PLANET BIRU

PLANET BIRU
CINTA dan JATUH CINTA


__ADS_3

“Cinta…?” Venera menyebutkan kata tersebut dengan canggung.


Ratu Ishtar mengangguk, dan menyandarkan tubuh pada kursi besar yang didudukinya.


“Cinta itu, Venera, adalah suatu kondisi dimana kau memiliki rasa suka dalam jumlah yang amat sangat besar terhadap makhluk lain yang memang merupakan pasangan inti-selmu," ucap Ratu Ishtar.


Venera baru saja membuka mulut untuk bertanya apakah yang dimaksud dengan pasangan inti-sel itu. Namun Ratu Ishtar segera mengangkat telapak tangannya sedikit, memberi isyarat supaya Venera tetap diam dan menyimak.


"Dan proses menyukai dalam jumlah yang sangat besar itu disebut dengan 'jatuh cinta'," lanjut sang ratu.


Venera tetap diam mendengarkan.


“Rasa cinta yang sebetulnya telah ada sejak awal dan tersegel rapat di dalam hati setiap makhluk yang berpasangan, dapat dipicu oleh banyak hal. Pada dirimu, Venera, pemicunya adalah kejadian pada saat kau nyaris terjatuh dari tebing di atas kolam air terjun waktu itu," lanjut Ratu Ishtar.


Venera tertegun.


Kejadian yang mengerikan itu adalah pemicu rasa cinta? Venera membatin tak mengerti.


Ratu Ishtar melanjutkan.


"Saat melihatmu dalam kondisi terdesak, Marxis dengan segera berlari ke atas bukit untuk menolongmu, bukan? Di sana kau dapat merasakan tenaganya yang kuat saat mengangkatmu dari pinggir tebing, dan kemudian membawamu ke tempat yang aman. Kau juga melihat kekhawatiran dan perhatiannya terhadap kondisimu setelah kejadian itu. Dia menanyakan keadaanmu, lalu membantu mengeringkan tubuhmu, benar bukan?" tanya Ratu Ishtar.


"Benar, Yang Mulia," jawab Venera dengan sedikit malu. Ternyata sang ratu dapat menyaksikan dengan rinci semua yang terjadi di dalam taman.


"Dan itulah, Venera, yang telah membuat segel cintamu terbuka, dan kau mulai jatuh cinta. Perubahan perasaanmu itu terlihat jelas saat aku berkunjung ke Aula Eosphorus malam itu," ucap Ratu Ishtar.


Mendadak ingatan Venera berputar cepat, kembali merunut semua kejadian yang dialaminya menyangkut Marxis.

__ADS_1


"Lalu pada kesempatan berikutnya," lanjut sang ratu, "setiap kali kau mengingat kembali semua hal menyenangkan yang telah kau lalui bersama Marxis, tubuhmu akan mengalami suatu reaksi, yang tadi kau definisikan sebagai rasa sakit."


"Tetapi... maaf Yang Mulia. Bagaimana mungkin sebuah rasa senang menjadi terasa seperti rasa sakit?" tanya Venera tak mengerti.


Ratu Ishtar tersenyum, dan memajukan tubuhnya, mendekat kepada Venera.


"Rasa yang kau kira rasa sakit itu, Venera, sebenarnya adalah 'rasa suka yang berlebihan dan meluap-luap' yang disalahartikan oleh pikiranmu. Karena hal itu merupakan aktifitas baru di dalam tubuh yang belum kau kenali," jelas Ratu Ishtar.


"Saya... masih belum mengerti, Yang Mulia," ucap Venera.


Ratu Ishtar kembali tersenyum. "Saat kau berada di dekat Marxis, atau bahkan saat kau hanya sekadar memikirkan Marxis di dalam kepalamu saja, perasaan gugup akan muncul di dalam dirimu. Mengapa? Karena sangat besarnya rasa sukamu terhadapnya, maka kau merasa harus tampak sempurna setiap saat. Tak ingin melakukan kesalahan sedikitpun, tak ingin sampai terlihat buruk, tak ingin terlihat aneh, dan tak ingin membuat dia menjadi tidak menyukaimu. Kau juga ingin hubunganmu dengan Marxis berjalan baik tanpa hambatan, dan tidak ingin sampai mengalami hal yang tidak menyenangkan bersamanya. Nah, perasaan-perasaan seperti ini kemudian memicu otakmu untuk mengaktifkan sebuah tanda bahaya."


Venera mengangkat alisnya. "Otak... mengira tubuh sedang berada dalam bahaya?"


"Ya, Venera." Ratu Ishtar mengangguk. "Perasaan berjaga-jaga supaya tidak berbuat suatu kesalahan dan rasa takut akan terjadinya hal yang tidak menyenangkan, terdeteksi sebagai suatu tanda bahaya bagi tubuh. Lalu tanda bahaya yang muncul, akan langsung meningkatkan hormon adrenalin di dalam tubuh. Hormon ini lah yang membuat jantungmu menjadi berdegup lebih cepat, otot-otot di tubuhmu menegang, dan darahmu mengalir lebih cepat dari berbagai tempat ke paru-parumu. Dan salah satu bagian tubuh yang menjadi tempat ditariknya darah dalam jumlah besar adalah area perut. Hal itulah yang menyebabkan kau merasakan suatu gejolak aneh, seolah ada sesosok makhluk yang bergerak-gerak di dalam perutmu."


Venera mengerutkan kening. Berusaha keras mengikuti penjelasan sang ratu sembari menerka-nerka arti dari berbagai istilah baru yang belum pernah didengarnya.


Jadi, rasa sakit yang selalu datang tiba-tiba, yang awalnya kukira akibat terkejut karena mengalami kejadian menegangkan, dan setelah itu kukira karena tubuhku terkena racun, ternyata sebenarnya disebabkan oleh... karena pada saat itu aku sedang... memikirkan Marxis?


"Mengenai kemarahanmu yang meledak-ledak hingga ingin menangis, itu terjadi saat kau bertengkar dengan Marxis tentang ketidakhadirannya di taman saat itu, bukan?" tanya Ratu Ishtar.


Venera mengangguk. "Benar, Yang Mulia,"


"Itu karena perasaan cintamu terhadap Marxis, Anakku," ucap Ratu Ishtar dengan lembut. "Rasa cinta itu membuatmu selalu ingin diperhatikan olehnya setiap saat. Sehingga saat Marxis luput sekali saja, kau akan merasa dia telah mengabaikanmu. Lalu kau merasakan emosi yang sangat besar padanya, karena mengira Marxis tak lagi peduli padamu."


Venera terdiam, meresapi pikirannya sendiri. Benarkah hal itu yang ia rasakan saat itu?

__ADS_1


“Kemudian,” lanjut Sang Ratu, “mengenai rasa malas, lemas, tak bisa berpikir dan beraktifitas dengan baik, seolah tubuhmu menolak untuk menjalankan perintah otakmu, yang kuduga itu semua muncul pada saat setelah kau bertengkar dengan Marxis. Benar?" tanya Ratu Ishtar.


Venera berpikir sejenak. Kemudian menjawab, "Benar, Yang Mulia."


Ratu Ishtar mengangguk.


"Keinginanmu untuk membahas dan menyelesaikan masalah dengan Marxis yang tidak bisa kau lakukan,  membuatmu merasa resah terus-menerus, sehingga mengganggu konsentrasimu dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Kau menjadi tidak bersemangat, dan tidak ingin melakukan apa-apa selain yang ada hubungannya dengan Marxis."


Venera mengangguk-angguk perlahan. Rasanya ia mulai mengerti.


“Dan yang paling penting untuk kau ketahui, Venera," ucap Ratu Ishtar dengan suara lebih tegas, "kau tidak bisa merasakan jatuh cinta dengan jenismu sendiri.  Maka dari itu kau tidak merasakan hal yang sama saat bersama dengan Vla. Artinya, kau salah dalam menyimpulkan tentang perasaan cinta ini tadi. Perasaan-perasaan tidak wajar yang kau rasakan itu, emosi berlebih, ingin mengamuk, dan ingin menangis, semua timbul karena justru sebenarnya kau jauh lebih menyukai Marxis daripada Vla. Sangat jauh."


Venera tercengang. “Begitukah… Yang Mulia?”


Ratu Ishtar mengangguk.


Venera termenung sesaat. Berusaha keras mencerna kembali apa yang sebenarnya ia rasakan di dalam hatinya.


“Dan aku yakin teman-temanmu juga pernah mengatakan bahwa wajahmu terlihat berbeda, bukan?” tanya Ratu Ishtar.


“Ah… ya, Yang Mulia. Teman-teman pernah mengatakan soal itu," jawab Venera.


“Itu disebabkan oleh perasaan cinta yang sedang kau rasakan. Apa yang terjadi di dalam hati venusian, akan tampak juga pada fisiknya. Tanpa disadari, setelah kau mengisi pikiranmu dengan sosok Marxis,  kau menjadi lebih menjaga sikap tubuhmu sehari-hari. Misalnya cara menatap wajah teman, cara bicara, cara berjalan, dan lainnya. Semua perubahan itu memang membuatmu secara keseluruhan menjadi tampak berbeda dan terlihat lebih cantik," jelas Ratu Ishtar.


Venera teringat kembali pembicaraannya dengan teman-temannya di Ruang Istirahat saat itu. Mereka mengatakan seolah ada sesuatu yang ia ketahui dan mereka tidak mengetahuinya.


Apakah itu... tentang rasa cinta?

__ADS_1


"Nah, kemudian," lanjut sang ratu, "di dalam cinta, biasanya ada perasaan cemburu yang menyertai.”


“Cemburu? Apa itu cemburu, Yang Mulia?” tanya Venera.


__ADS_2