
Sebuah villa menjadi pemberhentian terakhir mobil yang membawa Lucy didalamnya.
Satu orang turun lalu dengan hati-hati membuka bagasi mendapati seorang perempuan cantik yang kini telah terlelap.
"Mungkin dia sudah lelah memaksa untuk meloloskan diri, makannya tidur lelap begini," gumamnya seraya membopong tubuh Lucy. Terdengar pula dengkuran halus.
Sementara pria satunya tengah menjalankan kendaraannya untuk memasuki halaman villa yang nampak sepi itu, setelah wanita paruh baya membukakan pintu gerbang sembari menyambut kedatangan tamu berpakaian serba hitam tersebut.
Beberapa saat membawa seorang perempuan yang tengah tertidur pulas akhirnya pria itu merebahkan tubuh Lucy pada ranjang.
Membawanya pada kamar yang minim akan furnitur didalamnya.
Klek.
Pintu pun tertutup.
"Keterlaluan kamu Ronal! Membawaku kesini," gumam Lucy sembari beranjak dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan ini.
Hanya ada nakas, ranjang, dan lampu yang sudah temaram.
Lucy nampak mematung dengan menyangga dagunya pada jari. Lalu membuka mulutnya.
"Tempat pengasingan, ya Ronal membawaku kesini!" ucapnya menyimpulkan.
•••
Sementara sepasang kekasih kini sudah mempersiapkan segalanya dan bersiap untuk berangkat menuju Bandara.
Menggunakan sebuah mobil pribadi yang dikendarai oleh seorang sopir.
Dorothy terlihat melingkari tangan suaminya sembari melakukan fose imut saat menghadap ke kamera ponselnya, rupanya dia diam-diam sedang melakukan selfi.
Ronal yang sebelumnya tidak sadar seperti halnya memikirkan sesuatu hingga ia dibuat melamun membuat Dorothy menatapnya lekat.
"Sayang, kita foto yuk. Aku mau mengabadikan setiap momen kebersamaan kita sampai tua nanti!" ucap Dorothy sembari menyentuh pipi suaminya dengan satu jari. Tak lupa menambahkan kata manis pada ucapannya.
Mendengarnya Ronal dibuat tertegun, ia lalu menatap wajah sang istri lekat yang kini dekat dengan wajahnya.
"Emmmm."
Belum menyahut ucapan Dorothy barusan Ronal langsung saja memanfaatkan momen ini untuk mencium istrinya.
Dorothy pun membalas ciuman suaminya dengan lihai dan lahapnya, bahkan lidahnya didalam sana sudah terlatih, sementara sang sopir hanya fokus pada jalanan.
Di bandara.
Di tengah waktu menunggu Ronal ijin kepada istrinya untuk pergi ke toilet yang padahal hendak mengangkat telepon dari orang suruhannya.
Yang sebelumnya ditugaskan untuk mencari informasi mengenai kerabat Dorothy yang masih dalam penyelidikan maupun pencarian.
Di tambah tugas baru yaitu mencari informasi berkaitan dengan seorang pria paruh baya dalam foto yang Ronal berikan kepada mereka.
"Apa kalian sudah mendapatkan informasi yang aku minta?"
"Sudah tuan, hanya saja alamat itu mengarahkan kami pada sebuah keluarga yang tak mengenal istri tuan sama sekali!"
Ya, sebelumnya Ronal penasaran dan bertanya pada Dorothy mengenai alamat kerabatnya, nampak Dorothy yang terdiam sesaat lalu dengan kening berkerut ia memberitahukan alamat kerabatnya itu pada suaminya.
__ADS_1
"Apa kalian berani menjamin?"
"Saya siap dengan segala konsekuensinya tuan. Lalu informasi berkaitan dengan pria paruh dalam foto itu, ternyata beliau adalah pemilik sebuah bar malam. Hanya saja informasi yang saya dapatkan tidaklah banyak, dikarenakan ada orang dalam bayang-bayang yang memangkas informasi tentangnya!"
"Ya sudah, kalau begitu saya tutup dulu."
"Baik tuan."
Ronal mengerutkan dahi kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin dengan raut tak percaya jika ayahnya kini menjadi pemilik sebuah bar malam.
"Pak tua itu ternyata tidak bertobat sama sekali, kurasa aku tidak usah bertemu dengannya lagi."
Tring...
Sebuah file yang didapat dari pesan aplikasi chat kini dibuka oleh Ronal.
Tertulis identitas seorang pria paruh baya bernama Gerald Osborn tapi tak lengkap data diri dan informasi yang berkaitan dengannya.
"Pernah menikah lagi ya, lalu bercerai tak lama setelahnya. Dan bisnisnya ini... terkesan mencurigakan!"
Tak lama Ronal kembali menemui istrinya yang kini menunggunya dengan raut murung.
"Ada apa, kenapa kamu begitu murung?"
"Aku kangen sama kamu sayang, ditinggal pergi sebentar saja rasanya seakan lama sekali.."
"Heh.. kucing kecil yang setia pada majikannya, kamu juga pandai menggoda seseorang ya?"
"Aku serius sayang, terus jangan panggil aku kucing! Kamu nggak mau kan nanti malam aku mencakar mu!"
"Aww kamu nakal sekali sayang."
"Memangnya kenapa, itu hukuman karena kamu sudah membuatku ingin memakan mu sekarang!"
"Heh..." Dorothy mendesah dengan wajah tersipu malu.
Namun di satu sisi hatinya merasa sakit bercampur dengan perasan lainya lantaran beberapa saat sebelumnya diwaktu suaminya pergi, seseorang menelponnya.
"Selamat pagi, kamu ada dimana sekarang, aku sudah berada di depan rumahmu?"
"......"
"Kenapa, apa kamu hendak lari?"
Lalu dalam panggilan itu terdengar suara pria yang seakan sedang mengobrol dengan seseorang.
Yang rupanya adalah pembantu yang dikenal oleh Dorothy suaranya. Terdengar...
"Tuan muda sama nyonya sedang pergi ke bandara tuan, katanya mau pergi kembali ke kota!"
"Hmm, kalau begitu saya pamit dulu Bi, terimakasih."
"Sama-sama tuan, nanti saya sampaikan."
"Tidak usah Bi, saya saja yang menyampaikan."
Mendengarnya membuat Dorothy gemetaran, apalagi dalam sambungan seluler tadi pria itu begitu beraninya mendatangani kediaman sepasang suami istri secara terang-terangan.
__ADS_1
"Apa kamu masih disana?
"Hm."
"Sepertinya kamu akan pergi dengan suamimu ke kota, kalau begitu beritahu aku alamat rumahmu setelah sampai!"
"Pak, saya mohon lupakan tentang semuannya. Saya akan beri bapak uang berapapun jumlahnya. Asal bapak tidak membeberkan hal itu pada suaminya saya!"
"Terlambat, kamu sudah membuatku menginginkan dirimu. Lagian saya tidak terlalu membutuhkan uang."
"Dan jangan harap kamu bisa pergi seenaknya, karena saya bisa saja tidak berhati lunak dan akan mempublikasikan permainan panas itu kepada awak media!"
"Jangan!!"
"Kalau begitu saya tunggu kabar selanjutnya, dan panggil aku Ge, itulah panggilan mu kepadaku."
"Ge..."
"Bagus, kalau begitu aku tutup dulu."
Tut... tut...
•••
Dalam perjalanan Dorothy nampak layu dan sering melamun seperti halnya memikirkan sesuatu yang membuatnya begitu.
Ronal lalu menanyakan perihal istrinya itu, dijawab dengan sendu bahwa dirinya sedang tidak enak badan.
Tapi Ronal tidak semudah itu percaya setelah sebelumnya mengamati dengan jelas ekspresi yang terlukis pada istrinya ada raut masam dan kegelisahan.
Berjam-jam lamanya hingga mereka akhirnya sampai di kota Y Ronal lalu menginap pada sebuah hotel lantaran Dorothy mendadak demam.
Di atas balkon Ronal melihat malam yang cerah sembari merasakan semilir angin, ia sedang memikirkan keadaan Lucy yang terpaksa harus ia asing kan lantaran tak ingin membuatnya semakin melampaui batas.
Ada begitu banyak pertanyaan sebenarnya yang ingin ia tanyakan pada Lucy, namun mengingat hal kemarin malam membuatnya enggan untuk bertanya kepada-nya lagi. Apalagi bertemu kembali.
Drtt...
Getaran ponsel pada saku celana membuat Ronal bergegas mengambil ponselnya.
"Tuan, perempuan itu tidak mau makan sama sekali. Katanya dia mau akan jika dipertemukan dengan tuan!"
"Biarkan saja dia mogok makan."
"Apa tidak apa-apa tuan, bagaimana jika saya menyuruh seseorang untuk..."
"Tidak usah. Saat perutnya merasa sangat lapar pasti dia akan makan juga pada akhirnya!"
"Baik tuan, saya mengerti."
Setelahnya, Ronal nampak memasang raut bersalah, tidak seharusnya ia melakukan hal itu pada Lucy karena dia adalah orang penting baginya.
Hanya saja karena serangakaian kejadian di masa lalu membuatnya agak berubah pandangan pada Lucy. Rasa sayang yang terkadang menjadi benci dan penyesalan berulang.
Bahkan apa yang dikatakan oleh Lucy kepada Ronal waktu itu mengatakan jika dulu mereka pernah menjadi sepasang kekasih adalah suatu kebenaran.
"Seandainya aku tidak pernah tahu identitasnya pada saat itu..."
__ADS_1