
Dengan tubuh bagian belakang yang masih terasa nyeri dan berat dari samping lantaran seseorang memeluknya erat, Ronal terbangun dari tidurnya.
Memaksakan diri untuk bangkit setelah mimpi buruk itu kembali menyerangnya seolah-olah penglihatan dari masa depan yang ingin memberitahukan kepadanya.
Mimpi itu seperti memberitahu Ronal akan sesuatu hal yang akan terjadi, namun ia tidak terlalu memperdulikannya menganggap jika mimpi buruknya itu hanyalah efek dari kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya.
Langsung saja Ronal mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas lalu mencari kontak penting yang ingin dihubungi.
Nampak jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari kini Ronal sedang menghubungi istrinya, yang saat ini sedang terlelap dan ponselnya berada jauh darinya.
Selang beberapa saat mencoba untuk menghubungi istrinya yang tak kunjung di angkat, ia pun pada akhirnya menyerah.
Berpikir positif jika istrinya sedang terlelap dalam mimpi.
.....
Dari arah belakang hawa kehadiran seseorang dirasakan oleh Ronal belum sempat menoleh ia langsung saja mendapati tubuhnya yang dipeluk oleh dua tangan mulus nan lembut.
"Honey... kamu sedang apa...? Bukannya ini masih malam... kita tidur lagi yuk..."
"Kenapa kamu tidak membawaku pulang ke rumah, Lucy? Sebelumnya aku menyuruhmu untuk..." belum usai bicara salah satu tangan Lucy menyentuh bagian sensitif Ronal hingga membuatnya tersentak dan buru-buru lepas dari pelukan Lucy.
Sayangnya, pelukan itu terlalu sulit untuk dilepaskan seakan tenaga Lucy telah melampauinya.
Dengan suara lembut khas orang bangun tidur Lucy berucap.
"Semalam jalanan sedang macet, karena terjadi kecelakaan, dan juga kemacetan itu berlangsung lama untuk sampai menuju tempatmu. Jadi... mengingat rumahku dekat dari sini aku membawamu kemari saja, salahkan saja dirimu yang tidur pada saat aku mempertanyakan hal penting itu!"
Sejenak Ronal mengingat-ingat kembali flashback semalam. Dan benar saja, ia mengingat jika semalam merasakan rasa kantuk yang sangat berat hingga ia memutuskan untuk tidur dalam perjalanan.
Berharap jika Lucy akan tetap membawanya meskipun nantinya ia sudah terlelap, karena malam itu Ronal sempat memberitahukan alamat rumahnya kepada Lucy.
Namun kenyataannya, dirinya lagi-lagi di permainkan oleh Lucy. Dan berakhir tidur dengannya.
"Kalau begitu aku akan pulang sekarang, kali ini aku tidak akan mempermasalahkan kejadian ini."
"Arghh!" pelukan Lucy membuat luka pada tubuh bagian belakang Ronal terasa sakit.
"Kalau kamu pergi sekarang sebelum aku memasak sarapan, aku bakal memeluk kamu sampai kamu tidak bisa lari lagi dariku! Tapi kamu tenang saja, walaupun kamu begitu aku akan tetap setia mengurusmu dengan penuh kasih sayang seumur hidupku..." senyuman dan tatap bersungguh-sungguh terlihat dari wajah Lucy.
__ADS_1
Mendengarnya membuat Ronal tak habis pikir dengan jalan pikiran Lucy sekarang, yang menurutnya dia sudah terobsesi dan dibutakan oleh yang namanya cinta.
Menyesal dirinya dulu pernah menjalin hubungan spesial dengannya, bahkan bisa di sebut lebih baik dari pada siapapun, menurutnya.
Ronal hanya bisa pasrah untuk sekarang ini, ia tahu jika perkataan yang diucapkan Lucy barusan bukan sekedar omongan belaka saja.
"Baik, baik aku akan menurut. Jadi lepaskan pelukanmu sekarang, karena lukaku terasa sakit!" ujar Ronal dengan suara lirih.
Lucy yang sadar akan perbuatannya yang terlalu berlebihan hingga membuat Ronal merasakan rasa sakit pada lukanya, Membuatnya kini sangat cemas dan gelisah.
"Ah...! maaf, maaf!"
•••
Mereka berdua lalu kembali berbaring sembari mengobrol seperlunya. Lucy bilang dirinya akan mulai beraktivitas di jam 04.30 kedepan.
"Lucy, kamu bolos sekolah, kan saat berada di desa untuk meneror diriku dan istri ku?" tanya Ronal kepada Lucy yang terlihat asyik mengusal pada lengan samping Ronal dan tubuhnya.
Beberapa saat tidak ada jawaban hingga Lucy akhirnya membuka mulut.
"Iyaa, saat itu aku masih bersekolah! Memangnya kenapa?"
"Berarti kalau aku bolos dan meminta kamu untuk mengajari diriku belajar.. diperbolehkan dong?"
"Apa, itu juga salah! Kamu jangan memutar balikkan perkataan ku."
"Habisnya kamu itu bodoh," cibir Lucy.
"Huh?"
Setelahnya Lucy bangkit kemudian menyalakan lampu lalu membuka laci pada lemarinya, sesuatu terlihat diambilnya dan menunjukkannya kepada Ronal.
Beberapa lembar ujian yang sudah terkumpul begitu banyak. Mengejutkannya setelah Ronal amati semua nilai pada kertas ujian itu pada bagian sudut menunjukkan nilai seratus.
Sontak membuatnya terperangah dan mematung sesaat.
"Bagaimana? Nggak masalah, kan jika aku bolos sekolah selama seminggu lebih sampai sekarang ini?"
"Apa ini asli? Semua nilainya... kenapa bisa seratus?" tanya Ronal yang tidak menanggapi perkataan Lucy barusan. Sibuk dengan banyaknya lembar kertas ujian yang tengah di cek nya saat ini.
__ADS_1
"Humph. Yang pasti karena aku lebih pintar dari mu! Asal kamu tahu ya, nilai itu murni dari hasil belajarku!"
Meskipun kenyataan ini sulit untuk Ronal terima namun bukti bisa saja adalah suatu kebenaran yang hakiki, bahkan Lucy menunjukkan rapot dan piala yang pernah didapatkannya.
"Baiklah... aku percaya. Hanya saja tindakan bolos adalah hal yang tidak aku sukai, walaupun diriku ini hanya bersekolah selama beberapa tahun saja..."
Perkataan Ronal membuat Lucy merenung dan menyesali perbuatan buruknya yaitu bolos sekolah. Dirinya nampak menundukkan wajahnya.
"Iya, iya aku janji nggak akan bakal bolos sekolah lagi, kecuali dalam kondisi terdesak."
Selang beberapa saat, Ronal tengah mendengarkan semua cerita dari mulut Lucy yang selama ini dirinya berusaha keras agar bisa seperti sekarang ini.
Dari mulai menabung dengan menyisihkan uang saku Sekolah yang diberi oleh pihak panti asuhan dan bekerja serabutan hingga mampu membiayai kehidupannya sendiri.
Semua kerja keras dan jerih payah itu sudah dilalui oleh Lucy. Dan membuahkan hasil yang signifikan.
"Hiks... aku mohon jangan tinggalkan aku lagi... sudah cukup dua kali saja kamu meninggalkanku..."
Ronal tidak bisa berjanji dirinya hanya bisa menenangkan Lucy yang tengah hanyut dalam kesedihannya.
Cup.
"Tunggu? Ehm..."
Tak disangka Lucy berpura-pura ingin dilepaskan pelukannya, namun disaat Ronal lengah dirinya malah menautkan bibirnya pada Ronal secara mendadak dengan air mata yang masih mengalir.
Tidak lama mereka melakukan hal itu Ronal langsung saja menjauhkan Lucy darinya.
"Cukup! Kamu sudah keterlaluan Lucy! Kita Seharusnya tidak melakukan hal seperti itu sampai melampaui batas!" ucap Ronal penuh penekanan.
"Apa kamu lupa, siapa yang membuatku jadi seperti ini? Bukannya dulu kamu sangat menyayangi diriku... kamu bahkan berjanji akan menikahi..."
"Argh! Kejadian itu... sebenarnya hanya kesalahpahaman saja, karena waktu itu aku tidak menyadari jika dirimu adalah..."
"Pokoknya aku nggak mau tahu! Kamu harus bertanggung jawab, karena membuatku jadi seperti ini, di hatiku sampai saat ini hanya ada kamu. Dan janji itu harus ditepati, jika kamu tidak ingin mendapatkan karmanya...!" ucapan Lucy diakhir begitu serius dan dengan sorot mata tajam.
Entah sebuah takdir yang merangkai kejadian di masa lalu mereka atau sesuatu yang dinamakan dengan kelalaian dan sifat manusia lainnya.
Siapa sangka hal itu membuat mereka dipertemukan kembali setelah beberapa tahun berpisah karena suatu alasan.
__ADS_1
Terkadang masa depan itu tidak dapat dapat diprediksi.