
Ronal mempercepat langkahnya lalu mencegah Lucy untuk keluar dari ruangan tertutup ini.
"Kamu harus pergi sekarang! Aku tidak ingin dirimu ketahuan oleh Dorothy."
Tatapan mata Ronal ketika Lucy tatap begitu serius saat mengatakannya membuatnya langsung memasang wajah cemberut.
"Iya, iya aku pergi. Padahal tempat tinggal aku jauh dari sini..." Lucy menundukkan kepalanya di akhir ucapan. Sampai Ronal merasa tidak tega padanya, tapi di sisi lain dirinya mengomel dalam hati bahwasanya Lucy tengah berbohong.
Dan bisa saja dia tinggal di daerah sekitar sini hanya demi meneror rumah tangganya selama ini.
"Memangnya dimana tempat tinggal kamu?" akhirnya Ronal memilih untuk memastikan terlebih dahulu, dia tidak ingin salah dalam bertindak.
"Di komplek A, terus jalan lewat sana minim penerangan, jadi... aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika aku pergi sekarang!" Ronal melihat dengan seksama wajah Lucy mencari kebohongan dari perkataannya barusan, namun wajah Lucy yang nampak memelas dan penuh harap membuatnya akhirnya percaya.
"Oke. Kamu tinggal disini sementara, tapi jangan di kamar itu lagi. Kamar atas saja, disana ada kamar kosong belum ditempati!"
"Iya, makasih sayang..."
"Stss... jangan berisik dan membuat gaduh. Lalu jangan panggil aku sayang, panggil aku dengan sebutan yang seharusnya!"
"Nggak mau.. lagian kita dulu pernah jadi kekasihnya kan, kamu dulu juga panggil aku..."
"Ini, aku mau kamu meminumnya, aku tak mau terjadi hal yang tidak diinginkan gara-gara malam itu!" perkataan Lucy sebelumnya terpotong saat Ronal merogoh sakunya dan dengan cepat menyodorkan kepada Lucy pil kb.
"Huh? Ini kan..."
"Bagus kalau kamu sudah tahu, minumlah setelah ini, aku pergi dulu."
Ronal langsung melenggang pergi setelah Lucy menerima pil tersebut.
Meninggalkan Lucy yang tengah mematung serta memasang raut tidak senang.
Di kamarnya rupanya Dorothy sudah tertidur pulas membuat Ronal kesal dalam hati mengingat obrolannya tadi lumayan lama.
Ronal yang sudah tidak bisa mengontrol diri lalu membangunkan Dorothy pelan hingga dia terbangun.
"Em... sayang... besok lagi ya, aku ngantuk berat..." ucap Dorothy melawan rasa kantuk sembari menolak ajakan suaminya.
"Argh! Selalu saja begini."
Pada akhirnya Ronal mengalah dan tak ingin memaksa iapun merebahkan tubuhnya kemudian memeluk istrinya dari belakang dan memejamkan mata.
•••
Sementara di sebuah bar seorang pria paruh baya nampak kesal lantaran orang yang di tunggunya memutuskan untuk tidak pergi malam ini.
Pesan chat beberapa menit lalu membuatnya muak dengan alasannya.
__ADS_1
"Dia berani menolak dan mengabaikan diriku, tsk.."
"Udah sayang, jangan pikirkan dia, temani aku saja ya malam ini..."
"Ya, lagipula aku belum beraksi agar dia mau menjadi istriku kelak."
Meskipun umurnya sudah memasuki 42 tahun namun kharisma dan wajahnya masih nampak muda seakan menua hanya sekedar nama.
Perempuan yang bersamanya itupun langsung meraba bagian sensitif pria itu lalu mereka berciuman.
Sementara Ronal tidak bisa tidur sama sekali, matanya sulit untuk dibuat terlelap seperti istrinya.
N*fsunya seakan mengontrol dirinya untuk segera melakukan keinginannya saat ini.
Sekali lagi Ronal menahan dirinya sembari mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi dengan istrinya.
Hingga mengambil tangan istrinya lalu menaruhnya pada tombak yang telah dipersiapkan.
Beberapa saat berlalu, sesuatu berbau sudah keluar dari sana, namun Ronal merasa belum puas.
Membuatnya kini menjadi geram dan menginginkan hal itu sekarang.
Saat tangannya akan meraih dua buah gunung dirinya teringat bawa besok hari dimana keluarganya akan kembali ke kota.
Waktunya pun agak pagi sekitar jam delapan, karena tak ingin membuat istrinya lelah apalagi jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.00 membuatnya mau tak mau harus memasang mode serius untuk melawan anak didiknya.
Kret...
Dengan beraninya Lucy merebahkan tubuhnya disebelah kiri Ronal yang tengah memeluk istrinya. Sampai memeluk Ronal secara perlahan.
Karena kasur tempat tidur ini berukuran besar maka tiga orang pun muat di atasnya.
Merasakan nafas dibelakang tubuhnya serta sentuhan hangat Ronal yang kini terpaksa rileks hingga dirinya mulai mengantuk sadar jika ada seseorang dibelakangnya.
"Lucy.. apa yang kamu..."
"Stss... kamu nggak mau kan istrimu bangun gara-gara suara berisik!" potong Lucy sembari memperingati Ronal dengan suara kecil.
"Aku cuma mau tidur disini sebentar, nanti juga kembali."
"Tsk, alasan-apaan kamu itu!"
Grep.
Ronal mencengkeram kuat tangan Lucy yang sebelumnya mulai sembarangan digunakan, dengan menyentuh tangan Ronal.
"Pergi sekarang, aku tidak ingin..."
__ADS_1
Lucy menaruh satu jarinya pada mulut Ronal guna menghentikan perkataan Ronal lalu menyentuh bagian sensitifnya.
"Kamu lagi ini kan, tapi tidak terlaksana dan belum puas setelah melakukannya dengan cara lain?"
Ronal yang mendengarnya merasa jika Lucy dapat mengetahui pikirannya yang saat ini memang sesuai seperti penuturan barusan.
"Bagaimana jika kamu melakukannya denganku? Aku nggak akan berisik kok..."
Mata Ronal terbuka lebar dalam gelap lalu perlahan beranjak dari tempat tidur kemudian mengangkat Lucy dari sana. Meninggalkan istrinya yang tengah terlelap.
Namun siapa sangka kini Dorothy menggertak kan giginya seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.
Saat keduanya sudah berada di dalam kamar yang berbeda.
Ronal yang sudah benar-benar kehilangan kontrol diri setelah Lucy menautkan bibir padanya saat berdebat beberapa saat didalam kamar kedap suara ini.
Tak lama Ronal mulai menggila hingga merobek dress mini yang dipakai oleh Lucy.
Malam ini pun berlangsung panjang.
•••
Pukul 04.00 Ronal terbangun dari tidurnya, padahal sebelumnya dirinya belum lama tertidur, yaitu tertidur di jam tiga malam. Hanya terpaut satu jam saja.
Dirinya baru sadar jika telah melakukan perbuatannya yang terlarang saat dirinya tak bisa mengontrol n*fsunya pada saat itu.
Ronal mengedarkan pandangan ia lalu menemukan botol kecil yang mana botol tersebut tertulis, obat p*r*ngs*ang.
"Sial," orang berdecak kesal sembari melihat Lucy yang tengah tertidur pulas, setengah badannya nampak tertutupi oleh selimut.
"Dia... Kali aku tidak akan memaafkannya lagi, ini untuk yang ke terakhir kalinya. Kurasa aku harus meninggalkannya sekali, dia yang meminta aku melakukannya!" gumam Ronal.
Jam enam sepasang suami istri tengah makan dengan senangnya sembari mengobrol kenangan indah selama di desa.
Sementara itu.
"Aku dimana? Kenapa kedua tangan dan kakiku.. diikat?"
Tanpa sepengetahuannya dirinya kini sedang dalam perjalanan entah kemana. Dan Lucy sekarang ini berada didalam bagasi mobil.
"Emhmm..." mulutnya tertutupi oleh lakban membuatnya kesulitan untuk berbicara maupun meminta pertolongan.
Duk.
Duk.
Duk.
__ADS_1
"Hei... wanita itu sepertinya sudah sadar!"
"Biarkan saja, bos bilang jangan hiraukan, tugas kita hanya membawanya ke tempat itu."