
Tanpa hentinya Dorothy menangis sampai bersujud di bawah kaki Ronal lantaran merasa sangat bersalah terhadap suaminya.
Ronal kemudian menyuruh Dorothy untuk berdiri karena hal itu tidak perlu dilakukannya. Ronal memaafkan semua kesalahan istrinya itu dengan mudah. Lewat kata-kata yang terbilang menenangkan jiwa, hingga membuat Dorothy perlahan tenang.
Sebelumnya Dorothy menangis sejadinya dan meluapkan semua isi hatinya kepada sang suami seperti biasa, hanya saja kali ini berbeda. Dorothy telah ketahuan melakukan kesalahan besar yang mana membuatnya berada di ujung tanduk.
Bisa dibilang keadaannya saat ini seperti hampir jatuh dalam jurang yang akan membuatnya menyesal seumur. Ia sebenarnya tak ingin sampai Ronal menceraikan dirinya.
Maka sebisa mungkin ia berusaha agar suaminya memberi satu kesempatan untuknya guna memperbaiki diri. Dengan dalih sebuah sumpah dan perkataan "tidak akan mengulanginya lagi" dengan mimik wajah berharap.
Mengatakan hal tersebut dengan serius Ronal pun sampai dibuat tertegun.
"Sekali lagi aku memaafkan semua kesalahan dirimu Dorothy, jadi tenanglah, jangan menangis lagi! Sudah cukup dirimu meminta maaf padaku!" ucap Ronal terlihat dengan raut datar sembari menyeka air mata Istrinya.
"Hmmm."
Kembali Dorothy memeluk Ronal dengan diiringi oleh isak tangis yang tak kunjung berhenti, padahal beberapa saat lalu air matanya yang keluar sudah berkurang drastis.
__ADS_1
Kini mendengar perkataan suaminya barusan membuatnya jadi terharu.
Tak terasa waktu sudah berlalu dari menit berganti jam, hingga mendekati dua jam lebih Ronal berusaha ekstra demi menenangkan istrinya yang masih saja menangis.
Rasa sakit dan keinginan untuk menangis beberapa kali ia pendam, Dorothy tidak mengeluarkan semua tangisnya. Dan kali ini benar-benar ia mengeluarkan semuanya.
Air mata yang sebelumnya mengalir deras kini sudah mengering meninggalkan mata lentik yang nampak sembab, disertai tangisan tanpa air mata yang membuat mata Dorothy memerah.
"Dengarkan aku.. aku juga memiliki sebuah rahasia selama ini, atau bisa disebut kesalahan fatal. Jadi bukan kamu saja yang membuat kesalahan!" ucap Ronal menegaskan, karena berbagai perkataannya yang terkesan sabar sebelumnya hanya membuat Dorothy tetap menangis.
Ia kemudian membawa istrinya dengan gendongan mendadak pada kedua tangannya, tak disangka Dorothy pingsan saat Ronal membawanya.
Menemukan pula bekas merah kepemilikan di leher dan bagian tubuh lainnya pada istrinya. Mengetahui hal tersebut membuat Ronal jadi semakin benci terhadap kelakuan ayahnya, yang tak bisa ia maafkan.
Setelah itu ia pergi meninggalkan istrinya yang tengah tertidur pulas dalam keadaan pingsannya.
Keluar dari kamar dan langsung menuju kamar tempat kejadian tak disangka-sangka itu terjadi ataupun diketahui.
__ADS_1
Anehnya Gerald sudah tidak ada disana, meskipun dalam keadaan terluka parah pada bagian wajah.
Bekas darah pun masih terlihat baru, sementara dirinya menghilang dan tak ada jejak sama sekali.
Melihat jendela yang terbuka tak salah lagi jika Gerald kabur lewat jendela.
"Cih... sudah ingin kabur huh, mungkin penjaga malam sudah menangkapnya!"
Bergegaslah Ronal keluar dari rumah guna menghampiri penjaga malam yang memiliki tempatnya sendiri dekat dengan gerbang.
Jarak antara gerbang lumayan jauh karena Ronal memiliki halaman yang cukup luas.
Ia kemudian menanyakan beberapa pertanyaan kepada penjaga malam itu yang terlihat gugup.
Saat akan memulai menjawab dengan perkataan terbata-bata.
Bruk.
__ADS_1
Penjaga itu pingsan tak sadarkan diri secara mendadak.