Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Keretakan Hubungan


__ADS_3

Seketika Dorothy dibuat terperangah hingga menjatuhkan wadah dari jazz yang dibelinya secara spontan, melihat seorang pria yang selama ini memaksanya untuk menjalin hubungan terlarang.


Pria paruh baya nampak muda itu mengambil jazz yang jatuh tadi kemudian sekilas melihat isinya.


Sret.


Dorothy langsung mengambil kasar wadah berisi jazz tersebut dari tangan pria itu dengan ekspresi kesal.


"Oh, sebuah jazz, untuk siapa, apa hadiah untukku?" tanya pria itu begitu percaya dirinya.


"Aku sedang sibuk, jadi tidak bisa mengobrol denganmu!" jawab Lucy dengan nada merendah, namun dirinya begitu kesal saat melenggang pergi.


Pria paruh baya itu tidak mengikuti kepergian Dorothy hanya menatapnya saja hingga benar-benar tak terlihat oleh mata.


"Ah... aku sudah terlanjur mencintainya, hanya saja dia masih milik seseorang yang aku kenal," gumamnya lalu pergi meninggalkan area produk.


Tak lama Dorothy menuju ke arah kasir untuk mengecek maupun membayar tagihan belanjaan yang nampaknya begitu banyak di troli.


Usai melakukan pembayaran tiba-tiba saja pria itu kembali menemui Dorothy, dia sebelumnya mengamati Dorothy dari kejauhan.


"Biar ku bantu."


"Tidak usah, aku bisa bawa sendiri!" tolak Dorothy sembari mengangkat barang bawaannya, namun pria itu tetap memaksa.


"Biarkan aku bantu, jika tidak kamu tahu akibatnya bukan!" sebuah ancaman serius terlontar dari mulut pria itu, yang mana membuat Dorothy menciut. Ia pun mengangguk pelan dan berucap.


"Kalau begitu anda bawa saja semuanya!"


"Tidak masalah."


Dan saat ini Ronal tengah menuju ke kediaman ibunya, ketika nomor tidak dikenal memberitahukan kepadanya jika ibunya muntah-muntah dari pagi.


Ronal pun bergegas melajukan mobilnya dengan perasaan khawatir.


Melewati jalur tercepat agar segera sampai ia pun melewati sebuah mall.


Tak disangka saat Ronal melihat mall tersebut yang nampak ramai dirinya melihat Dorothy tengah berjalan dengan seorang pria, terlihat pria itu memakai kacamata hitam dan sedang membawa barang belanjaan.


Serta Ronal melihat istrinya sekilas mengkhawatirkan pria itu.


Tak mengabaikan apa yang dilihat barusan Ronal tetap melajukan mobilnya, hanya saja hatinya kini terasa sakit seperti teriris.


"Tch.. ternyata begitu, selama ini dia bermain dibelakang ku," ucap Ronal berdecak dengan gigi menggertak.


Tak lama ia pun sampai di kediaman ibunya. Langsung saja Ronal memarkirkan mobilnya, lalu keluar dengan terburu-buru dan menuju pintu utama.

__ADS_1


Kret..


Tidak mengetuk lantaran pintu tidak dikunci ia pun langsung masuk kedalam. Di ruang Keluarga Ronal mendapati ibunya yang sedang muntah-muntah pada plastik hitam.


Sementara seorang gadis berseragam sekolah menepuk punggung ibunya.


Seketika mata Marie terbelalak melihat Ronal tengah berada dihadapannya.


"Ronal...? Kenapa kamu bisa tahu ibu..."


"Tidak penting memikirkan hal itu Bu, mendingan kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Ronal.


"Ti-tidak usah nak, ibu baik-baik saja! Hanya efek demam semalam yang ibu rasakan!" jelas Marie ragu, membuat Ronal mengerutkan dahi.


"Baiklah, tidak apa-apa jika ibu tidak mau ke rumah sakit. Kebetulan aku membawa obat yang dibeli di apotek!"


Tak lama usai membantu ibunya meminum obat cair Ronal kemudian menarik lengan gadis itu ke arah dapur, sedang Marie tidak mengetahuinya.


"Apa sih bawa aku kesini lenganku segala!" ucap gadis itu ketus menatap Ronal dengan pandangan mata tajam.


"Apa kamu tahu semalam ibumu kemana?" tanya Ronal tatapannya begitu serius tidak menangapi perkataan gadis itu barusan.


"Aku tidak tahu. Semalam aku menginap di rumah teman setelah ibu bercerita tentang masa lalunya, tapi... sebelum aku pergi ibu sempat mengenakan pakaian malamnya!" terang gadis itu dengan mengecilkan suaranya, dia ternyata bernama Sisi Angraeni. Ronal melihat tanda namanya di seragam gadis itu.


"Baiklah, aku akan pergi se..."


"Huh? Pria..."


"Yang saat itu aku datang pertama kali kemari, dan mengobrol denganku, saat itu kamu sedang melihat kami berdua dari lantai atas!"


"Oh dia, dia tidak kemari, kalau begitu aku..."


"Sebentar."


"Lepaskan! Jangan sentuh aku lagi, jangan seenaknya mentang-mentang kamu kakak tiri ku jadi seenaknya berbuat. Aku tidak mau lagi berbicara denganmu, aku benci!!" ucap Sisi menekankan dengan menunjukkan ekspresi kekesalannya kepada Ronal entah mengapa.


Dia kemudian pergi meninggalkan Ronal yang tengah kebingungan menanggapi perkataan Sisi barusan.


"Kenapa dia begitu membenciku, huh... mungkin gadis bernama Sisi itu tidak menyukai kenyataan yang sebenarnya. Dia tidak mengharapkan diriku," gumam Ronal asal berkesimpulan lalu beranjak pergi.


Sementara itu, di kamar Sisi menangis sembari menutupi tangisannya itu dengan bantal. Setelah dirinya mendengarkan ucapan Ronal barusan.


Ia pun meringkuk sembari bergumam.


"Kamu salah Ronal, aku bukannya tidak mengharapkan kehadiranmu... aku hanya masih kesal dulu aku pernah tergila-gila denganmu sampai aku menyatakan perasaanku dengan sungguh-sungguh, lalu kamu menolaknya hiks...!"

__ADS_1


Ronal kemudian kembali menuju ruangan tadi namun ibunya sudah tidak ada disana, ia pun langsung melangkahkan kaki menuju sebuah kamar.


Dan benar saja ibunya sedang berbaring dengan mata terpejam.


Tak lama seorang dokter pribadi datang kemudian Ronal mengantarkannya menuju kamar ibunya, seketika ibunya terkejut saat melihat dokter itu. Karena kebetulan sudah bangun dari tempat tidur.


Beberapa saat diperiksa akhirnya dokter itu mulai menjelaskan diagnosis, Sisi juga ada disana semenjak kedatangan dokter itu.


"Ehem.. ibu harus menjaga kesehatan beberapa hari ini, jangan terlalu tidur kemalaman serta kurangi konsumsi minuman beralkohol, maaf untuk itu. Dan pesan saya.. ibu harus menjaga diri lebih baik dari ini!" ucap dokter itu perkataan sepertinya terpaksa diucapkan dan tidak selaras dengan raut wajahnya.


Dari samping Ronal membacanya ia menyimpulkan jika ibunya memang masih melakukan hal buruk.


Dokter itu lalu pergi sembari memberikan obat dan sebuah resep.


Ronal kemudian meninggalkan ibunya dengan sengaja saat melihat ekspresi lelah wajahnya. Sisi pun mengikuti.


"Oh ya Sisi, bisakah kamu beri aku alamat rumah pria itu? Yaa jika kamu memilikinya."


"Oke. Tapi kamu harus pergi sekarang juga!"


"Baiklah."


Kepulangan Ronal tidak diketahui oleh ibunya namun ia sempat meninggalkan uang kepada Sisi.


Kini Sisi mengintip kepergian Ronal dengan sendu.


•••


Sementara Dorothy tengah disibukkan dengan berbagai aktivitasnya yang begitu padat. Dibantu oleh pria itu yang memaksa untuk ikut.


"Hei, sepertinya suamimu menyukai hewan reptil. Apa dia begitu terobsesi sampai memelihara hewan-hewan kotor itu!" ucap pria itu ditengah kesibukan Dorothy.


"Apa maksud tuan, suami saya memang suka hewan reptil!"


"Begitu, sebenarnya saya sebaliknya. Membenci hewan sejenis reptil."


Dorothy tidak menjawab, dia sibuk dengan hal lain yang harus dikerjakan.


Hingga ia menyelesaikan semua pekerjaan itu sebagai penyambutan dan pesta kecil-kecilan ulang tahun suaminya.


Tak lama Ronal pulang, ia bingung saat memasuki rumahnya yang tidak dikunci bahkan lampu dimatikan. Saat ia berjalan menuju ke saklar...


Tep.


Lampu pun menyala terlihat Dorothy dan para pembantu yang menyambut kedatangan Ronal dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu panjang umur dan..." perkataan Dorothy terhenti ketika dirinya memegang sebuah kue ulang tahun dihadapan suaminya lalu Ronal menatapnya dengan raut datar. Tidak menunjukkan ekspresi takjub, senang, bingung, dan bahagia.


"Aku lelah.. aku mau mandi lalu tidur!"


__ADS_2