PLANET BIRU

PLANET BIRU
ALASAN MARXIS


__ADS_3

"Aduh!" seru Venera tertahan.


Vla menoleh, dan terkejut melihat sahabatnya sedang meringis kesakitan sambil memegangi jari telunjuk tangan kirinya.


"Apa apa, Venera?" bisik Vla.


"Ah, tidak, Vla, tidak apa-apa," ucap Venera sambil tersenyum dipaksakan, tak ingin membuatnya khawatir. "Hanya tertusuk jarum sedikit."


"Sedikit? Ujung jarimu berdarah, Venera!" ujar Vla panik melihat darah menetes dari ujung jari Venera.


"Sshh... pelankan suaramu, Vla," bisik Venera keras sambil melirik ke arah Dewan Pengawas Divisi Keterampilan yang duduk di sudut ruang bagian depan. "Kau bisa menarik perhatian mereka dengan suara sekeras itu!"


"Tapi... kau kan terluka, Venera!" protes Vla. "Ini sebuah kejadian tak disengaja. Tak apa-apa kalau kita melapor kepada mereka!" Vla balas berbisik keras.


"Hanya luka sedikit saja, Vla, tak perlu dibesar-besarkan." Venera kemudian menarik ujung tali gaunnya yang terikat di bagian depan, lalu menggulungnya dengan erat tepat pada luka di jarinya yang berdarah dengan tali itu, agar pendarahannya berhenti.


"Nah, begini saja. Selesai!" Venera menunjukkan jarinya yang tergulung tali sambil tersenyum tenang.


"Memangnya kau masih bisa menjahit dengan jari tergulung begitu?" tanya Vla tak yakin.


"Bisa," sahut Venera tersenyum dan menunjukkan pada Vla bahwa ia tetap bisa memegang jarum dan kainnya dengan kondisi tangan seperti itu.


"Tapi... tidakkah lebih baik jika lukamu diobati saja di Ruang Kesehatan? Mereka memiliki obat yang dapat cepat menghentikan darah dari luka seperti itu kan?" Vla masih terlihat cemas.


"Tak perlu, Vla," Venera menenangkan sahabatnya. "Sebentar lagi juga lukanya akan menutup kembali."


Vla masih saja memperhatikan luka Venera dengan wajah berkerut khawatir.


"Sudah, tak usah dipikirkan. Mari kita selesaikan menjahit kain ini saja, Vla. Sore ini sudah harus selesai kan?" ucap Venera mengingatkan, sekaligus mengalihkan perhatian Vla.


"Hmm... baiklah," sahut Vla dan kembali mulai mengerjakan jahitannya.


Venera menarik napas lega diam-diam. Ditahannya saja rasa sakit di jarinya. Bukannya ia tak mau mengikuti saran dari sahabatnya. Tetapi Venera merasa segan untuk datang ke Ruang Kesehatan meskipun sekadar meminta obat untuk luka kecil saja.


Ia merasa khawatir akan penyakit anehnya yang masih hilang timbul sejak beberapa hari ini. Dan ia tak mau hanya gara-gara luka kecil di jarinya, ia ketahuan menyembunyikan penyakit yang lebih parah, dan bahkan menyembunyikan suatu rahasia yang lebih besar lagi yang jangan-jangan adalah merupakan sumber dari penyakit anehnya ini.


Jangan sampai itu semua terjadi.


~o0o~

__ADS_1


“Hai,” sapa Marxis pada Venera yang baru saja tiba di dalam taman.


Venera menghentikan langkahnya saat mendengar suara Marxis.


Ia diam tak menjawab.  


Venera hanya memandang lurus melewati kepala Marxis, mengangkat kepalanya ke arah pepohonan yang berbaris di balik tubuh Marxis.


“Hai,” sapa Marxis sekali lagi, berpikir bahwa Venera tak mendengarnya tadi.


“Kau tidak datang kemarin,” ucap Venera dengan suara datar, dan wajah tanpa ekspresi.


“Oh, ya," jawab Marxis. "Kemarin adalah waktunya Hari Perburuan. Hari paling penting bagi kami di Mars. Semua martian wajib ikut serta dalam acara perburuan masal yang dilaksanakan di hutan."


Venera diam tak menanggapi. Masih tak mau menatap Marxis.


"Eem... pada Hari Perburuan itu, biasanya kami akan dibagi menjadi beberapa kelompok," Marxis melanjutkan, "lalu akan ada seekor binatang kecil yang dilepas untuk kami buru. Kelompok yang menang akan mendapatkan hadiah. Lalu setelah itu acaranya berlanjut dengan pesta yang dihadiri oleh Raja Ares sampai larut malam."


Venera masih saja diam. Membuat Marxis semakin bingung.


"Ah ya, kebetulan kemarin itu kelompokku lah pemenangnya," ucapnya bangga.


“Ya. Aku lupa," jawab Marxis.


“Lupa?" suara Venera meninggi. Kali ini tatapan matanya terarah langsung pada bola mata Marxis.


"Katamu hari itu adalah hari paling penting di Mars, kan? Jadi bagaimana mungkin kau bisa lupa tentang itu? Terakhir kali kita bertemu, kau sendiri yang menyuruhku untuk ‘menunggu disini besok’, dan kita akan menjelajahi tempat di balik bukit-bukit itu. Menyelusuri sungai yang berkelok-kelok itu,” ucap Venera penuh penekanan.


Marxis terkejut mendengar cara bicara Venera yang berbeda dari biasanya.


“Aku… sebenarnya aku... bukan lupa. Tapi… yah, lagipula kan... yah, ku... kupikir aku tak perlu memberitahumu soal itu,” jawab Marxis sedikit terbata.


“Oooh? Aku tak perlu tahu, katamu?” Venera semakin meninggikan suaranya, lalu menatap Marxis dengan tatapan menusuk. “Jadi aku tak perlu tahu tentang Hari Perburuan, tentang hari-hari penting di Mars lainnya, tentang apa saja kegiatanmu setiap harinya, dan aku seharusnya tak perlu menunggumu sampai lama sekali dan berpikir bahwa kau terluka oleh binatang buas di hutan yang gelap itu!" ucap Venera dalam satu tarikan napas.


“Aku, eh maksudku, “ Marxis terlihat semakin bingung, “yang waktu itu kumaksud dengan ‘besok’ itu kan bisa esok hari, atau mungkin esoknya lagi...”


“Ooh, begitu?" sahut Venera dengan suara semakin keras. "Baiklah!  Berarti jika lain kali kau mengatakan ‘besok’, aku tidak akan menganggapnya sebagai hari berikutnya. Karena bisa jadi maksudmu adalah hari berikutnya atau hari berikutnya lagi atau berikutnya lagi atau berikutnya lagi!”


“Emm... bukan begitu maksudku... “ Marxis berusaha menjawab meski tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.

__ADS_1


“Bukan begitu apanya? Memang seperti itu maksudmu tadi," sambar Venera cepat. "Jelas sekali.”


“Hei, kau ini sebenarnya kenapa, sih?” tanya Marxis tak mengerti.


“Tidak kenapa-kenapa!" jawab Venera ketus. Dan kembali memalingkan wajah, menatap ke arah lain.


Dan keduanya terdiam.


Suara angin mendesau lirih melewati ranting-ranting pepohonan mengisi kekosongan canggung diantara mereka.


 


“Kau mau... ke kolam sekarang?” tanya Marxis setelah tak tahan lagi berdiam diri.


“Tidak,” jawab Venera.  Tegas dan dingin.


“Kenapa? Bukankah kau ingin menjelajahi area di balik bukit itu?” tanya Marxis heran.


“Tidak," jawab Venera lagi.


"Lalu… kau ingin kemana hari ini?” tanya Marxis lagi.


“Tidak kemana-mana," jawaban Venera terdengar semakin ketus.


“Hmm… kau sedang lelah ya?" tanya Marxis. "Baiklah, kalau begitu kita duduk-duduk saja di sini.”


Dan Marxis mulai melepaskan busur panahnya kemudian duduk di atas rerumputan. Ia menoleh ke arah Venera, menunggu Venera datang menghampirinya dan duduk di sisinya.


“Tidak," jawab Venera keras. "Aku tidak mau duduk-duduk.  Tidak mau jalan-jalan.  Disini, disana, atau dimanapun.” Venera memotong-motong kalimatnya dengan nada tegas.


“Kenapa begitu?” tanya Marxis heran.


“Dan aku tidak mau kemana-mana lagi bersamamu!" teriak Venera akhirnya.


“Ap … apa …?” ucap Marxis terkejut dan segera bangkit dari duduknya.


“Aku mau pulang!”


Dan Venera segera membalikkan badan. Beranjak pergi meninggalkan Marxis.

__ADS_1


~o0o~


__ADS_2