
Jam dinding menunjukkan pukul 15.45 mereka bertiga Marie maupun Ronal dan Lucy duduk di sofa.
Mimik wajah Marie terlihat ragu seperti hendak menyampaikan sesuatu yang tertahan, terlihat pula dari mulutnya yang hendak berkata namun ia tunda setiap menitnya.
Pada akhirnya Lucy berani buka suara setelah beberapa saat mereka bertiga dalam keadaan canggung.
Sebelumnya, Marie terang-terangan berkata ingin menceritakan kebenaran yang sesungguhnya dari sebagian kisah di masa lalunya kepada Ronal maupun Lucy, air mata yang keluar saat mengucapkan kalimat itupun yang menjadi sebab mereka sekarang ini dalam diam.
"Apa yang mau ibu ceritakan, ibu bilang kebenaran dari kisah masa lalu?" ucap Lucy membuka pembicaraan dengan nada lembut.
"Tapi ibu meminta agar kalian tidak benci ibu ketika kebenaran itu disampaikan, karena ibu sudah memastikan kalian pasti sangat membencinya.." sahut Marie ingin rasanya menangis namun ia tahan demi menjelaskan kebenaran dari masa lalunya.
"Jujur Bu, aku sebenarnya agak ini sama ibu, karena dulu ibu tega pergi meninggalkan kami berdua. Padahal aku sama Ronal saat itu berjuang keras demi sesuap nasi," keluh Lucy agak sedih, penuturan Lucy tersebut mengingatkan Marie pada masa lalunya.
Ia lalu menceritakannya kepada mereka berdua.
Flashback on
Malam dimana kedua anaknya sedang tertidur pulas Marie tengah disibukkan dengan mengemas pakaian dengan terburu-buru.
Usai memasukkan pakaian secukupnya ia akhirnya mengecup kening kedua anaknya dengan tatapan sendu, rasa sesak dan sakit membuatnya akhirnya menangis secara tak sadar.
Menyesal akan perbuatannya yang tak bisa dimaafkan, yaitu bermain dengan ayah mertua suaminya.
Kini Marie menganggap jika dirinya mendapatkan karma dari benih yang ia tanam di masa lalu.
Meskipun hanya sebuah kecelakaan dan ia terpaksa harus menuruti perkataan mertuanya yang terbilang keras untuk membuatnya selalu berada dalam dekapan.
Lambat laun ia akhirnya termakan oleh hawa n*fsu dan mengikuti alur kehidupan terlarang itu.
Sampai ia akhirnya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki, anak itu bernama Ronal.
Identitasnya pernah disamarkan agar terlihat seperti kehamilan disebabkan oleh suami Marie. Ayah Ronal.
Satu tahun kemudian, lahirnya seorang anak perempuan bernama Lucy. Perempuan yang tak mirip dengan ayah dan ibunya, seorang anak yang sengaja dilahirkan karena Marie merasa kasian terhadap dirinya yang selalu mengugurkan kandungan dari para pelanggannya.
Dan tetap saja, ayah Ronal menganggap kehamilan istrinya yang kedua pada saat itu adalah anaknya.
__ADS_1
Namun sebuah kecurigaan akhirnya membuatnya tak menyangka jika dirinya diselingkuhi oleh istrinya secara diam-diam.
Kecurigaan itu didapatkan olehnya saat Ronal dan Lucy berumur 8 sedangkan adiknya 5 tahun. Yaitu darah kedua anaknya ketika di tes DNA tidak sama dengannya.
"Tunggu.. ini... berarti kami berdua..." ucap Ronal memotong cerita, mulutnya mulai keluh untuk berbicara. Dan badannya gemetaran.
"Benar, kalian bukan saudara kandung!" sambung Marie.
Ronal tersentak kedua matanya terbuka lebar dengan pandangan kosong merasa jika penyampaian ibunya hanyalah sebuah mimpi.
Sementara Lucy menundukkan kepalanya, namun siapa sangka ia tersenyum dibalik wajahnya yang tertutupi rambut dalam posisi itu.
"Kenapa ibu bisa melakukan hal seburuk itu dulu, jadi kelakuan ayah ada hubungannya dengan..." ucap Lucy kembali pada keadaan awal, dia nampak tenang daripada ibu dan saudaranya.
"Hmm, ibu juga berpikir begitu. Ayahmu tahu namun dia bungkam tak pernah menyampaikan sakit hatinya, dia lebih memilih untuk mengubur rasa sakitnya itu seorang diri," sahut Marie ekspresinya sedih mengingat pengkhianatan di masa lalunya. Padahal dirinya sangat mencintai suaminya.
Cerita masa lalu kembali dilanjutkan.
Merasa sadar Marie berusaha untuk lepas dari cengkeraman itu, di satu sisi suaminya yang tahu akan perbuatan istrinya yang bermain dengan mertuanya.
Pagi itu berlangsung gaduh hingga tetangga berhamburan mengunjungi sebuah rumah yang katanya terjadi kdrt.
Mereka menemukan suami Marie dalam keadaan berdarah-darah dan perut yang tertusuk pisau, sementara keberadaan kedua anaknya hilang tidak diketahui kabarnya.
Mereka saat itu dibawah pergi oleh Marie kesebuah apartemen.
"Tapi Bu.. ayah baik-baik saja sampai sekarang, meskipun ibu pada saat itu berencana untuk membunuhnya!" ucap Lucy.
"Sebenarnya ibu melindungi kalian berdua dari ayah yang berusaha menikam, hingga ibu yang tak ingin terjadi apa-apa dengan kalian akhirnya ibu sekuat tenaga melawan. Dikala pisau didapatkan ibu langsung menusuk ayahmu Lucy, ya... meskipun dia bukan ayah kandungmu. Jika ibu boleh jujur, kamu adalah anak dari pria lain!" terang Marie akhirnya air mata yang tertahan lolos dari pelupuk matanya.
Ronal terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi kesal dengan wajah tertunduk.
Giginya menggertak lantaran emosi yang meluap.
Pikirannya melayang memikirkan kesalahan ibunya yang menurutnya sangat tidak bisa dimaafkan.
"Ibu lanjutkan!" ucap Lucy kemudian dengan wajah tenang membuat Marie tertegun, bahkan Ronal mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"......."
"Lucy.. apa kamu tidak merasa kesal?" tanya Ronal.
"Tidak sama sekali, masa lalu biarlah masa lalu, manusia pada dasarnya belajar dari hal yang dialaminya di masa lalu. Dan diriku sudah memaafkan ibu, sehingga tidak ada kebencian sama sekali di hati."
Marie langsung memeluk Lucy secara spontan dan menangis sejadinya.
Sementara Ronal tak mengerti apakah ucapan Lucy dapat dipercaya, pada akhirnya tidak bisa ia sangkal lagi karena melihat wajah percaya diri Lucy.
Menggambarkan perkataannya yang serius, tulus, tidak ada kebohongan dari raut wajahnya.
Usai melepaskan pelukan, Marie meminta maaf berkali-kali kepada anaknya bahkan sampai bersujud. Namun Ronal menghentikan ibunya agar tidak terlalu menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Ibu tidak perlu meminta maaf lagi, benar apa yang dikatakan oleh Lucy. Masa lalu adalah masa lalu, bukannya kita sekarang berkumpul lagi seperti keluarga bahagia sekarang!" ucap Ronal yang kini memeluk ibunya erat dengan air mata yang mengucur.
"Ibu bangga memiliki kalian berdua... terimakasih.."
Lucy mendekati ibunya kemudian menyeka air matanya.
Mereka bertiga lalu berdekatan.
Sementara Sisi perasaannya sudah campur aduk mendengar semua percakapan dan cerita ibunya di masa lalu yang begitu kelam.
Bahkan usai Marie berkata bangga kepada kedua anaknya itu seakan tidak menganggap Sisi adalah anaknya juga.
Dalam hati Sisi pun mempertanyakan dirinya. Apakah Marie adalah ibunya?
Klek.
Tak kuat mempertanyakan hal itu sendiri akhirnya Sisi menghampiri mereka, setelah dirinya sebelumnya ijin pergi bersama dengan temannya.
Yang tak disangka ia meninggalkan ponselnya dan kemudian saat memasuki sebagian rumahnya ia mendengar percakapan mereka bertiga yang akan berfokus pada masa lalu Marie.
Membuat Sisi tidak memberitahukan kedatangannya terlebih dahulu dan memilih untuk menguping pembicaraan mereka.
Hingga ia mendengar kisah kelam ibunya yang tak pernah ia ketahui.
__ADS_1