Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Kekhawatiran


__ADS_3

"Apa salahnya? Lagian kita ini dulu pernah memiliki hubungan yang dekat," sambung Lucy disela-sela keterkejutan kakaknya.


Untuk perkataan adiknya barusan Ronal tak bisa mengelak, hubungan yang dikatakan oleh Lucy tersebut memang benar adanya.


Mereka pernah saling mencintai melalui pertemuan yang tak disengaja maupun tak terduga. Namun hubungan itu nyatanya tidak berlangsung lama.


Karena takdir mereka sempat berpisah untuk waktu yang lama di masa lalu, dan karena takdir pula mereka dipertemukan kembali.


Namun dalam keadaan berbeda tak seperti dulu lagi.


Ronal memiliki seorang istri yang sangat ia cintai dan menjadi orang sukses, sedangkan Lucy masih melanjutkan sekolahnya dan menjadi pribadi yang mandiri.


Dia mampu membiayai semua pengeluaran dari kebutuhannya dan juga memiliki rumah sendiri. Sungguh pencapaian luar biasa yang diraih oleh keduanya selama beberapa tahun terakhir.


"Aku sedang malas membahas hal itu. Lebih baik.. kamu memikirkan masa depanmu sendiri."


Ucapan Ronal barusan benar-benar menggambarkan dirinya saat ini, terdengar seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya.


Hal itu membuat Lucy mengerti akan keadaan.


Ia tak ingin orang yang dicintainya terusik dan menjadi tak suka dengan dirinya. Lebih baik menahan diri sampai mood kakaknya kembali membaik.


Mobil yang Ronal kendarai terus melaju hingga berhenti tak jauh dari gerbang Sekolah. Sebuah sekolah yang dikhususkan untuk siswa siswi berbakat seperti Lucy.


"Aku tidak mau turun...!" ujar Lucy dengan raut wajah agak lesu.


"Kenapa, apa kamu sakit?" tanya Ronal sekenanya.


"Hmmm," seraya menundukkan wajahnya dengan telapak tangan memegang dahi.


Ekspresi Lucy yang terlihat asli di mata Ronal membuatnya tak mencurigai jika Lucy sedang berpura-pura.


Akhirnya Ronal percaya bahwa adiknya itu sedang sakit dan memaksakan diri untuk bersekolah.


Dengan sigap Ronal mencari sesuatu di dalam mobilnya, tak lama ia mendapati sebuah kotak.


Lalu diambil lah dari dalam kotak tersebut sebuah tablet berisi pil obat.


"Apa kamu merasakan pusing untuk saat ini Lucy?"


"Iyaa."


"Baiklah, kamu minum obat pereda sakit kepala ini dulu! Kita akan bergegas menuju ke rumah sakit."


Mata Lucy membola mendengar ucapan kakaknya barusan yang mengatakan tujuan selanjutnya adalah rumah sakit.


Yang padahal jelas bahwa ia tidak sakit sama sekali.

__ADS_1


Kepura-puraan Lucy sekarang ini dikarenakan dirinya merasa jika Ronal mengalami hari yang buruk. Bisa pula ada kejadian tak mengenakan yang dialami olehnya.


Maka dengan rencana berpura-pura sakit Lucy berharap dapat menemani Kakaknya, sampai penyebab dari wajah itu terpampang ia ketahui.


"Ti-dak usah! Aku tidak harus ke rumah sakit. Bentar lagi juga sembuh kok!"


"Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai ke ruang UKS."


"Aku sedang sakit... meskipun aku mengatakannya begitu, belum tentu aku akan nyaman mengikuti pelajaran hari ini..."


"Baiklah, baiklah kamu aku biarkan ijin hari ini. Tapi... apa kamu punya kenalan yang datang di pagi hari agar aku dapat menyampaikan dirimu yang ijin karena sakit? tanya Ronal antusias.


"Aku sudah memberitahukan kepadanya sebelumnya," jawab Lucy cepat.


"Ya sudah, kamu beristirahatlah dulu, aku memiliki urusan penting hari ini. Bila perlu aku akan mengantarmu pulang!"


"Aku mau ikut sama aku kamu aja, lagian kalau dirumah aku bakal sendirian..."


"Ya."


Ronal kembali melajukan mobilnya bersamaan dengan itu Lucy tersenyum simpul lantaran dirinya berhasil menipu kakaknya.


Beberapa menit berlalu, pemberhentian mereka tertuju pada sebuah rumah bergaya lama.


Ronal kemudian turun dari mobil, ia lalu berjalan sendirian menuju halaman rumah yang nampak nostalgia tersebut.


Pria dengan tinggi badan hampir sama dengan Ronal berkulit hitam, kini tersenyum simpul saat berjabat tangan.


Dia adalah seorang yang memegang otoritas tertinggi terhadap kepolisian di kota ini. Bernama James, Ronal kenali sebagai teman lamanya di masa lalu.


Sebenarnya ia baru tahu jika teman lamanya itu memiliki pangkat dan jabatan tinggi.


Dan kebetulan saat ia mencari seseorang yang dapat membantunya melalui web, ia secara tak sengaja mendapati kabar bahwa James baru baru ini mendapatkan pencapaian tinggi pada pekerjaannya.


Tak lama berbincang, Ronal kemudian masuk kedalam kediaman pria itu setelah dipersilahkan dengan sangat ramah oleh James, Ronal kemudian duduk di ruangan khusus. Langsung saja ia menjelaskan kedatangannya kemari.


Walaupun terburu-buru, tapi James menanggapi dengan senang hati setiap penjelasan dari kawan lamanya itu.


Usai mendengar seluruh kronologis dari permasalahan yang dihadapi oleh temannya James langsung saja sigap untuk membantu.


"Dengan senang hati kawan!!" ucapnya dengan antusias sembari melakukan jabat tangan rahasia dengan Ronal.


"Hahaha."


"Hahahaha."


Mereka berdua lalu tertawa di ruangan itu dengan puasnya.

__ADS_1


Kepulangan Ronal pun menjadi momen yang berat bagi James lantaran pertemuan mereka dirasa sangat singkat, setelah lama tak pernah bertemu dan saling mengabari satu sama lain.


James mengantar kawan lamanya itu sampai memasuki mobil dan melambaikan tangannya hingga mobil kawannya itu tak terlihat lagi.


Di mobil, Lucy penasaran dengan tujuan Ronal barusan yang menemui seseorang yang menurutnya memiliki jabatan tinggi itu.


Sedikit Lucy ketahui tentang pria itu jika dia terlibat dalam kegiatan kepolisian, dan memegang peranan penting disana.


"Sayang, kamu sepertinya senggang kan, hari ini? Urusan penting tadi pasti bertemu dengan pria itu?!"


"Kamu ini, sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku begitu. Lagian hari ini aku masih memiliki banyak urusan!"


"Oh..."


"Huh... apa kamu sudah mendingan sekarang?"


"Belum."


•••


Di waktu sebelumnya, saat Dorothy terbangun ia langsung mencari keberadaan suaminya. Menyebut nama suaminya beberapa kali sehingga dokter pribadi maupun suster mencoba untuk menenangkan Dorothy.


Lama bagi mereka agar Dorothy kembali tenang.


Pada akhirnya ada momen bagi Dorothy untuk mengistirahatkan diri. Selagi dokter pribadi itu membahas sesuatu dengan para suster di luar kamar.


Para polisi dan penyidik juga masih mendalami kasus yang menimpa pekerja di kediaman Rasford.


Jendela kamar tempat Dorothy beristirahat setelah diberi obat penenang pun terbuka secara perlahan.


Tak lama seseorang memasuki kamar tersebut sembari mengendap-endap saat sudah berada didalam, dan perlahan mendekati Dorothy yang tengah tertidur.


Untuk berjaga-jaga seseorang itu membekap mulut targetnya dengan gerakan mendadak dan langsung membopong tubuh wanita cantik itu menuju jendela.


Di sana rupanya ada komplotan dari seseorang tadi, mereka dengan sigap bergantian membawa Dorothy dengan hati-hati. Keluar melalui jendela.


Saat ini Dorothy tak sadar jika dirinya sedang di culik.


Beberapa menit berlalu, hingga dokter pribadi dan para suster serta pembantu kediaman Rasford mulai panik. Dikala pasien maupun nyonya muda yang harus dijaga hilang di kamarnya.


Jejak pun merujuk pada gorden jendela yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


Langsung saja salah satu dari pembantu kediaman Rasford menghubungi tuan mudanya.


"Apa!? Nyonya muda hilang?"


"Iya tuan..."

__ADS_1


"Tsk!!!"


__ADS_2