Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Masa Lalu Kelam Yang Sengaja Dirubah


__ADS_3

Sembari berjalan dengan istrinya yang memegang lengannya begitu mesra dan nampak antusias menuju ruang keluarga.


Ia sendiri lain daripada biasanya, merasa gelisah tak karuan memikirkan Lucy yang ia tinggalkan didalam kamarnya.


"Ku harap Lucy segera keluar dari kamar, karena tadi sebelumnya sudah aku peringatkan dirinya bahaya jika dia sampai diketahui oleh Dorothy, dan parahnya lagi aku mengecup kening dengan senyuman lembut kepadanya tadi, huh... aku melakukannya karena terpaksa agar dia mau bersembunyi!" ucap Ronal bergumam dalam hati yang untungnya dirinya sekali lagi selamat dari kehancuran rumah tangganya.


Kembali menonton film dimana pemeran utama wanita sangat baik sekali dengan keluarga protagonis pria, terutama pada ayahnya yang dulu pernah menyakitinya dan melakukan segala cara agar memisahkannya.


Hanya saja menjelang akhir pemeran utama wanita tetap memaafkan segala perbuatan mertuanya, bahkan ketika ayahnya berkata dirinya telah melakukan dosa yang begitu besar. Pemeran utama wanita malah melupakan kesalahan mertuanya.


Membuat Dorothy jadi terharu dan kini mendekat lebih dekat lagi dengan Ronal hingga dirinya dipeluk oleh suaminya.


Usai menyeka air matanya dibantu oleh Ronal, Dorothy jadi teringat dengan keluarga suaminya yang sampai sekarang menghilang dari kehidupan Ronal sejak kecil.


Membuatnya penasaran dan ingin mendengar cerita itu lagi. Siapa tahu dirinya bisa membantu menemukan keluarga suaminya.


"Sayang, boleh nggak kamu ceritakan masa lalu tentang keluarga kamu? Em... aku masih penasaran dan berniat ingin membantu kamu dalam menemukan mereka!" ucap Dorothy lembut menatap Ronal seakan menunggu jawaban darinya.


Sementara Ronal yang mendengarnya sekejap membuatnya menjadi murung dan tatapannya beruban menjadi masam.


"Ah... tidak usah deh.. mas, nanti aja kamu ceritakan nya!" tidak ingin memaksa suaminya menceritakan masa lalunya saat melihat wajahnya yang berubah Dorothy pun menarik perkataannya tadi dengan halus, tidak jadi untuk mengetahui masa lalu suaminya saat ini juga.


Ronal terlihat menghela nafas panjang kemudian mendekatkan wajahnya pada istrinya hingga jarak kedua sangat dekat.


"Aku ceritakan. Lagian terakhir kamu tanya tentang keluargaku sudah lama sekali, seingat ku beberapa hari setelah kita melangsungkan pernikahan!"


"Mm, aku ingat. Tapi apa nggak papa sayang, aku tidak mau memaksa kok..."


"Gapapa, aku tidak keberatan. Jadi... sebenarnya aku ini anak satu-satunya, pada awalnya kedua orang tuaku terlihat biasa-biasa, seperti keluarga pada umumnya, namun ibuku berubah saat ayahku ketahuan bermain dengan wanita lain, tak tanggung-tanggung hingga beberapa kali ayah ke dapati bermain dengan perempuan. Bahkan parahnya lagi dengan anak sekolahan, seingat ku begitu, sebenarnya aku tidak mau mengingat hal itu lagi."


Baru mendengar hal itu dari suaminya membuat Dorothy terkejut dan membayangkan betapa kacaunya rumah tangga kedua orang tua suaminya pada saat itu.


Lalu dirinya mendudukkan wajahnya dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


"Maaf jika aku membuatmu mengingat akan hal itu lagi..." ucap Dorothy.


"Tidak apa sayang, sekarang ini mental ku mungkin sudah kuat lantaran sudah melewati hari-hari keras yang membuatku jadi seperti ini! Apalagi aku sekarang memiliki istri yang sangat cantik dan baik sepertimu, mewarnai hidupku sampai tua nanti..."


"Aku juga senang mas punya suami idaman kayak kamu, langka lho dicarinya. Bisa masak dan melakukan hal lain yang jarang dikuasai oleh sembilan puluh persen suami-suami yang ada di dunia!" sahut Dorothy sembari menggoda suaminya. Dibalas dengan senyuman merona oleh Ronal yang tersipu malu.


Selain jago masak Ronal juga pandai dalam hal-hal lain seperti melukis, memainkan beberapa alat musik, dan lainnya masih banyak kemampuan hard maupun soft skill yang dimiliki oleh Ronal.


Ronal kemudian melanjutkan bercerita, dimana pada akhirnya kedua orang tuanya memilih untuk bercerai sehingga dirinya harus tinggal dengan salah satu dari kedua orangtuanya, dan Ronal memilih untuk tinggal bersama ibunya.


Namun karena alasan tidak mampu membiayai hidup anaknya ibunya memutuskan untuk pergi meninggalkan Ronal, setelah membawanya ke panti asuhan.


"Kamu pembohong besar, Ronal. Padahal kamu punya seorang adik yang selalu menemanimu saat suka maupun duka!" gumam Lucy yang sempat mendengar pembicaraan mereka serta cerita Ronal mengenai keluarganya, Lucy nampak kesal saat Ronal berbohong lalu ekspresinya berubah menjadi sedih.


"Barusan kamu berinisiatif untuk membantuku mencari mereka, orang tuaku, kan?" tanya Ronal.


"... iya aku mau bantu kamu..."


"Boleh, aku akan jelaskan detail ciri-ciri orang tuaku."


Malam ini Ronal mendapati kabar bahwa orang suruhannya tidak dapat menemukan petunjuk mengenai kerabat istrinya.


Bahkan orang suruhannya itu berkata bahwa informasi yang dikatakan oleh Dorothy kepada Ronal tidaklah benar, asal dikatakan.


"Apa kalian ini tidak mampu huh, sebenarnya? Bukannya sudah ku bayar mahal. Tapi kalian bilang menyerah hanya karena alasan seperti itu?" ucap Ronal dalam sambungan seluler kesal namun mengecilkan suaranya.


"Baik, baik saya akan melanjutkan mencari informasi, tapi dalam jangka empat hari. Jika masih belum saya dan rekan saya temukan, maka saya memohon maaf jika harus dihentikan!"


"Oke. Empat hari harusnya waktu yang cukup."


Dorothy kemudian menemui Stefan yang tengah berbaring di atas kasur lebih tepatnya tengah berada di atas rooftop sembari melihat bintang-bintang.


Mereka lalu melihat gelapnya langit malam yang indah sembari bercerita dan mengobrol bersama.

__ADS_1


Hingga pukul 21.00 Ronal sudah mengantuk dan memutuskan untuk tidur hanya saja melihat istrinya yang mengenakan dress minim membuatnya jadi ter*ngs*ng kemudian memeluknya dari belakang, ketika istrinya berkutat dengan ponselnya.


"Ah!!"


"Bagaimana jika sebelum tidur kita berolahraga dulu sayang!" usul Ronal berkata tepat di samping telinga istrinya.


"Aku tidak bisa.. soalnya aku masih..."


"Oh, ya sudah aku pergi dulu ya. Aku sudah ngantuk hoam..." ucap Ronal sembari beranjak dan sempat menutup mulut menguapnya karena rasa kantuk.


"Bentar sayang, aku bisa lakuin hal lain kok, supaya kamu puas. Gapapa kan?"


Ronal mengangguk lalu membopong tubuh istrinya dengan cepat dengan kedua tangannya menuju kamar.


Memasuki kamar tidur yang berbeda lantaran Ronal tak ingin seseorang menganggu mereka lagi apalagi sampai masuk secara sembarangan.


Beberapa saat hingga Ronal puas dirinya lalu keluar kamar untuk minum.


"Honey... apa kamu puas mainnya...?"


"Lucy, lagi-lagi kau..."


Lucy mendekati Ronal sembari menunjukkan kepadanya sebuah foto yang menggambarkan seorang pria nampak sedang meminum kopi.


"Apa maksudnya kamu menunjukkan aku foto ini?" tanya Ronal yang sebelumnya menarik Lucy pada ruangan tertutup.


"Ini foto ayah, apa kamu tidak mengingat dari wajahnya?"


"Coba aku teliti dan ingat-ingat."


"Coba saja, aku mau tidur!" ucap Lucy seraya melenggang pergi menuju arah kamar Ronal dan istrinya.


"Pria ini benaran ayah, tapi kenapa... dia nampak awet muda, apaan-apaan ini! Dunia tidak adil sekali, huh... yang penting dia menjadi orang baik. Untuk sekarang aku akan memata-matai ayah terlebih dahulu!" ucap Ronal dalam hati.

__ADS_1


Teringat perkataan Lucy tadi iapun bergegas mengejarnya guna menyuruhnya pergi meninggalkan rumah ini.


__ADS_2