
"Dia ternyata sudah menikah dan...!?"
Sementara di dalam kamar kecil Dorothy merasa mual lantaran aktifitas yang sebelumnya ia lakukan bersama pria itu.
Tak sadar bahwa keadaannya ini membuatnya jatuh lebih dalam lagi kedalam jurang kenistaan. Kondisi dan situasi lah yang menjadi penyebab dirinya bungkam untuk sekarang ini.
Kran air ia nyalakan lalu berkumur dan membasuh wajahnya dengan air yang mengalir, beda dengan hatinya yang kini sedang kacau. Perasaannya campur aduk.
Nampak pula Dorothy yang menangis dalam diam tak lama air matanya jatuh seiring waktu.
Klek.
Saat pintu kamar mandi lupa ia tutup tiba-tiba saja seseorang masuk kedalam dan memeluknya dari belakang.
"Jangan menangis, takdir memang selalu ikut campur dalam setiap perbuatan dan kehidupan manusia!"
Dorothy yang tak mengerti ucapan pria itu hanya diam sembari memberontak, namun perasaan sedihnya ia hilangkan dalam sekejap.
Seperti ada tekad kuat dalam hatinya yang nampak dari raut wajahnya yang tengah menunduk.
Sore hari tepat pukul tiga Ronal berjalan menuju sebuah kedai yang menjual jajanan rumahan, saat ini pun adalah waktu Ronal pulang dari tempat kerjanya.
Niatnya ingin membelikan sesuatu untuk Dorothy dengan membeli beberapa jajanan, namun langkah Ronal terhenti saat melihat wanita di seberang sana yang tak asing baginya.
Penasaran Ronal mengurungkan niat untuk membeli jajanan saat ini dan memilih untuk menyebrang guna menghampiri wanita ini.
Melihatnya kembali Ronal langsung mempercepat langkah, tapi...
__ADS_1
Drrtttt.
Saku celananya bergetar tanda ponselnya berbunyi sebagai penanda ada panggilan masuk.
Langsung ia angkat sembari mengejar wanita itu.
"Sayang, kamu sedang pulang?"
"Iya, malah aku ingin membelikan mu jajanan rumahan. Kamu pasti suka!"
"Hmm, aku senang sayang, kalau begitu aku tutup dulu ya. Aku mau kamu pulang cepat, bye sayang... hati-hati di jalan!"
Tut... tut...
Tak sempat menjawab kini Ronal fokus mengejar ketertinggalan jaraknya dengan wanita itu.
Sayangnya dirinya kehilangan jejak saat kerumunan membuat wanita itu tersamarkan, membuatnya tak bisa memburu rasa penasarannya.
Saat sampai dirinya mendapati jajanan dalam kedai tadi yang sudah habis dalam waktu dekat saat ia mengejar wanita itu.
Pemilik kedai pun menjelaskan bahwa barusan ada yang memborong semua jajanan.
Membuat Ronal sekali lagi harus berlapang dada. Dan mengganti sesuatu yang ingin ia berikan kepada istrinya.
Tok.. tok.. tok..
Saat Ronal sudah berada di dalam mobil dan hendak melajukan nya, tiba-tiba saja suara ketukan membuat atensinya mengarah pada samping jendela mobil.
__ADS_1
"Ibu!?"
"Ronal!?"
Saat jendela mobil sudah sepenuhnya terbuka Ronal terkejut saat wanita itu kini menatap dirinya, dan wanita itu Ronal panggil ibu.
"... Ronal kamu... emm sudah lama kita tidak bertemu ya!" ucapnya dengan senyuman manis di akhir.
"Ya sudah lama Bu, mari masuk!"
Mereka berdua sedikit bercerita saat dalam perjalanan menuju kediaman wanita yang Ronal panggil ibu.
Menurutnya, takdir telah mempertemukan dirinya kembalinya dengan salah satu keluarganya.
Antara senang dan penasaran lantaran ibunya kini berpenampilan berbeda jika dibandingkan dengan terakhir kali Ronal melihatnya.
"Belok kiri!"
...
"Masuk aja di komplek depan terus berhenti di sebuah rumah bercat hijau!"
"Ya."
Sampai di tempat yang di sebutkan oleh ibunya wanita itu lalu turun dengan sendirinya, sementara Ronal mengekor di belakangnya.
"Hai Marie... baru pulang?"
__ADS_1
Melihat seorang lelaki yang tengah berada di depan pintu kediaman ibunya membuat Ronal curiga.
Apalagi kini menyapa ibunya dengan tatapan akrab dan begitu dalam. Siapakah dia?