Please, Jangan Mencintaiku

Please, Jangan Mencintaiku
Terpedaya


__ADS_3

Merasa tersinggung terhadap ucapan Lucy barusan membuat Gerald gugup saat hendak memasukkan sendok berisi nasi dan lauk pada mulutnya.


Kini tatapan Lucy mengisyaratkan agar Gerald memberikan jawaban yang sesuai.


"Haa baiklah, ayah mengakui kesalahan ayah di masa lalu terhadap dirimu maupun Ronal. Kamu bebas membenci ayah sekarang ini."


"Ya, tidak ada salahnya aku membenci ayah. Pertemuan ini pun sebenarnya mengejutkan diriku," sambung Lucy disela-sela mengunyah makanannya.


"Lalu bagaimana dengan Ronal sekarang?" Gerald bertanya kembali.


"Dia baik-baik saja dan sudah menjadi orang sukses. Oh ya, bisakah ayah diam dulu, aku sedang lapar sekarang!" ungkap Lucy


dengan nada menekan di akhir kalimatnya.


Gerald yang mendengar pengakuan dari Lucy pun langsung diam membisu sembari melanjutkan makan siang mereka.


Beberapa menit mereka berdua dalam keadaan diam hanya suara para pengunjung yang bercampur dentingan alat makan yang terdengar. Lalu setelah usai Gerald mengajak Lucy untuk mampir ke kediamannya.


Namun Lucy menolak mentah-mentah ajakan ayahnya itu dengan alasan memiliki urusan penting dengan seseorang.


Merasa akan sulit meskipun sudah merayu anaknya beberapa kali akhirnya Gerald mengalah, sebelum pergi ia sempat memberi nomor teleponnya kepada Lucy agar dia sempat menelpon nanti.


"Lucy.. ayah harap kamu dapat membantu ayah di kemudian hari," seloroh Gerald spontan yang dengan senyum simpul membuat Lucy mengernyitkan dahi. Tidak paham dengan maksud ayahnya itu.


"Memangnya ada apa?" dengan raut penasaran Lucy bertanya.


"Suatu saat kamu pasti mengerti."


Di waktu yang sama Ronal tengah tertidur di pangkuan istrinya setelah puas menikmati waktu kebersamaan yang jarang ini.


Kebetulan beberapa hari yang lalu mendadak perusahaan tempatnya bekerja sedang dalam keadaan sibuk-sibuknya.


Hal itu membuat Ronal sibuk dan fokus pada pekerjaannya hingga mengurangi waktu kebersamaan dirinya di ranjang bersama sang istri.


Sebab, Ronal seringkali pulang malam ketika jam menunjukkan pergantian hari.


"Sayang.. kamu besok lembur lagi ya?" tanya Dorothy dikala Ronal terbangun dari tidurnya dan menatap istrinya lembut dengan senyuman merekah.


Lagi-lagi di waktu yang berbeda di hari yang berbeda Ronal jatuh cinta dengan seorang wanita cantik yang sudah menjadi istrinya itu.


"Begitulah, perusahaan sedang sibuk-sibuknya."


Jawab Ronal singkat mengingatkan kepada istrinya.

__ADS_1


Ada raut murung yang Ronal tangkap saat Dorothy tersenyum tipis, seperti halnya menunjukkan ketidak kerelaan.


Dan Minggu ini pun Lucy jarang menghubungi Ronal maupun membuat ulah, dia seakan menjauhi diri dari kehidupan rumah tangga orang lain.


•••


Malam itu. Ronal tengah tertidur pulas setelah kepulangannya yang dirasa sangat melelahkan. Hingga membuatnya tak bisa mengobrol sebentar dengan istrinya terlebih dahulu.


Tak lama kemudian Dorothy bangun dari ranjang dan duduk di tepi sembari meraih ponselnya yang tergeletak di nakas.


Membuka pola ponsel lalu menuju brangkas clone aplikasi, pesan yang terdapat pun begitu banyak didominasi percakapan antara keduanya. Dorothy dan pria itu.


Entah secara tak sadar atau mungkin memiliki suatu alasan Dorothy langsung saja menelpon pria itu.


Tak lama panggilan tersebut diangkat dengan jawaban awal khas orang bangun tidur.


"Ada apa? Ini sudah sangat malam menghubungi diriku hanya untuk membahas hal yang sudah kamu ketahui jawabannya."


"Aku hanya ingin kita bertemu..."


Nada lembut Dorothy membuat pria di seberang sana membuka matanya lebar-lebar dalam posisinya di ranjang, menatap langit-langit.


Tak percaya ia lalu memastikan "Apa saya tidak salah dengar, kamu berkata ingin kita bertemu sekarang?"


"Hmmm, aku sedang berada di puncaknya."


Sebelumnya, ia memang selalu mengajak Dorothy keluar sekedar untuk bertemu dan berbincang-bincang sambil makan siang maupun makan malam.


Tidak ada aktivitas melampaui batas yang ia lakukan terhadap istri orang lain selama beberapa hari terakhir.


Layaknya menempati janji, Gerald hanya menjadi pendengar baik selama ini. Tak lupa memberikan saran dirasa selaras dengan keluh kesah Dorothy atas suaminya yang seringkali pulang malam.


Di sela-sela itu ia sempat melakukan hal yang tidak diketahui oleh Dorothy seperti menaruh obat pada minuman dan makanan di setiap pertemuan.


"Baiklah, aku akan segera kesana. Tapi, apa suamimu dalam keadaan terlelap?"


"Iyaa, kebetulan sekali."


"Oke."


Tak lama Dorothy beranjak dari tempat tidurnya menuju ke arah pintu lalu melanjutkannya lagi ke arah dapur.


Memasuki kamar mandi ia lalu mencuci muka.

__ADS_1


"Eh, aku tadi menghubungi siapa??"


Ternyata dirinya dalam keadaan tak sadar saat menghubungi pria itu untuk datang kemari.


Ia lalu mengecek riwayat panggilan setelah kembali ke kamarnya. Alangkah terkejutnya Dorothy saat melihat riwayat panggilan menandakan dirinyalah yang menelpon pria itu.


Dengan cepat ia menekan tombol hijau untuk menghubungi kembali orang yang ia hubungi sebelumnya. Sadar akan perbuatannya yang melampaui batas meminta pria itu untuk kemari ia pun berharap agar perbuatannya tidak membuat pria itu menyanggupi.


Tak ada jawaban beberapa kali memanggil hanya terdengar suara operator yang mengabarkan nomor yang di tuju sedang tidak aktif.


Hal ini membuat Dorothy risau di tempat, ia mondar mandir sejak tadi sembari menunggu jawaban dari pria itu.


"Kenapa sih aku harus melakukan hal nekat seperti itu, apalagi aku secara tak sadar menghubunginya... Ada apa denganku sebenarnya?" gumam Dorothy dengan nada seperti orang berbisik. Ia menggerutu kesal terhadap dirinya sendiri.


Drtt...


Suara dering ponsel berbunyi secara mendadak hingga Dorothy terkejut dan dengan sigap menutupi sumber suara.


Panggilan dari pria itu, ia kemudian mengangkatnya. Tak lupa Dorothy berlari kecil menuju tempat jauh dari kamarnya.


"Maaf tuan, saya sebelumnya melantur. Saya harap tuan mengerti jika saya tidak benar-benar menyuruh tuan untuk kemari... Maafkan saya.."


"Saya maafkan, lain kali kamu harus teliti!"


"Baik tuan, terimakasih."


Perasaan lega menyelimuti tubuh Dorothy dibarengi dengan senyuman mengembang.


Namun perasaan lega itu lenyap seketika, ketika dirinya kebetulan melihat ke arah luar jendela, pintu gerbang depan terbuka.


Matanya membulat lantaran pria itu tengah berada di halaman rumahnya sekarang ini, dan dengan langkah dipercepat menuju pintu utama.


Kret..


"Tu-tuan.. ke-kenapa kemari!?" ucap Dorothy terbata raut wajahnya gelisah setelah membuka pintu dan mendapati pria itu.


"Sebenarnya saya tidak bisa kembali karena istri saya sudah termakan oleh kebohongan saya, yang malam-malam begini mendadak ada tugas penting berhubungan dengan pekerjaan!"


Dorothy terdiam, ia baru mengetahui jika pria itu mempunyai keluarganya sendiri. Dirinya merasa seperti pelakor yang mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain selama ini.


"Tuan bisa mencari tempat lain, tapi saya mohon jangan disini..." pinta Dorothy lembut dengan raut memohon.


Sayangnya tubuh dan ucapannya saling berlawanan hingga Dorothy terpedaya ucapan menggoda pria itu dan mulai membuat dirinya terbuai.

__ADS_1


Menarik lengan pria itu dengan ekspresi ter*ngsang kemudian membawanya ke sebuah kamar.


Tidak sabar dengan gejolak tubuhnya yang memanas seakan memaksa harus segera di turuti Dorothy secara tak sadar melahap bibir pria itu dengan buas.


__ADS_2