul ke permukaan.


“Nah. Sekarang, kau boleh kembali ke kamarmu. Persiapkan dirimu untuk berangkat ke Planet Biru dua hari lagi. Pengisian data memori dasar tentang semua yang telah kita bicarakan ini akan dilaksanakan tepat sebelum keberangkatanmu.  Dan ingat untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun, Venera. Aku akan memanggilmu jika waktunya tiba. Kau akan dapat mendengar instruksiku nanti."


"Baik... Yang Mulia..." jawab Venera lemah, namun berusaha tetap tegar.


Kemudian Sang Ratu menggambar sebuah bentuk bintang di udara, dan mempersilakan Venera melangkah keluar.


 


 

__ADS_1


     ~o0o~


__ADS_2