
Pukul 05.30 Ronal tengah sarapan pagi lebih awal dari biasanya, dikarenakan dirinya memutuskan untuk pulang dan meminta ijin ke tempat kerja setelahnya.
Lucy yang mengerti akan keputusan Ronal tersebut bergegas untuk membuatkan sarapan pagi untuk dua porsi sebelumnya.
Kini mereka berdua tengah berada di meja makan, Ronal sibuk mengunyah setiap sendok nasi goreng yang menurutnya lumayan di lidah.
Yang padahal sangat enak sekali, berbeda dengan Lucy yang terus-terusan menatap Ronal saat makan.
"Beberapa bulan lagi kamu lulus?" tanya Ronal untuk menghentikan rasa malu dan canggung di saat Lucy menatapnya begitu intens tanpa rasa bersalah.
"Dua bulan lagi, masih lama kok. Kamu kenapa bertanya begitu, apa mau cepat-cepat mempersunting diriku ya!?"
"Uhuk! Uhuk! air..."
Perkataan Lucy barusan membuat Ronal tersedak dan langsung meminta diambilkan air, dan dengan segera Lucy menuangkan air pada gelas. Kemudian memberikannya kepada Ronal.
Gleg... gleg...
"Haa... akhirnya..."
Ronal menengguk air putih dalam gelas itu hingga tandas dan berhenti sejenak melakukan aktivitas makannya.
"Maaf, aku membuatmu tersedak..." ucap Lucy merasa bersalah karena hal tadi.
"Ya."
"Kamu beneran kan mengatakan itu karena mau..."
"Tidak akan pernah. Aku hanya ingin tahu saja, kemarin aku bertemu dengan ibu secara kebetulan!" terang Ronal tak ingin Lucy jadi salah paham dan melebar kemana-mana. Sembari memberitahu Lucy tentang kejadian kemarin.
"Ibu, memangnya kamu bertemu dengannya dimana?" tanya Lucy yang tak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali, nampak tenang dalam bertanya sembari melanjutkan aktivitasnya.
"Tak jauh dari perusahaan tempatku bekerja, dan saat aku mampir kesana ibu bertanya tentang keadaanmu! Hanya saja diriku merasa minim Informasi!"
"Kalau begitu kita tukeran nomor aplikasi chat yuk! Sini berikan ponsel kamu!" sahut Lucy nampak antusias meminta nomor salah satu aplikasi perpesanan kepada Ronal.
"Aku tidak punya nomor aplikasi chat!"
"Massa? Sini biar aku cek!"
Saat Lucy hendak beranjak dari tempat duduknya Ronal buru-buru menuliskan nomor ponselnya pada secarik kertas dari note catatan.
Srett.
Kemudian menyodorkannya kepada Lucy.
"Ini, hubungi diriku lewat nomor ini saja. Dan ingat jangan meneror rumah tanggaku lagi!" ucap Ronal menekan kata di akhir, Lucy hanya diam namun mengambil secarik kertas itu dengan senangnya.
"Oke."
__ADS_1
Senyuman yang ditunjukkan Lucy oleh barusan membuat Ronal malah semakin waspada untuk kedepannya.
Tak lama Lucy sudah memakai seragam sekolahnya yang berwarna serba hitam dengan garis putih dan dasi berwarna merah.
Serta rok di atas lutut dan dan jaket yang hendak dikenakannya.
"Mau kemana, antar aku ke sekolah dulu?" saat Ronal akan melenggang Lucy menahannya.
"Bukannya kamu akan berangkat terlalu pagi jika ikut denganku sekarang!?" Ronal berbalik bertanya sembari memberitahu, ada raut jengkel diwajahnya.
"Gapapa, kamu juga udah mendingan."
"Tch, apa hubungannya. Dan jika aku menolaknya pasti Lucy... akan mencari gara-gara lagi, aku bisa melihat hal buruk itu dari tatapan polosnya!"
Sebenarnya tatapan polos itu terlihat seperti perintah yang tak ingin diganggu gugat oleh alasan apapun.
•••
Semenjak bangun kemudian mandi dan bersih-bersih di mulai dari jam empat pagi, Dorothy terus-terusan memikirkan suaminya.
Dirinya tahu jika Ronal sebelumnya menelponnya berulang kali, sebenarnya ada keinginan untuk menelpon balik, tapi Dorothy urungkan niatnya. Karena masih ada suatu hal yang menahannya.
Usai bersih-bersih ia pun langsung memasak tanpa beristirahat sejenak sama sekali.
Hingga kepergian pria itu membuatnya kini menjadi lega dan tenang. Tak perlu lagi ada yang dikhawatirkan.
Kecuali suaminya yang tak pulang semalam ini.
"Aku harus memasakkan suamiku masakan yang paling enak untuk sarapan kali ini!" ucapnya antusias setelah menyeka setitik air mata di sudut alisnya
Drrtttt...
Tak lama terdengar suara ponsel yang berdering langsung saja Dorothy bergegas menuju arah sumber bunyi itu dengan terburu-buru.
Melihat nama "suami" yang tertera dalam panggilan itu seketika membuatnya bahagia.
"Hallo sayang, kamu sudah makan? Kamu dimana sekarang? Apa kamu baik-baik saja?"
"Sebenarnya aku mengalami kejadian yang membuatku dilarikan ke rumah sakit kemari!"
"Ka-kalau begitu aku akan kesana sekarang! Rumah sakit mana mas?"
"Aku tidak apa-apa sayang, kini aku sedang dalam perjalanan pulang. Hanya luka kecil pada punggung yang disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul, yang dilakukan oleh salah satu anggota geng saat aku hendak menyelamatkan seseorang! Maaf aku tidak mengabari mu semalam, karena kondisiku!"
"Hiks..."
"Sayang kamu tidak apa-apa, kamu menangis?"
"Aku tidak becus jadi seorang istri sampai lalai akan hal yang dialami oleh suaminya hiks... aku tidak pantas disebut istri yang baik..."
__ADS_1
"Tidak, itu tidak benar. Kamu adalah istri terbaik yang kumiliki, walaupun pasca kejadian yang aku alami luput olehmu, bagiku itu murni kesalahan manusia! Jadi kamu jangan sedih lagi ya, bukannya sudah ku bilang aku tidak apa-apa. Dan hari ini aku berniat mengajakmu pergi jalan-jalan, karena aku sudah ijin cuti!"
"Aku bersyukur memiliki suami sepertimu mas, serta bersyukur untuk keselamatan dirimu atas kejadian itu. Umh.. kalau begitu aku tutup dulu ya, aku sedang menyiapkan kejutan untukmu hihi..!"
"Baiklah, aku akan menilai seperti biasa. Jangan hilangkan senyuman itu!"
"Iyaa!!"
Tut... tut...
Semenjak mereka berbicara Lucy hanya diam saja tak ingin menganggu pembicaraan Ronal dan istrinya.
Hanya saja mendengar suara antusias dan wajah berseri-seri Ronal barusan membuat hatinya diliputi oleh rasa cemburu. Hal itu terlukis jelas di wajahnya.
Lucy bahkan memalingkan wajahnya agar tidak diketahui oleh Ronal dan berpura-pura bercermin pada kaca kecil yang dipegangnya.
•••
Sampai di dekat Sekolah yang tak jauh dari gerbang Lucy kemudian turun dari mobil, mendarat kakinya berkaos kaki putih kemudian melenggang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Ronal.
"Haish... dia itu, masih kekanak-kanakan. Tapi saat dia berpacaran denganku... sampai tak absen demi salam perpisahan ini. Astaga, aku tidak boleh memikirkan hal itu lagi! Lebih baik buang jauh-jauh ingatan itu agar tidak kembali aku ingat!"
Ronal kemudian melajukan mobilnya dan mulai serius saat mengemudi.
Sementara Lucy melihat mobil yang dikendarai Ronal hingga tak terlihat.
Seorang siswi berkacamata kini mengamati Lucy dari kejauhan yang menurutnya baru pertama kali melihat sahabatnya berangkat sepagi ini.
Ia kemudian memilih untuk menghampiri Lucy, karena penasaran dengan temannya itu.
"Hap!"
"Ah!!"
"Kamu Na, ngagetin aku aja!"
"Habisnya kamu tumben sekali berangkat sepagi ini, biasanya kan kamu selalu ribut dengan penjaga gerbang?"
"Ada apa, apa kamu barusan diantar oleh orang yang kamu sayangi ya?"
"Hmm, aku memang diantar oleh tunangan ku!"
"Eh, serius!? Seperti apa orangnya?"
"Dia tampan, perhatian, baik, dan... idaman banget deh pokoknya.."
"Ya udah masuk yuk, kita obrolin di perpustakaan. Mumpung sepi kalau pagi!" ajak Selina.
"Iya."
__ADS_1
Sembari berjalan memasuki gerbang sekolah Lucy mengetik sebuah pesan singkat pada sebuah aplikasi pesan. Di sampaikan langsung pada nomor baru yang ia masukan sebelumnya.
"Semoga harimu menyenangkan sayang~"