
“Kau kesini lagi?” sebuah suara terdengar saat Venera tiba di taman itu.
Venera menoleh, dan mendapati Marxis telah berada di tempat mereka bertemu kemarin. Ia tampak berdiri diam seperti sedang menunggu sesuatu.
“Memangnya kenapa?” jawab Venera ketus lalu membuang muka, teringat pertemuan pertama mereka kemarin yang diawali dengan ketegangan. “Tempat ini kan bukan milikmu.”
“Ya, memang tempat ini bukan milikku,” jawab Marxis tenang. “Aku cuma bermaksud menyapamu.”
Venera hanya diam dan berjalan pelan menapaki rerumputan. Marxis mengikuti dan menyamai langkah Venera.
Selama beberapa saat mereka berjalan bersama tanpa bicara. Sibuk memperhatikan suasana di sekeliling mereka.
“Kenapa kau selalu membawa benda-benda itu?” Akhirnya Venera mengalihkan perhatiannya pada Marxis dan menunjuk benda-benda yang dibawa Marxis pada tangan dan punggungnya.
“Ini? Ini busur panah. Senjataku,” jelas Marxis. “Kami Martian selalu membawa ini kemana-mana.”
“Senjata? Apa itu senjata? Gunanya untuk apa?” tanya Venera.
“Untuk berburu,” jawab Marxis, “dan mempertahankan diri jika kita diserang binatang buas.”
“Buas itu apa? Berburu itu apa?” tanya Venera lagi.
“Binatang yang buas itu adalah binatang yang bisa menyerang dan melukai kita,” jelas Marxis lagi, “dan berburu itu adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencari dan membunuh binatang di hutan. Untuk dimakan.”
“Apa?” seru Venera terkejut. ”Jahat sekali kalian! Kasihan kan binatang-binatang itu!”
Marxis menghentikan langkah dan menatap Venera heran. “Jahat? Tapi... binatang-binatang itu kan memang ada untuk dimakan?”
“Tapi ...” Venera berusaha mendebat.
__ADS_1
“Lalu kami harus makan apa kalau tidak membunuh binatang?” Marxis balik bertanya. “Kalau hanya tumbuh-tumbuhan saja, tidak akan cukup tenaga kami untuk melakukan aktivitas sehari-hari."
Venera terdiam mengerutkan kening.
"Memangnya, kalian Venusian makan apa?” tanya Marxis.
“Kami makan tumbuh-tumbuhan hijau, buah-buahan merah, dan makanan tabung,” jawab Venera.
“Makanan tabung?” Marxis mengernyit. "Apa itu?"
“Semacam campuran dari beberapa bahan makanan yang sudah dihancurkan sampai halus, lalu dimasukkan ke dalam tabung. Bisa diolah lagi menjadi macam-macam jenis makanan,” Venera menjelaskan.
“Oh … begitu.” Marxis mengangguk walau tak mengerti. Kemudian melanjutkan langkah, diikuti oleh Venera.
“Apa semua binatang di Mars... boleh dibunuh dan bisa dimakan?” tanya Venera masih dengan kening berkerut.
“Pegasus? Apa lagi itu?” tanya Venera.
“Binatang tunggangan pemimpin kami. Berbulu hitam, berkaki empat, leher panjang dan kokoh, surai dan rambut ekor lebat, serta sayap yang lebar. Mereka makhluk terhormat," jelas Marxis.
“Hmm…” Venera berpikir sesaat. “Sepertinya makhluk yang kau gambarkan itu bentuknya mirip dengan unicorn di Venus. Tetapi unicorn tidak memiliki sayap. Mereka hanya memiliki tanduk berulir di atas kepalanya, serta warna bulu yang putih kebiruan. Dan mereka juga tidak untuk ditunggangi. Bahkan dari yang aku dengar, para Unicorn tinggal di taman istana Ratu Ishtar. Tapi aku tak tahu pasti soal itu, karena tidak ada yang tahu dimana tepatnya letak istana Sang Ratu.”
"Ratu Ishtar? Siapa itu?" Marxis balik bertanya.
"Pemimpin kami di Venus," jawab Venera. "Kami tidak pernah tahu dimana dia tinggal. Itu adalah sebuah rahasia yang tak boleh dicari tahu."
“Ah, kami pun begitu,” sahut Marxis. “Tidak ada yang tahu dimana letak istana Raja Ares. Ia selalu tiba-tiba saja datang dengan perisai api yang menyelubunginya, dan mendarat di tengah lapangan mengendarai seekor pegasus saat upacara perburuan massal dimulai."
“Perisai api? Raja Ares itu pemimpin di Mars, ya? Seperti apa wajahnya?” tanya Venera penasaran. “Apa kalian diizinkan untuk memandangnya?”
__ADS_1
“Tidak,” jawab Marxis, “itu sangat dilarang.”
“Ah, ternyata sama. Tidak ada satupun dari kami para Venusian yang tahu bagaimana wajah Sang Ratu. Kami semua diharuskan membungkuk setiap ia datang.”
“Yah, tentu saja,” sahut Marxis. “Wajar kukira, kita tidak boleh seenaknya menatap wajah pemimpin kita. Lalu, bagaimana dengan tempat tinggalmu? Seperti apa? Coba ceritakan.”
Venera mengangguk dan menarik napas panjang. “Kami semua para Venusian, berjumlah empat ribu orang, tinggal di dalam dua buah bangunan berbentuk lingkaran besar dan beratap runcing, semuanya terbuat dari kaca putih. Kedua bangunan itu terletak di tengah-tengah padang rumput yang sangat luas. Kami menyebutnya Asrama Eosphorus dan Asrama Hesperus. Masing-masing bangunan asrama terbagi menjadi empat bagian, sesuai dengan arah mata angin. Asrama Timur, Asrama Barat, Asrama Utara dan Asrama Selatan. Setiap asrama memiliki sebuah ruang Aula Besar di bagian tengahnya, yang kami gunakan untuk tempat berkumpul dan makan bersama. Ratu Ishtar memiliki singgasana khusus di dalam masing-masing Aula Besar untuk satu hari kunjungan setiap dua periode bulan. Satu periode bulan untuk Asrama Eosphorus, lalu periode berikutnya untuk Asrama Hespherus, dan kembali lagi bergantian untuk seterusnya. Pada sepertiga lingkaran bagian depan Aula Besar, terdapat ruang-ruang kelas yang kami gunakan untuk belajar, dan ruang bersantai luas dengan banyak sekali tempat untuk duduk-duduk dan berbincang-bincang saat jam istirahat. Tetapi jika hari sangat cerah, terkadang kami juga bermain di taman luar asrama. Kemudian duapertiga sisa bagian lingkaran dari bangunan asrama itu adalah ruang-ruang kamar tidur kami. Semua ruang kelas, ruang bersantai, dan kamar tidur memiliki jendela lebar dengan kaca bening yang menghadap keluar. Di lantai bagian atas adalah tempat tinggal para anggota Dewa Pengawas yang keseluruhannya berjumlah dua ratus venusian untuk satu Asrama. Kudengar mereka mendapatkan fasilitas yang sangat bagus dan jauh lebih nyaman daripada kami. Tempat tinggalku terletak di Asrama Barat Eosphorus. Aku tidur satu kamar bersama sahabatku, Vla.”
“Hmm... sepertinya menarik sekali tempat tinggalmu itu,” ucap Marxis, sedikit merasa heran melihat Venera tak tampak kehabisan napas setelah berbicara panjang lebar dengan cepat tanpa jeda seperti itu.
“Ya, benar. Kalau kau bagaimana? Seperti apa tempatmu tinggal di Mars?” Venera balik bertanya.
Marxis menjawab. “Di Mars, kami tinggal dalam bangunan-bangunan kecil persegi terbuat dari batu berwarna hitam, sedikit kemerahan. Ada banyak sekali jumlah bangunan seperti itu di Mars, karena setiap bangunan hanya untuk dihuni oleh dua Martian. Semua bangunan berdiri berjajar dan terbagi dalam beberapa sektor. Aku tinggal bersama sahabatku Melvian di sektor 507.”
“Wah, bangunan-bangunan kecil dari batu?” Venera berusaha membayangkannya. ”Lalu, apa kalian tak punya tempat untuk berkumpul bersama?”
“Ada," jawab Marxis. "Sebuah bangunan persegi yang sangat besar. Letaknya tepat di tengah bangunan-bangunan untuk tempat tinggal. Kami menggunakannya hanya sekali-sekali saja, misalnya untuk makan bersama setelah acara perburuan massal. Kalau hanya untuk makan sehari-hari, kami selalu mengolahnya sendiri; tergantung dari hasil buruan apa yang kami dapat hari itu."
"Wah, kalian mengolah makanan sendiri setiap hari?" tanya Venera takjub, teringat bahwa para venusian memiliki Dewan Pengawas Kesehatan dan Makanan yang selalu menyiapkan makanan untuk mereka setiap hari.
"Ya." Marxis mengangguk. "Kami mempunyai tempat untuk memproses binatang buruan di halaman depan tempat tinggal kami masing-masing. Sebuah tempat pembakaran untuk menyalakan api."
"Jadi setiap saat kalian hanya makan berdua saja dengan teman sekamar kalian?" tanya Venera.
Marxis menggeleng. "Tidak selalu. Biasanya saat waktunya makan malam, kami saling bertukar makanan sambil berkunjung ke tempat teman-teman yang lain.”
“Hmm. Sepertinya asyik sekali kehidupan kalian disana. Yah, kecuali soal binatang yang kalian makan itu." Venera sedikit bergidik.
“Lalu kalau hutan di Mars yang kau katakan itu, seperti apa, sih?” tanya Venera lagi.
__ADS_1