
Penembakan secara sembunyi-sembunyi itu akhirnya memakan korban, yang dilakukan oleh seseorang yang kini sedang di tangani oleh anggota militer dan pihak polisi.
Ronal, ia mendapati nasib sial lantaran mendapati luka tembak di bagian tubuh. Takdir buruknya ini seharusnya tidak terjadi dan menimpa dirinya, sebab dirinya mencoba untuk melindungi sang istri.
Siapa sangka dirinya yang sebelumnya kesal terhadap Dorothy atas pengkhianatan nya hingga mereka berdua akhirnya saling memaafkan, kini harus mengalami kejadian seperti ini.
Air mata Dorothy berderai kala melihat kondisi suaminya sekarat beberapa saat setelah tertembak.
Wajahnya bahkan sangat pucat pasi dengan darah mengucur deras dari badannya.
Meskipun kini Ronal dalam keadaan sadar namun mulutnya tak bisa ia gunakan untuk berbicara, padahal ia hendak menyampaikan sesuatu kepada istrinya.
Mungkin penjelasan soal kesalahpahaman dirinya yang diduga berselingkuh serta penjelasan mengenai malam itu.
Ingin sekali Ronal katakan semuanya agar rasa bersalah bersarang dalam hatinya lenyap sudah.
Sayangnya takdir berkata lain, dirinya benar-benar dalam keadaan lemah bagaikan bayi baru lahir.
Tembakan itu nyatanya tepat mengenai sisi jantung bagian kiri dan tembus.
Malam indah ini nyatanya tak memberi arti kebahagiaan bagi mereka berdua.
__ADS_1
Segera Ronal dilarikan ke rumah sakit sesegera mungkin oleh pihak yang berada di lokasi kejadian.
Korban penembakan tersebut harus mendapatkan perawatan dan penanganan khusus oleh dokter profesional. Kata pemimpin anggota militer tegas.
Sementara Dorothy ikut pergi menemani suaminya tak peduli takdir apa yang akan ia dapati, ia berharap suaminya baik-baik saja.
Berbeda dengan Osborn ia mendapati luka di bagian wajah kembali ketika dua orang yang mengamankan dirinya lengah, memberi celah bagi Sese untuk menghajarnya kembali.
Kali ini pukulannya begitu keras sampai-sampai Osborn tak sadarkan diri.
•••
Prang!
"Ah ... ada apa ini, jangan-jangan pertanda buruk...?" Respon Lucy begitu panik langsung mengartikan hal ini sebagai pertanda buruk. ekspresinya pun berubah masam.
Bahkan dirinya gusar serta gelisah, tak ingin hal buruk menimpa orang penting baginya. Entah mengapa pikirannya tertuju kepada Ronal begitu saja, seolah peramal yang mengetahui masa depan.
Akhirnya Lucy memutuskan untuk menghubungi Ronal, meskipun ia mengetahui ponsel kakaknya itu tak di pegang olehnya.
Dalam sambungan seluler.
__ADS_1
"Apa kamu bisa serahkan panggilan ini kepada tuan mu, aku tahu kamu anak buahnya!"
"Ta-tapi ... nona, tuan...."
"Kenapa, apa dia sedang sibuk sekarang? Kalau begitu aku hanya ingin tahu saja bagaimana kabar soal penangkapan itu?"
"Em ... Jadi sebenarnya tuan mengikuti misi penangkapan mafia bersama para anggota militer dan polisi nona! Lalu tuan ... terkena luka tembak!"
Mendengar penuturan itu membuat Lucy tersentak. Ternyata perasaan tak enak dari jatuhnya bingkai foto memperlihatkan dirinya dengan Ronal adalah pertanda buruk.
"Lalu bagaimana dengannya sekarang, aku akan kesana segera!?"
"Baik, saya akan menginformasikan rumah sakit tempat tuan dilarikan."
Tring.
Pesan masuk pada aplikasi chat berisi lokasi rumah sakit segera Lucy buka. Segeralah ia beranjak dari tempat tidur dan mengenakan baju tebal guna menetralisir dinginnya malam.
Ia lalu dengan sigap langsung berkendara menembus jalanan di malam hari dengan kecepatan rata-rata.
Dalam perjalanannya menuju rumah sakit Lucy hanya bisa berdoa dan berharap demi kebaikan kakaknya.
__ADS_1
Hingga dirinya mulai mengeluarkan air mata ketika membayangkan kemungkinan terburuk.