PLANET BIRU

PLANET BIRU
PERGI KE PLANET BIRU


__ADS_3

“Ap… apa…?" Venera tergagap.  "Maaf, Yang Mulia, tapi... berangkat ke Planet Biru?”


“Ya, Venera." Ratu Ishtar mengangguk. "Kau dan Marxis akan pergi ke Planet Biru. Kalian akan menjadi pemimpin bagi para venusian dan martian lain disana.”


Venera ternganga menatap Ratu Ishtar, tak percaya pada pendengarannya.


Ratu Ishtar duduk kembali di kursinya. Kemudian mencondongkan tubuh dengan menumpukan kedua lengannya di atas meja kaca, dan menatap Venera dalam-dalam dengan bola mata birunya.


“Venera," ucap Ratu Ishtar dengan nada tegas, "menjadi pemimpin pada sebuah planet adalah sebuah hal yang paling membanggakan di dalam kehidupan kesadaranmu.  Merupakan kehormatan abadi yang akan tertulis dalam naskah-naskah sejarah dalam berbagai bahasa, terukir pada semua benda-benda peninggalan yang akan menjadi pelajaran dan diteladani oleh seluruh makhluk di alam semesta, dan yang paling penting, akan menjadi catatan nilai tertinggi dalam evolusi kesadaranmu jika kau mampu menjalaninya dengan baik. Kau dan Marxis akan hidup bersama dan berpasangan dalam memimpin, karena kalian berdua akan saling membutuhkan.”


“Tapi Yang Mulia, saya…” baru saja Venera hendak berucap, namun Ratu Ishtar segera berdiri dari kursinya. Tak memberi kesempatan kepada Venera untuk membantah.


“Nah. Sekarang akan kujelaskan sedikit mengenai aliran energi,” kata Ratu Ishtar sambil kembali mendekat kepada lembaran kaca itu.


Kali ini pada lembaran kaca muncul dua buah gambar. Hanya berupa siluet putih, namun Venera dapat menangkap bahwa itu adalah penggambaran umum bentuk tubuh venusian dan martian. Di dalam tubuh itu terdapat gambar garis putus-putus berwarna merah. Garis itu bergerak tak henti di dalam tubuh, namun dengan pola pergerakan yang berbeda antara tubuh venusian dan martian.


“Apabila digambarkan," Ratu Ishtar menunjuk kepada gambar tubuh venusian, "venusian memiliki aliran energi berupa sebuah garis yang berbelok-belok dari sisi yang satu ke sisi lainnya di dalam tubuh, dan bergerak dengan cepat dari bawah ke atas."

__ADS_1


Kemudian ia bergerak ke samping dan menunjuk ke gambar martian. "Sementara itu," ucapnya, "energi para martian terdiri dari beberapa garis lurus yang bergerak dengan lambat dari bawah ke atas."


Ratu Ishtar terdiam sejenak, membiarkan perhatian Venera tertuju pada gambar pada lembaran kaca.


Kemudian sang ratu melanjutkan. "Hal inilah yang menyebabkan sifat dan karakter venusian dan martian banyak memiliki perbedaan, bahkan berlawanan. Misalnya, venusian dapat mengerjakan banyak hal berbeda pada saat yang bersamaan dan menyelesaikannya secara bersamaan juga. Sementara martian hanya bisa mencurahkan fokus konsentrasinya pada satu hal saja di dalam satu periode pengerjaan, dan setelah tujuan itu sudah tercapai atau terselesaikan, barulah mereka bisa melakukan hal berikutnya.  Ini mengakibatkan venusian menjadi cenderung tidak bisa berkonsentrasi penuh dan memaksimalkan hasil yang dituju sampai ke titik tertinggi dikarenakan terlalu bercabangnya pikiran mereka. Sementara martian menjadi lebih terarah dan sangat maksimal meskipun hanya menghasilkan satu pencapaian saja dalam satu waktu. Venusian juga terbiasa berpikir jauh lebih panjang dan lama dalam mengambil keputusan karena sangat melibatkan emosi dan  banyak memikirkan kepentingan pihak lain di sekelilingnya. Sementara martian cenderung memutuskan dengan lebih cepat karena tidak terlalu banyak pertimbangan lain selain hal utama yang sedang mereka tuju.  Secara fisik, venusian lebih lemah daripada martian. Namun secara psikologis, venusian jauh lebih kuat dan tabah dalam menghadapi tekanan. Sementara martian yang lebih kuat secara fisik, lebih mudah kehilangan semangat apabila  mengalami kekecewaan atau kegagalan dalam hidupnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka dari itu kalian berdua perlu saling melengkapi untuk menjalankan kehidupan di Planet Biru.” Ratu Ishtar menyelesaikan penjelasannya dengan mengembalikan ingatan Venera kepada pernyataannya sebelumnya, tentang perintah keberangkatannya ke Planet Biru.


Ratu Ishtar kembali mendekati meja, namun tidak duduk di kursinya. Melainkan berjalan ke arah Venera, dan menyentuh bahu Venera dengan lembut.


“Venera, tugasmu adalah memikirkan detail dari setiap hal besar yang dipikirkan oleh Marxis. Mengimbangi dengan kasih sayang dan kelembutan dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambilnya. Menjaganya dari kesalahan-kesalahan yang bisa ditimbulkan karena cara berpikirnya yang pendek dan serba cepat. Menghibur dan menenangkannya dikala sedang kesusahan. Kalian akan saling menyempurnakan.”


Venera merasa bagai terjatuh ke dalam dunia mimpi. Kata-kata Ratu Ishtar bergaung terus menerus di dalam telinganya. Ia benar-benar merasa sulit untuk percaya bahwa ia akan ditugaskan untuk menjadi pemimpin pada sebuah planet yang belum pernah didatanginya.


Selama ini, ia bahkan tak pernah berpikir untuk menjadi anggota Dewan Pengurus dan Pengawas di Venus, karena ia merasa tugas mengurusi dan mengawasi dua ribu venusian pasti akan sangat menyulitkan dan mengekang kebebasannya.


Tetapi sekarang, ia justru diberi perintah untuk memimpin sebuah planet. Rasanya sangat mustahil untuk dijalankan. Sekedar memikirkannya saja sudah terasa berat.


“Apakah… para venusian dan martian nanti akan dipindahkan semua ke Planet Biru, Yang Mulia?” tanya Venera akhirnya, karena tak tahu hendak mengatakan apa lagi.

__ADS_1


Ia tak mungkin menolak perintah Ratu Ishtar, sehingga bayangan bahwa paling tidak ia masih akan tetap bisa bertemu dengan Vla dan teman-teman lain dirasa akan sangat menghiburnya.


“Hanya inti-sel nya saja," jawab Ratu Ishtar. "Akan kami pindahkan ke dalam tubuh baru yang lebih cocok beradaptasi dengan Planet Biru. Tubuh kalian yang sekarang tidak bisa digunakan disana.”


“Tubuh baru?" tanya Venera heran. "Tapi...  saya dan Marxis... di taman itu...”


“Oh, itu hal yang berbeda.  Taman simulasi itu hanya sebuah tempat yang kami buat pada dimensi kosong yang terpisah dari Venus dan Mars. Kami sudah mengatur supaya setiap kalian memasukinya, tubuh fisik kalian dapat langsung menyatu dengan dimensi tersebut. Supaya kalian bisa menghirup udara yang sama, dapat saling mengerti perkataan satu sama lain, dan tidak terpengaruh dengan perbedaan waktu akibat rotasi planet masing-masing.”


“Oh begitu…” Venera memutuskan untuk mengabaikan soal rotasi planet yang tak dimengertinya dan mempertanyakan hal lainnya. “Jadi, apakah seharusnya kami tak bisa saling mengerti, Yang Mulia? Apakah bahasa yang digunakan di Mars berbeda dengan kita?”


Ratu Ishtar mengangguk. “Ya, berbeda. Tetapi tidak menjadi masalah karena nanti kalian akan menciptakan bahasa kalian sendiri untuk digunakan di Planet Bumi.”


“Hmm…” Venera berpikir sesaat. “Jadi, Yang Mulia, nanti kami akan diberi tubuh baru?”


“Ya.” Ratu Ishtar mengangguk.


“Lalu, berapa lama kami akan memimpin di Planet Biru, Yang Mulia?” tanya Venera.

__ADS_1


“Selamanya," jawab Ratu Ishtar.


__ADS_2