
“Belakangan ini aku merasa sepertinya ada yang berbeda dengan dirimu, Venera.” Vicca bertopang dagu diatas meja di hadapan Venera saat jam istirahat siang.
Venera mengangkat alisnya dengan heran, balas menatap Vicca.
“Apa maksudmu, Vicca? Coba kulihat.” Voxy ikut-ikutan bertumpu pada sikunya disisi Vicca dan menatap Venera lekat-lekat.
“Apanya yang berbeda?” Venera mengangkat alis lagi, menatap kedua temannya.
“Hmm … mungkin … rambutmu?” Voxy berusaha menerka, menyentuh ikal-ikal rambut di kepala Venera. “Apa kau mengubah tatanannya? Kelihatannya memang berbeda dari biasanya.”
Venera meraba-raba rambutnya dengan sedikit salah tingkah. “Eh… ya, memang tadi pagi karena masih banyak waktu luang sebelum sarapan pagi, maka aku ingin mencoba sesuatu yang baru. Kutambahkan sedikit jumlah jalinan di samping ini, supaya terlihat lebih jelas bentuknya. Tidak bagus, ya?”
“Bagus," sahut Vicca cepat. "Justru menjadi lebih bagus. Tapi bukan itu yang kumaksud tadi, Venera.” Vicca masih berpikir-pikir sambil mengerutkan dahinya.
“Wajahmu, Venera,” celetuk Vla tiba-tiba sambil menghampiri teman-temannya, setelah beberapa saat tadi sibuk menyisir rambutnya yang sedikit kusut di Sudut Rias Ruang Istirahat, akibat tersangkut ranting pohon di taman Asrama Eosphorus.
“Wajahku?” tanya Venera bingung dan memegangi kedua pipinya dengan kedua belah telapak tangannya.
“Hmm. Ya, ya, kau benar, Vla.” Vicca mengangguk-angguk membenarkan. “Ada yang berbeda dengan wajahmu, Venera.”
Venera mengangkat alisnya semakin tinggi.
“Aha! Kulitmu terlihat lebih cerah dan memerah. Apakah kau memakai riasan bubuk bunga, Venera?” Voxy menjulurkan tangannya dan menggosok pipi Venera.
“Iih. “Venera menepis tangan Voxy lembut dan kembali menutupi kedua pipinya. “Enak saja. Tidak kok. Memangnya aku anggota Dewan Pengawas?”
“Hahaha…!” Vla terbahak. “Ada-ada saja kau Voxy. Lagipula darimana Venera bisa mendapatkan bubuk bunga itu? Benda itu kan khusus diberikan hanya kepada anggota Dewan Pengawas yang sudah dilantik saja.”
“Benar juga, ya.” Voxy mengangguk-angguk.
“Kurasa selain kulitmu yang sedikit berubah warna; yang aku yakin itu akibat terlalu sering berjalan-jalan diluar, ekspresi wajahmu juga berubah, Venera.” Vla mencoba menarik kesimpulan.
“Hmm...? Memangnya ada apa dengan ekspresiku?” Venera buru-buru bangkit menuju Sudut Rias dan bercermin, mengamati wajahnya sendiri. Setelah beberapa saat ia kembali pada teman-temannya.
"Aku tidak mengerti maksud kalian," ucapnya, "aku tidak melihat ada yang aneh."
"Aku bilang berbeda, Venera," protes Vicca, "aku tidak mengatakan aneh."
"Ah, ya, maksudku itu," ralat Venera.
Vla mengangkat bahu. “Kami juga tidak tahu, Venera. Tapi memang benar apa yang dikatakan Vicca. Kau terlihat berbeda. Lebih... cantik.”
“Ah, yang benar?” Venera sedikit tersipu mendengar kata-kata sahabatnya.
“Vla benar." Vicca mengangguk. "Kau memang sekarang terlihat lebih cantik, Venera. Selain itu, dari ekspresimu, kau terlihat seperti … entah bagaimana mengatakannya. Tapi aku merasa seperti… yah, seolah aku tertinggal jauh darimu,” kata Vicca.
“Tertinggal jauh? Tertinggal dalam hal apa?” Venera semakin merasa bingung.
__ADS_1
“Nilai-nilaimu memang tertinggal jauh dari Venera, Vicca sayang.” Voxy mengejek sahabatnya.
“Bukan itu maksudku.” Vicca mendelak sambil menarik ikatan rambut Voxy yang mengelak sambil tertawa. “Maksudku, rasanya seolah Venera mengetahui tentang hal yang kita semua belum tahu. Dan itu membuatnya tampak lebih … yah, aku tak tahu cara mengatakannya.”
“Itu kan tidak mungkin,” bantah Voxy. “Setiap hari kita belajar bersama. Semua yang Venera ketahui, pasti kita juga tahu.”
“Itu kan menurut perasaanku saja.” Vicca mengangkat bahu.
"Hmm..." Vla mengamati Venera dalam diam.
~o0o~
Venera mematut-matut wajahnya di depan cermin sampai lama di dalam kamar. Hal yang sebelumnya tak pernah dilakukannya karena tak merasa perlu. Tetapi ia masih memikirkan kata-kata teman-temannya siang tadi. Dan kebetulan juga kelas terakhir pelajaran merangkai perhiasan hari ini selesai lebih cepat dari biasanya.
Mungkin benar apa yang dikatakan teman-temannya. Ada perubahan pada dirinya meskipun ia sendiri belum menyadarinya. Apa yang dikatakan Vicca tadi sungguh membuatnya terkejut dan berpikir dalam hati.
Apakah mungkin dengan menyembunyikan suatu rahasia dapat membuat wajah menjadi berbeda? Apanya yang berbeda? Bentuk wajahnya? Ataukah ekspresinya?
Dan sekarang Venera mulai khawatir perubahan itu akan menyebabkan Dewan Pengawas menjadi curiga padanya. Karena mereka memang sudah dilatih untuk memperhatikan segala sesuatu dan melaporkannya apabila menemukan hal-hal yang mencurigakan.
Ah, nanti saja itu kupikirkan, batin Venera sambil terburu-buru merapikan rambutnya, karena saat ini Marxis pasti sudah menungguku di taman. Dan aku tak mau membuatnya menunggu lama.
Gerakan Venera terhenti sesaat.
Dorongannya begitu kuat sampai terasa hampir ke pangkal tenggorokan.
Ia merasa seperti hendak mengeluarkan isi perutnya.
Venera menarik napas dalam-dalam, berusaha mengenyahkan rasa sakit itu sebelum melangkah pergi.
~o0o~
Venera duduk diam di tepi kolam menatap ke arah percikan-percikan air yang berloncatan jauh dari kolam.
Deru suara air yang tumpah dengan deras ke dalam kolam dalam ritme yang statis, berlawanan dengan hening kesunyian yang melingkupinya.
Suara kepakan sayap binatang-binatang cantik yang beterbangan kian kemari seolah bergaung jauh di dalam kepala Venera.
Tak ada suara apapun selain itu.
__ADS_1
Venera menghela napas panjang berkali-kali. Ia meluruskan punggungnya yang lelah karena tak berganti posisi sejak tadi.
Kemudian ia melompat turun dari atas batu besar yang didudukinya, dan mendaratkan kakinya dengan goyah di atas rerumputan hijau.
Lalu perlahan melangkahkan kakinya, beranjak pergi.
Marxis tak datang.
~o0o~
Venera menatap langit malam yang suram tak berbintang dengan gelisah. Kepalanya terasa berat. Pandangannya berkabut.
Suara Vla di sampingnya yang asyik membahas tentang pelajaran keterampilan hari ini terdengar bergaung dan bergema dari kejauhan; seolah mencari celah untuk masuk ke dalam rongga telinganya.
Namun Venera tak peduli. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mengapa Marxis tak datang ke taman sore tadi?
Apa yang telah terjadi padanya?
Apa dia ketahuan telah memasuki area hutan terlarang dan lalu mendapat hukuman dari Raja Ares?
Apakah terjadi sesuatu pada pintunya?
Apa pintu menuju ke taman tak mau membuka untuknya?
Atau jangan-jangan … ia diserang oleh binatang buas buruannya sendiri saat latihan berburu karena terlalu lelah berjalan-jalan di sore sebelumnya?
Lalu terluka parah?
Oh, ini mengerikan sekali.
“Lalu katanya, Valia yang selalu pendiam itu tiba-tiba saja melempar tiara pucuk daunnya ke atas meja sampai peralatan milik Vidi berjatuhan ke lantai.“ Vla masih terus bercerita. “Dan Vidi harus menerima teguran keras dari Dewan Pengawas Divisi Kecantikan karena telah usil menggoda Valia. Dan tahukah kau, apa hukumannya Venera?”
Malas menanggapi, Venera mengeluarkan suara dengkur halus; berpura-pura tertidur.
Dan beberapa saat kemudian setelah Vla lelah berbicara dan terlelap, barulah Venera benar-benar tertidur.
~o0o~
__ADS_1