Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Sesuatu Yang Disembunyikan Dalam Sebuah Keharmonisan


__ADS_3

Kepulangan Ronal itu disambut hangat oleh istri serta para pembantu, ketika Ronal keluar dari mobil lalu menghampiri istrinya. Dorothy pun berhamburan memeluk suaminya dengan wajah bahagia dan berseri-seri.


Hari ini para pembantu yang sebelumnya diberikan cuti kini memenuhi halaman besar dengan berjejer didepan kediaman keluarga harmonis itu.


Sudah masuk kedalam rumah, Dorothy langsung saja mengajak Ronal untuk ke masuk ke kamar sebentar, merasa dirinya perlu mengecek luka yang ada pada punggung suaminya.


Dibalas sebuah anggukan disertai senyuman hangat dari Ronal.


"Astaga mas, lukamu...!" ucap Dorothy spontan usai membuka kemeja dan baju dalam suaminya, kemudian terkejut hingga menutup mulutnya saat melihat luka memar di punggung suaminya.


"Begitulah, tapi kata dokter aku akan sembuh dalam empat sampai lima hari asal dalam perawatan rutin setiap hari!" terang Ronal.


"Begitu ya, kalau begitu kamu harus cuti selama lima hari ya sayang, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa jika luka ini bertambah parah karena kamu memaksakan diri!" pinta Dorothy lembut kepada suaminya, saat ini Ronal merasa jatuh cinta dengan istrinya untuk yang ke seratus dua puluh enam kalinya.


"Hmm, aku juga sudah ijin ke atasan sayang," sahut Ronal mengingatkan kembali kepada istrinya agar tidak khawatir.


Tak lama usai mengambil kapas dan pembersih luka serta Betadine, Dorothy mulai membuka perban pada luka di punggung Ronal lalu membersihkan luka tersebut.


Ronal terlihat meringis kesakitan, melihat raut suaminya dari samping Dorothy langsung meniup luka yang kini terdapat cairan pembersih, meniupnya secara terus-menerus sampai Ronal tidak merasakan perih lagi.


Kemudian mengolesi Betadine dengan lembut di bagian memar itu, terakhir menutup luka dengan perban.


"Aku taruh ini dulu ya sayang!"


"Iya, silahkan."


Krek.


Saat Dorothy pergi meninggalkan kamar perasaan bersalah kembali muncul dalam diri Ronal, bahkan menyerang ke hati hingga terasa sesak dan sakit.


Dirinya kemudian menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya satu sampai empat kali agar dirinya tidak mencirikan ekspresi keadaan kacau di dalam hati. Sedang gundah gulana.


Mengingat kembali pengkhianatan-nya yang tanpa disengaja berawal dari kemunculan teror menimpa rumah tangganya hingga membuat hubungannya dengan sang istri sempat renggang.


Selama menghabiskan waktu-waktu di desa. Dan akibat kecil dari hal itu hingga timbul sebuah kecurigaan.


Dan Ronal tidak ingin istrinya khawatir lantaran dirinya yang sedang kebingungan ini, antara merahasiakan dan jujur mengenai semuanya.


Yang cepat atau lambat pada akhirnya akan terungkap.

__ADS_1


Kret..


"Sayang, gimana udah enakan setelah aku ganti perbannya?"


"Su-sudah, rasanya jauh lebih baik dari yang sebelumnya!"


"Hmm, kalau gitu kita sarapan yuk!" ajak Dorothy dengan senyuman manisnya mampu menghipnotis lelaki manapun jika melihatnya.


Biasanya Ronal memanfaatkan senyuman istrinya sebagai obat pelipur lara dan penghilang semangat yang layu setelah pulang kerja.


"Iya, kamu duluan aja nanti aku menyusul!"


"Nggak mau! Aku maunya sama kamu, ayo aku papah!"


"Baiklah.."


Di meja makan, keduanya seperti biasa melakukan hal romantis. Yang umumnya dilakukan oleh pasangan tengah dilanda asmara. Bahkan kelakuan mereka dilihat oleh salah satu pembantu yang sekedar lewat.


"Aa..."


"Yam..."


Sesekali Dorothy menyuapi suaminya dengan mesra sampai-sampai memungut nasi yang menempel di mulut Ronal lalu memakannya.


"Oh ya sayang, orang yang kamu bantu siapa? Apa dia terluka juga seperti kamu?" dan pertanyaan inilah yang tak ingin Ronal jawab dengan seratus persen kebenaran.


Dorothy mengira Ronal sedang mengingat-ingat kejadian itu karena tak langsung menjawab.


"Hmmm."


Senyuman manis itu membuat Ronal sulit untuk berbohong, namun jika dirinya menceritakan dengan jelas pasti akan membuat rumah tangganya renggang.


"Dia anak seko..."


"Anak sekolah mas?"


"I-ya."


"Sial, aku malah keceplosan. Tak bisa menghindar lagi jika seperti ini!" gerutu Ronal dalam hati.

__ADS_1


"Perempuan apa laki-laki? Terus.. tingkatannya apa? Um... kalau boleh tahu dimana rumahnya sayang, aku mau menjenguknya?"


"Perempuan kelas 12 dan dia baik-baik saja, karena diriku tepat saat menghalau benda tumpul yang akan mengenainya!" jelas Ronal sedikit ragu serta dirinya dibuat gelagapan.


"Oh ya sayang, kamu hari ini mau nggak? Aku ajak jalan-jalan. Rasanya waktu istirahat kita selama seminggu di desa tidaklah cukup, yang seharusnya sebulan itu!" ajak Ronal sembari mengalihkan topik.


"Nggak! Kamu sedang sakit, jadi mendingan kamu batalin aja jalan-jalannya! Massa aku senang-senang sementara kamu dalam batas tertentu!" terang Dorothy yang dipahami oleh Ronal apa maksudnya.


Misalnya saja istrinya menginginkan jalan-jalan ke kolam renang otomatis Ronal juga harus bermain air, tapi karena luka di punggungnya ia tidak bisa ikut berenang bersama.


Pada akhirnya Ronal menuruti perkataan istrinya yang menurutnya ada benarnya juga, lebih baik menunggu dirinya sembuh seperti sediakala agar lancar ketika waktunya bersenang-senang.


Masakan utama Dorothy pada sarapan kali ini Ronal cicipi ala juri dalam kompetisi chef seperti biasanya, itulah kebiasaan yang mereka lakukan beberapa tahun terakhir ini.


•••


Dua hari berlalu, sampai Dorothy mendapati sebuah pesan chat dari seorang perempuan lengkap dengan pesan suara dari ponsel milik suaminya yang tertinggal.


Sebelumnya Ronal ijin pergi untuk menemui rekan lamanya yang baru pulang dari luar negeri. Dan Dorothy mengijinkannya.


"Lagi-lagi kamu begini mas dibelakang ku!" gumam Dorothy yang tengah duduk di sofa.


Membaca maupun mendengar setiap pesan chat dan suara mesra yang dikirim oleh perempuan itu, terlihat pula profilnya berwarna putih lantaran suaminya tidak menyimpan nomor tersebut.


Ada beberapa kejanggalan yang Dorothy temukan dari pesan-pesan tersebut mulai dari suaminya yang tak menyimpan nomor itu, pesan dari perempuan tak diketahui namanya begitu banyak bahkan suaminya tidak membalas terlalu sering pesan yang dikirim oleh perempuan itu.


Dan terakhir suaminya pernah menghapus pesan-pesan itu yang kini sengaja Dorothy ketahui pada berkas sampah.


"Apa benar perempuan ini adalah mantan pacar Ronal? Kalau iya saling berhubungan sih, perempuan itu memang selalu mengganggu suami tercinta ku. Aku tidak boleh membiarkannya terus-terusan menggoda! Sepertinya aku harus bertindak!" ucap Dorothy dengan semangat membara, memiliki misi untuk menjauhi mantan pacar suaminya itu agar tidak seenaknya lagi.


Tring...


Sebuah pesan suara di jam 09.25 masuk, kemudian Dorothy dengarkan dengan baik-baik.


"Honey... aku bosan di sekolah, kamu balas pesan aku gih, temani aku ngobrol sebentar. Atau kalau kamu senggang, telpon aku ya..."


Tring...


"Aku tahu kamu cuma lihat doang tapi nggak di balas, kamu masih tidak enak kan gara-gara kejadian itu. Tapi kali ini aja please... aku mau denger suara kamu, ya udah aku langsung telpon aja."

__ADS_1


Drtttt...


Sebuah video call berlangsung menunggu untuk di jawab, namun Dorothy masih diam dengan berbagai spekulasi di pikirannya.


__ADS_2