
Dor.
Dor.
Di luar terjadi aksi tembak menembak dipicu oleh anak buah Osborn, para mafia. Mereka para anggota militer sudah diketahui keberadaannya.
Salah seorang mafia itu melempar granat sembarangan hingga menewaskan dua orang tentara.
Hal itu membuat rekan militer itu emosi sehingga memilih untuk menggunakan senjatanya diluar komando pemimpin.
Aksi gegabah nya itu merusak serangkaian rencana utama yaitu menyelematkan tawanan, korban penculikan. Serta penyergapan secara sembunyi-sembunyi.
Berlangsung beberapa saat hingga kedua belah pihak mendapati korban tewas akibat luka tembak.
Kemudian aksi menembak itu terhenti antar dua pihak, mereka seakan rehat sejenak untuk pertempuran sesungguhnya.
Sementara Ronal tengah disibukkan dengan dua pilihan sulit, dia harus menyelamatkan diri atau menantang anak buah Osborn yang bersenjatakan senjata api.
Kini dirinya tengah membopong Dorothy, istrinya tercintanya. Sebelumnya ketiga pria yang memasuki ruangan rias pengantin salah satunya adalah Ronal yang sedang menyamar.
Bahkan anak buahnya sampai terkejut melihat bosnya menyikap penyamarannya ini.
Tak ambil pusing lagi, Ronal memilih jalan sukar meskipun nyawa taruhannya. Ia tak mau meninggalkan istrinya apapun yang terjadi.
Dua pria sebagai pengawalan berada di depan, sedangkan dirinya mengamankan area belakang.
Dor.
Dor.
"Tuan, aku akan menjadi umpan. Untuk menipu mereka kearah yang salah, sementara tuan menuju arah sana," ujar pria dengan luka di wajah sembari menunjuk ke arah berlawanan.
"Oke. Ku harap kau selamat. Terimakasih," sahut Ronal langsung bergegas pergi diikuti oleh pria satunya.
Dor... dor...
"Mereka sampai menggunakan senjata seperti itu, kelihatannya mereka serius ingin membunuh kita, tsk.." gumam pria itu sembari melirik kebelakang. Temannya yang menyarankan dirinya sendiri untuk dijadikan umpan.
Dor.
Pria itu mengamankan jalannya Ronal saat membawa Dorothy yang masih pingsan. Ruang demi ruangan dilalui sembari bersembunyi, diam sejenak, dan membunuh musuh.
Seakan membunuh penjahat di tempat ini memang dihalalkan.
__ADS_1
•••
Osborn hanya dapat menghela nafas panjang sembari menahan emosi, tak lupa dirinya memberi instruksi bagi rekan-rekan mafianya.
Dalam hati ia sangat marah, sampai-sampai ingin membunuh semua pihak militer yang kini hendak menyergap.
Di satu sisi ia bisa saja meledakan bangunan masih dalam tahap pengerjaan ini, yang telah dipasangi dinamit. Bahkan tanpa sepengetahuan rekan-rekannya.
Saat mendapatkan kabar Dorothy telah dibawa lari ia tertegun mendengar penuturan dari anak buahnya itu.
Bahkan Osborn sampai turun tangan dan menyerahkan kepemimpinannya kepada rekan terpercayanya secara mendadak.
Tentu hal itu membuatku rekannya menganga.
"Apa kau serius menyerahkan kepemimpinan ini kepadaku?" tanya rekan terpercayanya itu ragu. Tak percaya dengan ucapan bosnya.
Sebenarnya selain menyerahkan kepemimpinan dari gerak gerik para mafia yang tengah bertugas melawan pihak militer di lantai bawah.
Osborn juga berniat mengalihkan kedudukannya.
"Tentu saja, aku percayakan semuanya padamu sekarang. Ada hal yang harus ku urus!" Setelah mengucapkan kalimat barusan Osborn langsung pergi meninggalkan ruangan tempat dirinya memberi perintah.
Sekaligus meninggalkan rekan setianya untuk dipercayakan mengembang beban kepemimpinan sebagai bos mafia. Dengan total kekayaan mencapai miliaran.
"Apa dia begitu mencintai perempuan itu sehingga berani mengambil resiko? Ku dengar perempuan itu adalah menantunya sendiri," monolog pria yang kini menjadi bos mafia baru.
Ia terlihat menghela nafas kasar. Lalu memejamkan mata serta mengumpulkan keberanian.
"Baiklah, dengarkan aku semuanya! Kita akan melawan para anggota militer itu dengan sekuat tenaga. Bos mempercayakan kepadaku untuk mengatur strategi, ku harap kalian mau menuruti perintahku sekarang. Untuk pernyataan yang menganggu dalam pikiran kalian, kita bahas hal itu nanti." Desmond mengatakannya dengan lantang. Dirinya sekarang ini berada di lantai 6.
•••
Selang beberapa waktu akhirnya pihak militer berhasil memasuki bangunan yang dijadikan sebagai markas para mafia.
Kini mereka mengamankan banyak orang di pihak lain setelah bala bantuan datang begitu cepat. Menyergap hingga mereka tak berkutik, dengan jumlah melebihi kumpulan mafia disana.
Apalagi setelah amunisi dari persenjataan mereka telah habis. Penyergapan mati-matian pun dimulai dengan serentak.
•••
Tinggal Ronal yang masih dalam pengejaran beberapa pria hendak menangkapnya. Sementara pria di sisinya tadi tertembak lantaran tak fokus.
Dia diketahui telah tewas akibat luka di kepala hingga mengharuskan Ronal untuk berjuang sekuat tenaga menyelematkan diri dan istrinya.
__ADS_1
Namun di saat hendak membuka pintu ia mendapati ayahnya yang tengah menunggunya bersama dua orang pria berbadan besar.
"Apa kabar Ronal? Apa kamu menikmati waktu olahraga mu ini," ucap Osborn dengan senyum sinis.
"Sigh, aku tidak ada waktu untuk meladeni ucapanmu itu. Lebih baik dirimu enyah atau menerima akibatnya!" ancam Ronal dengan sorot mata tajam.
Osborn hanya meresponnya dengan senyuman miring.
"Huh... sayang sekali. Ancaman seperti itu tidak ada artinya. Kalian berdua, tangkap dia dan bawa wanita itu kemari!" perintah Osborn yang kini beralih menatap Ronal penuh kemenangan.
"Tunggu. Apa kau berniat ingin menikahi perempuan yang sudah menjadi istriku?" perkataan Ronal itu membuat dua orang berbadan besar hendak menuruti perintah Osborn menghentikan langkah.
Salah satu dari mereka lalu melirik bosnya.
"Memang apa salahnya. Jika kau anggap hubungan antara diriku dan Dorothy adalah hubungan terlarang, kau salah, bukannya kita ini bukan ayah dan anak!" Osborn menekankan kata di akhir.
Ronal mengerutkan dahi lalu berucap "Kalau begitu kau ini seorang yang picik dan serakah. Sudah memiliki istri tapi malah merebut istri orang lain, sangat disayangkan. Jika dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang."
Mendengar hal itu membuat Osborn tertegun lantaran dirinya melupakan sesuatu yang dirinya anggap penting.
Namun di satu sisi ia kecewa dengan orang utusannya yang mengatakan bahwa istrinya berada di tempat aman.
Ronal menatap datar ayahnya, ekspresinya itu menggambarkan dirinya sedang gelisah.
"Sialan, kau pasti melakukan tindakan agar diriku tertipu bahwa istriku dalam keadaan aman, dasar anak durhaka!" umpatnya.
Tidak ingin menunda waktu singkat ini Osborn lalu memerintahkan kedua pria tadi untuk menangkap Ronal.
Tak gentar dengan ancaman istrinya yang telah tertangkap, pikirnya.
Ronal hanya diam menunggu kedua pria itu menuju kearahnya.
Cleklek.
"Angkat tangan!" suara bariton salah seorang tentara mengejutkan kedua pria itu, begitupun bos mafia yang kini sudah menjadi mantan. Saat senjata Laras panjang ditodongkan oleh anggota militer tersebut.
Beberapa saat lalu Ronal memang berencana mengulur waktu sembari menunggu bala bantuan datang.
Osborn makin kesal terlihat dari ekspresi wajahnya menatap Ronal tak enak itu.
"Anak sialan!" umpatnya lagi seraya mengangkat kedua tangan, tanda menyerahkan diri.
"Cukup, kau benar-benar orang tua yang tersesat," balas Ronal tersenyum miring penuh arti.
__ADS_1