Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Egois


__ADS_3

Dorothy kemudian dipaksa untuk melakukan aktivitas tertentu yang mana hatinya tidak ingin melakukannya.


Hal erotis disarankan oleh pria paruh baya yang terlihat awet muda itu tanpa malu.


Belum mengatakan penolakan ia langsung mendapati tatapan tajam dari pria itu.


Aura menekan membuatnya jadi harus terpaksa menuruti perintah tuan Gerald apa adanya, menolak paksa pun Dorothy dirasa tak bisa. Hanya bisa berharap mendapatkan pertolongan secara tidak terduga, meskipun akan memakan waktu.


Dorothy hanya bisa bersabar sampai waktu itu tiba.


Mengingat ancaman barusan membekas di kepalanya dan menusuk hati jika sampai ketahuan oleh umum. Terutama suaminya.


"Tuan.. saya mau bertanya," ucap Dorothy.


"Katakan saja, kecuali hal biasa yang ingin kamu katakan, aku tetap menolak. Sampai kapanpun itu!" nada menekankan dan tatapan datar namun membuat seseorang tunduk lagi-lagi diperlihatkan oleh pria itu kepada Dorothy.


"Tapi tuan.. saya sudah memiliki keluarga... rasanya saya terlalu jauh dalam kesesatan."


Pria itu mengangkat dagu Dorothy hingga terlihat dia mendongakkan wajahnya menatap mata pria itu dari jarak dekat.


"Memangnya kenapa, aku sudah menyukaimu. Bagaimana jika kita mengambil jalan pintas. Aku selamanya tidak akan mengancam dirimu melalui hal itu!"

__ADS_1


Mendengar perkataan dari pria itu barusan membuat Dorothy mengembangkan senyuman tipis sadar akan sebuah harapan.


"Apa tuan berubah pikiran dan ingin aku melakukan sesuatu hal dengan cara lain yang terkesan baik agar masalah diantara kita selesai?" tanya Dorothy antusias, wajahnya mulai berseri-seri.


"Begitulah, cara baik."


"Sungguh? Caranya...?"


"Jadilah kekasihku selama satu bulan, lalu aku janji tidak akan menganggu dirimu lagi!" sebuah janji dilontarkan oleh pria itu dengan wajah serius. Sementara Dorothy tertegun, dia bingung sekarang.


Perasaannya mulai kacau, dilema menghampiri dirinya, dan rasa ingin lepas dari cengkeraman pria itu seakan memaksanya menuruti perkataan barusan.


Menolak, Dorothy pikir hal itu malah membuatnya seolah dalam penjara waktu.


Beberapa jam berlalu Ronal pulang setelah mendapati hasil memuaskan hanya saja ia tidak berjumpa maupun bertemu dengan ayahnya.


Sebenarnya ada hal yang ingin ia sampaikan kepadanya.


•••


Seminggu kemudian, Dorothy terlihat seperti biasa layaknya seorang Istri pada umumnya. Melayani suaminya sebaik mungkin, bahkan senyuman manis Dorothy selalu Ronal dapati.

__ADS_1


Selama seminggu ini Ronal masih belum berjumpa dengan ayahnya dan sulit sekali untuk sekedar mengobrol ringan.


Sementara orang orang yang terlibat dalam tindakan kasar terhadap ibunya sudah tertangkap. Tapi Ronal merasa tidak puas sama sekali dengan hal itu.


Dan setiap hari Ronal merasa kegelisahan secara tiba-tiba seperti halnya peringatan.


Minggu ini Ronal bersama dengan istrinya berlibur ke suatu tempat.


Tempat hijau nan bersih sejauh mata memandang yaitu sebuah destinasi bagi mereka yang memiliki kewenangan khusus.


Mereka berdua menikmati kebersamaan bersama terus menerus dari mulai makan siang disana sambil berbincang-bincang, hal-hal erotis pun tak kala mereka lakukan di tempat sepi itu, lalu dilanjutkan memandangi pemandangan indah sembari berkeliling.


Dan masih banyak lagi hal yang mereka lakukan di sana. Seakan keseruan itu abadi.


Di satu sisi Lucy bertemu dengan ayahnya. Tak lama mereka makan siang di sebuah restoran.


"Lucy, apa kamu memiliki tempat tinggal yang baik sekarang?" disela makan Gerald bertanya kepada Lucy, sudah yang kesekian kalinya dia bertanya.


Lucy sebenarnya tergganggu, namun ia sabar dalam menyikapi. Mungkin itulah orang tua yang khawatir terhadap anaknya yang selama ini jarang sekali bertemu.


Dengan menghela nafas panjang setelah menelan makanannya Lucy pun menjawab "Aku baik-baik saja, selama ini aku tinggal sendirian di rumah hasil jerih payahku sendiri tanpa keberadaan orang tua! Menurut ayah bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2