Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Kaitannya Dengan Masa Lalu


__ADS_3

"Siapa dia Marie? Apa mangsa mu dari kelas atas yang kebetulan sudah kau dapatkan?" seloroh pria itu kepada Marie sembari berbisik, sementara Ronal nampak memperhatikan.


"Dia anakku! Kamu jangan menganggunya saat kita makan malam bersama, atau lebih baik kamu pergi saja sekarang!" sahut Marie tanpa perlu berbisik lagi.


"Apa!? Kau punya anak lagi? Sejak kapan?" cecar pria itu terkejut dan kebingungan menjadi satu.


Kening Ronal berkerut namun ia masih menjaga ekspresi tenangnya.


Marie tidak menjawabnya ia lalu berbalik setelah membuka pintu rumahnya yang terkunci kemudian menyuruh Ronal masuk.


Memasuki rumah yang nampak sepi dari luar lantaran halamannya yang luas dan terdapat beberapa pepohonan, saat berada di bagian dalamnya pun terasa hangat. Menurut Ronal.


Meskipun Marie bilang dirinya selalu tinggal bersama seseorang lagi, namun atmosfer dalam rumah ini tak bisa dibohongi. Seperti halnya lebih dari satu orang yang pernah menginjakkan kaki kemari.


Marie memutuskan untuk memasak untuk makan malam, sedangkan Ronal mengabari kepada sang istri bahwa dirinya memiliki urusan penting mendadak. Dan tidak bisa pulang secepatnya untuk makan malam.


Bagi Ronal mungkin mengabari hal ini membuatnya lega, tapi siapa sangka bagi Dorothy adalah mimpi buruk.


Saat mendapati kabar dari suaminya tadi hatinya merasa tak tenang, bahkan kini dirinya gelisah dan bercampur perasaan lainnya.


Harapan yang ditunggu-tunggu lenyap seketika berganti kesedihan mendalam.


Di kediaman Marie Ronal nampak asyik mengedarkan pandangan untuk melihat ke sekelilingnya.


Furnitur di rumah ini terlihat berharga tinggi dan berkelas sampai Ronal mengira jika ibunya memiliki bisnis sendiri yang membuatnya sukses seperti sekarang ini.


Selang beberapa waktu menunggu berbagai pertanyaan yang menanti untuk dijawab dalam pikirannya di waktu-waktu penantian menunggu sajian makanan.


Drttt.


Suara ponsel lagi-lagi membuatnya harus meluangkan waktunya sebentar hanya saja kali ini berasal dari nomor tak dikenal.


"Sayang... kamu lagi dimana aku cari kamu nggak ketemu-ketemu? Kamu ada di kota A , kan?"


Baru saja menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu Ronal langsung saja dikejutkan dengan suara perempuan yang tak asing baginya.


Pikirannya kembali melayang memaksanya untuk menjelaskan bagaimana Lucy bisa berada di kota A sekarang.


Berbagai asumsi pun terlintas menunggu dirinya untuk memilihnya.


Merasa dongkol Ronal hendak memutuskan panggilan itu sepihak, tapi sebuah rencana terlintas di kepalanya membuatnya mengurungkan niatan tadi.


"Kamu ada dimana, aku akan menjemputmu segera?"


Hening tidak ada suara.

__ADS_1


"Kamu serius menanyakan hal itu padaku, apa aku tidak bermimpi.. aku merasa air mataku hampir jatuh. Nada itu aku masih mengingatnya sayang, kamu..."


"Katakan saja dimana kamu sekarang, jangan sampai aku berubah pikiran. Waktuku tidak banyak!"


"Hmm, aku di jalan xxx no. 1 kawasan hijau dekat persimpangan, aku memakai seragam yang bisa kamu kenali!"


"Oke. Aku tutup dulu."


Ronal menyentuh keningnya kemudian memijatnya sesaat karena dirasa pusing.


"Apa Lucy juga telah menjadi orang yang sukses, sampai-sampai dia kemari setelah lari dari tempat itu. Aku tak bisa memikirkannya lagi, kurasa aku harus mencari tahu informasi tentangnya!" gumamnya.


Usai memutuskan panggilan ia langsung saja menelpon seseorang untuk pergi ke alamat yang disebutkan oleh Lucy tadi.


Ronal mengatakannya dan berharap agar seseorang itu kembali membawa tangkapannya ke tempat yang seharusnya.


Tak lama Marie sudah selesai memasak kemudian menyajikan beberapa masakannya pada meja makan berkursi empat itu.


Ronal mulai membantu saat melihat sekilas raut kelelahan ibunya.


Mereka berdua lalu makan malam bersama sambil berbincang dan membahas keadaan satu sama lain, obrolannya masih tak lepas dari masa lalu indah.


Hingga Marie mengingat di waktu-waktu itu juga ada kenangan buruk yang ia beri kepada anaknya. Yang menurutnya berawal dari pria yang ia benci.


"Maafkan ibu Ronal, ibu sebenarnya memiliki rahasia kelam di masa lalu!"


"Dan alasan ibu meninggalkan kamu dan adikmu karena ada kaitannya dengan masa lalu ibu itu, di tambah ayahmu yang mengkhianati ibu hiks..."


Ronal masih mencerna perkataan ibunya barusan berpikir pula jika dirinya masih awam karena tidak mengetahui semuanya tentang Ibunya.


Entah baik atau buruk dirinya akan mengetahui masa lalu kelam ibunya, bagi Ronal masa lalu berbeda dengan sekarang dan ada beberapa perubahan walaupun sedikit saja.


Hendak menyodorkan sapu tangan pada ibunya.


Brak.


Pintu depan terbuka dengan kerasnya hingga suara itu mengejutkan keduanya, lalu masuk seorang gadis seumuran Lucy yang memakai seragam sekolah.


Tap.. tap.. tap..


"Siapa dia ibu!? Apa pacar baru ibu lagi, huh?" ucap gadis itu ketus setelah berada di ruang makan dan melihat ibunya bersama laki-laki lain.


"Bukan, bukan dia... dia.."


"Sudahlah, aku sudah muak! Setelah lulus aku akan pergi dari sini!" ucapnya kembali dengan mengatakan hal yang tidak seharusnya dia ucapkan, dan terkesan dirinya seperti anak yang durhaka kepada orang tuanya.

__ADS_1


Gadis itu lalu melewati meja makan tersebut dengan raut kesal hingga langkahnya terhenti dan menoleh kebelakang.


"Lagi-lagi pria bau kencur, menjijikkan!" ucap gadis itu geram sembari melanjutkan langkahnya.


"Maafkan Sisi ya Ronal, dia memang begitu si..."


"Aku pamit dulu Bu!"


"Tapi... kamu belum makan?"


"Aku makan di luar saja, lain kali aku akan mampir kembali."


Saat Ronal melenggang pergi ibunya menahannya.


"Tunggu, ibu bungkus ya..." melihat raut wajah ibunya Ronal pun menghela nafas lalu mengalah.


"Baiklah, aku tunggu."


Usai memasukkan beberapa masakan serta nasi kedalam rantang stainless Ronal lalu pamit kepada ibunya. Seraya menyodorkan kepadanya sebuah amplop.


"Ambil saja Bu, gunakan seperlunya saja."


Berjalan menuju ke arah mobilnya Ronal bertemu lagi dengan pria yang sebelumnya terlihat akrab dengan Ibunya.


"Apa kabar?" ucap pria itu berbasa-basi.


Ronal tidak menjawab hingga ia membuka mulutnya.


"Tuan sebenarnya menyukai ibu saya bukan, dan berniat ingin menjalin hubungan ke jenjang pernikahan dengannya?"


"Ah... kalau itu saya..."


"Saya harap tuan bisa menjaganya, saya tahu tuan adalah orang yang baik. Dan agar mendapatkan restu dari saya dan adik saya, saya minta kepada tuan untuk mengawasi ibu saya, karena saya baru bertemu dengannya lagi. Dan jangan sampai dia kembali terjerumus hal yang tidak baik!" ucap Ronal sembari menyodorkan wadah coklat berisi uang cash.


"Tunggu, saya bisa menyanggupi permintaan kamu nak, dan saya mengakui sangat mencintai Marie tapi, uang ini..."


"Saya sengaja memberikannya kepada tuan supaya tuan menggunakannya untuk modal usaha, tahu kan maksud saya?"


Pria itu terdiam sejenak lalu mengangguk tanda mengerti akan ucapan Ronal barusan.


Ronal kemudian meninggalkan kediaman ibunya terlihat pria itu melambaikan tangan kepadanya, sementara gadis itu kini melihat kepergian Ronal dari lantai atas dengan ekspresi tak senang.


Dalam perjalanan Ronal mengingat-ingat kembali pembicaraan sebelumnya dengan ibunya, teringat flashback saat ibunya menanyakan keadaan Lucy namun Ronal diam saja.


Saat itu Marie berucap.

__ADS_1


"Harusnya sebentar lagi Lucy lulus sekolah, dan jika bisa dia lanjut kuliah!"


Ronal kemudian membanting stir memutar arah menuju ke sebuah alamat yang masih diingatnya.


__ADS_2