
Drrtt...
Ponsel kepunyaan Dorothy kembali berdering dengan lagu hitz sebagai ringtone, merasa jengkel akan telpon tersebut akhirnya tangan Dorothy refleks menyambar ponsel miliknya yang berada di atas nakas dengan kasar.
Dirinya sempat menebak si penelpon tersebut.
"Siapa?!"
"Ini aku Ge kamu mungkin tidak asing dengan sebutan itu bukan?"
"Sama sekali tidak, aku mana mungkin melupakan orang yang telah membuatku tersesat seperti sekarang ini!"
"Haha kamu mulai berani ya sekarang, apa cintamu pada Ronal begitu dalam? Padahal siang tadi kamu mengatakan sendiri bahwa aku harus memberimu kepuasan."
"Omongan itu salah saya tuan Ge, sebenarnya saat itu aku hanya bercanda. Jadi saya harap tuan Ge.. jangan masukin dalam hati ya, dan aku sudah sangat mengantuk sekarang hoamm... mau tidur!"
"Tunggu. Dirimu tidak bisa lari begitu saja. Saat ini aku serius sedang mau mencicipi kelezatan hakiki, cepatlah kemari. Karena aku sudah ada didepan gerbang!"
Prak.
Ponsel yang ia pegang lolos begitu saja dari tangannya hingga rusak karena terjatuh menimpa kerasnya lantai, Dorothy membulatkan matanya tak menyangka jika pria paruh baya itu berani-beraninya datang kemari.
Tidak perlu menunggu lama ia akhirnya sampai di gerbang setelah lari kecil untuk memastikan.
"Huft... apa Ronal pergi sebelumnya pak?" ucap Dorothy sembari ngos-ngosan. Bertanya mengenai Ronal untuk memastikan anggapannya.
Satpam sekaligus penjaga malam itu pun tersenyum kikuk kemudian mulai menerangkan.
"Bener nona muda, tuan sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya. Katanya mendadak di panggil oleh bosnya!"
Sementara itu, seorang pria paruh baya mendekati gerbang kediaman keluarga Rasford. Beliau sebelumnya memang berbohong kepada Dorothy bahwa ia sudah sampai di gerbang sekarang.
Nyatanya pria itu baru sampai sembari turun dari mobil.
Dia kini tengah berbincang kepada satpam dengan lugasnya, berbeda dengan Dorothy yang terdiam di tempat, meskipun ia tahu jika suaminya saat ini tak ada di rumah. Tapi mana mungkin satpam ini mengijinkan pria itu masuk.
"Ada perlu apa pak? Bisa saya bantu?" tanya satpam itu.
"Saya klien yang pernah berinvestasi dengan perusahaan tempat ibu Dorothy bekerja, kebetulan karena saya mengetahui kabar ibu Dorothy berhenti bekerja di perusahaan tempat saya berinvestasi, saya jadi berpikir untuk datang kemari demi menyelesaikan hal penting yang memang harus diurus untuk yang terakhir kalinya!" jelas pria itu nampak serius dan tenang, kepercayaan satpam pun didapat.
__ADS_1
Walaupun agak menaruh curiga pada tamu tersebut yang datang malam malam begini.
Satpam itu lalu langsung memastikan kepada majikannya yang kebetulan ada didekatnya, Dorothy.
"Apa sekarang ibu sedang tidak sibuk, meskipun malam begini?" tanya satpam itu.
Mata pria itu yang menatap tajam kearah Dorothy membuatnya jadi gugup untuk berucap, pandangan tajam tersebut jelas adalah ancaman dengan konsekuensi berat.
Yang jika Dorothy berkata sibuk atau tidak bisa dan dengan alasan lainnya maka pria itu berani untuk mengambil tindakan tak terduga.
"Sa-saya tidak sedang sibuk sekarang, kebetulan hal tersebut memang harus di urus dan bahas sesegera mungkin agar cepat diselesaikan!" ucap Dorothy yang sudah tenang sekarang ini, rautnya tidak menunjukkan rasa gugup maupun kegelisahan.
Pada akhirnya satpam itu mengerti dan kemudian menyambut hangat pria itu yang kini memasuki kediaman Rasford.
Ia mengekor dibelakang Dorothy sembari memandangi bagian belakangnya yang nampak s*ksi dan menggoda.
Dorothy memang mengenakan pakaian minim yang tertutupi oleh penutup hangat.
Sudah berada di dalam mereka kemudian duduk di sebuah sofa.
"Kenapa tuan Ge datang kemari? Harusnya jika terpaksa jangan datang malam-malam begini!" tegas Dorothy menatap tajam pria itu. Merasa kesal juga dengan kelakuannya yang begitu melampaui batas.
Perkataan pria itu membuat dahi Dorothy berkerut.
"Maksudnya?!"
"Sebenarnya... hanya kebetulan, karena saya memiliki teman yang bekerja di perusahaan tempat suamimu bekerja! Dia memang sedang ada tugas yang sangat penting, bos tempat kerjanya sangat mempercayainya" jelas pria itu, sementara Dorothy hanya bisa menundukkan wajahnya dengan mendengus pasrah.
"Ya sudah, kalau begitu kita pura-pura saja seperti yang tuan katakan pada satpam, kita disini hanya berbincang saja seakan membahas tentang pekerjaan. Lalu pergi keluar!" ucap Dorothy.
"Baiklah."
Dan baru kali ini pria itu menuruti perkataan Dorothy dengan senyuman manisnya. Dan saat Dorothy tidak memperhatikan senyuman itu berubah menjadi senyum licik.
Tiga puluh menit lebih berlalu, akhirnya mereka berdua selesai dengan kedok pembicaraan tersebut. Tapi apa memang begitu?
Beberapa menit sebelumnya pun digunakan untuk adegan panas hanya sebatas mencium, membelai, dan mencumbu.
Awalnya Dorothy menolak karena dirinya tak ingin diketahui oleh satpam dan merasakan rasa lelah pada tubuhnya sehabis bermain dengan suaminya.
__ADS_1
Apalagi melakukan hal tidak senonoh di rumah ini untuk ke beberapa kalinya dengan pria itu, Dorothy jadi merasa tidak nyaman sekali.
Seakan-akan rumah ini memiliki hawa tertentu yang mengusik jiwa Dorothy saat berbuat dosa harus pergi dari sini.
Tuan Ge yang tahu aktivitas Dorothy sebelumnya hingga membuatnya lelah pun memberikan obat tertentu kepada Dorothy.
"Apa ini, obat?" tanya Dorothy bingung dengan wajah memerah setelah dibuat t*rangsang oleh pria itu. Dengan segala trik dan cara unik lainnya.
Tas yang dibawa pria itupun nyatanya bukan berisi berkas ataupun barang normal para pekerja pada umumnya, melainkan mainan ****.
"Pil ini bisa membuatmu tidak mengantuk, jadi minumlah. Karena malam ini akan menjadi malam panjang!"
"Aku tidak mau!!!" tolak Dorothy sembari membuang pil tersebut ke sembarang arah kemudian beranjak bangkit dari pangkuan pria itu dengan tatapan tajam.
"Apa kamu tahu.. apa akibatnya berani menolak perintahku?" tanya pria itu dengan wajah tak senang menekankan kata, masih dalam posisi duduknya.
"Tuan.. kita sebaiknya sudahi saja semua ini! Aku janji akan memberikan tuan uang teramat banyak untuk menutupi hal ini. Jadi saya harap tuan tidak lagi menganggu kehidupan saya!" tegas Dorothy saat berbicara.
"Tsk, uang katamu. Saya sama sekali tidak memerlukannya. Yang saya perlukan hanyalah dirimu. Jadi menurut saja atau..." belum usai menyelesaikan kalimatnya, Dorothy langsung memotong.
"Kalau begitu saya akan mencari perempuan penganti untuk tuan, saya rasa tuan sudah mencintai saya terlalu dalam!"
Pria itu tersenyum bangga "Bagus, kamu tahu ternyata aku sudah mencintaimu. Tapi salahkan dirimu yang sudah mengatakannya, karena aku tidak butuh perempuan pengganti. Dikarenakan mereka berdatangan sendiri kepadaku!"
Aura menekan pria itu membuat Dorothy merasa takut hingga ia bersiap untuk melarikan diri.
Menurutnya tidak akan mudah dan sia-sia saja bernegosiasi dengan pria paruh baya tersebut yang memiliki sifat tidak ingin dibantah.
Seakan-akan dirinya adalah raja karena semua orang harus tunduk padanya.
Klik.
Tak ingat sesuatu berada di dalam lubang milik Dorothy masih tersimpan ia pun tak bisa lari sekarang. Rasanya susah sekali dengan getaran kuat yang menganggunya.
•••
Dan tak disangka-sangka satpam itu ternyata telah di sogok oleh sejumlah uang dengan nilai fantastis, sehingga khilaf dan melakukan dosa besar lantaran membiarkan pria itu membawa majikannya.
Dorothy hanya bisa pasrah melihat kenyataan tersebut dengan hati yang terasa sakit. Kini dirinya dalam keadaan tangan dan kaki terikat.
__ADS_1
Mulutnya pun dibekap oleh sapu tangan dan lakban sehingga susah untuk berteriak.