
Sebuah tangisan perempuan yang meratapi nasib terdengar hingga ke seluruh penjuru rumah sakit. Dia terlihat begitu berantakan lantaran tak terima dengan takdir dirinya.
Bagaimana tidak, seseorang yang sangat dicintainya dan berjanji untuk selalu bersama sampai ajal menjemput nyatanya ingkar janji.
Tentu saja hal itu berhubungan dengan takdir yang menyelimuti setiap insan yang bernyawa.
Dokter yang menangani Ronal menyampaikan bahwa beliau tak bisa melakukan apa-apa lagi, takdir berkata lain.
Ronal menghembuskan nafas ketika sedang di tangani.
Sontak hal itu menjadi berita terburuk yang pernah Dorothy dengar seumur hidupnya.
Kini ia meringkuk dalam diam setelah menangis tersedu-sedu hingga air matanya dibuat mengering.
Tak ada lagi cinta dari orang terkasih, tak ada lagi waktu-waktu indah untuk selalu bersama, tak akan pernah ada momentum dirinya melihat hari tua kelak bersama sang suami.
Semuanya lenyap dari pandangan masa depan Dorothy. Pandangannya menjadi kabur. Gelap gulita seakan menyelimutinya.
Ia terlanjur mengharapkan sesuatu begitu besar dan akan terlaksana, sehingga saat hal bermakna itu sulit bahkan mustahil untuk di gapai. Dirinya berada dalam fase sulit untuk menerima keadaan.
"Nona! Jangan melakukan hal itu!?" pekik serentak beberapa suster yang melihat seorang perempuan hendak melakukan percobaan bunuh diri. Mereka berusaha untuk menenangkan perempuan itu yang akan loncat dari pembatas di lantai 5 ini.
__ADS_1
Sebelumnya terdengar suara tangisan serta raungan seseorang sedang menangisi kepergian suaminya.
hingga sempat menjadi pusat perhatian orang-orang yang tengah berada di rumah sakit.
"Tidak!! Untuk apa aku hidup hanya dengan penyesalan dan kesendirian seumur hidup. Tanpanya aku lebih baik mati!!" tegas Dorothy menyatakan sendiri keluh kesahnya sembari nekat mengengam erat serpihan kaca ditodong pada pergelangan tangannya.
Sebelumnya memang terdengar pula suara gaduh seperti suara kaca pecah. Yang tak disangka dilakukan oleh perbuatan seseorang.
Dorothy berani menyakiti dirinya sendiri untuk memuaskan keinginan dirinya saat ini.
Bahkan melakukan dua niatan percobaan bunuh diri di satu waktu.
Jleb.
Kaca yang Dorothy genggam ia tusukan pada pergelangannya tangannya hingga memutuskan nadi.
Parahnya lagi ia masih sempat melewati pembatas sampai dirinya terjun dari lantai atas itu.
Brakkk.
"Ahhh!!!!"
__ADS_1
•••
Dua tahun kemudian.
"Ibu, apa ayah bisa mendengar ucapan Rion Bu?" tanya seorang anak laki-laki kepada ibunya, mereka berdua tengah berada di kawasan pemakaman.
"Hmm... ayah bisa mendengarnya kok, ayah mendengar semua perkataan Rion disana." Sembari mengelus pucuk kepala anaknya dengan sebuah senyuman hangat.
Anak kecil menggemaskan itupun berbicara banyak kepada ayahnya, ia menyampaikan segala pencapaiannya.
"Ayah, Rion sudah bisa naik sepeda dan punya piala loh ... Rion juga mendapatkan nilai seratus . . . "
Beberapa saat hingga angin berhembus menerpa rambut bocah kecil itu seakan sentuhan pada pucuk kepalanya.
"Ibu! Ayah sepertinya bangga kepada Rion. Barusan ayah menyentuh kepala Rion Bu..." ujar bocah kecil itu berseri-seri kepada ibunya. Dibalas hangat seperti sebelumnya.
Perempuan cantik itu pun menyentuh sekali lagi pucuk kepala anaknya, ia hingga merasa terpaan angin yang berhembus seolah bagian atas telapak tangannya.
"Ronal..." lirihnya disertai senyuman manis seperti halnya menatap seseorang dibelakang anaknya.
Keduanya lalu beranjak pergi meninggalkan sebuah batu nisan yang penuh akan bunga-bunga.
__ADS_1
End.