Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Petunjuk Yang Mengarah Dalam Bar


__ADS_3

Drrtttt.


Ronal mengangkat ponselnya setelah mendengar dering nada terendam oleh saku celananya.


Melihat siapa si penelpon membuat Ronal jadi malas mengangkat, apalagi Lucy mengajaknya untuk video call pagi-pagi seperti ini. Dimana dirinya harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


Pada akhirnya ia memilih mengabaikan video call tersebut yang terus berulang kali terdengar dengan nada yang sama lantaran Lucy tak mau menyerah sampai Ronal mengangkatnya. Mungkin saja.


Kring...


Sebuah pesan masuk terlihat di layar atas ponsel bertuliskan kalimat ancaman.


"Aku bakalan datang ke rumahmu sepulang sekolah nanti, rencananya aku mau mengobrol sama kakak ipar kalau kamu sudah melakukan hal itu denganku!"


Paham dengan seloroh Lucy membuat Ronal mau tak mau harus menekan tombol hijau atas panggilan video call yang terus-terusan berbunyi.


"Maaf tuan, saran saya tuan angkat saja panggilan tersebut. Bisa saja ada hal penting yang ingin si penelpon omongkan dengan tuan!" saran seorang sopir sopan kepada tuannya.


"Ya, aku akan mengangkatnya."


"Selamat pagi sayang, kamu udah makan? Ini aku lagi sarapan?"


Lewat video call Ronal terlihat menahan emosinya. Menurutnya tidak bermanfaat Lucy melakukan video call sekarang ini dengannya.


"Aku sudah makan, ehem.. jika tidak ada hal yang penting aku tutup saja. Sekarang aku sedang sibuk!"


"Bohong... kamu masih di mobil belum sampai di tempat kerja, aku cuma kangen tidak melihatmu seharian semenjak... hahaha aku asal bilang."


"Ngomong-ngomong apa kamu sudah bertemu dengan ibu, kemarin ibu sedang demam! Dan mengenai kejadian di masa lalunya kamu sepertinya harus tahu!"

__ADS_1


"Iyaa, nanti aku akan kesana, tapi aku maunya sama kamu."


"Oke, aku akan menemanimu, tapi tutup dulu ya sekarang?"


"Iya deh... padahal aku masih belum puas melihat wajah tampan mu!"


Tersipu malu ia mendengar pujian Lucy yang nampak serius saat mengucapkan kata manis itu.


Membuat Ronal langsung saja menutup panggilan tersebut.


"Tuan, sepertinya kabar mengenai pemilik bar malam itu sudah terungkap oleh salah satu orang kita!"


Usai berbicara dengan Lucy yang menurutnya menjengkelkan kini Ronal dibuat serius saat sopir pribadinya membicarakan soal kemarin.


Sebuah kabar mengenai ayahnya yang menjadi pemimpin atau pemilik sebuah bar malam yang lumayan ramai dikunjungi oleh pelanggan.


Fakta mencengangkan ditemukan. Bar tersebut beroperasi juga dalam berbagai bisnis ilegal seperti prostitusi, perdagangan obat-obatan terlarang, dan jual beli manusia.


"Tuan, sepertinya ayah tuan adalah tirani dan masuk kedalam kelompok mafia. Kurasa kita harus lebih berhati-hati lagi dalam menyelidiki hal tersebut, karena orang kita hilang tidak ada kabar setelah menyampaikan informasi ini!"


"Apa dia tidak akan pernah berkhianat?"


"Orang pilihan saya adalah orang yang setia, tuan tenang saja. Untuk informasi lebih lanjut saya harap tuan membaca berkas ini!" sopir itu lalu menyodorkan sebuah map merah berisi berkas hasil penyelidikan terkait bar itu.


Ronal kemudian membacanya dengan teliti dalam perjalanan ke tempat kerjanya. Lalu ia baru teringat akan sesuatu yang terlupakan.


Flashback on


Hari itu setelah pulang dari kediaman ibunya Ronal tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan berkunjung terlebih dahulu ke rumah seorang pria lajang.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia akhirnya sampai disana sembari memarkirkan kendaraan dengan lihai. Bukannya terkejut mendapati pria itu saat membuka pintu dengan wajah babak belur Ronal malah tersulut emosi, ia mencengkram kerah baju pria itu.


"Kenapa anda tidak melindungi ibuku semalam, dan tidak mencegahnya melakukan hal buruk itu?"


"Tenangkan dulu dirimu nak, saya kemarin sempat melarang. Namun ibumu memilih untuk datang ke suatu tempat dimana dia bertemu dengan seseorang, awalnya begitu!"


"Lalu?"


"Tujuh orang datang mengepungnya, lalu menarik Marie secara paksa saat menolak. Mereka aku lihat mengimingi uang banyak. Dan ketika aku hendak menolongnya seseorang menghajar ku dari belakang diikuti oleh tiga orang lainnya hingga diriku tak sadarkan diri!"


"Kapan anda bangun setelahnya?"


"Keesokan harinya di sebuah tempat sampah, sekitar pukul tiga dini hari. Itupun diriku dibangunkan oleh petugas disana!"


"Tch, kalau begitu ada yang menargetkan ibuku!"


"Menurut saya juga begitu, hanya feeling saja. Tunggu, saya ingat melihat salah seorang yang bekerja di sebuah bar malam ikut memaksa Marie waktu itu!"


"Bar?"


"Ya, saya pernah ke sana saat berencana mengikuti Marie secara diam-diam!"


"Kalau begitu malam nanti kita kesana, ada petunjuk dari orang yang berbuat tidak baik kepada ibuku di tempat itu!" ajak Ronal kepada pria yang nyatanya menyukai Marie.


"Saya rasa tidak bisa ikut malam ini, karena masuk kedalam bar itu harus merogoh kocek yang tidak kecil."


"Tenang saja, uang bukanlah masalah. Tapi tunggu, kapan anda mengikuti ibuku secara diam-diam?"


"Dua hari yang lalu."

__ADS_1


"Lalu kenapa anda tidak mencegahnya menuju bar itu?"


__ADS_2